Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

29/06/10

tetang orang tua Inda

Inda:
Pagi tadi, aku punya sandwich di tangan kananku dan kopi di tangan kiriku. Mereka semua jatuh ke lantai. Terpaksa kubersihkan. Akibatnya, aku terlambat ke sekolah dan sekarang aku lapar. Dengan perut ribut, aku menghampiri kelasku. Kuketuk pintunya.

“Masuk,” kata Bu Guru.

Aku masuk.

“Kenapa kamu telat lagi?”

“Ummm... “ Aku berusaha menceritakan kisahku dengan singkat dan padat.

“Ya sudah, sana duduk,” ia memotong. Aku tidak jadi bercerita.

Begitu aku mencapai tempat dudukku, seorang siswa di belakangku menyeletuk, “huh, mentang-mentang kaya, telat terus ke sekolah!”

Aku acuh karena tidak mengerti relevansi antara kaya dan terlambat ke sekolah. Tak lama, sebuah benda keras menghantam kepalaku. Ternyata penggaris. Aku menoleh ke belakang. Kepalaku berdenyut sakit.

“Denger gak aku ngomong?” Teman sekelasku tidak senang kuacuhkan.

Aku segera menoleh ke depan, memproses air mata di mataku, lalu berteriak “Buuuuu! Adi mukul aku pake penggaris!”

“Eh, nggak kok! Nggak! Kamu bo’ong!” Adi mengelak. Aku terisak.

Bu Guru membentak, “kalian berdua ya! Kenapa selalu ribut?”

Tangisku kubuat semakin kuat “aaaaaaaaa! Adi duluan, Buuuuu!”

“Adi, kenapa kamu mukul Inda?”

“Dia kan telat, Bu...”

“Kalau Inda telat, Ibu yang hukum, bukan kamu!”

“Tapi Ibu gak hukum dia! Ibu suruh duduk!”

“Karena Ibu mau mengajar. Hukumannya nanti, waktu istirahat. Kamu juga gak boleh mukul temen kamu begitu! Minta maaf!”

“Gak mau!”

“Kamu mau Ibu hukum juga?”

“Gak mau!”

“Minta maaf!”

“Nggak!”

Jam istirahat, teman-teman berkejar-kejaran di lapangan, makan di kantin atau di kelas, aku dan Adi berdiri dengan satu kaki memijak lantai, satu kaki diangkat setinggi lutut, dan dua tangan di telinga, di depan ruang guru, ditertawakan anak-anak yang berlalu-lalang.

“Gara-gara kamu nih, aku jadi dihukum!” bentak Adi.

“Aku gak nyuruh kamu mukul aku pake penggaris.”

“Aku tadi ngomong sama kamu, tapi kamu cuekin!”

“Abis omongan kamu gak penting!”

“Sialan!”

Kami pun saling pukul sampai seorang guru datang melerai. Kami pun naik banding ke ruang kepala sekolah. Kedua orang tua kami dipanggil. Seperti biasa, orang tuaku tidak pernah menggubris panggilan sekolah. Tanteku, seperti biasa, memenuhi panggilan kepala sekolah.


Bahkan ketika aku diwisuda dari perguruan tinggi. Bahkan ketika anak mereka memperoleh nilai tertinggi di angkatannya. Seperti biasa, hanya Tante yang datang.

“Jeng Diah, Inda,” Ibu Adi datang menghampiri kami dengan senyumnya yang selalu tulus dan hangat, “ayo foto bareng kita.”

“Tante! Ayo!”

Aku dan tanteku bergabung dengan Adi sekeluarga.

Adi, seperti biasa, kuliah dengan beasiswa. Sejak SD, selalu beasiswa. Orang tuanya tidak sanggup membiayainya. Ia anak tunggal yang sangat berbakat dan pintar, dari keluarga yang tidak berada. Orang tuanya tentu menaruh harapan yang sangat besar padanya.

“Lu kenapa ngeliatin gue kayak gitu?”

“Lagi mikir aja,” kataku, “gue punya orang tua yang bisa bayarin sekolah, tapi males.Elu...”

“Hahaha... Tapi 4 tahun ini lu rajin banget banget banget!”

“Iya, karena gue mau nunjukin ke bokap nyokap gue kalo gue bisa... Emmm... Gitu deh. Ternyata...”

“Jangan sedih, Da. Gue yakin, nyokap lu sebenernya bangga sama lu.”

“Hah... Dateng aja nggak.”

Ia terdiam. Merenung.

“Udah lah! Starbucks! Ngidam green tea!” seruku.

Kenakalan dan nilai rendah tidak sanggup menarik perhatian mereka. Nilai tinggi dan prestasi pun tidak.

“Da,” panggil Adi ketika aku sedang menyeruput teh hijau dinginku, “kayaknya gue bakal langsung ngelanjutin S2 deh.”

Aku hampir tersendak.

“Gak salah? Gak mau cari kerja dulu? Istirahat dulu?”

“Hehehe. Nggak, Da. Gue udah dapet beasiswa, tapi di Jogja. Bulan depan gue udah harus berangkat.”

Aku benar-benar tersendak. Aku terbatuk-batuk dan ia menepuk-nepuk pundakku.

“Trus lo bakal ninggalin gue sendirian di sini?”

“Yah lo gak bakal sendirian lah, Da. Temen lo yang lain kan masih banyak.”

“Beda. Mereka tuh cuma deket-deket gue karena gue sering traktir mereka belanja, nonton, makan...”

“You’ll be fine, Da.”

Aku menghela napas.

“Sebelum lo pergi, lo harus nginep dulu di rumah gue yah!”

“Oke.”



Adi:
Ini bukan pertama kalinya aku menginap di rumah dia. Sejak kami mulai akrab saat kami menginjak jenjang SMP, aku telah berkali-kali menginap di rumah Inda. Rumah mewah, besar, dengan kamar tamu seluas seluruh rumahku.

Tantenya adalah wanita yang sangat baik. Sangat ramah. Bertahun-tahun, aku bersekongkol dengannya, menutupi kenyataan dan berbohong kepada Inda, tentang kedua orang tuanya. Bertahun-tahun lalu, kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan salah satu sepupu Inda. Ketika mereka melewati sebuah jalan yang sepi dan gelap, mereka dirampok, dan dibunuh. Hal itu terjadi saat aku dan Inda masih duduk di bangku SD, seminggu sebelum Inda pindah ke sekolahku.

Tante Inda menangis di depanku. “Kalo kamu pergi, siapa yang bakal jagain Inda? Gimana kalo ada temennya yang jahat, ngomong macem-macem sama dia?”

“She’ll be fine, Tante.”

Aku tidak akan membiarkannya hidup dalam kebohongan selamanya. Sebelum aku pergi, ia harus tahu kebenaran ini dan ia harus menerimanya.

12/03/10

sekolah

Sarah:

Sudah lama aku tidak mengunjungi Indonesia, negara kelahiranku, sang surga yang sedang menuju kehancuran. Musim dingin tahun ini, aku pulang. Pertama, karena aku benci musim dingin. Kedua, untuk memperkenalkan calon suamiku kepada keluargaku.

Hari ketiga di Indonesia, Minggu pagi, sebelum ke gereja, aku menyempatkan diri menengok SDN 13 Petang, tempatku mengajar dahulu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengambil program sarjana untuk Fine Arts di Australia.

Minggu pagi, sejuk embun, kicau burung, mengatasi kesunyian. Sebuah bajaj berlalu, asapnya mengepul. Sambil mengibas-ngibas udara, aku berjalan memasuki gerbang sekolah. Seorang pria tua sedang menyapu lapangan.

“Aki,” sapaku. Ia menoleh. Terulas senyum di wajahnya.

“Bu Sarah,” ia ingat.




Minggu masih juga pagi. Aku memutuskan untuk mampir ke pasar dekat rumah, membeli sekilo belimbing dan sekilo mangga, buah-buahan yang sungguh mahal di Australia. Di Sydney, tempatku menetap, mangga berharga 2-3 dolar Australia per buah, sementara belimbing, terhakhir kutengok, 14.9 dolar Australia per buah. Kurs 1 dolar Australia = 8000-9000 rupiah. Maka, mumpung masih di Indonesia, aku harus puas membabat dua jenis buah itu.

Ponselku bergetar. Hanung, calon suamiku, menelepon. Ia sudah menunggu di depan pasar, menjemputku.

Ia berasal dari Medan. Kami memutuskan untuk ke Jakarta dahulu, bertemu keluargaku, sebelum ke Medan untuk bertemu keluarganya.

Setelah membayar belanjaan, aku berjalan cepat keluar dari pasar. Sejenak, aku berpapasan dengan seorang perempuan belia. Serasa aku mengenalnya. Ia pun menatapku sejenak. Namun, kami terus berlalu, dikejar waktu dan kesibukan masing-masing.

Sampai di mobil, aku menaruh buah-buahan di jok belakang, sebeluym akhirnya duduk di sebelah Hanung yang menyetir. Rem tangan ia lepas, tetapi tak jadi kita berangkat, sebab aku berteriak “Stop!”. Ia pun segera rem mendadak, membuat mobil di belakangn kami, yang hendak keluar dari parkiran menjadi terkejut. Klakson panjang dan makian pun mengotori udara.

“Ada apa, Sayang?” tanya Hanung.

“Ada yang kelupaan.”

Tanpa menunggu reaksinya, aku segera beranjak turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam pasar.

Aku mencari-cari wajah yang tadi kulihat. Aku ingat dia, Siti, namanya.

“Siti!” teriakku begitu pandanganku menangkap sosoknya.

Ia menoleh, tampak bingung. Ketika ia melihatku kemakin mendekat dan munkin ia mulai mengoingatku, ia berlari menjauh, lalu menghilang.

Aku membeli sekotak kue lupis, favoritku.

“Tadi lupa beli ini,” alasanku kepada Hanung ketika aku masuk kembali ke mobil. Ia hanya menggeleng dan tersenyum.




Senin pagi, aku ke pasar lagi. Pertama, untuk mencari Siti. Kedua, membeli gula jawa, favoritku. Tidak lupa, jagung manis, wortel, bihun, ayam, dan segala yang kuperlukan untuk memasak sekuali sup jagung, favoritku.

Setelah semua daftar belanjaan terpenuhi, aku pun mulai berkeliling pasar, berusaha mencari Siti. Dari kejauhan, mataku menangkap sosoknya. Ketika aku berjalan mendekat, ia tampak mulai waswas. Namun, kali ini, ia tidak dapat beranjak karena ia rupanya berjualan sayur dan saat itu, ia sedang melayani seorang pelanggan wanita paruh baya.

Aku telah berdiri tepat di sebelah pelanggannya. Aku turut memilah-milah sayur-mayur hijau di depanku. Aku benci sayur hijau, tetapi akan kubeli seikat kemangi untuk Hanung. Pelanggannya membayar, lalu pergi. Aku memasukan seikat kemangi ke keranjang belanjaku, lalu membayar sepuluh ribu rupiah. Ketika ia hendak memberi kembalian, aku menolak.

“Ibu Sarah,” ucapnya lirih.

“Siti, gimana kabarmu?”

“Baik, Bu.”

Kami sama-sama tersenyum. Agak kaku, tetapi tulus.

“Kamu tinggal di mana sekarang?” tanyaku.

“Masih sama, Bu, di belakang pasar.”

“Boleh kalau sekali-sekali saya mampir?”“Ah, jangan, Bu. Malu. Rumah saya kecil.”

“Jangan malu kalau tidak salah, Siti.”

Ia mengangguk dan tersenyum.




Ke rumah Siti, aku berkunjung. Tidak kecil seperti yang disebutnya tempo hari. Rumah yang tenang dan sederhana.

“Mari masuk, Bu.”

“Terima kasih, Siti.”

Hal pertama yang kulihat di sana adalah sebuah pigura di dinding ruang tamunya. Seorang pria, Siti, dan seorang anak perempuan.

Tak lama, pria dalam pigura itu muncul dalam bentuk nyata di depanku.
“Kenalkan, Bu, ini Joko, suami saya.”

Kami saling tersenyum dan bersalaman.

Suami? Berapa umur dia sekarang? 16 atau 17? Terlalu muda untuk berkeluarga.

Siti menunjuk kepada sesosok anak perempuan dalam pigura itu, “ini anak saya. Sekarang lagi di sekolah.” Anak itu lebih mirip Siti daripada Joko. Umurnya mungkin 5 atau 6 tahun. Pasti masih kelas 1 SD. Eh, kapan Siti menikah jika anaknya sudah sebesar itu?

“Di SDN 13?” iseng, kubertanya.

Namun, kemudian aku merasa bersalah karena kegembiraan di wajah Siti lenyap.

“Bukan, Bu. Di SDN 06 Pagi.”

“Maaf, Siti.”

“Ndakpapa, Bu.”

Mereka menjamuku makan siang. Sederhana dan nikmat. Nasi putih, tempe, dan kangkung. Betapa aku merindukan masakan semacam ini.




Sampai di rumah, aku masih dibayangi perasaan bersalah karena pertanyaan yang kulontarkan tadi. Aku teringat akan saat-saat terakhir aku mengajar musik dan bahasa Indonesia di SDN 13 Petang.

Siti adalah salah satu murid paling cermelang. Kesayangan semua guru. Menangkap pelajaran dengan cepat, cerdas, rajin, sopan, baik, taat beribadah, sempurna, idaman, lengkap. Masalahnya hanya satu, masalah klasik kebanyakan murid sekolah negeri yang miskin, kesulitan membayar uang sekolah. Ayahnya sudah meninggal , ibunya menghidupi dirinya, Siti, dan adik Siti dengan berjualan sayur di pasar dekat rumahnya.

Sebenarnya, SDN 13 menerima subsidi pemerintah (selayaknya sekolah negeri), sehingga uang bulanan yang harus dibayar siswa relatif murah. Namun, beberapa siswa berkemampuan ekonomi terlalu jauh di bawah garis kemiskinan sampai subsidi pemerintah pun tak mampu lagi menolong mereka. Tak sedikit dari mereka yang putus sekolah karenanya.

Selain itu, kami juga mengadakan program subsidi silang, di mana murid-murid dengan kemampuan finansial lebih baik membayar lebih untuk menutupi kekurangan murid-murid yang tidak mampu. Namun, karena proporsi murid yang tidak mampu terlalu besar dibandingkan dengan yang mampu, hal ini pun hanya sedikit membantu.

Program orang tua asuh, juga ada. Hanya membutuhkan promosi kepada orang tua-orang tua yang tidak dapat disanggupi sekolah yang terlampau miskin ini.

Paling tidak, dengan keberadaanku di sana, mereka boleh sedikit berhemat, karena mereka tidak perlu membayarku. Aku mengajar dengan sukarela.




Suatu hari, di semester pertama tingkat akhir Siti di SDN 13, kulihat Siti terduduk murung di tepi lapangan sekolah. Kulirik jam tanganku, jam 5 sore. Sekolah usai pukul 1 siang. Bahkan guru-guru pun sudah pulang semua. Hanya aku, yang tadinya sudah pulang, tetapi terpaksa kembali ke skolah karena kertas-kertas ulangan siswa yang seharusnya kukoreksi di rumah, tetapi lupa kubawa pulang.

Setelah mengambil kertas-kertas tersebut, aku menghampiri Siti dan duduk di sebelahnya. Rupanya, ia sedang menangis. Kusodorkan sebungkus tisu yang ia tolak dengan gelengan kepala.

“Ada apa, Siti?” tanyaku.

Ia menggeleng lagi.

“Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama Ibu.”

Gelengan lagi.

“Uang sekolah kamu?”

Ia mengangguk sejenak, tetapi kemudian menggeleng lagi. Tangisnya bertamabah gawat.

“Ibu bisa bantu kamu kalau itu masalahnya.” Aku merasa bodoh sekali karena gagasan ini baru sekarang muncul.

Ia kembali menggeleng. Lalu ia bangkit, berjalan pergi, tertatih-tatih. Aku terheran, terpaku di tempat, tidak berusaha menyusulnya.




Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi muncul di sekolah. Setiap aku berkunjung ke rumahnya, mencarinya, ibunya akan beralasan bahwa ia sakit dan tidak bisa diganggu. Jika kutanya apakah ia sudah dibawa ke Puskesmas, jawabanya adalah “Ibu tidak perlu khawatir.” Terakhir kali aku berkunjung, ibunya menyatakan bahwa Siti sudah berhenti sekolah.

“Saya tidak sanggup membiayainya lagi,” kata ibunya.

“Tidak apa-apa, Bu,” kataku, “Siti anak yang sangat pintar dan rajin. Saya bisa membiayai sekolahnya,” aku menawarkan lagi.

“Tidak, Bu. Dia tidak mau sekolah lagi.”




Sampai saat ini, hal itu masih misteri bagiku. Bagaimana mungkin siswa teladan yang cinta pendidikan seperti Siti tidak mau sekolah lagi? Angan-anganku akan masa depan cerah yang sudah tersedia baginya, yang sedang menunggunya untuk meraih, seketika buyar, hancur.

Segala rasa bersalah menghantuiku, karena aku tidak sejak dulu-dulu membiayai sekolahnya dan karena di petang hari itu aku tidak menyusulnya. Maka aku mengerti ketika Kepala Sekolah menegurku karena kinerjaku semakin lama semakin tidak memenuhi standar. Konsentrasiku berlibur entah ke mana, membuat caraku mengajar jadi lucu dan tidak kondusif.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi jauh. “Aku mau kuliah lagi,” alasanku kepada semua orang.
Kupilih sebuah negara yang ada di benua seberang, negara yang tenang dan damai, Australia.

Siti selalu suka belajar. Cinta pengetahuan dan pendidikan. Anak kesayangan semua guru, anak yang diharapkan semua orang tua.

Bel tanda sekolah usai berdering. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas-kelas. Siti masih di kelas. Mencatat segala tulisan kapur yang terukir di papan tulis hitam di depannya. Ibu Asih, guru matematika, tersenyum melihatnya. Ditemaninya anak itu sampai selesai, sambil mengoreksi pekerjaan rumah yang baru dikumpulkan murid-muridnya.

Setengah jam berlalu, sekolah telah sepi. Tersisa beberapa guru yang tampak masih banyak tugas, beberapa lagi hanya mengobrol di ruang guru. Siti selesai mencatat. Ia berpamitan dengan Bu Asih, lalu segera berlari pulang. Lapar, membayangkan makan siang masakan ibunya.

Selangkah sebelum menjangkau gerbang sekolah, Pak Kepala Sekolah menghadangnya.

“Siti.”

“Iya, Pak?”

“Kamu tolong ke ruangan saya.”

“Ada apa, Pak?”

“Masalah uang sekolah kamu.”

Keceriaan di wajah Siti jatuh murung. Takut tidak mampu menghadapi masalah dan mengutuki keadaan yang menempatkannya di posisi sulit.

“Iya, Pak.” Jawabnya tanpa semangat.

Di ruang Kepala Sekolah, ia dibiarkan menunggu, lama sekali. Didengarnya suara-suara di ruangan sebelah, ruang guru, satu per satu guru beranjak meninggalkan sekolah. Ada yang naik motor, ada yang naik sepeda, ada yang berjalan kaki. Ada yang bercerita ria tentang anaknya yang berprestasi di sekolah, ada juga yang mengeluh tentang muridnya yang nakal. Akhirnya, sepi total. Hanya gemerisik dedaunan dimainkan angin. Siti tetap menunggu, sementara Pak Kepala Sekolah berada di warung terdekat, menghirup kopi panas dan merokok bersama tukang ojek setempat.

Ketika Pak Kepala Sekolah kembali ke sekolah dan memasuki ruangannya, ia melihat Siti masih menunggu di sana, tampak gelisah. Mungkin ia pikir, ibunya akan khawatir menunggunya pulang. Sebenarnya, jika ibunya khawatir, ia akan datang ke sekolah dan menjemput Siti. Namun, Pak Kepala Sekolah sudah memastikan bahwa ibunya saat ini masih berada di Puskesmas, mengikuti acara penyuluhan kesehatan bersama ibu-ibu lain.

Ketika Siti menyadari Pak Kepala Sekolah telah datang, perasaannya mulai tidak enak, dan ia pun tampak semakin gelisah. Apalagi ketika Pak Kepala Sekolah mengunci pintu dan menurunkan semua tirai agar menutupi semua jendela di ruangan itu. Ruangan itu kini benar-benar tertutup.

“Kenapa, Pak?” tanya Siti dengan suara bergetar takut, tanpa sepatah kata pun jawaban dari Pak Kepala Sekolah.

Pak Kepala Sekolah segera menghambur ke arahnya, menutup mulutnya, meraih sembarang kertas-kertas di mejanya untuk menyumpal mulut Siti. Mulut Siti terasa sakit karena terlalu banyak kertas dijejalkan ke dalamnya. Siti berusaha memberontak, memukul-mukul, menggeliat, menendang-nendang, tetapi Pak Kepala sekolah begitu kuat, mencengkeram tangannya, mengangkat tubuhnya, dan membantingnya ke lantai. Siti kesakitan, tapi teriaknya tertahan sumpalan kertas-kertas.

Siti terbaring terlentang di ubin putih yang dingin menusuki punggungnya. Tubuhnya tetap meronta-ronta, meskipun sia-sia. Pak Kepala Sekolah melepas dasi dan memakai dasinya untuk mengikatkan tangan Siti ke kaki meja. Siti tetap memberontak, tetap sia-sia.
Pakaiannya, perawannya, harga dirinya, pendidikannya, dan masa depannya, dilucuti habis sekaligus oleh Pak Kepala Sekolah, yang sejak ibu Siti menjanda, gigih mengejar dan menggodanya, tetapi selalu gagal dan ditolak.

28/01/10

tentang alay

Ketika malam datang dan gelap kelam melapisi langit, tidakkah dingin juga merayapi tubuh dan cekam merengut nyaman dari jiwa? Namun, di saat-saat seperti itulah, Ananta tersenyum menatap langit di mana kerlap-kerlip bintang-bintang mengalahkan kengerian hitam malam. Rasa hangat dalam jiwanya pun telah mengalahkan hawa dingin yang disebabkan hujan deras tadi sore dari langit Sydney. Ketika kelak hujan datang lagi, ia justru beranjak dari persembunyiannya di balik selimut, membuka jendela, dan menjulurkan salah satu tangannya keluar, merasakan titik-titik air hujan.

Dalam ingatannya terekam jelas, peristiwa pagi dan siang ini, yang membuatnya tak berhenti tersenyum sampai saat ini. Jack yang hari ini menemaninya melewati waktu. Sungguh kebetulan bahwa hari ini mereka berdua sama-sama tidak bekerja. Jika bukan karena hujan deras yang mengguyur kota, mungkin mereka masih berbaring di rerumputan hijau North Sydney Park sambil bersenda gurau dan mengemil.

Beruntunglah ia sebab ia boleh tidur dengan hal-hal indah berputar-putar dalam kepalanya. Sementara, di rumah lain, teman baiknya bersungut-sungut, tepat sejak setelah ia membaca pesan singkat dari Ananta yang masuk ke ponselnya. Tentunya, tentang betapa senangnya Ananta hari ini karena kesempatannya bertemu dengan Jack. Tidakkah kami, perempuan, manusia yang tidak loyal terhadap jenisnya? Kami akan saling mencakar dan menjambak dengan sahabat terdekat kami demi memperebutkan laki-laki yang tidak akan saling tonjok dengan sahabat terjauhnya demi memperebutkan perempuan. Paling tidak, saat ini, mereka berdua masih berada di rumah mereka masing-masing, belum saling membunuh dan menggemparkan seisi kota.

Berkebalikan dengan Ananta, Sally merengut saat hujan datang. Segera ia mematikan lampu meja yang tepat terletak di sebelah kepalanya, ditariknya selimutnya sampai menutupi wajahnya, dan ia memaksakan dirinya untuk tidur hingga pagi menyapa.




Betapa rumit juga perang antar perempuan, di pagi hari yang cerah dan masih lembab sebab hujan semalam, dua sahabat baik ini, Ananta dan Sally, saling tersenyum dan menyapa, duduk bersama dan bercanda-tawa. Tentu, karena kami, perempuan, tidak berlaku seperti anjing beringas, yang begitu bertatap muka dengan lawannya, hasratnya untuk mengoyak dan merusak langsung memuncak.

“Eh, gimana kemaren? Cerita dong?” Sally berinisiatif memulai pembicaraan.

Anata pun berkisah dengan menggebu-gebu, sementara Sally menanggapi dengan senyum termanisnya, entah apa pun yang bergejolak di hatinya. Sungguh senyumnya adalah topeng tercantik. Bahkan Ananta pun tak pernah merasa ada yang salah dengannya. Ananta pun tak pernah mengerti mengapa teman-temannya yang lain menatapnya dengan pandangan aneh. Sally mengerti, itu karena Sally bergosip kepada teman-temannya yang lain bahwa “She’s boasting that they’re now a COUPLE! They only went out together ONCE and it wasn’t even a date!”

Namun, kelak, Ananta akan mengerti, mengapa ketika ia menitipkan tugas esainya kepada Sally untuk dikumpulkan ke dosennya, tugas itu tidak pernah sampai. Lebih buruk, hilang. Sally hanya akan memberinya penjelasan, “Aduh, sorry, lupa!”

Ia pun akan melihat dengan lebih jelas ketika ia berjalan-jalan bersama Sally dengan gulungan rambut di poninya yang lupa ia lepas. Ia telah berjalan ke sana dan ke mari selama tiga jam sebelum akhirnya seorang nenek tua bertanya kepadanya, “Darling, is that a new trend?” sambil menunjuk ke rambutnya. Ia pun segera mengambil cermin kecil dari tasnya dan melihat ada apa di kepalanya. Tentu ia terkejut, tentu ia malu, dan tentu ia bertanya penuh tuntut kepada Sally, “kenapa lu gak kasih tau gue??”. Inilah jawaban yang ia terima dari Sally: “Sorry, gw gak tega.”



Ketika Ananta telah mengerti, ia berinisiatif mengajak Jack dan Sally makan malam bersama, bertiga. Tentu saja, itu menjadi sebuah tantangan bagi Sally.

Mereka berdua tiba lebih awal dari jam yang ditetapkan, dengan dandanan tertebal, gaun tercantik, dan pose duduk termanis. Tentu, mereka berdua sama-sama mengerutkan dahi ketika melihat Jack datang tidak sendiri. Kelak mereka akan mengerti, betapa sia-sia pertarungan mereka.

“Kenalkan, this is my wife, Arisa. Dia baru datang lagi dari Indonesia, setelah nyelesain penelitiannya tentang gejolak sosial anak muda golongan menengah ke bawah yang belakangan ini disebut-sebut sebagai ‘alay’. Ananta pasti ngerti banget deh.”

“Yang mana yang namanya Ananta?” istrinya menimpali.

Ananta melambai kecil.

“Oh, halo! Aku udah baca beberapa tulisan kamu tentang alay. Kamu bener-bener berbakat!”

Semua pun tersenyum. Entah senang, entah bersemangat, entah berpura-pura, entah salah tingkah.

02/08/09

hilang

Seorang gadis remaja, begitu jelita, teronggok tak beradaya di ranjangnya. Raganya tidak sakit. Hanya jiwanya sedang bimbang. Merenung-renungi masa lalunya. Masa-masa indah bersama seorang remaja putra yang sangat membahagiakan dirinya. Kemudian, masa-masa sulit ketika mereka menghadapi orang tua masing-masing. Kedua orang tuanya yang merasa tidak sudi anaknya terlalu akrab dengan anggota masyarakat golongan ekonomi bawah karena dianggap memalukan atau membuat aib. Juga satu-satunya orang tua kekasihnya, yaitu ibunya, yang menganggap persahabatan dengan orang kaya hanya akan memberi kesempatan bagi mereka untuk menghina dan melecehkan dirinya. Kemudian, teringat masa-masa perpisahan mereka. Ketika ia diharuskan meneruskan studi ke luar negeri, sementara kekasihnya tidak punya cukup dana untuk turut serta.

Kini ia kembali ke tanah air di waktu liburannya. Segala benteng yang dibangunnya untuk menghalangi memori sentimentil itu agar tidak mengganggu studinya kini runtuh seketika. Tepat ketika ia menginjakkan kakinya di tanah air, menghirup udara setempat. Semua kenangan menyerbu masuk ke dalam dirinya. Membuatnya menjadi perhatian banyak orang karena menangis secara tidak wajar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tak lama, muncul kedua orang tuanya, yang mengira anaknya menangis karena terlampai merindukan mereka, memeluknya dan membuat orang-orang maklum.

Beberapa hari telah ia lewatkan di rumah, tidak banyak yang ia telah lakukan. Ia lebih banyak terkapar di kamar. Merenungi kenangan. Di mana ia sekarang? Masih ingatkah padaku? Masih sudikah denganku?

Telepon genggam ia raih untuk menghubungi seorang teman terdekat. Dari teman dekatnya itu, kemudian ia mendapatkan nomor-nomor teman-teman yang lain. Ia memulai sebuah penyelidikan kecil dengan dibantu teman baiknya itu.

***

“Gimana? Apa kata Endah?” tanya si gadis.

“Dia bilang, udah sekitar tiga bulan dia gak nongkrong-nongkrong bareng mereka,” jawab sahabatnya membuat dirinya kehilangan harapan karena kenyataan bahwa Endah adalah kekasih terakhir kekasihnya setelah ia tinggalkan tidaklah menolong.

Mereka berdua tampak berpikir lama. Masing-masing mengerutkan dahinya. Semua mendiamkan minuman lezat yang tersaji di depannya. Tiada juga yang memerhatikan mereka, tidak pengunjung-pengunjung kafe yang mereka tongkrongi, tidak juga pelayan-pelayan di sana, kecuali sepasang mata milik seorang laki-laki yang duduk sendirian di pojok. Tadinya ia tampak tenang-tenang saja. Menyeruput kopi sambil membaca buku dan menikmati kesendiriannya. Namun, kini dahinya pun turut dikerut-kerutkan. Tak lama, ia datang menghampiri dua gadis yang semenjak tadi ia perhatikan.

“Cindy? Arien?”

Yang mereasa namanya disebut pun menoleh.

“Nando?” terdengar pekik serempak dengan dua nada berbeda. Yang satu dengan tertarik dan senang, yang satu dengan penuh harapan.

“Kamu ngapain di sini?” Cindy, sahabat si gadis cantik yang juga tak kalah cantik, mendadak ceria berbasa-basi dengan penuh kecentilan.

Nando tersipu-sipu menjawab lirih, “minum kopi.”

Arien, si gadis yang benar-benar berkeperluan dengan penyelidikan kecilnya, berusaha menyusun pertanyaan di dalam kepalanya untuk kemudian disemburkan kepada Nando, yang ia tahu benar adalah teman baik kekasihnya. Ia masih sempat mengutuk-ngutuki dirinya sendiri yang tidak kepikiran untuk menanyakan Nando kepada teman-temannya yang lain atau kepada sahabatnya yang naksir berat Nando ini.

Tanpa menunggu pertanyaan untuk selesai tersusun di kepala Arien, Nando mendahului bertanya, “gue denger dari temen-temen lain, lo lagi nyari si Gani.”

“Iya.”

“Percuma lo tanya-tanya mereka.”

Pernyataan Nando membuat dua gadis di depannya terbelalak bingung.

“Sejak lo tinggal,” Nando meneruskan, “dia udah jarang banget maen sama anak-anak laen. Jadi petapa di rumah. Ketemu gue aja jarang!”

“Endah?” Cindy terpikir akan gadis lain yang belakangan dikabarkan berpacaran dengan Gani.

“Endah kan dari bahuela udah naksir berat sama Gani,” Nando menjelaskan,”sejak lo pergi,” ia menunjuk Arien, “dia nempel-nempel si Gani, trus ngaku-ngaku udah jadian. Padahal, kalo dateng ke rumah Gani aja, dia cuma diladenin sama emaknya Gani. Gani mah boro-boro mau keluar kamar cuman buat ketemu cewek centil macam gitu!”

Sesuatu menyengat hati Arien. Ia ingat perlakuan ketus ibu Gani padanya. Ternyata ibu Gani lebih menyenangi Endah daripada dirinya. Cindy yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya langsung memotong pembicaraan Nando, “terus, sekarang Gani di mana?”.

“Nah, itu gua juga gak tau!” jawaban Nando mengecewakan sekaligus mengejutkan mereka berdua.

“Sekitar... Hmmm... Tiga bulan lalu, dia pindah rumah. Gak bilang-bilang ama gue! Monyet! Gue tau dari tetangganya! Trus gak ada kabar lagi ampe sekarang.”

Kini semua tertunduk lesu.

Paling tidak, sekarang Arien mendapat satu tenaga baru untuk masuk ke dalam tim penyelidiknya.

*

Semua pulang ke rumah masing-masing.

Sampai di rumah, Arien langsung masuk ke kamar untuk berganti baju. Sebelum ia membuka bajunya, pembantunya telah memanggil-manggil.

“Noooon! Non Ariiiiin! Ada telpon! Katanya penting!”

Buru-buru Arien keluar dari kamarnya dan meraih gagang telepon tanpa kabel yang telah diantar oleh sang pembantu sampai ke depan pintu kamarnya.

“Makasi, Bi,” katanya sebelum masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu.

“Halo?”

“Iya, halo! Kamu Arien?” suara wanita paruh baya begitu ketus di seberang sana.

“I-iya, aku Arien. Ada apa ya?”

“Heh! Kamu! Jangan cari-cari Gani lagi! Cewek gak tau diri! Jangan cari-cari anak gua lagi!”

Arien susah payah menelan ludah dan berkeringat dingin.

“Denger gak kamu!”

Arien jatuh terduduk di ranjangnya yang tebal dan empuk.

“Kamu anak orang kaya, cari cowok orang kaya juga sana! Jangan genit-genit sama anak gua! Jangan kamu kira karna lo banyak duit, semua orang tunduk sama lo! Najis!”

“Ma-maaf, Bu?”

“Eh, gua najis sama bapak lo, tau! Bapak lo tuh pejabat korup! Gua najis kalo anak gua harus deket-deket sama anak tukang korup! Apalagi ampe megang duit hasil korup lo! Najiiiis!!”

Sekarang Arien mengerti mengapa segala hadiah di segala hari raya yang ia berikan kepada ibu Gani selalu ditolak dengan cara paling menyakitkan.

“Setan! Denger gak lo! Jauhin anak gua!”

Klik. Telepon dimatikan secara sepihak dari seberang sana.

Dengan tangan berkeringat dingin dan gemetaran, Arien bersusah payah menekan tombol redial.

“Halo?” ucapnya lirih, “Bu?”

“Maaf, Dek,” suara seorang pria, “ini telepon umum.”

Arien menghela napas.

“Sudah yah? Saya mau pake.”

“Iya, Pak. Maaf.”

Klik.


(bersambung)

14/07/09

kotak

Ia adalah yang pernah menjabati tempat tinggi di hatiku. Menjadi pujaanku. Sampai sekarang.

Saat itu, aku adalah seorang murid baru di sebuah SMU swasta. Sebelumnya, aku bersekolah di sebuah SMP negeri yang terpencil dan tak terdengar namanya. Yang terkadang juga menjadi olok-olok oleh SMP-SMP negeri lain. Bagi kebanyakan orang, mobilitas yang kulakukan sangatlah ekstrem. Berpindah dari sebuah SMP negeri antah berantah ke sebuah SMU favorit di ibukota. Padahal, tidak ada yang istimewa. Aku sama dengan murid-murid lainnya di sana. Aku sama-sama lulus tes masuk ke sana, melunasi uang pangkal dan iuran bulanan yang sama. Aku tidak istimewa, secara negatif maupun positif.

Meskipun aku berpikir dan merasa demikian, tidak dengan murid-murid di sana. Mereka begitu takjub ketika kusebutkan asal sekolahku. Apakah mungkin, sepanjang sejarah sekolah ini, belum ada murid dari sekolah negeri yang menjejakinya? Atau mereka menganggap produk, eh, murid sekolah negeri sangatlah bodoh, sehingga tidak mungkin masuk ke sekolah yang konon mempunyai mutu pengajar dan pelajaran yang sangat tinggi? Atau mereka menganggap murid sekolah negeri terlalu malas untuk dapat bertahan di sekolah ini? Entahlah.

Hari pertama masuk sekolah, aku datang ke sekolah sangat awal, sehingga aku tidak menemukan siapapun dalam kelasku. Tak berapa lama kemudian, seorang murid perempuan masuk. Aku tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumku dan kami mulai berbasa-basi.

"Anak baru ya?" tanyanya.

"Ia. Namaku Peni. Namamu siapa?" sahutku.

"Aku Vita." jawabnya.

Kami berjabat tangan.

"Dari sekolah mana?" tanyanya lagi.

"Dari SMP XXX"

"Wah!" ia tampak takjub.

"Kenapa?" aku heran.

"Dari SMP negeri, kamu langsung masuk kelas tiga SMU di sini? Hebat!"

"Hah? Kelas tiga? Bukan. Aku masih kelas satu."

"Lho? Ini kelas tiga. Oh, kamu pasti salah masuk kelas!"

Aku malu sekali. Sekolah itu memang tampak terlalu besar bagiku. Aku selalu tersesat di dalamnya.

Setelah itu, ia mengantarku ke kelasku yang seharusnya. Aku sangat berterima kasih kepadanya.

Sampai di kelasku yang sebenarnya, aku telah melihat dua orang siswa lain yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Salah satu dari mereka sedang asik membaca novel, yang lain sedang menggali-gali lubang hidungnya dan mengumpulkan harta karun dari hidungnya ke atas meja. Aku masuk saja dan sembarang memilih tempat duduk. Tak lama kemudian, seorang siswi masuk dan langsung mengampiriku.

"Hai! Anak baru ya? Duduk sama aku aja yuk!"

Ia bahkan tidak memberiku kesempatan bicara untuk menyatakan setuju atau tidak. Ia langsung merengutku dari bangku yang kududuki. Akhirnya, aku duduk sebangku dengan anak itu. Anak itu sangat membosankan. Ia selalu membicarakan dirinya. Sebagai seorang murid baru, aku tidak mau membuat musuh. Maka, aku tidak mendengarkannya. Hanya memberi reaksi berupa anggukan yang dibumbui senyum, serta sesekali "oh ya?', "wah!", dan sebagainya.

Setelah murid-murid telah lengkap mengisi kelas dan bel masuk berbunyi, sang wali kelas pun datang. Seorang wanita paruh baya yang agak gemuk. Guru Bahasa Inggris. Ia meminta kami satu persatu memperkenalkan diri kami dalam Bahasa Inggris. Bahasa Inggrisku terlampau buruk. Murid-murid lain menertawakanku. Ketika mereka tahu bahwa aku berasal dari sekolah negeri, mereka menjadi maklum, takjub, dan meremehkan.

"Kamu gak ikut MOS yah?" tanya salah seorang siswa yang duduk tidak jauh dariku. MOS adalah Masa Orientasi Siswa. Sama halnya dengan OSPEK.

"Gak. Aku masih di luar kota." jawabku dengan jujur.

"Ih! Dari sekolah negeri di kampung, bisa masuk sekolah bagusan di Jakarta?" sinisnya.

Aku tersenyum saja. Nyatanya aku memang bisa.

Setelah seluruh murid memperkenalkan dirinya, wali kelas pun mulai merancang sebuah denah kelas, yaitu tata duduk siswa. Ternyata, siswi narsis yang tadi mengajakku duduk bersamanya mendapat tempat duduk tepat di belakangku. Tidak lebih baik dibanding sebangku denganku. Tetap saja bertetanggaan. Di sebelahnya duduk seorang siswa yang sangat mengagumkan.

Doremi, namanya. Doremi. Ia membuatku tidak dapat berkonsentrasi ketika belajar. Bagaimana mungkin aku dapat berkonsentrasi jika kepalaku selalu ingin memutar sedikit ke belakang agar bola mataku dapat mengintipnya sedikit dari sudut mataku? Si Hanoman cerewet itu sering mencongkel, eh, mencolek punggungku untuk memanggilku. Ia selalu ingin bercerewet menceritakan dirinya. Saat itu, aku malah bersyukur karena itu dapat menjadi kesempatan bagiku untuk melihat Doremi. Sesekali, aku mengajak Doremi berbincang singkat. Basa-basi yang menyenangkan.

Ketika kami telah lebih akrab, ia berkeluh kesah bahwa seseorang telah mengganggunya. Ia bercerita dengan sangat kesal bahwa barang-barang pribadinya sering menghilang. Pengganggu itu juga sering mengirimkan pesan pendek ke ponsel Doremi berisi kata-kata cinta. Kebanyakan puisi. Bodoh dan gombalnya aku. Untung dia tidak tahu.

***

Suatu hari, ketika usai berbelanja makanan pada jam istirahat, aku kembali ke kelas. Di kelas aku mendapati segerombolan murid mengerubungi mejaku. Aku pun bergabung dengan mereka. Doremi berada di tengah-tengah mereka sedang memegang dan membaca dengan serius salah satu buku catatanku. Padahal, buku catatan itu tidak berisi apa-apa. Masih perawan. Belum pernah kubuka dan kucatatkan satu pun ilmu di sana.

"Heh! Lagi pada ngapain sih?" teriakku sambil menyelip ke tengah-tengah mereka.

Sertamerta, Doremi menyerahkan buku catatan yang masih terbuka itu kepadaku. Aku menatap isinya, lalu kututup sebentar untuk memastikan milik siapa buku itu. Sampul buku itu persis dengan sampul bukuku dan di sana tertera namaku. Pastilah ini adalah milikku, tapi mengapa ia berisi? Kukira ia masih perawan! Kubuka lagi buku itu untuk kulihat isinya. Aku pucat seketika. Di sana terpampang nama Doremi dalam bentuk grafiti warna-warni dengan segala hiasannya seluas satu halaman penuh! Full colour!

Mereka semua menatapku, meminta jawaban. Aku tak dapat memberikan jawaban. Aku pun butuh jawaban!

"Siapa yang bikin ginian di buku gue?"

Tidak ada yang menanggapi. Malah tiba-tiba terdengar teriakan pengumuman.

"Peni naksir Doremi!"

Wajahku memerah. Aku hendak menyangkal, tapi kata sangkalan itu tidak keluar.

"Jadi, kamu," sebuah suara yang tenang, tapi menusuk. Doremi pun pergi dari gerombolan itu. Aku buru-buru menyusulnya. Aku tidak peduli lagi dengan keramaian di belakangku. Namun, Doremi tidak mau berbicara denganku.

Sore harinya, aku bertamu ke rumahnya. Aku diterima dengan baik oleh nyonya rumah, tetapi tidak oleh Doremi. Wajahnya sangat ketus. Jadi, sebuah kotak besar yang kubawakan untuknya harus kutitipkan kepada ibunya.

Belakangan, aku tahu bahwa Hanomanlah yang telah membuat kaligrafi di buku catatanku. Katanya, ia telah sangat lama memendam hasrat untuk membuat tulisan indah itu karena ia jatuh cinta kepada Doremi tanpa pernah mengungkapkannya. Namun, ia belum menemukan tempat yang tepat. Jika ia membuat dan menyimpannya di rumah, ia takut ibunya akan menemukannya. Jika ia buat di buku sekolahnya, ia takut salah satu murid akan menemukannya. Sementara, jika ia membuatnya di tempat umum, ia takut seseorang memergokinya. Jadilah ia membawa bukuku ke WC untuk memerawaninya. Bakatnya membuatku susah.

Apa? Kotak besar itu? Apakah aku belum memberitahumu? Baiklah. Kotak itu berisi semua benda yang telah kuambil darinya, setumpuk surat cinta, berlembar-lembar puisi dan syair cinta, dan lukisan-lukisan dirinya yang kubuat di atas kanvas mini dengan cat air dan jari-jariku.

Di kemudian hari, ia menghampiriku. Hatiku telah melonjak karena kukira ia telah memaafkanku.

"Mana barang gue yang lain?" begitu bentaknya. Ternyata aku belum dimaafkan.

"Yang mana lagi? Semua udah gue balikin!"

"Masih kurang!"

"Elu kali yang ilangin sendiri!"

"Enak aja! Barang-barang gue tuh baru pernah ilang sejak ada elu!"

Aku melotot kesal mendengarnya.

"Apa? Sewot? Dasar klepto! Tukang nyolong!"

"Heh, enak aja! Barang lu udah gue balikin semua!"

Di tengah perdebatan kami, muncul Hanoman yang membuat kami hening seketika. Ia datang membawa sebuah kotak besar. Kotak besar itu ia serahkan kepada Doremi. Hanoman pun langsung pergi meninggalkan kami berdua. Doremi pun membuka kotak itu.

Kami sama-sama menengok isi kotak itu.

25/02/09

pulang

“Ma, aku pulang.”

“Hm.”

“Ini surat buat Mama.”

“Anak sialan lu! Bikin malu terus! Gara-gara apa lagi Mama dipanggil?”

“Terserah.”

Ninda berjalan gontai ke kamarnya. Membanting pintu, rebah ke ranjang, dan langsung pulas tertidur. Sementara, di ruang keluarga, ibunya dengan kekesalan merobek amplop surat dari sekolah Ninda. Ia bahkan tidak peduli ketika ia merobek terlalu kuat dan kasar, sehingga bagian pinggir kertas surat itu pun turut tersobek. Secarik kertas terlipat tiga bagian. Ia hentakkan ke udara agar terbuka. Terlalu kasar, sehingga menjadi kusut.

Surat tugas untuk mewakili sekolah mengikuti lomba menulis karya ilmiah.

Helaan napas.

Dua jam kemudian, Ninda terbangun dari tidurnya dengan sebuah mimpi buruk, sehingga setelah terbangun, ia merasakan kepalanya berdenyut ngilu dan jantungnya berdetak cepat. Ia mendapati dirinya masih dalam balutan seragam sekolah dan tubuhnya lengket dan bau keringat. Ia pun memutuskan untuk mandi. Ia mengambil beberapa potong sandang, lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Ketika mulai membasahi tubuhnya, ia berusaha mengingat-ingat mengapa ia tertidur dalam keadaan seperti itu. Biasanya karena ada masalah. Masalah apakah kali ini? Karena pikirannya masih melayang-layang, seolah jiwanya masih berkelana di dunia mimpi, ia agak sulit mengingatnya. Namun, akhirnya ia ingat, sepulang sekolah ia bertengkar dengan ibunya. Lagi-lagi. Terlalu klise.

Sekarang, ia mencoba mengingat penyebab pertengkaran tersebut. Ah, surat dari sekolah. Tadi, di sekolah, ia sangat bangga ketika seorang guru mengajaknya mengikuti lomba menulis karya ilmiah meskipun ia bukan peserta ekskul karya ilmiah. Menurut guru tersebut, kemampuan analisisnya sangat baik, jika dilihat dari caranya menjawab soal-soal esai. Sangat membanggakan. Ia tidak menyangka bahwa hal semenyenangkan itu bisa rusak dalam sekejap karena ibunya.

Seusai mandi, ia langsung menyalakan komputer pribadi yang terletak di meja belajarnya. Ia memutar lagu.

Now I don’t know what to do

I don’t know what to do

When she makes me sad

(Vermillion part 2 karya Slipknot)

Ia sedih. Kini kesedihannya terdukung oleh lagu yang juga sedih meskipun isi lagu tersebut berbeda dengan isi hatinya. Ia menangis. Berandai-andai, berharap, harapan kosong.

Ia mematikan lagu pemutar lagu di komputernya. Berharap keheningan dapat mengangkatnya dari kesedihan. Namun, keheningan justru membawa lebih banyak pengetahuan baginya. Pengetahuan yang pahit.

Cukup jelas terdengar dari luar kamarnya.

“Kamu kapan mau pulang? … Sialan lu! Laki macam apa lu?! Maen cewek mulu! Istri anak lu ditelantarin kayak gini! … Gue keburu miskin kalo nungguin lu, najis! … Brengsek lu! Gak usah pulang sekalian! Gue juga bisa idup tanpa lu!”

Brak! Telepon dibanting.

Ninda mengacak-acak rambutnya, menjambak-jambak rambutnya, kemudian memukul-mukul kepalanya. Stres. Setelahnya, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menahan suara tangis. Tak urung, ia jamah kembali komputernya, lalu ia nyalakan kembali lagu yang tadi ia dengarkan. Segala bunyi-bunyian dalam kamar itu menjadi sangat tragis.

Kini tangannya berusaha meraih kotak tisu di sebelah ranjangnya. Ia menghapus air mata dan membuang ingus. Ketika ia hendak menarik lembar tisu kedua, salah satu telepon genggamnya, yang ia letakkan di samping kotak tisu, bergetar. Ia tak jadi menarik tisu. Tangannya langsung berganti haluan, meraih telepon genggamnya.

Sebuah pesan singkat. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang sedikit lebih baik, beginilah jadinya:

Giza : Hai, Da. Lagi ngapain?

Ninda : Main komputer. Kenapa?

Giza : Gakpapa. Nanya aja. Pasti lu main komputer di kamar.

Ninda : Ia. Napa?

Giza : Gakpapa. Enak yah, punya komputer sendiri di kamar. Gue, kalo mau pake komputer, harus minjem ke rumah temen.

Ninda : Oh. Terus kenapa?

Giza : Gakpapa kok. Ah, dasar lu, orang kaya. Gak ngerti susahnya orang kayak gue.

Ninda : Orang kayak lu?

Giza : Orang susah, Da. Gak punya banyak uang.

Ninda : Lu susah karena lu merasa susah. Lu kekurangan karena lu merasa kurang.

Giza : Terserah lu deh. Lu ‘kan gak pernah susah. Jadi enak ngomongnya.

Ninda : Hahaha.

Giza : Napa ketawa?

Ninda tidak membalas lagi. Ia kesal. Ia benci orang-orang semacam Giza. Orang-orang yang menganggap orang kaya selalu bebas dari masalah. Siapa pula manusia di dunia ini yang bebas dari masalah? Juga, kebenciannya berganda karena Giza berpendapat bahwa ia tidak pernah hidup susah. Giza tidak tahu bagaimana kehidupan Ninda dulu, harus tinggal di gubuk kayu dan makan nasi dengan garam saja. Nasinya pun sisa dari pedagang beras yang baik hati. Giza tidak tahu perjuangan keras ayah dan ibu Ninda yang membawa kehidupan mereka ke taraf yang lebihbaik sekarang.

Jika ingat masa-masa itu, Ninda ingin kembali melarat seperti dulu kala. Di saat-saat itu, ayah dan ibunya tidak pernah bertengkar. Mereka sangat akur. Sangat kompak. Sangat manis dan lemah lebut perkataannya. Lihatlah sekarang. Ibunya bekerja sendiri. Ayahnya bekerja sendiri. Ibunya tidak mau menerima uang dari ayahnya dan menyuruh Ninda untuk menolak uang dari ayahnya. Ayahnya bulanan tidak pulang ke rumah karena benci pada omelan kasar dan tuduhan-tuduhan ibunya. Ia bosan dengan situasi ini.

Ninda mengeraskan suara komputernya. Segala bebunyian di sekitarnya sekarang tenggelam dalam alunan musik. Bahkan, tak terdengar lagi ketika ibunya marah-marah menyuruhnya mematikan musik tersebut. Ia berpuas-puas menangis, meraung-raung, tanpa terdengar karena suaranya tenggelam dalam hentakan musik. Dalam tangisnya, ia berdoa. Bedoa kepada Tuhan yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Yang telah lama ia tinggalkan.

Seketika, hatinya mendapat secuil pencerahan di tengah gelap badai. Ia memadamkan suara musik yang menghentaki keras-keras kamarnya. Meraih telepon genggamnya. Ia mencari nomor ayahnya dalam daftar kontaknya.

Dialing…

Tuuut… tuuut… tuuut…

“Halo?”

“Papa?”

“Ninda? Kamu ganti nomor?”

“Iya. Kata Mama, biar Papa gak bisa hubungin Ninda.”

“Hhhh… Pantes aja.”

Maaf, Pa.

“Gakpapa. Bukan salah kamu.”

“Pa…”

“Iya?”

“Papa kapan pulang?” tiba-tiba saja tangis Ninda meluap lagi.

“Maaf, Da. Jangan sedih. Papa nunggu Mama kalem dulu.”

“Sampe kapan, Pa? Kenapa Papa gak minta maaf aja sama Mama?”

“Gak semudah itu, Da.”

“Kalo Papa mau yang mudah doang, masalah ini gak akan berakhir, Pa.

“Da…”

Ninda menutup dan mematikan telepon genggamnya.

Subuh-subuh, ayah Ninda pulang. Ia masuk dengan mudah berkat duplikat kunci rumah yang sengaja dibuat untuk ia, istrinya, dan anaknya, seorang satu buah. Ia langsung menuju kamar utama, kamar ia dan istrinya. Namun, ia tidak menemukan orang yang dicarinya: istrinya. Ia meletakkan barang bawaannya di sana, lalu diam, menerka-nerka di mana kemungkinan istrinya berada.

Berbekal tebakan, ia berjalan ke kamar tamu. Benar saja, istrinya tergolek tidur di atas ranjang empuk yang dahulu mereka pilih bersama. Perlahan-lahan, ia duduk di sisi ranjang itu, di mana ia dapat dengan jelas melihat wajah lelah istrinya yang pulas sekali tidurnya. Perlahan-lahan, ia mengelusi dahi istrinya, sehingga rambut yang menutupi kening indah itupun tersingkir. Ia kecup kening itu.

Ia kembali ke kamarnya. Mandi, berganti baju tidur, lalu kembali ke kamar tamu. Di kamar tamu, ia membaringkan diri di samping istrinya, lalu tidur. Melampiaskan segala kelelahannya.

Kelak, ketika istrinya terbangun dan mendapati dirinya di sampingnya, istrinya akan tersenyum bahagia. Sangat bahagia, sehingga segala amarah, dendam, dan tuduhan terbuang jauh-jauh. Ia mengelusi kening suaminya, lalu mengecup lembut kening itu.

Andai Ninda mau bersabar dan tidak memutuskan untuk kabur dari rumahnya kemarin malam, tentu ia akan sangat senang sekarang.

29/12/08

tinggal dalam IX

Epilog

Dari Malioboro, kami kembali ke Jakarta. Kembali ke Kelapa Gading. Kembali ke sekolah. Dari sekolah, pulang ke rumah masing-masing.

Sebentar saja saya menunggu di sekolah sebelum Ayah kandung saya menjemput saya. Setelah itu, kami mendatangi sebuah rumah makan untuk memesan lontong sayur dan lauk-pauk sebagai sarapan kami. Kami minta makanan itu dibungkus untuk dimakan di rumah.

Sampai di rumah, rasanya rindu sekali. Yang saya rindukan dari rumah adalah baunya, kehangatannya, dan toiletnya yang berada di dalam.

Setelah menghayati segala keberadaan rumah saya, saya membuka kardus besar berisi oleh-oleh dari orang tua di Ngaduman. Rupanya, isinya banyak sekali. Kentang, wortel, kembang kol, ubi jalar enak-manis-apalagi-kalau-digoreng.

Beberapa hari kemudian, kentang dan wortel menjelma sup, kembang kol menjelma sayur tumis, dan ubi jalar menjelma kolak.

-Harus TAMAT di sini-

tinggal dalam VIII

IV. Pulang atau Pergi?

Sampai di tempat di mana kami menemukan angkutan umum, Ayah dan Ibu memasukkan barang-barang kami ke dalam angkutan yang kami tempati. Kami menyalami Ayah dan berpelukan dengan Ibu. Saya masih sempat melihat Ibu menangis ketika berpisah dengan kami. Saya pun dengan susah payah menahan tangis.

*Karena saya terus-menerus menahan tangis, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukan menahan tangis karena sok kuat dan sebagainya, melainkan karena tidak mau concealer mata yang menutupi kantong mata saya, yang hitam-tebal-besar, luntur.

Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum yang senantiasa berguncang, saya banyak merenung. Saat itu, saya sama sekali tidak merasa seperti seorang kota hendak yang pulang ke kota asalnya. Saya justru merasa sebagai warga desa Ngaduman yang hendak merantau mengadu nasib di Jakarta. Sementara kebanyakan teman tampak senang akan bertemu kembali dengan keluarga mereka di kota (kebanyakan mereka menderita home-sick), saya justru sedih karena meninggalkan keluarga saya di desa.

Dengan angkutan umum tersebut, kami kembali ke pasar Kopeng. Di sana, kami berjumpa kembali dengan teman-teman yang terpisah ke desa Cuntel.

Dari pasar Kopeng, kami naik ke bis-bis kami, yang menyerupai kulkas berjalan, lagi. Dari sana, kami menuju sebuah hotel di Yogyakarta. Hotel Ruba Graha. Di hotel tersebut, terpelihara berbagai jenis hewan langka. Kebanyakan adalah reptil dan amfibi. Di hotel itu juga, kami siswa-siswi kelas IPS bertemu dengan siswa-siswi kelas IPA.

Malam harinya, kami semua bersama-sama menghadiri sendratari (mungkin ini adalah singkatan dari “seni drama tari”) Ramayana. Cerita tradisional asal India yang cukup populer di Indonesia. Rupanya, sendratari Ramayana di sekitar Candi Prambanan tersebut adalah penampilan pertama dalam rangka menjadikan Yogyakarta kota pariwisata. Sendratari tersebut dilakonkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas Gajah Mada.

Selain siswa-siswi SMAK 5 BPK Penabur, beberapa menteri dari negara-negara tetangga dan beberapa menteri dari Indonesia juga menjadi penonton perdana pertunjukan tersebut. Yang sangat disayangkan adalah sikap sebagian besar menteri Indonesia yang datang terlambat, mengobrol selama pertunjukan, dan bermain telepon genggam selama pertunjukkan. Sangat tidak berkelas. Teladan buruk.

*

Setelah semalam menginap di sana Ruba Graha, siswa-siswi kelas IPA harus menempuh perjalanan ke desa. Sementara, siswa-siswi IPS berbelanja ria di Bakpia Pathok XX (bukan sensor, tapi lupa) dan Malioboro.

Di Malioboro, rombongan saya yang anggota intinya terdiri dari Pak Chris, saya, Melisa, dan Anastasia berbelanja banyak dengan Pak Chris sebagai juru tawar. Alhasil, bawaan kami bertambah dan dompet kami menipis.

Yang sangat disayangkan adalah keramaian yang terlalu padat di Malioboro memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa siswi SMAK 5 BPK Penabur.

***

tinggal dalam VII

Ngaduman, 14 November 2008.

Talent show? Pertunjukan talenta? Pertunjukan bakat? Yah, pokoknya hari ini ada acara semacam itu. Keluarga-keluarga membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa keluarga. Tiap kelompoknya harus menyajikan drama yang merupakan persilangan cerita dongeng zaman dahulu dengan cerita modern. Hasilnya luar biasa menghibur. Apalagi, penduduk desa sangat antusias.

Kelompok saya sendiri mengadaptasikan cerita Maling Kundang dan Popeye si Pelaut ke dalam sebuah drama komedi.

Diceritakan di desa Ngaduman ada seorang bapak yang stres karena anaknya mempunyai gejala untuk menjadi sampah masyarakat. Sang bapak marah-marah kepada anaknya. Menyuruh anaknya menuntut ilmu ke kota dan menjadi orang yang berguna di kemudian hari. Dituntut demikian, si anak, Malin Kundang, menjadi stres.

Di tengah kegalauan hatinya, datang dua temannya merekomendasikan jasa dukun kepadanya. Dua temannya itu merekomendasikan dua dukun yang berbeda.

Dukun pertama ia datangi. Dukun itu memberikan resep rumit dan membacakan mantra. Ternyata, resep dan mantra dukun itu tidak cocok dengannya, sehingga ia malah menderita gatal-gatal dan iritasi ringan.

Dukun kedua ia datangi. Dukun ini direkomendasikan salah satu temannya sebagai “Sarjana Dukun”. Dukun kedua ini merekomendasikan sebuah tempat di kota, di mana Malin Kundang dapat menemukan bayam ajaib. Bayam ajaib itulah yang akan menolongnya.

Sampai di kota, ia benar-benar menemukan penjual yang memiliki bayam ajaib. Ia membeli bayam ajaib tersebut.

Baru sebentar di kota, Malin telah menambatkan hatinya kepada seorang wanita cantik, Olive Oil. Minyak Zaitun? Yah, pokoknya, Olive Oil. Ternyata, perjalanan cintanya mengahadapi kesulitan ketika datang orang ketiga di antara mereka, Brutus. Brutus yang tergila-gila kepada Olive ini tidak rela Olive bersama dengan Malin. Maka, Brutus menculik Olive.

Dengan kekuatan bayam, Malin menyelamatkan Olive. Kemudian, mereka menikah. Setelah menikah, mertua Malin dan Olive ingin bertemu dengan keluarga Malin di desa.

Rupanya, sesampai di desa, Olive tidak lagi menyukai Malin karena mengetahui ia hanya anak orang miskin. Olive pergi meninggalkannya. Sementara, Malin mati-matian menyangkal orang tuanya. Karena itu, Malin dikutuk menjadi kambing.

Tamat.

Demikianlah cerita drama kelompok saya.

Setelah pengumuman pemenang lomba pertunjukan bakat, acara dilanjutkan dengan sharing. Berbagi. Berbagi isi hati.

Tiap keluarga membentuk kelompok kecil yang duduk membentuk lingkaran kecil di atas tikar yang digelar di tengah-tengah aula gereja. Dengan lilin kecil pendramatisir suasana di tengah lingkaran kecil, kami memulai sesi berbagi ini.

Ketika sesi dimulai, saya hendak mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Namun, saya diserobot oleh isak tangis Ibu. Sangking tersedu-sedan ia menangis, ia sampai tidak sanggup berkata-kata. Sebagai orang yang duduk tepat di sebelahnya, saya mengelus-elus tangan dan pundaknya untuk menenangkannya. Saya melihat di sebelahnya, Yoga ikut menangis karena melihat ibunya sedih.

Setelah lebih tenang, Ibu berusaha berbicara meskipun putus-putus oleh isakannya. Dari kalimatnya yang putus-putus, saya menyadari bahwa ia sedih karena saya. Ia sedih karena kasihan melihat saya puasa tiga ronde. Puasa makan malam kemarin, puasa makan pagi dan siang hari ini. Ia takut saya sakit. Padahal saya takut bertambah buncit (saya selalu merasa mirip kucing bunting jika buncit. Kurus dan perutnya besar).

Ternyata, meskipun tidak turut menangis, Ayah pun sedih. Terdengar dari nada bicaranya. Ia sedih juga karena saya. Juga karena kasihan kepada saya. Ia kasihan ketika melihat saya bersusah payah naik-turun gunung saat berladang.

Saya jadi turut menangis karenanya. Pertama, karena saya merasa bersalah telah membuat mereka bersedih. Kedua, karena terharu akan kepedulian mereka. Sungguh, luar biasa. Anehnya, dalam tangis saya, saya masih memasang wajah tersenyum lebar. Tersenyum lebar sambil berurai air mata. Andaikata saat itu saya membaca cermin.

Bagai tidak cukup segala isak tangis itu, kami harus membicarakan perpisahan. Esok hari, kami memang akan berpisah. Namun, rasanya tidak perlu dibahas. Membuat makin sedih saja.

Pesan moral: Budayakan kepedulian terhadap sesama.

***

tinggal dalam VI

Ngaduman, 13 November 2008.

Akhirnya, kesempatan meladang tersedia untuk saya. Pagi-pagi, saya, Melisa, dan Ayah pergi meladang bersama. Mendaki gunung samapi kaki gemetaran. Terpeleset berkali-kali, untung tidak sampai jatuh. Ayah sampai memberikan saya sebilah kayu panjang berdiameter segenggaman tangan untuk dijadikan tongkat.

Kami bertiga berjalan beriringan sampai di kebun wortel milik Ayah nun jauh di atas desa. Di sana, saya dan Melisa membantu Ayah mencabuti wortel-wortel yang sudah matang. Ciri-cirinya adalah batangnya besar dan daunnya merunduk. Sayanganya, berkali-kali kami mencabut wortel yang belum cukup besar karena kami kurang pandai menganalisa daun dan batang wortel.

Setelah dari kebun wortel, kami turun agak jauh, lalu bertemu kebun kentang yang telah menunggu dipanen. Kami menggali-gali kentang yang pohonnya telah layu. Rupanya, di bawah pohon-pohon itu, tempat kentang-kentang bersemayam, ada semacam ulat kentang yang mengganggu. Namanya uret. Si hama uret ini memakani kentang. Uret ini sangat lemah. Sangat mudah mati. Ia mati jika kepanasan dan jika dibanting ke tanah. Bentuknya bulat panjang, setebal telunjuk pria dewasa pada umumnya sepanjang ibu jari pria dewasa pada umumnya, dan lembek.

Dengan hasil sekeranjang wortel dan sekarung kentang, kami pun pulang. Jalan turun pun ternyata melelahkan. Sangat mudah terpeleset. Apalagi, dengan kondisi kaki saya yang gemetaran.

Sampai di rumah, beberapa buah kentang langsung menjelma sepiring keripik kentang asin.

*

Di tengah hari, karena masalah rutin kewanitaan, saya membutuhkan tisu demi menjaga kebersihan diri. Sayangnya, tisu yang saya bawa telah habis. Maka, saya memutuskan untuk berjalan ke sebuah warung di ujung jalan. Hanya berselang beberapa rumah dari rumah saya.

Pemilik warung tersebut adalah Ibu Ningsih. Rupanya, di rumah Ibu Ningsih tidak tersedia tisu. Namun, masih ada harapan karena beberapa saat kemudian suaminya akan berangkat ke kota untuk mengambil persediaan barang. Karenanya, setelah membeli beberapa jenis barang saya kembali lagi di sore hari.

Sore hari, saya kembali ke warung Bu Ningsih.

Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok.

Beberapa ronde, saya lancarkan ketukan kepada pintu. Terdengar suara Bu Ningsih menyahut dari dalam. Tak lama, ia telah membukakan pintu dan mempersilahkan saya masuk. Namun, sayang sekali, tisu yang saya butuhkan itu belum juga ada. Suaminya lupa mengambil stok tisu di kota. Saya panik.

“Duh, gimana dong? Aku butuh nih!”

Beberapa kali saya mengeluh, membuatnya turut bingung.

Dua kali ia masuk kembali ke dalam rumah, mencari tisu, lalu keluar dengan hasil kosong.

Di kali berikutnya, ia kembali dengan separuh bungkus tisu di tangannya. Ia memberikan tisu itu kepada saya secara cuma-cuma. Ia menolak bayaran dari saya. Dengan rasa sungkan dan rasa bersalah, saya menerima tisu tersebut.

Saya berterima kasih sejadi-jadinya, lalu pamit seramah-ramahnya.

Di tengah jalan pulang, saya mendengar suara Bu Ningsih memanggil-manggil saya dari belakang. Saya berhenti, berbalik badan, dan menemukan Bu Ningsih sedang berlari ke arah saya. Di tangannya, segulung tisu. Segulung tisu yang tidak baru itu pun ia paksakan menjadi milik saya secara cuma-cuma. Rupanya, saya tak kuasa menolaknya.

Pesan moral: Berikanlah kepada mereka yang lebih membutuhkan.

***

tinggal dalam V

Ngaduman, 12 November 2008.

Hari ini, saya mendapatkan giliran mengajar di SDN 01 Kamel bersama teman-teman sukarelawan lain. Saya dan seorang teman saya, Kevin, kebagian mengajar kelas 4 SD. Kami semua mengajar bahasa Inggris. Karena mengajar, saya kehilangan kesempatan satu kali meladang bersama Ayah dan Ibu. Namun, mengajar juga merupakan sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan.

Bagaimana tidak? Anak-anak sungguh antusias. Rupanya, banyak juga kosakata yang telah mereka kuasai sebelum kami mengajarkannya, Semangat belajar mereka luar biasa. Dua jam penuh untuk satu mata pelajaran dan mereka antusias secara statis sampai akhir. Mereka pun tidak nakal, tidak menyeletuk tidak pantas, dan mereka mendengarkan kami dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya, jumlah mereka sangat minim. Hanya 6-10 anak dalam satu kelas. Di kelas 4 SD, dari 10 anak hanya ada 1 perempuan. Padahal, sekolah tersebut dibuka bagi tiga desa.

Selain itu, saya juga menyesali diri saya yang belum cukup menguasai bahasa Inggris. Rupanya, Kevin pun sama-sama minim kosakata. Maka, ketika anak-anak menanyakan bahasa Inggris dari ubi jalar, kami belum bisa menjawab “sweet potato”. Juga banyak kosakata lain yang sampai sekarang masih belum saya ketahui.

Pesan moral: Pelajarilah materi baik-baik sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

*

Di sore hari, ketika bosan menganggur di kamar yang kurang penerangan untuk membaca buku, saya beranjak ke dapur bersama Melisa. Di sana, kami dapati Ibu sedang mengupas bawang. Tanpa basa-basi, saya langsung meraih sebutir bawang merah dan mengupasnya. Tak lama, Ibu memberikan sebilah pisau bagi saya untuk menjadi alat bantu.

Setelahnya, kami bersama-sama merenungi kompor batu berkayu bakar yang tengah menyala garang. Di atasnya, kuali ceper kecil memuat sup ayam yang kuning karena berbumbu kunyit.

Tak lama, Melisa bangkit dan berjalan ke arah pintu belakang yang memang berada di dapur. Pintu tersebut terdiri dari dua bagian, atas dan bawah, masing-masing separuh. Saat itu, bagian ataslah yang terbuka.

Rupanya, di antara kami bertiga, hanya Melisa yang menyadari rerintik hujan halus di luar. Mungkin karena saya dan Ibu lebih terfokus pada gemerutuk kayu bakar. Kami berdua bangkit menyusul Melisa. Kami melihat pemandangan tertutup kabut, tetapi masih samar-samar terlihat.

“Itu di sana rumah kentang,” kata Ibu sambil menunjuk sebuah bangunan kayu-anyaman kecil. Ia bercerita bahwa akhir tahun lalu, saat musim hujan, pernah ada bagai yang merobohkan rumah itu, sehingga rumah itu harus dibangun lagi dari awal. Ia membalut cerita susah itu dalam tawa. Saya bahkan tak sanggup untuk sekedar tertawa palsu untuk membalas tawanya. Saya hanya sanggup bergelengan kepala sambil berdecak-decak sambil menahan miris dalam hati.

*

Malam hari, ketika sedang tidur-tiduran di kamar, saya meraba-raba perut saya. Saya terkejut. Perut saya membesar. Perkiraan saya, lingkar perut saya bertambah 3-4 cm. Setelah merenung-renung, saya menyadari betapa saya makan terlalu banyak dan menganggur terlalu sering. Pasti karena Ibu pandai memasak dan rajin bekerja. Tidak ada pekerjaan yang tersisa bagi saya. Yang ada hanya makanan enak berlimpah. Saya kemudian mengingat-ingat apa saja yang telah saya makan hari ini.

Pagi: nasi goreng, telor ceplok, tempe goreng, kerupuk. Pagi menjelang siang: perkedel, ubi manis super enak digoreng nikmat. Siang: sekotak besar nasi, sayur, perkedel, ayam goreng, sambal tomat, kerupuk (piknik). Sore menjelang malam: semangkuk besar kolak labu besar (yang membuat saya dan Melisa tidak sanggup memuat makan malam). Sampai menjelang tidur pun, pencernaan saya belum selesai memproses makanan-makanan tersebut. Akibatnya, pencernaan saya harus kerja lembur.

*

Pesan moral: Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang (kutipan). (Tambahan) Akan tetapi, jangan tolak makanan dari orang desa.

***

tinggal dalam IV

III. Tinggal

Ngaduman, 11 November 2008.

Setelah seluruh siswa calon penghuni baru Ngaduman tiba dan berkumpul di gereja dan penduduk setempat pun berkumpul di sana, acara pertama pun dimulai. Sambutan, pembukaan, dan pembagian rumah.

Saya serumah dengan teman saya yang bernama Melisa Lestari. Selama empat hari tiga malam, kami akan tinggal bersama keluarga angkat kami yang terdiri dari Bapak Sutrisno, Ibu Lasmini, dan anak mereka, Yoga, yang baru menginjak kelas 2 SD.

Rumah kami sangat sedehana. Berdinding kayu dan berlantai tanah. Sangat alami. Tanpa bau kimia. Perabotan sederhana seadanya, tetapi bernilai guna tinggi karena segala yang ada di sana dimanfaatkan secara maksimal. Mereka tidak membeli barang-barang yang tidak akan dipakai seperti orang-orang kota yang berbelanja karena kegatalan mata.

Sampai di rumah, kami disambut dengan sangat ramah. Empat toples makanan ringan berjejer di atas meja tamu, diperuntukkan untuk kami berdua. Dua gelas teh manis hangat langsung tersedia bagi kami.

Selanjutnya, Ayah dan Ibu angkat kami memberitahu di mana kamar kami, di mana kamar mandi (yang ternyata ada di luar rumah), di mana dapur, di mana mengambil makanan dan minuman, dan bahwa kami boleh menyedu teh sendiri.

*

Di jalanan, ayam-ayam berkeliaran, mematuki apapun yang bisa dimakan dan muat dalam paruh mereka. Di kandang dalam rumah, dua sapi berumur dua bulan dengan ukuran yang mengejutkan (bayangkan ukurannya ketika dewasa nanti) mengunyahi bubur rumput lezat buatan Ibu Lasmini. Menurut Ibu Lasmini, ketika sapi-sapi tersebut sudah dewasa, berat daging nettonya mencapai tiga kwintal per ekor. Seekor kambing tak mau kalah, melompat-lompat meminta perhatian dalam kandangnya. Ia baru berhenti ketika sejumput besar rumput kering tersaji di depannya. Dari berbagai jenis tumbuhan yang disebut-sebut Ibu Lasmini sebagai makanan ternak, hanya alang-alang yang bisa saya ingat.

Usai dari kandang, kami menuju ke dapur bersama-sama. Di sana, kami bercengkrama dengan orang tua baru kami. Di tengah kami, sebuah tungku batu yang mulutnya berisi kayu bakar yang menyala-nyala oleh api. Api menjilati pantat kuali besar yang berisi makanan ternak. Sambil mengakrabkan diri, kami menghangatkan diri.

*

Malam hari, kami tidur dengan nyenyak meskipun kedinginan. Resep anti dingin saya adalah: segelas sari jahe (saya dapatkan dari K-Mart di kilometer 57 tempat bis kami pertama kali berhenti untuk kepentingan perut keroncongan-dangdutan kami), baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki tebal, sarung tangan tebal, sarung, selimut tebal (disediakan oleh tuan rumah yang baik). Yah, semua itu masih kurang manjur.

Pesan moral: tengoklah keluar sangkarmu, lihatlah bentuk kehidupan lain, terkagum dan bersyukurlah.

***

tinggal dalam III

II. Keberangkatan

Seangkatan XII IPS SMAK 5 BPK Penabur berkumpul di lobi SMAK 5 BPK Penabur. Briefing. Sebagai panitia seksi (publikasi)/dokumentasi yang baik, adegan semembosankan ini pun harus saya rekam dengan penuh kesabaran.

Tak lama, siswa-siswi telah beranjak dari lobi dan memenuhi 3 bis yang disediakan sebagai alat transportasi kami. 3 bis untuk 3 kelas. Bis 1 untuk XII S-1 (panitia), bis 2 untuk XII S-2, dan bis 3 untuk XII S-3.

Setelah segala basa-basi (absen, briefing tambahan), bus pun mengeluarkan nafas berat-berat, lalu mulai melaju.

Berjam-jam di dalam bus, kaki pegal ditekuk, bahu dan leher pun pegal. Tidak lupa, kami kedinginan karena bis full AC yang benar-benar full of AC, sehingga mirip kulkas berjalan. Berkali-kali berhenti di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) demi toiletnya. Dua kali berhenti untuk makan. Kemudian, sampai di sebuah wisma bernama Sabda Mulia. Beristirahat, membersihkan diri, makan, mendengarkan kata sambutan dari seorang pria paruh baya, kemudian berangkat lagi.

Dari sana, kami berangkat ke pasar Kopeng untuk transit. Dari Kopeng, dengan angkutan umum setempat, kami berangkat ke desa masing-masing. Di sini, kami yang berdesa di Cuntel berpisah dengan yang berdesa di Ngaduman. Saya sendiri akan menjadi calon penghuni desa Ngaduman.

Rupanya, di Ngaduman sedang terjadi pembangunan jalan yang menyebabkan angkutan umum kami tidak dapat masuk lebih jauh ke tempat di mana kami harusnya diturunkan. Maka, di tengah jalan, kami turun, berjalan beberapa langkah, bertemu mobil pick-up yang akhirnya turut andil menjadi alat transportasi bagi kami. Naik mobil pick-up beramai-ramai di jalan yang terus-menerus menanjak sungguh menyenangkan. Seru.

Di sepanjang jalan, kami ditatapi oleh penduduk setempat. Awalnya, kami merasa aneh karenanya. Namun, kemudian saya berinisiatif untuk melambai-lambaikan tangan kepada penduduk. Rupanya, penduduk menyambut lambaian tangan tersebut dengan baik. Mereka melambai balik dengan senyum ramah. Karenanya, seisi mobil menjadi turut melambai-lambai setiap berpapasan dengan penduduk setempat.

Kami diantarkan sampai pusat kota Ngaduman; sebuah gereja. Di sana, kami turun, mengungsikan barang-barang bawaan kami ke dalam gereja, lalu minum teh dan makan cemilan di rumah penduduk yang berada tepat di sebelah gereja. Rupanya, rumah tersebut adalah milik arsitek gereja tersebut. Kami menunggu mobil-mobil pick-up berikutnya yang mengangkut teman-teman kami. Seluruhnya ada empat mobil.

Setelah benar-benar menginjakkan kaki di sana, saya baru merasakan apa yang telah disampaikan kakak-kakak pembimbing sebelumnya: suhu rata-rata 14 derajat Celcius, tidak ada sinyal untuk ponsel saya, dan kabut di mana-mana. Yah, desa tersebut terletak di ketinggian 1600-1800 meter di atas permukaan laut. Secara vertikal dan horizontal sangat jauh dari Jakarta.