24/09/08

comblangkan saja

“Ehm, Ta...”

“Iya?”

“Aku pengen ngomong nih sama kamu.”

”Ngomong aja.”

”Aku udah lama suka sama kamu.”

”...”

”Kamu mau gak jadi pacarku?”

”Kita ’kan kakak-adek?”

”Tapi ’kan gak beneran.”

”Hmm...”

”Gimana? Kamu butuh waktu untuk mikir-mikir dulu.”

”Nggak deh. Aku gak mau jadi pacar kamu. Kayak gini udah cukup kok.”

***

”Ta, gimana acara nge-date lo kemaren?”

”Sukses berat! Dia nembak gue!”

”Waaah... Kalian udah jadian dong sekarang!”

”Nggak tuh!”

”Lho? Kok bisa?”

”Yah gue tolak lah!”

(Kaget) ”Kenapa ditolak?”

”Jual mahal dikit dong! Pasti dia bakal ngejar-ngejar gue terus!”

”Sumpah, lo pinter banget!”

“Hahaha! Ya iyalah!”

***

Hari biasa. Bangun pagi, mandi, mempersiapkan diri, sarapan pagi, pergi ke sekolah. Datang lebih awal 30 menit dari biasanya sebagai hukuman karena terlambat masuk sekolah di hari sebelumnya. Hari biasa yang tidak biasa bagi Udin disebabkan rencana yang telah disusun rapi oleh dirinya sendiri.

Menganggur 30 menit, belajar 3 x 45 menit, istirahat 15 menit, belajar lagi 3 x 45 menit, istirahat 30 menit, belajar lagi 3 x 45 menit, lalu pulang. Jam pulang sekolah, jam biasa yang sangat tidak biasa bagi Udin saat ini. Saatnya untuk melaksanakan rencananya. Jantungnya maraton, hatinya konser musik metal, darahnya balapan liar, otaknya tawuran, sementara tangan, kaki, dan ketiaknya banjir.

Setelah melantunkan doa ratusan kali, ia beranjak dari kelasnya ke kelas target yang telah ditentukannya.

”Ehm, Na?”

”Iya?”

”Bisa ngomong bentar?”

”Iya. Apa?”

“Ehm... Gini lho... Ehm...”

”Iya?”

”Gue tuh... Gue... Ehm...”

“Napa?”

“Gue... Suka... Ehm...”

”Apa?”

”Ehm... Sama... Elo...”

(Malu-malu)

”Ehm... Gimana kalo kita pacaran?”

”Ehm... Gimana yah... Bukannya lo lagi deket sama si Tata?”

”Iya sih...”

”Kenapa gak pacaran sama dia aja?”

”Udah gue tanya...”

”Terus?”

”Dia gak mau.”

“Oooh... Jadi lo nembak gue karena abis ditolak dia?”

“Hah? Eh... Nggak gitu sih...”

“Nggak banget deh!”

“Eh, gak gitu ceritanya...”

“Udah yah, gue pulang dulu.”

“Bentar...”

“Udah dijemput!”

***

“Ta, lo udah denger gosip terbaru belum?”

“Apaan?”

“Si Udin nembak Nana!”

“Hah?? Gak usah bohongin gue deh!”

“Suwer, Ta!”

“Sial banget tuh anak!”

“Hmmm... Udin ato Nana?”

“Semuanya!! Harus gue labrak tuh anak!”

“Hmmm... Udin ato Nana?”

“Yah Nana lah, tolol! Gak mungkin ‘kan gue labrak Udin!”

***

“Din, kalo emang udah jadian sama Tata, harusnya lo gak nembak gue waktu itu.”

“Hah? ‘Kan gue udah bilang, gue ditolak dia!”

“Jangan bo’ong, Din. Kemaren dia marah-marah sama gue.”

What the... Gila!”

***

“Din, napa dangdut gitu muka lo?”

“Seteres.”

“Cerita donk!”

“Si Tata.”

Napa dia?”

“Gue nembak dia, ditolak. Gue nembak cewek lain, dia marah.”

“Oh... Dia emang udah kayak gitu dari dulu!”

“Hah? Kok lo tau?”

“Dulu gue juga digituin sama dia!”

“Sial! Kok gue gak tau!”

“Hahaha! Lo emang gak usah jadi biang gosip, tapi tetep harus tau gosip!”

“Hhhh... Trus lo gimana dulu?”

“Gue comblangin aja dia ama cowok laen. Udah deh, lepas dari gue!”

“Oooh... Gitu toh! Terus, dulu lo comblangin dia ama sapa?”

“Elu. Hehehe...”

18/08/08

pak kumis

Siang ini, sepulang sekolah (di tanggal merah ini, sekolah saya tidak libur), saya beranjak ke sebuah restoran untuk melakukan transaksi jual-beli (produk kosmetik dan perawatan tubuh MLM yang baru saya geluti) dengan seorang klien. Dengan gagah perkasa, saya berjalan kaki dari sekolah satu di SMAK 5 BPK Penabur, yang terletak di Jalan Hibrida, sampai jejeran Mal Kelapa Gading. Dari depan deretan Mal Kelapa Gading itu, saya menghentikan laju sebuah angkot biru bertajuk 37D, lalu menaikinya sampai di depan McDonald Boulevard Barat.

Dari sana, saya menyeberang sampai Holand Bakery. Kemudian, saya menelusuri jalan panjang ke arah bundaran Boulevard demi mencari sebuah restoran yang kunjung saya temukan. Di tengah kebingungan saya, berkali-kali saya menelepon sang klien untuk menanyakan alamat pasti restoran itu, tapi telepon saya tak kunjung diangkat. Senasib dengan SMS-SMS saya yang tak kunjung mendapat balasan.

Saya memutuskan untuk menunggu sebentar di sebuah ruko yang tidak buka pada hari itu. Entah ruko apa itu, letaknya selengkungan dengan Dunkin Donut, Nuansa Musik, dan warnet Nexus. Di tengah penantian saya, muncul seorang pria paruh baya, entah dari mana, begitu saja muncul di samping saya. Tubuhnya agak berisi, kulitnya sawo matang, kumisnya subur, berbaju batik, menenteng jaket coklat, bersepatu pantovel kulit hitam, rambutnya klimis, dan wajahnya susah.

Ia menanyakan arah Pulo Gadung, saya menunjukkannya beserta petunjuk angkot apa yang menuju ke sana dari tempat itu. Orang itu menyatakan bahwa ia tidak butuh angkot, ia akan berjalan kaki, karena uangnya hanya sisa dua ribu rupiah. Maka, saya menawarkan uang receh yang tersisa di kantong saya. Namun, ia menolaknya. Ia menyatakan bahwa dirinya bukan Muslim, sehingga tidak boleh meminta-minta. Pernyataan yang aneh.

Kemudian, tanpa ditanya, ia menceritakan pengalaman pahit yang tengah dialaminya kepada saya. Saya mendengarkan dengan saksama dan berusaha memasang wajah sedih sebagai tanda simpati, meskipun sebenarnya saya kurang menghayati kesulitannya. Berikut ceritanya.

Ia bercerita bahwa ia berangkat dari sebuah rumah sakit di Jawa (tidak saya tanyakan Jawa mana), tanpa telepon genggam dan dengan ongkos pas-pasan. Tujuannya adalah Jakarta, rumah kontrakkan seorang saudaranya. Ia datang untuk membawa kabar dukacita kematian ayahnya. Rupanya, dari pemilik kontrakan, ia mengetahui bahwa orang yang dia cari itu justru sudah berangkat ke Jawa. Ia menjadi bingung.

Di tengah percakapan kami, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa. Saya menyarankan kepadanya untuk mencoba berjualan koran atau menjadi kenek untuk mengumpulkan uang mudah, tetapi ia mengungkapkan masalah waktu. Ia sedang mengejar kereta terakhir di hari itu yang akan berangkat ke daerah tujuannya di Jawa pada jam 15.30 WIB, sementara ia butuh Rp 65.000,- (enam puluh ribu rupiah). Ingat, ia hanya memiliki dua ribu rupiah. Sebagai tanda simpati, saya menggaruk-garuk kepala.

Setelah perbincangan panjang dan bertele-tele, saya memutuskan untuk menyumbang kepadanya Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah). Hanya itu yang bisa saya berikan karena jatah uang saya paling tidak harus bertahan selama satu minggu dan jika saya berikan lebih dari itu, kemungkinan besar saya akan mengalami bencana kelaparan di akhir pekan.

Setelahnya, ia meminta nomor telepon genggam saya, untuk ia kirimi pulsa sebanyak pinjamannya ketika ia telah sampai di tempat tujuannya. Namun, tidak saya berikan. Sebagai gantinya, saya memberikan nomor rekening agar ia dapat mentransfer utangnya. Lalu, saya meminta nomor telepon genggamnya agar bisa saya hubungi. Rupanya, ia lupa. Ya sudah. Lalu, ia mengucap terima kasih, ia turun ke jalan dan mencari tumpangan. Dengan lima puluh ribu itu, ia berniat membujuk kondektur (ketahuilah, saya tidak tahu profesi apa itu).

Karena klien saya tak kunjung tiba, saya memutuskan untuk beranjak ke urusan lain di gereja. Saya mengirim pesan singkat kepada klien saya untuk mengabarinya dan membuat janji lain. Saya berjalan kaki dari tempat itu ke gereja saya, GKI Agape di Jalan Raya Nias. Lelahnya tak seberapa dibanding sorotan matahari yang membuat kulit saya menjadi belang.

Sepanjang perjalanan saya ke gereja, saya menceritakan kepada seorang teman baik saya kejadian yang baru saja saya alami bersama bapak-bapak itu via telepon genggam. Dengan yakin, ia berkata bahwa saya telah ditipu dan bahwa keputusan untuk memberikan nomor rekening adalah kesalahan besar. Entahlah. Jika sudah demikian, kepada Tuhan Yang Maha Tahu-lah saya mengadu.

Saya berdoa agar selembar uang (hasil jerih payah orang tua saya) itu tidak disalahgunakan. Berdoa agar Tuhan menyadarkan orang itu jika orang itu ternyata jahat. Berdoa agar Tuhan mengurungkan setiap niat jahat yang ia rencanakan. Berdoa agar rekeningku aman (di sana hanya ada seratus lima puluh ribu hasil jerih payah memenangkan sebuah lomba karya tulis tingkat kotamadya. Meskipun jumlahnya kecil, kesulitan mendapatkannya membuatnya begitu berarti). Berdoa agar Tuhan membimbing jalan orang itu ke solusi apabila ia memang sedang kesulitan.

Lalu, rugikah saya? Entahlah. Belum bisa saya jawab. Saya sendiri mendapatkan pengalaman baru, mengagumi bakat akting orang itu (jika memang ia berpura-pura), dan mendapatkan cerita baru. Lima puluh ribu rupiah untuk semua itu? Entahlah, apakah setara.

Maaf, Indonesia

63 tahun kemerdekaanmu
17 tahun umurku
Belum ada sesuatu yang berarti dariku untukmu
Maaf, Indonesia

Sejak dapat berpikir, aku mengkritik
Sejak dapat berbuat, aku berjuang
Belum ada perubahan yang berarti bagimu
Maaf, Indonesia

Berabad melawan penindasan
Berabad berjuang untuk kemerdekaan
Memanusiakan manusia
Apakah sudah berhasil?
Maaf, Indonesia

Menonton permainan politik
Kepentingan golongan
Penyengsaraan rakyat
Aku bukan seorang penguasa
Maaf, Indonesia


Entah berapa lama lagi Engkau akan bertahan sebagai sebuah negara
Entah berapa lama lagi aku akan bertahan sebelum menjadi onggokan daging mati
Takkan kusia-siakan waktu untuk memperjuangkanmu
Maju, Indonesia!

06/08/08

wewek in the bottle

“Kamu pernah jatuh cinta?”

“Ah, pertanyaan klise.”

”Tapi menarik.”

”Hanya bagi orang-orang yang suka mengurusi hal-hal sepele.”

”Orang-orang yang tidak bisa mengurusi hal-hal sepele, tidak akan bisa mengurusi hal-hal besar.”

”Orang-orang yang terlalu banyak mengurusi hal-hal sepele, tidak akan pernah menyadari hal-hal besar untuk diurusi.”

”Tidak berarti hal-hal sepele tidak perlu diurusi, ‘kan?”

“Huh…”

***

Ketika dipasangkan untuk duduk bersama Kuntilanak oleh wali kelasnya, Jurig merasa ditimpa bencana besar untuk setahun pelajaran ke depan. Perasaan yang selalu ia rasakan setiap tahun, setiap kenaikan kelas, setiap dipasangkan dengan seseorang untuk menjadi tetangga bangkunya di sekolah.

Keuntungan bagi Kuntilanak yang mudah bergaul, ia dapat dengan cepat akrab dengan teman-teman di sekitar tempat duduknya. Jika sedang bosan, ia langsung mengobrol dengan tetangga di seberangnya, atau depan belakangnya. Namun, ia tetap risih karena hantu di sebelahnya diam sehening cadas. Kadang ia bergidik, merasa duduk di sebelah manusia (ini salah satu pengaruh hobinya menonton film horor). Apalagi, ia sering diabaikan ketika mengajak sang cadas berbicara. Jika sedang beruntung, ia masih bisa mendapatkan jawaban ketus.

Keuntungan bagi Jurig, nyaris tidak ada kecuali tempat duduknya yang tepat di tengah kelas itu membuatnya nyaman. Sementara, Kuntilanak seringkali mengganggunya dengan mengajaknya mengobrol ketika pelajaran sedang berlangsung atau ketika ia sedang membaca buku saat jam istirahat.

***

Pada suatu jam istirahat, seperti biasa, Jurig membaca buku berisi jurus-jurus Ki Jaka Bono. Tiba-tiba, datang Kuntilanak sendirian (biasanya ia selalu bergerombol dengan cewek-cewek tukang rumpi), menghampiri Jurig.

”Eh, kenapa sih lu selalu sendirian?” buka Kuntilanak.

”Suka-suka gue,” jawab Jurig tanpa berpaling dari bukunya.

”Pasti ada alesan yang lebih jelas dong?”

Kali ini, Jurig berhenti membaca dan memalingkan tatapan kepada Kuntilanak. ”Otak lu terlalu dangkal.”

”Otak gue masih bisa digali lagi kok.”

”Gak semua orang mau otaknya digali-gali.”

”Oke, tapi karena gue mau, lu mau dong ngobrol sama gue?”

“Hah? Yang ada entar kita gak nyambung!”

“Coba dulu!”

Jurig tidak menyangka, jika Kuntilanak tidak kalah berpengetahuan dan berwawasan dibanding dirinya. Maka, segera terkikis sikap sombong yang sebelumnya juga ia tunjukkan kepada Kuntilanak.

***

Di hari sebelumnya, Kuntilanak terlibat pembiacaraan dengan beberapa temannya. Mungki hanya salah satu temannya, yang selalu diekori beberapa teman lainnya. Si teman ini bernama Wewek.

“Lu betah duduk ama si Jurig?”

“Oke aja. Kenapa?”

“Ih, gue sih benci banget ama dia!”

“Kenapa?”

“Udah jutek, sombong, aneh lagi!”

“Bukan karena Tuyul suka lirik-lirik dia?”

“Kurang ajar lu!”

Kuntilanak mengangkat kedua tangannya setinggi bahu dan menampakkan kedua telapak tangannya, tanda tak ingin bertengkar.

“Gue mau minta tolong sama lu,” lanjut Wewek.

Kuntilanak mengangkat kedua alisnya, tanda tertarik.

“Gue butuh lu buat ngerjain si Jurig!”

“Kalo gue gak mau?”

“Kita semua bakal musuhin lu dan itu berarti seisi sekolah juga bakal musuhin lu!”

“Hmm, gue pikir-pikir dulu deh!”

“Hah? Mau mikir apa lagi? Emangnya lu mau jadi public enemy?”

“Nggak sih, tapi gue juga gak suka celakain orang lain dengan sengaja.”

“Huh! Pikirin deh!”

Kemudian, Wewek and the gank melangkah pergi dengan langkah kucing.

***

Hanya dalam kurun beberapa hari berteman dengan Kuntilanak, Jurig telah menyadari betapa sama sekali tidak ada makhluk yang punya alasan untuk sombong. Ia menyesali dirinya di masa lalu yang angkuh dan menyepelekan orang lain. Ia belajar bersikap seperti Kuntilanak, yang menganut ilmu padi. Makin berisi, makin menunduk. Ia juga belajar berbicara dengan orang lain dengan ramah dan sesuai dengan bahasa mereka. Artinya, ia tidak bicara politik dengan pecinta musik. Ia tidak bicara olahraga dengan pecinta teater. Ia tidak bergosip dengan pecinta agama. Hal tersebut membuatnya menambah pengetahuan dari berbagai bidang.

Nun jauh di tempat lain, sepasang bola mata memandang benci kepada Jurig yang semakin terbuka untuk berteman dan bertambah temannya. Wewek, pemilik sepasang mata indah itu, merasa terancam karena perubahan Jurig. Ia lebih merasa terancam lagi (ditambah cemburu) ketika melihat Jurig bersenda gurau dan berbagi sesajen dengan Tuyul di jam istirahat sekolah di kelas mereka.

“Di Sekolah Setan ini, gue cewek paling cantik! Kenapa Tuyul malah deket-deket sama Jurig?! Kenapa bukan sama gue!”

Bidak-bidak pengekornya diam semua.

Wewek kesal. Ia memukulkan tangannya kepada tembok, bangkit berdiri bangkunya, lalu berjalan penuh amarah tanpa menghilangkan kesan anggunnya. Ia hendak menghampiri Jurig untuk menjambaki rambutnya, menampari mukanya, dan menjejali mulutnya dengan tanah!

Sayangnya, belum sepuluh meter ia melangkah, ia harus memekik ngilu, sehingga semua mata teralih padanya. Semua mata itu terkejut dan takut. Ekspresi yang terkadang diikuti seringai ngeri. Kemudian, semua berhambur keluar kelas untuk mencari ruangan lain yang lebih aman. Ada juga yang meminta bantuan guru-guru yang mereka temui. Namun, Wewek tetap tak tertolong lagi.

Di sana, Wewek berteriak minta dibebaskan. Namun, penangkap-penangkapnya tidak menghiraukan teriakkannya. Mereka tetap berkomat-kamit membaca mantra dengan gaya-gaya yang aneh-aneh. Seragam putih panjang mereka membuat Wewek makin benci karena mengingatkannya pada si Jurig pencuri hati Tuyul.

Wewek menangis sejadi-jadinya di dalam botol sirup kaca yang tutupnya berbahan plastik berwarna putih.

31/07/08

Sang Kenangan Telah Pulang

Tera melangkah perlahan sepanjang jalan setapak kuburan itu. Udara pagi yang dingin dan berembun membelai kulitnya. Kemeja hitam dan rok hitamnya tidak mampu melawan udara yang menggigilkan tubuhnya. Dengan dituntun seorang penjaga kubur tua yang baik, ia menemukan kuburan yang ia cari. Kuburan yang sederhana. Dengan nisan kayu dan tidak dicor. Kembang-kembang setengah segar berwarna merah muda masih banyak bertebaran di atasnya.

Tera duduk perlahan di sebelah kubur itu. Si penjaga kubur pamit dan pergi. Tera sendiri di sana. Menyediakan waktu pribadi bagi dirinya dan dia yang di dalam kubur itu. Tera meletakkan sebuah kotak kardus yang sejak tadi ia bawa dengan kedua tangannya. Pelan-pelan, ia buka kotak itu. Ia keluarkan seikat mawar hitam yang dililit pita hitam yang indah.

”Ini melambangkan cinta dan hatiku yang sedang berduka,” bisik Tera sambil perlahan-lahan meletakkan bunga itu di atas kubur di hadapannya.

Kemudian, dari kardus itu juga ia mengeluarkan beberapa kartu ucapan yang telah ditumpuknya selama bertahun-tahun. Kartu ucapan ulang tahun dan hari raya Valentine. Semua karyanya sendiri. Baik desain maupun tulisan di dalamnya.

Ia angkat salah satu yang berbentuk persegi seukuran kotak CD. Ketika dibuka, di dalamnya ada kepingan bulat dengan lubang kecil bulat di tengahnya. Di atasnya ada sebait tulisan karangan Tera. Ia bisikkan perlahan isinya.

”Paru-paru tidak bekerja tanpa NAPAS

Jantung tidak berpacu tanpa NAPAS

Darah tidak mengalir tanpa NAPAS

Hidup tidak berlaku tanpa NAPAS

Kaulah NAPAS-ku

28 Agustus 2007.”

Setetes air mata mengaliri sebelah pipinya.

Ia mengangkat salah satu kartu yang lain. Berbentuk jam matahari. Di sekeliling angka-angka Romawi-nya, sebait tulisan juga untuk seseorang yang sedang ditangisi Tera. Ia membisikkannya pelan.

”Andai dapat kuputar waktu

Dan perbaiki laku

Tapi aku tidak mampu

Yang kupunya hanya rindu

Untukmu

14 Februari 2008.”

Beberapa tetes air mata mengaliri pipi Tera.

Ia memungut kartu-kartu itu dan ia tumpuk di satu tempat. Lalu, ia singkirkan kardus di hadapannya. Dengan tangannya, perlahan-lahan ia gali lubang kecil di sisi kubur itu. Kemudian, ia masukkan kartu-kartu itu ke dalam lubang itu. Ia tutup kembali lubang itu. Lalu, ia meraih kardus yang tadi telah disingkirkannya. Dari dalam kardus itu, ia keluarkan kelopak-kelopak bunga mawar hitam dengan beberapa genggam tangannya untuk ia taburkan di atas tanah yang mengubur kartu-kartunya, lalu tanah yang mengubur separuh hatinya.

Andai tak pernah kusia-siakan kesempatanku untuk meminta maaf padamu dan menyatakan isi hatiku, bisik Tera dalam hati.

*Kupersembahkan untuk Cintaku yang telah berpulang ke Rumah Bapa di Sorga.

30/07/08

tembok

Di malam yang panas, Urdin bosan bersembunyi di dalam kamar. Urdin bosan mendengarkan makian bersahut-sahutan dari ayah dan ibunya yang sedang bertengkar. Urdin bangkit dari persembunyiannya di balik selimut di atas ranjangnya. Ia mencopot piyamanya, menggantinya dengan pakaian yang pantas dipakai berpergian, lalu ia merengut sebuah tas ransel kecil dari salah satu rak di kamarnya. Ia isi ransel itu dengan sebotol air mineral, dompet, dan dua buah telepon genggamnya. Tanpa basa-basi, ia menerobos keluar pintu kamarnya. Ia tidak hiraukan sepasang orang tuanya yang masih saling meneriaki. Demikian juga kedua orang tua itu tidak menghiraukan satu-satunya anak mereka yang berjalan ke arah rak sepatu, memasang sepasang sepatu olah raga ke kakinya, dan lenyap di balik pintu depan rumah mereka.

Urdin yang telah berada di teras menarik keluar sepedanya dan memacu sepedanya secepat yang ia bisa. Kemanapun, ia tak tahu. Ia mengayuh sekuat tenaga. Angin menerpa wajahnya kuat-kuat sampai pipinya tampak sedikit bergelambir ke belakang. Teriakan pejalan kaki yang nyaris tertabrak olehnya, makian sopir angkutan umum yang nyaris menabraknya, semua tidak ia hiraukan.

Suatu ketika, Urdin masuk ke sebuah gang buntu tanpa menyadarinya karena tempat itu begitu gelap dan ia begitu kalap. Ia baru sadar ketika seorang tunawisma yang tidur di pinggir gang itu meneriakinya, "heh! Awas! Tembok!". Urdin sedikit berteriak, memejamkan mata, dan mengerem sepedanya secepat mungkin. Itulah persiapannya menghadapi tabrakan dengan tembok yang rasanya memang tak terelakkan lagi. Namun, tiba-tiba segala sesuatu seperti berjalan dengan sangat lambat. Seolah hidupnya dikendalikan oleh seorang yang jauh lebih besar dan orang itu menekan tombol "slow motion" pada rimut di tangannya. Ketika jarak antara tembok dan roda sepedanya hanya tinggal 1 milimeter, ia mendengar bisikan "tembok tidak bisa ditabrak. Tembok adalah segala kesenangan di baliknya!". Sepersekian detik, ia tersentak. Sepersekian detik, ia melihat roda depan sepedanya memasuki tembok itu. Tembus.

***

Dengan satu sentakan, Urdin bangun terduduk dan mendapati dirinya duduk di atas permukaan empuk, sementara yang dilihatnya adalah kegelapan karena sesuatu menutupi wajahnya. Dengan satu tarikan oleh tangannya, sesuatu yang menyelubungi wajah dan seluruh tubuhnya ia tarik. Maka, ia melihat cahaya dari lampu kamarnya dan selimut di tangannya. Ia menghela napas panjang.

Dengan malas, ia turun dari ranjangnya. Ia menyeret kakinya berjalan untuk mencari sebotol air mineral karena ia begitu haus. Ia ingat botol air itu sebelumnya ia letakkan di atas meja belajarnya, tapi sekarang ia tidak menemukannya di sana. Urdin memutar otaknya. Mengingat-ingat apabila ia telah memindahkan botol itu. Maka, kejadian tentang berpacu dengan sepeda, tembok, dan semuanya itu terlintas lagi di kepalanya. Buru-buru, ia mencari tas ransel kecil miliknya di rak tempat biasa ia menaruhnya. Tidak ada. Rupanya, tas ransel itu ada di atas ranjangnya. Ia buka tas itu dan mendapati botol air mineralnya ada di sana bersama sepasang telepon genggam dan dompetnya. Dengan cepat, ia serbu botol itu, ia buka tutupnya, dan ia tegak isinya sampai tandas.

Baru ia sadari, dari luar kamarnya tidak terdengar keributan lagi. Perlahan ia berjalan ke pintu kamarnya. Ia buka pintu itu dan ia keluarkan sedikit demi sedikit kepalanya. Ia dapati rumahnya diterangi cahaya, tetapi bukan cahaya lampu, melainkan cahaya matahari. Petanda hari tidak lagi malam. Aku pasti tertidur semalam, pikir Urdin.

Urdin masuk kembali ke kamarnya. Ia mengganti piyamanya dengan baju lain yang biasa ia pakai di dalam rumah. Setelah itu, ia beranjak ke dapur untuk memuaskan perutnya yang telah ribut memprotes kelaparan. Dari dapur terdengar kasak-kusuk dan Urdin yakin itu adalah pembatunya yang sedang menyiapkan sarapan bagi ia sekeluarga. Namun, begitu menerobos ke dalam dapur, ia terkejut mendapati ibunya tengah memasak. Sebelum selesai ia terkejut, ibunya telah berkata-kata dengan nada sangat riang.

"Hari ini, Mama masak masakan spesial buat kamu dan Papa!"

"A... Ada apa, ... Ma?"

"Duh, kamu lupa ya? Hari ini, ulang tahun pernikahan Papa dan Mama!"

Urdin terkejut sebab hal itu belum pernah disebut-sebut di rumahnya sepanjang hidupnya. Ibunya seolah tidak membaca keterkejutan Urdin, terus saja meneruskan pekerjaannya. Setelah selesai, ia menata semua masakannya dengan rapi di atas meja. Kemudian, ia pergi ke kamarnya sendiri untuk membangunkan suaminya. Mereka sarapan bersama.

Selama sarapan, ayah dan ibu Urdin tampak begitu akrab dan mesra. Urdin sampai tidak sanggup menelan makanannya. Ia hanya memain-mainkan makanan di piringnya dengan sendok dan grapu di tangannya. Sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya, tapi hanya dikunyah pelan-pelan tanpa ditelan, sehingga mulutnya menjadi begitu penuh. Dengan tiba-tiba, Urdin menyambar gelas berisi air mineral. Air di dalam gelas itu ia habiskan untuk mendorong makanan dalam mulutnya. Setelah itu, ia bangkit dari sana dan tanpa permisi menuju ke kamarnya.

Di dalam kamar, ia merenung. Di tengah-tengah renungannya, samar-samar ia mendengar suara pintu dibuka dengan kasar, lalu ditutup kembali dengan keras. Ia yakin, itu adalah suara pintu kamar ayah dan ibunya. Ia pun mendengar teriakan, "gak tau adat! Jangan banting-banting pintu!". Buru-buru Urdin meraih gagang pintunya, membuka pintu kamarnya, dan melongokkan kepalanya keluar kamar. Ia tidak mendapati siapapun di ruang keluarga yang menghubungkan semua kamar di dalam rumahnya. Belum sempat ia bereaksi, ia mendengar lagi teriakan parau yang samar, "lu yang gak tau adat! Jadi suami, kerjaannya cuman males-malesan! Cuman buang-buang uang! Kerja dong!". Urdin terkejut.

Begitu Urdin mengingat bahwa tadi ia bertemu ayah dan ibunya di ruang makan, ia langsung berlari ke sana. Ia terkejut lagi. Demikian juga ayah dan ibunya terkejut karena dipergoki anaknya sedang berciuman mesra. Mereka jadi salah tingkah dan muncul kemerah-merahan di wajah mereka. Seketika itu juga, Urdin lupa akan suara-suara yang didengarnya. Ia ikut salah tingkat, meminta maaf, dan cepat-cepat kembali ke kamarnya.

Kali ini, ia langsung mandi di kamar mandi dalam kamarnya. Ia mengenakan pakaian sekolahnya dengan rapi, membawa tas selempang berisi buku-buku sekolah dan alat tulis, lalu mengambil botol minumannya. Ia langsung menuju ke dapur untuk mengisi botol minumannya sampai penuh, mengambil sekotak bekal yang disediakan pembantunya, lalu ia hendak langsung beranjak ke sekolah. Namun, baru sampai di ruang keluarga, ia telah mendengar maki-makian yang sebenarnya tak mungkin pantas diperdengarkan. Juga pukulan dan tangisan. Ia mencari ke semua ruangan di rumahnya untuk menemukan asal suara itu. Tidak ada siapa-siapa. Terakhir, ia berhenti di dapur dan menemukan pembantunya.

"Mbok, Papa dan Mama mana?"

"Oh, mereka pergi. Kayaknya mau bulan madu lagi tuh..." kata pembantunya dengan nada menggoda dan senyum yang lucu.

Urdin tersenyum, mengangguk, lalu berpamit. Setelah itu, ia langsung menuju ke terasnya. Karena tidak mendapati sepedanya di sana, tanpa pikir panjang ia langsung berjalan kaki.

***

Sepulang sekolah, Urdin tiba-tiba teringat jalan buntu yang pernah ia masuki di mana ia menabrak, atau menembus, temboknya. Ia pikir, di saat siang, pasti lebih mudah melihat apa yang ada di sana. Dengan susah payah, ia mengingat-ingat jalannya. Akhirnya, ia temukan juga gang itu. Ia langsung berlari hendak menghampiri ujung jalan itu.

Betapa terkejut dirinya mendapati sepedanya di ujung jalan itu. Sedikit lecet di bagian depannya dan tergeletak di tanah. Ia menengok ke sampingnya di mana seorang tunawisma tersenyum kepadanya. Ia membalas senyuman itu. Kemudian, ia mengangkat sepedanya dan menaikinya sampai ke rumahnya.

Setelah masuk ke dalam rumahnya, kali ini ia mendengar (masih samar-samar) suara teriakan, makian, pukulan, tangisan, dan semuanya itu. Ia menjadi sangat bingung. Ia memutuskan untuk menajamkan telinganya, sehingga ia mendengar semua itu menjadi semakin jelas dan nyata. Ia ingin menangis dan berteriak karena ia mulai berpikir semua kebahagiaan ini pasti hanya mimpi dan aku pasti masih tertidur di kamarku sementara semua kegaduhan itu bercampur dengan mimpiku.

”Semua suara itu dapat kau abaikan,” tiba-tiba sebuah bisikan terdengar dan membuat Urdin terkejut.

Ia turuti saja suara itu. Ia berusaha mengabaikan suara-suara itu. Perlahan-lahan, suara-suara itu pun surut. Lalu hilang sama sekali. Betapa senang hati Urdin saat itu. Dengan riang, ia melompat ke sana ke mari.

***

”Kamu liat sekarang! Gara-gara punya ibu kayak kamu, anak kita jadi gila!”

Urdin masih terus berlompatan dan tertawa riang.

”Aku? Justru gara-gara punya bapak kayak kamu, dia jadi gila!”

Urdin tetap terus berlompatan sambil tertawa-tawa.

”Keluargaku bahagia!” teriak Urdin.