07/04/10
botol kaca
Kepalanya dibalut sorban, janggutnya menjuntai-juntai, jubahnya putih panjang, bahasanya bukan Indonesia. Entah apa yang ia komat-kamitkan, si tuyul yakin, manusia itu pun tak mengerti. Manusia itu bersama manusia-manusia lain, yang tampak lebih normal, tetapi membawa peralatan-peralatan yang asing bagi si tuyul. Manusia-manusia itu berdiri di sekitar manusia berjanggut panjang yang sedang berusaha mengurung si tuyul ke dalam botol.
“Cut!” kata salah seorang manusia di antara mereka, “raut wajah kamu kurang dramatisir!”
Si tuyul yang belajar bahasa Indonesia di sekolah bertanya-tanya, bukankah “dramatisir” tidak baku?
“Aduh, mau gimana lagi? Ini saya udah ngeden-ngeden!” kata si janggut.
“Ngeden lebih kuat lagi!” bentak manusia tadi. “Ulang!” teriaknya.
Si tuyul pun dilepas lagi. Belum jauh ia lari, ia ditarik lagi oleh si janggut. Kembali ia meronta-ronta, menjerit-jerit, berusaha lari, percuma. Ia tertangkap, dijejalkan lagi ke dalam botol kaca, dikurung lagi. Pacarnya sedih melihatnya disiksa begitu, tetapi tidak berani keluar dari persembunyiannya.
Lama-kelamaan, pacarnya tidak tahan juga. Ia keluar sedikit, mengintip, tetapi langsung masuk lagi karena terlalu takut.
Terlambat. “Itu! Di sana! Ada satu lagi!” teriak salah satu manusia yang sempat melihat penampakan pacarnya. Pacarnya pun turut ditarik-tarik, ditangkap, dijejalkan, dan dikurung di dalam botol yang sama dengannya.
Mereka berdua dibawa ke kediaman sang pria berjanggut.
Keesokan harinya, ketika pagi menyapa dan sinar matahari menerangi seisi ruangan tempat mereka berada, sadarlah mereka bahwa mereka berada di ruangan berisi rak-rak besar. Dalam rak-rak besar itu, tertata rapi botol-botol kaca. Dari minuman soda, teh, maupun sirup. Botol-botol yang tampak kosong oleh mata awam, di mana tuyul-tuyul terkurung.
Siang hari, pintu berdecit pelan, terbuka perlahan. Pak Janggut masuk bersama seorang manusia lain. Pria, kulit hitam, tulang-tulangnya tampak kokoh, otot-otot liatnya tampak keras berurat tebal menempeli tulang-tulangnya, wajahnya sungguh bukan ningrat. Tentu saja, anggota masyarat jelata yang bosan melarat, tetapi tidak mempunyai kualitas untuk meningkatkan taraf hidup (atau tidak tahu caranya).
Mereka tampak berbisik-bisik. Tak lama kemudian, si manusia pekerja itu menyelipkan beberapa lembaran ke tangan si janggut. Tuyul manapun pasti tahu, lembaran-lembaran itu adalah uang, duit, fulus, apapun namanya. Manusia pekerja itu berjalan mengelilingi ruangan. Mengamati botol-botol kaca, satu per satu. Lalu, ia berhenti saat matanya tertuju kepada botol yang ditempati si tuyul dan pacarnya. Ia meraih botol mereka pelan-pelan dengan satu tangannya, lalu membelai permukaan botol itu dengan tangannya yang lain. Kemudian ia dekatkan dan tempelkan botol itu ke dadanya, lalu ke wajahnya.
Si laki-laki pekerja meletakkan botol yang baru saja ia dapat dari rumah si janggut. Setelah usahanya berpuasa untuk menabung, akhirnya ia mengumpulkan cukup uang untuk membeli tuyul. Botol tersebut tampak kosong. Ia mengeluarkan sebungkus ramuan pemberian si janggut. Ia buka bungkusan tersebut, isinya adalah jumputan daun yang telah ditumbuk. Ia telan dan ia ucap mantra yang telah diajarkan si janggut. Seketika, sepasang tuyul pun menjadi kasat mata baginya. Ia tersenyum puas.
Istrinya tiba-tiba membuka pintu kamarnya dengan kasar. Begitu masuk, ia langsung berteriak-teriak “ngapain kamu di sini? Gak narik? Udah miskin, males kerja! Kapan kita bisa kaya?”
Melihat reaksi suaminya yang tidak biasa, ia pun kembali berteriak-teriak “kenapa kamu senyum-senyum? Bego kamu?”
“Mulai besok, kita ndak akan miskin lagi,” ucapnya pelan.
“Apa kamu bilang?” istrinya tetap berteriak.
“Mulai besok, kita akan kaya.”
“Gimana bisa kita kaya kalo kamu cuman duduk-duduk begitu kerjaannya??”
Manusia pekerja itu hanya tersenyum.
“Ngapain kamu pegang-pegang botol sirup begitu?” bentak istrinya.
“Kamu ingat pertama kali kita ketemu?”
“Hah? Ngomong apa sih kamu?”
Si manusia pekerja ini pun bercerita panjang lebar, mengingatkan istrinya akan kisah cinta mereka. Bertahun-tahun lalu, jalanan tanah menjadi becek dan berlumpur karena hujan deras. Istrinya berlari-lari ke warung terdekat dari rumahnya, membeli sebotol sirup untuk tamu yang sedang dijamu keluarganya. Keluarga Pak Lurah yang datang melamarnya. Dalam perjalanannya pulang, ia tertabrak sepeda. Sebotol sirup di tangannya terbanting ke tanah dan pecah. Segera ia memarahi laki-laki yang menabraknya. Namun, begitu mereka berada di jarak yang cukup dekat untuk saling memandang, mereka pun diam, saling menatap, reda pula amarah perempuan itu. Hari itu juga, ia menolak anak Pak Lurah, yang gendut dan manja, untuk menjadi suaminya.
Awalnya, si istri tersenyum-senyum mengingat kenangan manis mereka, tetapi seketika kemudian, ia pun menjadi ketus “Sialan! Kalo waktu itu aku ndak ketemu kamu, aku udah jadi istri Si Gendut itu! Lihat istrinya sekarang! Gendut, jelek, tapi baju dan perhiasannya bagus-bagus! Ndak pantas tho kalo dia yang pake! Lebih cocok buat aku!”
Si pekerja tersenyum. Besok-besok, kamu udah bisa beli baju dan perhiasan yang cantik-cantik, batinnya.
Malam itu, sepasangan tuyul ditugaskan untuk mencuri uang dari rumah Pak Lurah. Mereka berlari dan berlompatan menuju rumah Pak Lurah, merasakan kebebasan kehidupan di luar botol kaca. Sampai di rumah Pak Lurah, mereka bahkan tak perlu memanjat dinding. Mereka menembus.
“Hei, ini rumah si gendut!”
“Iya! Ssst! Jangan berisik!”
Tanpa mereka sadari, si gendut yang mereka bicarakan telah berdiri di belakang mereka, bersama dengan istrinya.
“Heh! Ngapain kalian di sini? Ke mana aja kalian?” bentaknya. Tanpa menunggu jawaban, ia pun melanjutkan, “saya udah punya tuyul baru! Saya gak butuh kalian lagi!”
Kedua tuyul itu hanya cekikian.
“Apa? Kenapa kalian ketawa?”
“Anu, kami disuruh orang lain.” aku salah satu dari mereka, sebelum mereka cekikian lagi.
Si gendut saling tatap dengan istrinya. “Siapa?!” si gendut murka.
“Anu, ...” salah satu dari mereka menunjuk ke luar jendela.
“Siapa??” si gendut semakin penasaran. Ia mendekatkan wajahnya ke arah jendela dan menatap jauh ke luar.
“Itu,” si tuyul menunjuk lagi, “yang atapnya seng.”
Si gendut semakin murka, “kan banyak yang atapnya seng! Ah!”
“Hihihihi... Itu, yang ada kucingnya.” Hanya ada satu atap rumah yang saat itu diduduki seekor kucing. Seekor kucing hitam kurus, kucing liar.
Si gendut mendengus jijik, juga puas.
“Ya sudah! Kalian sana! Ambil uang saya dan perhiasan istri saya!”
Si tuyul dan pacarnya bingung, tetapi tetap menjalankan tugasnya.
“Kita panggil polisi sekarang?” tanya istri si gendut yang juga gendut.
“Ah, besok pagi saja,” jawab si gendut.
17/11/08
ganggu
Dia membuatku merasa tidak nyaman. Ya, dia, yang berdiri di depan kelas dengan wajah cerah, senyum mempesona, dan postur tubuh nyaris sempurna.
Dia makin mengganggu kenyamananku dengan berjalan ke arahku, menaruh barang bawaannya tepat di sebelah kakiku, lalu berdiri tepat di sebelahku. Dengan cepat, aku men-dial sebuah nomor di telepon genggamku, lalu beranjak pergi.
“Halo? Jemput aku sekarang di sekolah.”
----
Flashback.
Plak!
Amplop merah jambu berisi sepucuk
“Lo gak usah ngasih-ngasih gue beginian lagi!”
“Kenapa? Kamu gak suka?”
“Bagus kalo lo tau! Gue gak suka lo kasih gue beginian! Gue gak suka lo! Gue paling gak suka lo ganggu cewek gue!”
Seisi kelas menatap kami dengan wajah penasaran.
----
Hmmm, ya, enam tahun lalu, ketika aku mulai menaruh hati padanya, ia telah bersama perempuan itu. Ia masih bersama perempuan itu sampai sekarang. Hal ini masih menyakiti hatiku sampai sekarang. Sebetapapun aku mencoba lari dan melupakan. Aku makin merasa terpuruk setiap aku menyadari bahwa aku hanya seorang perempuan yang sangat biasa, tidak menonjol, sementara perempuan itu nyaris sempurna. Sangat cantik, postur tubuh sempurna, pandai, tegar, luar biasa, mempesona, ia pusat perhatian. Mereka berdua adalah sepasang manusia sempurna.
----
Flashback.
“Kenapa sih kamu benci aku?”
“Pecun bego! Lo gak nyadar? Gila lo ya! Lo tuh cuman bikin rusak hidup gue!”
“Aku cuman cinta kamu. Apa itu salah?”
“Salah besar bego! Makhluk jelek kayak lo tuh gak pantes deket-deket gue! Cuman bikin bencana!”
----
Ya, ya. Makhluk buruk rupa macam aku sempat merusak nama baiknya. Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di mal. Aku melihatnya, lalu mengejar-ngejarnya. Beberapa orang yang berival dengannya melihat adegan tersebut, menyebarkan gosip ke mana-mana bahwa ia berselingkuh dengan pembantu rumah tangga.
----
Flashback.
“Gue mau minta maaf sama lo.”
“Kenapa?”
“Selama ini, gue sering jahat sama lo. Gue sering ngerjain lo. Padahal, lo
Pipiku memerah. “Gakpapa kok.”
“Makasi yah.”
Ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi kiriku, memajukan tubuhnya hingga hampir menghimpitku kepada dinding, lalu berbisik halus di telingaku.
“Kamu mau jadi pacarku?”
Sekujur tubuhku panas seketika dan wajahku merah tak terkira. Mulutku terbuka tanpa suara. Aku tak sanggup berkata-kata, apalagi menjawab.
Seketika, sejumlah tawa besar meledak.
“Hebat! Hebat lo! Hahaha!”
“Ayo kita maen lagi!”
Ternyata dia kalah taruhan.
Perasaanku? Bayangkan saja sendiri.
----
Yang menjemputku tidak datang-datang. Aku mulai bosan. Aku menoleh sekeliling. Sekejap, aku memergoki matanya melirik ke arahku. Aku beranjak ke tempat yang lebih jauh.
----
Flashback.
“Wah, lo berubah banget yah sekarang? Udah ngerti tren dan make-up.”
Aku hanya tersenyum.
“Sayang, kalo tampang udah ugly, didempul setebel apapun yah tetep ugly!”
Tawa meledak. Aku diam. Aku mengeluyur pergi. Berlari ke toilet. Menangis sesungukan di
----
Akhirnya, yang menjemputku pun datang. Aku beranjak dari lobi sekolah ke lapangan parkir. Di
Seketika, kulihat beberapa laki-laki, termasuk dia yang kehadirannya membuatku merasa tidak nyaman, menghampiri kami.
----
Flashback.
“Kamu mau gak nerima aku jadi pacar kamu?”
“Hm? Emangnya, kamu mau sama cewek jelek kayak aku?”
“Kamu gak usah denger omongan orang yang gak bagus begitu. Kamu jangan ikut-ikutan mereka menghina ciptaan Tuhan.”
“Hm... Apa kamu suka aku?”
“Iya.”
“Sejak aku jadi lebih cantik?”
“Sejak pertama aku lihat kamu, kamu udah cantik.”
Aku tersenyum bahagia.
Aku pun tersadar seketika, berjuta adegan melintas di kepalaku sebagai bukti, selama ini ia memang begitu baik dan memperhatikanku.
----
Beberapa dari mereka membawa balok kayu. Aku mulai ketakutan. Aku berteriak. Laki-laki yang tadi kutunggu-tunggu memelukku erat.
----
Flashback.
“Hebat yah, lo sekarang udah punya cowok!”
“Iya. Jadi, sekarang lo bisa tenang. Gue gak bakal ganggu cowok lo lagi.”
“Gak segampang itu.”
“Mau apa lagi? Selama ini, kalian berdua udah cukup banyak ngerjain gue. Apa gak cukup?”
“Gak. Gue mau lo putusin cowok lo itu.”
“Hah? Lo gila!”
“Gue gak suka lo deket-deket dia!”
“Eh, lo
----
“
“Brengsek lo!”
“Aku salah apa?”
“Gue kasih tau lo! Cewek gue selama bertahun-tahun nempel-nempelin gue cuman buat ngejar lo! Ternyata lo lebih milih pecun buluk ini!”
“Jangan kasar gitu dong, kak!”
“Najis lo masih manggil gue kakak! Gue gak sudi punya adek kayak lo!”
Hantam.
Ribut.
Hantam.
Darah.
Hantam.
Ribut.
Hantam.
Habis.
----
Flasback.
“Kalo aku mati nanti, aku mau kamu inget bahwa aku cinta kamu dan buat aku selamanya kamu yang paling cantik.”
“Ih, jangan ngomong gitu ah! Serem banget sih!”
“Kita bisa mati kapan aja.”
24/09/08
comblangkan saja
“Ehm, Ta...”
“Iya?”
“Aku pengen ngomong nih sama kamu.”
”Ngomong aja.”
”Aku udah lama suka sama kamu.”
”...”
”Kamu mau gak jadi pacarku?”
”Kita ’kan kakak-adek?”
”Tapi ’kan gak beneran.”
”Hmm...”
”Gimana? Kamu butuh waktu untuk mikir-mikir dulu.”
”Nggak deh. Aku gak mau jadi pacar kamu. Kayak gini udah cukup kok.”
***
”Ta, gimana acara nge-date lo kemaren?”
”Sukses berat! Dia nembak gue!”
”Waaah... Kalian udah jadian dong sekarang!”
”Nggak tuh!”
”Lho? Kok bisa?”
”Yah gue tolak lah!”
(Kaget) ”Kenapa ditolak?”
”Jual mahal dikit dong! Pasti dia bakal ngejar-ngejar gue terus!”
”Sumpah, lo pinter banget!”
“Hahaha! Ya iyalah!”
***
Hari biasa. Bangun pagi, mandi, mempersiapkan diri, sarapan pagi, pergi ke sekolah. Datang lebih awal 30 menit dari biasanya sebagai hukuman karena terlambat masuk sekolah di hari sebelumnya. Hari biasa yang tidak biasa bagi Udin disebabkan rencana yang telah disusun rapi oleh dirinya sendiri.
Menganggur 30 menit, belajar 3 x 45 menit, istirahat 15 menit, belajar lagi 3 x 45 menit, istirahat 30 menit, belajar lagi 3 x 45 menit, lalu pulang. Jam pulang sekolah, jam biasa yang sangat tidak biasa bagi Udin saat ini. Saatnya untuk melaksanakan rencananya. Jantungnya maraton, hatinya konser musik metal, darahnya balapan liar, otaknya tawuran, sementara tangan, kaki, dan ketiaknya banjir.
Setelah melantunkan doa ratusan kali, ia beranjak dari kelasnya ke kelas target yang telah ditentukannya.
”Ehm, Na?”
”Iya?”
”Bisa ngomong bentar?”
”Iya. Apa?”
“Ehm... Gini lho... Ehm...”
”Iya?”
”Gue tuh... Gue... Ehm...”
“Napa?”
“Gue... Suka... Ehm...”
”Apa?”
”Ehm... Sama... Elo...”
(Malu-malu)
”Ehm... Gimana kalo kita pacaran?”
”Ehm... Gimana yah... Bukannya lo lagi deket sama si Tata?”
”Iya sih...”
”Kenapa gak pacaran sama dia aja?”
”Udah gue tanya...”
”Terus?”
”Dia gak mau.”
“Oooh... Jadi lo nembak gue karena abis ditolak dia?”
“Hah? Eh... Nggak gitu sih...”
“Nggak banget deh!”
“Eh, gak gitu ceritanya...”
“Udah yah, gue pulang dulu.”
“Bentar...”
“Udah dijemput!”
***
“Ta, lo udah denger gosip terbaru belum?”
“Apaan?”
“Si Udin nembak Nana!”
“Hah?? Gak usah bohongin gue deh!”
“Suwer, Ta!”
“Sial banget tuh anak!”
“Hmmm... Udin ato Nana?”
“Semuanya!! Harus gue labrak tuh anak!”
“Hmmm... Udin ato Nana?”
“Yah Nana lah, tolol! Gak mungkin ‘
***
“Din, kalo emang udah jadian sama Tata, harusnya lo gak nembak gue waktu itu.”
“Hah? ‘
“Jangan bo’ong, Din. Kemaren dia marah-marah sama gue.”
“What the... Gila!”
***
“Din, napa dangdut gitu muka lo?”
“Seteres.”
“Cerita donk!”
“Si Tata.”
“
“Gue nembak dia, ditolak. Gue nembak cewek lain, dia marah.”
“Oh... Dia emang udah kayak gitu dari dulu!”
“Hah? Kok lo tau?”
“Dulu gue juga digituin sama dia!”
“Sial! Kok gue gak tau!”
“Hahaha! Lo emang gak usah jadi biang gosip, tapi tetep harus tau gosip!”
“Hhhh... Trus lo gimana dulu?”
“Gue comblangin aja dia ama cowok laen. Udah deh, lepas dari gue!”
“Oooh... Gitu toh! Terus, dulu lo comblangin dia ama sapa?”
“Elu. Hehehe...”
06/08/08
wewek in the bottle
“Kamu pernah jatuh cinta?”
“Ah, pertanyaan klise.”
”Tapi menarik.”
”Hanya bagi orang-orang yang suka mengurusi hal-hal sepele.”
”Orang-orang yang tidak bisa mengurusi hal-hal sepele, tidak akan bisa mengurusi hal-hal besar.”
”Orang-orang yang terlalu banyak mengurusi hal-hal sepele, tidak akan pernah menyadari hal-hal besar untuk diurusi.”
”Tidak berarti hal-hal sepele tidak perlu diurusi, ‘
“Huh…”
***
Ketika dipasangkan untuk duduk bersama Kuntilanak oleh wali kelasnya, Jurig merasa ditimpa bencana besar untuk setahun pelajaran ke depan. Perasaan yang selalu ia rasakan setiap tahun, setiap kenaikan kelas, setiap dipasangkan dengan seseorang untuk menjadi tetangga bangkunya di sekolah.
Keuntungan bagi Kuntilanak yang mudah bergaul, ia dapat dengan cepat akrab dengan teman-teman di sekitar tempat duduknya. Jika sedang bosan, ia langsung mengobrol dengan tetangga di seberangnya, atau depan belakangnya. Namun, ia tetap risih karena hantu di sebelahnya diam sehening cadas. Kadang ia bergidik, merasa duduk di sebelah manusia (ini salah satu pengaruh hobinya menonton film horor). Apalagi, ia sering diabaikan ketika mengajak sang cadas berbicara. Jika sedang beruntung, ia masih bisa mendapatkan jawaban ketus.
Keuntungan bagi Jurig, nyaris tidak ada kecuali tempat duduknya yang tepat di tengah kelas itu membuatnya nyaman. Sementara, Kuntilanak seringkali mengganggunya dengan mengajaknya mengobrol ketika pelajaran sedang berlangsung atau ketika ia sedang membaca buku saat jam istirahat.
***
Pada suatu jam istirahat, seperti biasa, Jurig membaca buku berisi jurus-jurus Ki Jaka Bono. Tiba-tiba, datang Kuntilanak sendirian (biasanya ia selalu bergerombol dengan cewek-cewek tukang rumpi), menghampiri Jurig.
”Eh, kenapa sih lu selalu sendirian?” buka Kuntilanak.
”Suka-suka gue,” jawab Jurig tanpa berpaling dari bukunya.
”Pasti ada alesan yang lebih jelas dong?”
Kali ini, Jurig berhenti membaca dan memalingkan tatapan kepada Kuntilanak. ”Otak lu terlalu dangkal.”
”Otak gue masih bisa digali lagi kok.”
”Gak semua orang mau otaknya digali-gali.”
”Oke, tapi karena gue mau, lu mau dong ngobrol sama gue?”
“Hah? Yang ada entar kita gak nyambung!”
“Coba dulu!”
Jurig tidak menyangka, jika Kuntilanak tidak kalah berpengetahuan dan berwawasan dibanding dirinya. Maka, segera terkikis sikap sombong yang sebelumnya juga ia tunjukkan kepada Kuntilanak.
***
Di hari sebelumnya, Kuntilanak terlibat pembiacaraan dengan beberapa temannya. Mungki hanya salah satu temannya, yang selalu diekori beberapa teman lainnya. Si teman ini bernama Wewek.
“Lu betah duduk ama si Jurig?”
“Oke aja. Kenapa?”
“Ih, gue sih benci banget ama dia!”
“Kenapa?”
“Udah jutek, sombong, aneh lagi!”
“Bukan karena Tuyul suka lirik-lirik dia?”
“Kurang ajar lu!”
Kuntilanak mengangkat kedua tangannya setinggi bahu dan menampakkan kedua telapak tangannya, tanda tak ingin bertengkar.
“Gue mau minta tolong sama lu,” lanjut Wewek.
Kuntilanak mengangkat kedua alisnya, tanda tertarik.
“Gue butuh lu buat ngerjain si Jurig!”
“Kalo gue gak mau?”
“Kita semua bakal musuhin lu dan itu berarti seisi sekolah juga bakal musuhin lu!”
“Hmm, gue pikir-pikir dulu deh!”
“Hah? Mau mikir apa lagi? Emangnya lu mau jadi public enemy?”
“Nggak sih, tapi gue juga gak suka celakain orang lain dengan sengaja.”
“Huh! Pikirin deh!”
Kemudian, Wewek and the gank melangkah pergi dengan langkah kucing.
***
Hanya dalam kurun beberapa hari berteman dengan Kuntilanak, Jurig telah menyadari betapa sama sekali tidak ada makhluk yang punya alasan untuk sombong. Ia menyesali dirinya di masa lalu yang angkuh dan menyepelekan orang lain. Ia belajar bersikap seperti Kuntilanak, yang menganut ilmu padi. Makin berisi, makin menunduk. Ia juga belajar berbicara dengan orang lain dengan ramah dan sesuai dengan bahasa mereka. Artinya, ia tidak bicara politik dengan pecinta musik. Ia tidak bicara olahraga dengan pecinta teater. Ia tidak bergosip dengan pecinta agama. Hal tersebut membuatnya menambah pengetahuan dari berbagai bidang.
Nun jauh di tempat lain, sepasang bola mata memandang benci kepada Jurig yang semakin terbuka untuk berteman dan bertambah temannya. Wewek, pemilik sepasang mata indah itu, merasa terancam karena perubahan Jurig. Ia lebih merasa terancam lagi (ditambah cemburu) ketika melihat Jurig bersenda gurau dan berbagi sesajen dengan Tuyul di jam istirahat sekolah di kelas mereka.
“Di Sekolah Setan ini, gue cewek paling cantik! Kenapa Tuyul malah deket-deket sama Jurig?! Kenapa bukan sama gue!”
Bidak-bidak pengekornya diam semua.
Wewek kesal. Ia memukulkan tangannya kepada tembok, bangkit berdiri bangkunya, lalu berjalan penuh amarah tanpa menghilangkan kesan anggunnya. Ia hendak menghampiri Jurig untuk menjambaki rambutnya, menampari mukanya, dan menjejali mulutnya dengan tanah!
Sayangnya, belum sepuluh meter ia melangkah, ia harus memekik ngilu, sehingga semua mata teralih padanya. Semua mata itu terkejut dan takut. Ekspresi yang terkadang diikuti seringai ngeri. Kemudian, semua berhambur keluar kelas untuk mencari ruangan lain yang lebih aman.
Di
Wewek menangis sejadi-jadinya di dalam botol sirup kaca yang tutupnya berbahan plastik berwarna putih.
24/03/08
tante peri*
Tante Peri. Begitulah biasa kupanggil dia. Waktu aku masih kecil orang-orang menganggapnya teman khayalanku karena hanya aku yang dapat melihatnya, tapi sampai saat ini pun, saat aku duduk di bangku SMU, ia masih bersamaku dan ia begitu nyata. Mungkin aku terlalu banyak menonton serial TV yang episodenya tak berkesudahan. Mereka mencekokiku kepercayaan akan makhluk-makhluk gaib.
“Ayo bongkar! Curi soal tes minggu depan!” seru Tante Peri padaku saat aku berada di ruang wali kelasku, guru fisika, karena keanjlokan nilai-nilaiku. Aku hanya berdiri diam, sementara Pak Hasan, guru fisikaku, belum kembali dari toilet.
“Kalau kamu nggak nurut, nanti kamu kutinggalkan!” ancam Tante Peri. Aku benci kesendirian. Kuputar kunci laci yang tertancap pasrah pada lubangnya dan kutarik laci itu keluar dari persembunyiannya pelan-pelan. Tanpa lama kurogohi, kutemukan soal tes yang kucari. Hanya kuambil selembar dari tumpukan itu. Pak Hasan tidak akan menyadarinya. Aku melipat-lipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celanaku, sementara Tante Peri terbang bolak-balik dengan senang sambil tertawa melengking. Tawa yang menyamankan telingaku. Mungkin karena aku sudah terbiasa mendengarkannya.
Setelah mendapat surat panggilan untuk orang tuaku, aku meninggalkan ruangan Pak Hasan. Aku berjalan dengan tenang dan senang ke kelas karena aku tahu aku tidak akan mendapat nilai jelek untuk tes minggu depan.
“Hei, Duck!” teriak seorang anak laki-laki padaku sambil menempeleng bagian belakang kepalaku. Mereka memanggilku begitu karena menurut mereka aku harus mengikuti reality show “Duck” yang me-make over seorang buruk rupa secara ekstrim. Lalu seorang temannya menyelengkatku sampai jatuh. Bangun dari posisi tengkurap bukanlah hal mudah untukku. Ada yang mengambil kacamata bulat tebalku dan melemparnya ke suatu tempat yang jauh.
Bel masuk berdering tanda usainya istirahat. Anak-anak lain menjejalkan diri ke dalam kelas, sementara aku merabai koridor panjang sekolah demi menemukan kacamataku dan Tante Peri hanya tertawa sambil terbang mengitar di atas kepalaku dan mengejekku. Setelah lama aku merangkak di koridor sambil meraba-raba tanpa ada yang peduli, aku menemukan kacamataku dalam keadaan cukup baik. Hanya lecet sedikit. Baguslah, kali ini kacamataku tidak pecah. Tante Peri menyuruhku membolos pada jam pelajaran ini daripada masuk terlambat. Aku selalu menurut karena aku belum pernah membuat keputusan sendiri.
Aku ke toilet untuk mencuci muka dan membersihkan kacamataku. Sampai di toilet, aku bertemu beberapa anak sekelasku. Mereka menyeretku ke kelas dan mengadukan pada guru yang saat itu mengajar bahwa aku membolos, sehingga aku harus berdiri di belakang kelas selama ia mengajar. Seperti biasa, Tante Peri hanya tertawa dan mengejekku.
Di sini aku berdiri tepat di belakang seorang gadis yang kutaksir sejak SMP.
“Tarik! Tarik!” bisik Tante Peri pada telingaku saat kutatap tali bra-nya yang biru muda terang dan mencolok mengalahkan daya lapis kemeja ketatnya. Tak perlu kusadari saat tanganku mengulur, lalu menarik dan melepas tali itu dengan cepat. PLAK! Kentara betul bunyinya. Ia begitu terkejut.
Ia dan seisi kelas kini menatapiku. Aku hanya celingak-celinguk tanpa ekspresi khusus pada wajahku, sementara Tante Peri begitu riangnya melengkingkan tawanya sambil mengitari kepalaku. Melewati wajahku berkali-kali dengan cepat.
“Nando narik tali beha Lina, Pak.” Jawab anak sebangku Lina dengan tampang polos saat guru menanyainya. Itu membuat seisi kelas terbahak membuat gemuruh. Wajah Lina sangat merah sekarang. Paduan antara malu dan marah.
***
Setelah bel pulang sekolah berbunyi aku buru-buru mengeluarkan diri dari kelas, berhubung tempat dudukku paling dekat dengan pintu kelas, sebelum anak-anak lain berhamburan ke koridor dan menggencetiku. Sayang, sebuah tarikan pada bagian belakang kerah bajuku membatalkan segala niatku. Lina dan teman-temannya.
“Buat apa sih lo kayak gitu tadi?” bentaknya tanpa bisa kujawab. Mereka menyeretku cukup jauh sampai ke perkarangan di belakang sekolah. Tante Peri memang tak pernah membantu. Hanya tertawa dengan lengkingan.
“Lo nggak ada kerjaan lain ya?”
“Lo tuh mendingan isi formulir buat ikutan Duck!”
“Iye. Biar lo disedot lemak!”
“Lemak lo tuh musti disedot tujuh kali baru lo bisa langsing !”
“Trus lo musti oprasi plastik tujuh kali biar tampang lo nggak bikin eneg!”
Tak satupun makian mereka kujawab karena mereka pasti tertawa mendengar kegagapanku. Mereka memukuli, menendangi, dan menginjakiku. Setelah selesai, mereka bubar meninggalkanku berdua dengan Tante Peri.
“Kamu jelek! Kamu jelek! Gendut!” Tante Peri terus-menerus mengejekku. Tetap terdengar cemooh itu meskipun kututup rapat telingaku. Tetap tampak tariannya meskipun kututup rapat mataku. Sangat lama. Tiba-tiba semua itu berhenti.
“Hei, ayo cari dia!” Tante Peri membangunkanku dari ketertutupanku.
Sore sudah larut. Aku bangkit dan mulai mengendap-endap menyelidiki setiap sudut sekolah. Hanya kutemukan penjaga sekolah tertidur pulas dekat gerbang sekolah. Setelah cukup lama aku mondar-mandir, kudapati Lina memasuki toilet wanita dengan seragam cheerleader-merah-ngejreng-nya. Teman-temannya pasti sudah pulang.
“Kerjain dia!” kata Tante Peri,”Nggak bakal ada yang tau!”
Aku berjalan tanpa suara memasuki toilet wanita. Ia sedang berada di salah satu ruangan dalam toilet itu. Ruangan paling ujung. Kulihat strip kecil di atas gagang pintu itu berwarna hijau, bukan merah. Ia tidak mengunci pintunya. Meskipun sulit, kurendahkan kepalaku untuk mengintip lubang setinggi sejengkal di bawah pintu itu. Kudapati kaki-kaki indahnya tanpa alas.
Begitu saja aku menerobos masuk. Kuincar mulutnya untuk kubekap dengan satu tanganku dan tanganku yang lain memelintir dan menggenggami kedua tangannya di depan punggungnya dengan kuat. Dengan sangat cepat kuambil salah satu baju pada gantungan pintu untuk menyumpal mulutnya. Lalu, kuambil kain lain yang tergantung untuk mengikat tangannya. Kulepas dasiku untuk mengikat kakinya. Setelah itu, kukunci pintu WC itu. Rontaannya yang tadi bergitu kuat sekarang terasa begitu pasrah. Ia mulai meneteskan air mata, sementara keringatku pun menetes-netes.
“Buka!” pinta Tante Peri dengan bisikan geram.
Tangan-tanganku mulai kelayapan mem-browse kulitnya dan hendak melepaskan helai-helai yang melapisinya. Kulihat wajahnya begitu ketakutan dan tatapan memohon ampunnya padaku membuatku lemas. Kuhentikan aksiku dan aku hanya duduk diam di depannya. Ia pun merosot jatuh dari posisi berdiri ke posisi duduk di depanku. Aku tak akan sanggup. Ia satu-satunya manusia yang kusayangi.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Tante Peri sambil melototiku.
“Aku nggak mau nyakitin dia, Tante Peri.” Ucapku dengan lancar. Lina menatapku dengan bingung. Entah bingung karena kegagapanku telah ciut dan hilang atau karena “Tante Peri”. Tante Peri begitu marah, ia terbang dengan cepat untuk meninggalkanku.
Aku maju dan memeluk Lina dengan erat. Kubenamkan wajahnya ke dadaku yang empuk. Cukup lama kurasakan pemberontakannya sampai akhirnya ia hening. Kurenggangkan pelukanku. Kutatap wajahnya yang biru dan matanya yang membelalak kaku. Ia lemas. Buru-buru kukeluarkan kain yang menyumpal mulutnya dan kulepaskan segala yang mengikat pergelangannya. Kupegangi wajahnya dan kutampar pelan beberapa kali tanpa ia beri reaksi. Butuh waktu cukup lama untuk kusadari bahwa ia telah pergi meninggalkanku SENDIRIAN.
Dadaku kembang kempis dengan cepat saat aku berusaha membuka pintu dengan tangan-tanganku yang gemetaran. Setelah aku dapat menghambur keluar dari sana, kupanggil Tante Peri. Aku berteriak dengan serak dan dia tak kunjung tiba. Satu tanganku memegang dan memeras dadaku yang sakit dan tanganku yang lain bertumpu pada wastafel untuk membangkitkan tubuhku. Baru sejenak aku berdiri agak tegak, banyak kunang-kunang menghinggapi mataku dan menari-nari disana. Kepalaku sangat sakit. Ngilu dan berputar-putar. Aku kehilangan kekuatan dan keseimbangan. Aku roboh dan kepalaku menghantam wastafel yang jelas tak mungkin dikalahkannya. Hal terakhir yang kurasakan adalah panas dan amir cairan yang mengalir keluar dari kepalaku.
27/01/08
wafat
Rambut-rambut halusku memberontak bangun dari kulitku. Mataku tak hendak berkedip dan keningku tak berhenti berkerut. Aku sedang menyaksikan berita tentang wafatnya Pak Harto, mantan presiden
Aku berpikir, apakah memang ada orang yang berduka cita selain keluarga Cendana? Apakah semua orang hanya berpura-pura bersedih? Aku tidak tahu. Aku pun bingung mengapa aku merasakan kesedihan dan kehilangan. Ia adalah satu-satunya manusia yang kutunggu kematiannya. Bukankah seharusnya aku senang? Aku tidak senang.
Aku tahu, seharusnya aku senang sebab aku menaruh dendam kepadanya. Aku tahu bagaimana ia membuat susah keluargaku karena kami berkulit kuning dan bermata sipit. Itu adalah alasan utama. Aku juga tahu ia adalah diktator dan koruptor raksasa di
Namun, siapakah aku sehingga aku berhak menghakiminya? Tidak, aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak. Semua itu adalah bagian Tuhan. Ia yang berhak menghakimi. Manusia bahkan tak berhak mengira-ngira kemana ia akan pergi, surga atau neraka. Semua itu keputusan Tuhan. Aku meminta ampun kepada Tuhan karena telah mengharapkan kematiannya, telah mendendaminya, telah menghakiminya. Semua itu salah. Aku tidak berhak.
Aku masih menatapi layar kaca. Ayah dan ibuku masih seru dan serius menyaksikan berita berupa siaran langsung yang diliput seorang reporter wanita. Tak lama kemudian, latar dari lapangan dengan reporter berpindah ke studio dengan seorang penyiar yang juga wanita. Penyiar itu memberitakan bahwa Mantan Presiden Soeharto wafat pada hari Minggu tanggal 27 Januari 2008 jam satu siang. Belum lama.
10/12/07
hahaha
Sungguh menyebalkan bagaimana ia sering tidak menggubris telepon dan pesan singkat yang puluhan kali berangkat dari ponselku ke ponselnya. Apalagi alasannya yang sekedar “sori, tadi aku lagi tidur” membuat rasa sebalku terdesak sampai ke tenggorokan karena merasa diremehkan olehnya.
Aku tahu, hubungan kami tidak lagi sepasang kekasih. Mungkin itu yang membuatnya tidak menganggapku penting lagi. Ah, tapi ia tetap mencurahkan perhatian dan kebaikannya kepadaku secara berlebih. Juga, ia pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah mencari wanita lain untuk mendampinginya. Ia selalu menyatakan bahwa ia telah terpaku padaku.
+
Ah, dasar perempuan. Selalu saja cerewet menanyakan banyak hal. Padahal aku sedang asik berbagi birahi dengan kekasihku, tapi ia terus-menerus meneleponku dan mengirimku pesan-pesan pendek. Kuatur saja agar ponselku tidak berbunyi dan tidak begetar, lalu kutaruh ponsel itu di dalam laci. Toh ia tidak berhak marah karena ia bukan kekasihku lagi.
Ya, aku memang harus menjaga perasaannya. Mudah saja. Tinggal meminta maaf sekenanya, dan menghujaninya dengan segumpal gombal, ia akan luluh. Wanita seperti dia memang mudah dimainkan perasaannya.
Tentu saja aku harus menjaga perasaannya. Meskipun kami tidak lagi sepasang kekasih, aku akan terus berusaha agar ia terus terikat denganku. Dengan begitu, apa yang kuperlukan untuk membahagiakan kekasihku dapat kuperoleh dengan mudah.
+
Kurang ajar! Wanita itu mengganggu saja! Padahal pria kesayanganku itu sedang bersamaku. Haruskah ia mengganggu kami setiap saat? Huh, tak apalah. Ia akan mendapat ganjarannya nanti.
+++
Oh, tidak! Belakangan ini aku merasa mengalami penuaan dengan sangat cepat. Apakah ini karena stres atau cermin memang tidak bersahabat atau apa? Mengapa kelesuan, kekuyuan, keletihan, keriputan, bermunculan menghuni wajahku. Orang-orang disekitarku sampai mengira aku sedang sakit. Mungkin aku memang sakit. Aku merasa tidak enak badan. Pak Kepala Sekolah sampai memberiku cuti untuk istirahat mengajar selama seminggu.
+
Sedikit lagi, aku tak perlu lagi berurusan dengan wanita manja itu. Aku dapat mencurahkan seluruh perhatianku kepada kekasihku seorang.
+
Hahaha! Aku senang mencuri semua itu dari wanita sialan yang menggangguku dan kekasihku. Aku akan ambil seluruh kecantikan dan energi yang ia punya. Tanpa sisa.
+++
Aku kelelahan, terlalu stres, dehidrasi, kurang gizi, dan entah apa lagi? Apakah kau percaya? Aku harus dirawat inap di rumah sakit. Oh, ini berarti aku harus meminta uang dari kedua orang tuaku yang tinggal di luar
+
Aku ingin tahu bagaimana kabar mantan kekasihku itu. Ia tidak lagi menghubungiku. Pasti ia sudah tidak kuat lagi. Aku tak dapat membayangkannya. Yang penting, sekarang kekasihku bertambah cantik dan mempesona. Ia begitu bersinar dan energik.
+
Perlahan-lahan, wanita itu akan mati. Kubayangkan sekarang ia sedang sekarat. Aku bahagia. Aku masih ingat bagaimana dulu ia menghalangi hubunganku dengan kekasihku. Ya, ia penghalang. Entah apa kelebihannya yang membuat kekasihku lebih memilihnya daripada aku.
Untungnya, langkah yang kuambil sangat tepat. Mayor Gimbal, dukun pilihanku. Berkat jasanyalah sekarang kekasihku tergila-gila padaku. Tak ada wanita lain yang dapat menandingiku di hatinya. Semua yang kuminta selalu ia turuti dan ia usahakan terkabul. Bahkan, mengorbankan wanita sial itu pun ia lakukan demi diriku.
Aku bahagia!
+++
Seminggu sejak aku diberi cuti, aku telah lumpuh total. Teman-temanku kalang kabut. Tidak ada dokter yang dapat menjelaskan gangguan medis macam apa yang kualami. Akhirnya, teman-temanku mengambil kesimpulan : aku terkena guna-guna. Mereka pun memanggil dukun.
Aku yang tidak percaya dukun tidak dapat protes karena lidahku pun telah kelu. Aku harus pasrah tubuhku ditaburi macam-macam bunga dan wajahku terus-menerus disemburi air bekas kumur si dukun, lalu dibacai berbagai mantra dan dirituali macam-macam. Setelah semua itu berakhir, kami hanya mendapat kalimat “orang yang mengguna-gunainya mendatangi dukun yang jauh lebih sakti dari saya. Ia adalah dukun paling sakti di
+
Aku telah lama melupakan mantan kekasihku. Kalaupun mengingatnya, aku hanya sekedar ingin tahu bagaimana wujudnya sekarang. Mungkin ia seperti nenek-nenek lumpuh. Aku kurang peduli sebab di hadapanku telah ada seorang biadadari cantik yang menghipnotisku dengan pesonanya.
+
Kekasihku makin tergila-gila kepadaku. Bayangan wanita sial itu pasti telah terhapus bersih dari ingatannya. Aku akan memberi banyak hadiah untuk Mayor Gimbal.
+++
Maaf, teman serumahku yang tadi lumpuh itu kini telah meninggal. Aku akan mewakilinya untuk melanjutkan cerita.
Temanku yang tadinya muda, cerah, bersemangat, telah perlahan-lahan menjadi kisut. Meskipun perlahan-lahan, hal itu tetap terlalu cepat. Orang lain akan mengalaminya dalam waktu
Aku akan berusaha mendeskripsikan kondisinya saat meninggal. Ia telah mengerut seperti buah yang air dan sarinya tersedot habis dari dalam. Kulit kuning langsatnya yang indah berisi telah menjadi hitam dekil dan longgar seolah tanpa daging. Rambut hitam lurus lebat panjangnya yang indah berkilau telah menjadi putih jarang dan kusut. Gigi-giginya menguning dan sebagian berlubang hitam. Bibirnya yang dahulu merah delima dan berisi telah tersedot masuk dan kusut ke dalam rongga mulutnya. Jari-jarinya yang lentik mengering dan menggulung menjadi keriting. Kuku-kukunya yang dahulu bersih terawat menjadi hitam dan terkelupas. Bentuk tubuhnya yang sintal berisi menjadi sekedar tulang-belulang berlapis kulit. Buah dadanya yang bulat kencang dan indah seolah ditarik paksa oleh gravitasi menjadi panjang dan gepeng. Initnya, ia sangat buruk rupa.
Kami, teman-teman terdekatnya, berusaha agar orang-orang yang melayat tidak melihat mayatnya. Kami pun harus begadang semalaman untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita kematiannya yang tragis keluarganya.
+
Hah? Apa? Mantan kekasihku? Aku tidak punya mantan kekasih. Wanita di hadapanku adalah satu-satunya kekasih yang pernah bertahta di hatiku dan ia akan menjadi ratu di
+
Aku bahagia! Hahahahahahahaha…
+++
05/11/07
rumah
Aku senang pulang ke rumah. Rumah adalah tempat yang menyenangkan. Di rumah ada kamarku yang luas dan indah. Di kamarku ada televisi, komputer, playstation, sound system, dan sebuah lemari yang sangat besar tempat boneka-bonekaku tinggal. Di rumah juga ada seorang adik kecil yang lucu dan menggemaskan. Terkadang, di rumah juga ada ayah dan ibu yang selalu memanjakanku. Tidak lupa, di rumah ada pembantu-pembantu yang sangat baik.
Rumah teman-temanku pun tak kalah menyenangkan. Salah satu temanku mempunyai rumah yang sangat luas. Di
Itulah mengapa aku tidak mengerti apa yang membuat dia tidak senang pulang ke rumahnya. Aku ingin mendekatinya dan menanyakan hal itu kepadanya, tapi dia seorang penyendiri yang tidak suka bicara. Aku jadi segan mendekatinya. Apalagi, teman-temanku mengatakan bahwa dia bervirus menular, orang miskin (apa itu miskin?), anak haram (apa pula aritnya?), dan banyak lagi. Padahal, dia adalah anak yang pandai. Setahuku, dia bersekolah dengan beasiswa.
Meskipun banyak tuduhan yang ditujukan kepadanya, aku tidak mau mempedulikan itu. Aku tetap ingin mendekatinya, berteman dengannya. Maka, semua temanku yang dahulu telah meninggalkanku. Menjauhiku. Mengecapku sebagai anak bervirus lainnya. Itu semua tidak mempengaruhiku. Aku tetap ingin berteman dengannya. Sayangnya, ia memang benar-benar sulit didekati. Aku selalu diacuhkannya, sehingga aku seperti anak yang tidak punya teman sama sekali. Sekarang aku memang tidak punya teman lagi. Teman-teman lama telah memusuhiku dan teman baruku tidak mau berteman denganku.
Untungnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan yang baik untuk memulai pertemanan dengannya. Saat itu adalah jam istirahat. Setelah jajan beberapa kotak kue dan beberapa gelas air mineral, aku langsung menuju ke kelas. Jauh lebih baik daripada diganggu anak-anak lain di kantin. Begitu sampai di kelas, aku mendapatinya sedang menyendiri di tempat duduknya di pojok kanan belakang kelas. Dia sedang menunduk sambil memegangi, mungkin meremasi, perutnya. Aku langsung menghampirinya dan menaruh sekotak kue di atas meja di depannya. Sejenak dia terkejut, lalu dia membuka kotak itu dan melahap habis isinya. Saat kulihat dia agak kesulitan menelan suapan terakhir yang masih dikunyahnya, aku menaruh segelas air mineral di hadapannya. Tak ragu-ragu, dia langsung merobek selembar plastik yang menutupi bagian atas gelas plastik itu dan menegak habis air di dalamnya. Setelah itu ia bersendawa. Aku menatapnya sambil menahan tawa. Dia sadar dan tersipu malu. Akhirnya, kami tertawa lepas bersama. Sejak saat itu, kami berteman.
Karena kami telah akrab, aku tidak lagi segan menanyakan hal-hal tentang dirinya yang membuatku penasaran. Ia pun selalu dengan senang hati menjawabnya, meskipun aku sering tidak mengerti jawabannya. Misalnya, ketika kutanya hari ulang tahunnya. Satu Januari. Kukira, dia akan mendapat banyak hadiah sekaligus karena merayakan dua hal dalam satu hari. Ternyata tidak. Katanya, keluarganya miskin dan tidak mampu membelikannya hadiah. Ketika kutanya apa itu miskin, dia menjawab bahwa miskin adalah tidak mempunyai cukup uang untuk memenuhi kebutuhan. Aku hanya mengangguk pura-pura mengerti.
Suatu hari, aku memberanikan diri menanyakan alasannya tidak menyukai rumahnya. Kali ini lain dari biasanya, dia tidak mau membicarakannya. Setelah aku mendesak, akhirnya dia berkata bahwa rumahnya tidak menyenangkan. Dia bercerita bahwa ibunya sangat membencinya. Ibunya selalu menyuruhnya melakukan semua pekerjaan rumah dan ibunya selalu menyalahkannya atas kesalahan-kesalahan yang tidak diperbuatnya. Ibunya juga sering memukuli pantatnya dengan tangkai sapu ijuk.
Aku tercengang mendengar semua itu. Aku mengutarakan pemikiranku bahwa ibunya itu bisa jadi bukan ibu kandungnya. Seperti di sinetron-sinetron. Dia membantah. Aku tidak percaya. Dia meyakinkanku. Dia bilang, ibunya membencinya karena dia adalah anak haram. Ibunya bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Aku lebih keheranan lagi. Dia memberitahu bahwa ibunya seorang pekerja seks. Aku tidak mengerti. Dia bilang, suatu saat nanti, aku akan mengerti. Aku mengangguk saja.
Setelah itu, aku ingin mengunjungi rumahnya. Aku ingin tahu rupa ibunya yang jahat itu. Dia melarangku. Katanya, jika aku telah mengunjungi rumahnya, aku tidak akan lagi mau berteman dengannya. Aku bilang, aku akan tetap berteman dengannya sampai kapan pun. Aku berjanji. Kami saling mengaitkan kelingking.
Kami berjalan bersama menuju rumahnya. Rumahnya terletak di ujung jalan sempit. Sebelumnya, aku tidak pernah tahu ada jalan sesempit itu dan ada tempat seperti itu. Sampai di rumahnya, aku tercengang karena rumah itu tidak bersih dan tidak lebih besar dari kamarku. Gerbangnya pun seperti sekat untuk tempat bermain adik kecilku. Kecil dan rendah. Dia memperkenalkan rumahnya. Aku masih tercengang.
Dia tampak kesal, lalu menganjurkan agar aku kembali ke sekolah saja untuk menunggu supirku datang menjemputku. Dia menawarkan diri untuk mengantarku sampai ke sekolah. Karena hawa rumah itu membuatku tidak ingin masuk, aku mengikuti anjurannya untuk kembali ke sekolah.
Tak lama setelah sampai di depan gerbang sekolah, mobil sedan hitamku telah sampai di depanku. Aku masuk. Ternyata ada ibu di dalam. Kelihatannya ia baru saja berbelanja pakaian.
“Kok kamu gak tunggu di dalem aja, Sayang?”
“Aku gak sabar pengen pulang, Bu.”
Ibu mengelusi keningku.
10/10/07
damih
Damih senang bersahabat dengan Midah. Dalam persahabatan itu, penampilan fisik tak dipertimbangkan sama sekali dan kepribadian adalah bahan pertimbangan terbesar. Namun, Damih tidak tahan dengan sikap orang-orang lain yang menganggap mereka aneh karena berbeda dari yang lain. Perbedaan yang seharusnya menjadi alat untuk saling melengkapi dan penyatu telah menjadi alat perpecahan dan penindasan, pikir Damih. Sayangnya, Damih menyerah. Ia merubah dirinya menjadi “sama” dengan orang-orang, seperti yang diinginkan orang-orang. Ia meninggalkan Midah yang teguh memegang prinsipnya.
Damih mendapat sambutan yang dikiranya baik dari orang-orang. Awalnya ia begitu tergiur dan hanyut dengan segala kehangatan buatan itu. Tidak ada lagi yang mencemooh dan mengganggunya, orang-orang menyapa ramah kepadanya saat berjumpa, mengajaknya berbincang-bincang, dan bersenda gurau dengannya.
Damih pun senang saat orang-orang mengajaknya berjalan-jalan dan menikmati hari bersama. Damih tidak lagi menekuni buku-buku tebal bersama Midah, tidak lagi menguras otak bersama Midah untuk pekerjaan-pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru-guru sekolah, tidak lagi bergiat dengan kursus-kursus bersama Midah, dan tidak ada lagi Midah dalam hari-harinya. Hari-harinya adalah untuk berhedonisme-ria bersama teman-teman barunya yang sebagian belum ia kenal.
Hanya saja, ada hal yang mengganjal hatinya. Damih sadar tentang Midah. Midah yang kini selalu sendiri. Midah tidak pernah berusaha menghubungi Damih. Midah memang telah maklum bahwa Damih telah terseret arus deras dan melepas pegangannya dari prinsipnya. Damih pun tidak berusaha menghubungi Midah. Damih khawatir bila teman-temannya tahu bahwa ia masih berhubungan dengan Midah, teman-teman barunya itu akan menjauhinya.
Damih memang telah penuh di bawah kendali orang-orang yang telah menjadi teman-teman baginya. Teman-teman baru Damih telah mengatur tampilan Damih, tingkah laku Damih, segala yang dilakukan Damih, dan memaksa Damih untuk mengenakan tameng masal mereka. Damih akhirnya menyadari hal itu.
Damih pun akhirnya sadar bahwa ia tidak lagi produktif. Waktunya tidak lagi digunakannya untuk belajar dan berkarya, tetapi terbuang sia-sia bersama teman-temannya yang juga sia-sia.
Damih sadar, teman-teman itu memang sia-sia. Mereka tidak pernah berbagi dengan Damih. Ia hanya satu diantara sekian untuk menambah jumlah mereka. Bukan untuk saling memberi selayaknya teman. Selayaknya sahabat. Seperti Midah.
Damih kembali kepada Midah. Ia menyesal dan meminta maaf. Dengan susah payah, Midah akhirnya memberi maaf untuk Damih. Mereka kembali bersahabat. Satu sahabat sejati jauh lebih baik dari seribu teman yang hanya kemunafikan belaka, pikir Damih.
06/10/07
sendiri
Aku tak pernah merasa sendiri
Memang tak mungkin seorang manusia bertahan hidup jika hanya sendiri
Namun kalian menganggapku sendiri dan kesepian
Kalian menganggapku tidak wajar
“Kesepian” yang damai telah membuat kalian membenciku,
Kalian menekanku karena “kesendirianku”
Aku bercampur
Aku beraduk
Aku bersatu
Dengan kalian
Nyaris kehilangan diriku dalam absurditas logika kalian
Bersama kalian pun aku tertekan
Oleh kemauan kalian
Oleh keegoisan kalian
Oleh absurditas logika kalian
Mengapakah kalian?
Hal benar dan salah sungguh buram dan samar di mata kalian
Hal baik dan buruk hanya masalah ego
Bagaimana mungkin makhluk-makhluk egosentris seperti kalian membaurkan diri satu sama lain?
Mustahil!
Ya, memang mustahil
Kalian memang tidak berbaur
Tidak bersatu
Tidak bergaul
Tidak berteman
Kalian berpura-pura
Kalian bertameng
Kalian munafik
Kalian takut tersisih
Kalian takut penolakan
Kalian takut ketidaknyamanan
Kalian takut kejujuran terhadap diri sendiri
Kalian mengekang kebebasan diri sendiri dalam kemunafikan masal
Kalian membenciku untuk mempertebal tameng kemunafikan kalian
Kalian manusia-manusia bodoh!
Kalian menganiaya orang lain!
Kalian menyiksa diri sendiri!
26/07/07
ngumpet
Terlukis lembut wajahmu dalam layar mataku
Terkumandang merdu suaramu dalam gendang telingaku
Walau hanya kupandang dari jarak yang memisahkan
Kau tetap dan selalu indah
Cantik rupamu
Bahagia senyummu
Gemulai gerakmu
Sungguh, tak tampak lagi
Angkuh hatimu
Bejat akalmu
Busuk jiwamu
Oh, musuhku!