Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

31/07/08

Sang Kenangan Telah Pulang

Tera melangkah perlahan sepanjang jalan setapak kuburan itu. Udara pagi yang dingin dan berembun membelai kulitnya. Kemeja hitam dan rok hitamnya tidak mampu melawan udara yang menggigilkan tubuhnya. Dengan dituntun seorang penjaga kubur tua yang baik, ia menemukan kuburan yang ia cari. Kuburan yang sederhana. Dengan nisan kayu dan tidak dicor. Kembang-kembang setengah segar berwarna merah muda masih banyak bertebaran di atasnya.

Tera duduk perlahan di sebelah kubur itu. Si penjaga kubur pamit dan pergi. Tera sendiri di sana. Menyediakan waktu pribadi bagi dirinya dan dia yang di dalam kubur itu. Tera meletakkan sebuah kotak kardus yang sejak tadi ia bawa dengan kedua tangannya. Pelan-pelan, ia buka kotak itu. Ia keluarkan seikat mawar hitam yang dililit pita hitam yang indah.

”Ini melambangkan cinta dan hatiku yang sedang berduka,” bisik Tera sambil perlahan-lahan meletakkan bunga itu di atas kubur di hadapannya.

Kemudian, dari kardus itu juga ia mengeluarkan beberapa kartu ucapan yang telah ditumpuknya selama bertahun-tahun. Kartu ucapan ulang tahun dan hari raya Valentine. Semua karyanya sendiri. Baik desain maupun tulisan di dalamnya.

Ia angkat salah satu yang berbentuk persegi seukuran kotak CD. Ketika dibuka, di dalamnya ada kepingan bulat dengan lubang kecil bulat di tengahnya. Di atasnya ada sebait tulisan karangan Tera. Ia bisikkan perlahan isinya.

”Paru-paru tidak bekerja tanpa NAPAS

Jantung tidak berpacu tanpa NAPAS

Darah tidak mengalir tanpa NAPAS

Hidup tidak berlaku tanpa NAPAS

Kaulah NAPAS-ku

28 Agustus 2007.”

Setetes air mata mengaliri sebelah pipinya.

Ia mengangkat salah satu kartu yang lain. Berbentuk jam matahari. Di sekeliling angka-angka Romawi-nya, sebait tulisan juga untuk seseorang yang sedang ditangisi Tera. Ia membisikkannya pelan.

”Andai dapat kuputar waktu

Dan perbaiki laku

Tapi aku tidak mampu

Yang kupunya hanya rindu

Untukmu

14 Februari 2008.”

Beberapa tetes air mata mengaliri pipi Tera.

Ia memungut kartu-kartu itu dan ia tumpuk di satu tempat. Lalu, ia singkirkan kardus di hadapannya. Dengan tangannya, perlahan-lahan ia gali lubang kecil di sisi kubur itu. Kemudian, ia masukkan kartu-kartu itu ke dalam lubang itu. Ia tutup kembali lubang itu. Lalu, ia meraih kardus yang tadi telah disingkirkannya. Dari dalam kardus itu, ia keluarkan kelopak-kelopak bunga mawar hitam dengan beberapa genggam tangannya untuk ia taburkan di atas tanah yang mengubur kartu-kartunya, lalu tanah yang mengubur separuh hatinya.

Andai tak pernah kusia-siakan kesempatanku untuk meminta maaf padamu dan menyatakan isi hatiku, bisik Tera dalam hati.

*Kupersembahkan untuk Cintaku yang telah berpulang ke Rumah Bapa di Sorga.

28/09/07

tunding

Aku pergi meninggalkanmu

bersama seorang yang lebih baik darimu

dan sederajat denganku

Itulah tundingmu atas diriku

Kututup rapat telinga ini, tapi masih terdengar sayup

Betapa kejam, menghujam perasaan

Andai kemarahan sanggup membakar,

tapi cinta begitu murah memberi maaf

Maaf yang memadamkan kemarahan tak berdaya

Sakit

muncul sebagai pemenang

Sakit yang melelehkan hati menjadi air mata

dalam diam yang pedih

Lantas untuk apakah semua cinta itu jika aku demikian biadab?

Perpisahan adalah permintaanmu yang lain

Apakah aku ini? Bisul besar bernanah dalam hidupmu?

Mengapakah kau menghimpitku begitu keras?

Menghancurkanku?

Memusnahkanku?

Cukuplah

Tutuplah

Aku lelah

07/08/07

bayang


Bayangku
jujur
dan setia


Sisiku
sembunyi
dalam gelap


Dosa

Bejat

Bulus

Jahat

Sesat

Dunia

Nikmat

Ahhh...

air mata korosif


Pedih hatiku

Terbakar

Perih hatiku

Mencair

menjadi tetes-tetes air mata

melelehkan diriku

Dalam sakit

Dalam sedih

Dalam derita

Musnahkan aku

tanpa jejak
tanpa raga
tanpa rasa
tanpa nyawa
tanpa jiwa
tanpa diri
tanpa memori
tanpa kenangan
tentang dirimu

06/08/07

Apa yang dapat menjauhkan kita, Saudaraku?

Bukan jarak!

Bukan juga ruang!

Apa yang dapat memisahkan kita, Saudaraku?

Bukan ajal!

Bukan juga waktu!

Apa yang dapat memecah kita, Saudaraku?

Bukan perbedaan!

Bukan juga kebencian!

Jiwa kita satu

Nyawa kita satu

Kita memang satu