02/06/11
the porcelain doll
I touched her cold face, amazed. She stared back, right into my soul. I said to myself, I want her.
She whispered to my soul, I am a free being, nobody masters me.
I was stubborn. I insisted. She walked away.
I will change your heart of stone to a heart of flesh, I told her.
She stopped and turned back. She came to me, opening her chest.
I looked into the darkness in her, reached in, and touched her stone heart. It was cold and dead, but the warmth of my human hand brought it to life.
I held her hand and she smiled at me. Beauty.
We started walking.
Where are we going? She asked.
Back home, I answered.
Where is it? She asked.
I pointed to the little light shinning at the end of the road.
She was unwilling to give up the dark, but she held my hand tight, and kept walking.
The light looked so close, but as we walked, it felt further and further. How far is it? How long does it take to get there?
In my hand, I could feel my warmth transforming her. She was hard and cold, but she started to become soft and alive.
At last, she grasped the air and breathed. She fell on her knees, tears all over her face and her eyes wide opened and red. What is this? She asked.
I kneeled down, looking at her, You’re becoming like me, I said.
Is it good? She asked.
Yes, it’s wonderful, I answered confidently.
We continued walking.
We finally made it to the light. We entered the gate, heavenly songs were sung. My tears fell in joy.
I looked at her with a big smile, expecting her to be happy, but she was not. She closed her eyes and her ears, full of anxiety and uncertainty. I held her to calm her down, but she was struggling in my arms.
From afar, I saw another porcelain doll. Pure beauty.
I was still holding the angry porcelain doll in my hand, watching the porcelain doll in the distance, who was already in flesh, singing the heavenly song with beautiful voice.
I want her, I said.
Whom? My porcelain doll asked, anxiously and jealously.
Her, I pointed.
My porcelain doll knew that she could not compete with the beauty of the one I wanted. So, she walked away, into the dark, in a great pain and sorrow.
Her humanly flesh could not bear the darkness. The dark air stabbed into her skin, ripped her heart into pieces, she kept walking, further and further from the light.
She made it to where I found her. She was broken and torn.
The next day, she died.
I am home, safe, and alone, watching the beautiful porcelain doll, singing the heavenly songs, from afar. She’s untouchable.
23/05/08
badai dan gempa
Mars : Bumi, kamu makin berair.
Bumi : Iya, aku berkeringat. Mereka membuatku kepanasan.
Merkurius : Begitu panaskah sampai kau menangis, Bumi?
Bumi : Iya, mereka juga menyakitiku. Mereka merusakku.
Mars : Bukankah itu sudah lama mereka lakukan?
Bumi : Mereka bertambah parah. Kulitku, dagingku, darahku, udaraku, semuanya! Mereka tidak mau menyisakan apapun! Oh, Matahari! Panasmu pun ikut menyengatiku!
Matahari : Maafkan aku, Bumi. Bukan kehendakku. Bukan kuasaku untuk meredam atau menghentikan pijar panas dan cahayaku sendiri. Namun, kau telah diberi selimut ozon untuk tetap terlindung dariku. Apakah mereka juga mengambilnya darimu?
Bumi : Ya, mereka melubanginya. Bagi mereka telah tersedia berbagai kenyamanan dariku, sehingga mereka telah menjadi parasit bagi diriku sendiri.
Mars : Kawan, mereka berkembang biak terlalu cepat. Mereka akan semakin mebutuhkan banyak darimu.
Matahari : Ah, mereka selalu punah pada akhirnya. Mungkin kali ini akan punah kupanggang. Namun, Bumi, kau tetap bundar dan mengitariku.
Bumi : Tidak, Matahari. Mereka tak pernah punah. Selalu ada sisa dari mereka yang akhirnya berkembang biak gila-gilaan lagi dan merubah-ubah wajahku lagi.
Mars : Toh kami akan tetap mengenalmu.
Merkurius : Ya. Orbit dan posisimu tak berubah.
Bumi : Hahaha! Betul juga! Tapi aku tetap kepanasan!
Mars : Mari kutiup dirimu agar sejuk!
Merkurius : Aku juga mau meniupimu!
Matahari : Bolehkah aku ikut?
Bumi : TIdak! Jika kau lakukan itu, aku akan terpanggang lidah api dan musnah!
Mars dan Merkurius : (meniupi Bumi).
Mars : Bagaimana? Sudah lebih baik?
Bumi : Jauh lebih baik, tetapi wajahku menjadi berantakan karena badai.
Matahari, Bumi, Mars, dan Merkurius : (tertawa bersama)
Bumi : (gempa)
14/01/08
sampah plastik
Aku adalah sampah plastik. Tadinya, aku adalah kemasan sebuah produk makanan. Sebelum itu, aku dimainkan dan dibentuk sesuka hati oleh manusia-manusia di sebuah pabrik. Teman-teman seangkatanku juga mengalami hal itu dan mereka dibentuk persis sama seperti aku. Sebagian kecil teman kami yang berbentuk lain dari yang lain akan dibuang. Menjadi sampah sebelum digunakan. Sementara kami, yang sesuai dengan keinginan para manusia, menjadi sampah setelah manusia-manusia lain menguras habis makanan yang kami kemas.
Setelah menjadi sampah, aku tak tahu lagi arah dan tujuanku. Ini semua adalah akibat dari perbuatan manusia yuang tidak bertanggung jawab. Seharusnya manusia itu memasukkanku ke tempat sampah. Di sanalah seharusnya aku berada. Namun, manusia itu sama sekali tidak menghargai jasaku. Manusia itu melemparku begitu saja dengan sembarangan.
Padahal, aku tidak suka terombang-ambing oleh angin. Sesekali oleh air jika angin menjatuhkanku ke selokan. Di salah satu selokan mampat, aku sempat menjadi bencana bagi manusia. Di
Aku juga pernah terdampar di pantai. Saat itu, seorang manusia kecil memungutku dan menggunakanku untuk menampung kulit-kulit kerang yang dikumpulkanya. Saat itu, setitik harapan muncul untukku. Aku berharap agar manusia itu membawaku sampai ke rumahnya dan akhirnya melemparkanku ke tempatku : tempat sampah. Namun, sayang sekali, seorang manusia betina yang besar memerintahkan manusia kecil itu untuk memindahkan kulit-kulit kerangnya ke plastik yang lebih keras dan tebal.
“Hey! Bungkus makanan!” plastik itu mengejekku.
“Memang kenapa kalo aku bungkus makanan?”
“Kamu cuma dipake sekali, terus jadi sampah! Hahaha! Aku dong… Tupperware! Aku tahan lama dan bisa digunakan berkali-kali. Bahkan, aku tahan suhu ekstrim! Hahaha!”
“Huh! Aku
“Hahaha! Ini
“Biar saja! Suatu saat nanti, aku pasti didaur ulang!”
“Hahaha!” ia terbahak-bahak. Muatanku telah berpindah seluruhnya kepadanya. Aku pun dilempar sembarangan lagi dan melayang bersama angin lagi, sementara ia dibawa oleh manusia-manusia itu. Ia pergi sambil terus menertawakanku, “hahaha!”.
Angin membawaku lagi. Sesekali aku menyapa teman-teman sampahku saat kuterbang dibonceng angin. Angin melepasku di tepi jalan. Di ujung jalan itu, tampak seorang manusia sedang mengumpulkan sampah-sampah plastik ke dalam sebuah keranjang besar yang dipikulnya. Sayangnya, ia telah lama berlalu dari tempatku berada. Ia telah memunguti sampah-sampah yang tadinya berada di tempatku berada saat ini dan sekarang ia telah berjalan pergi memunggungiku.
Aku berteriak-teriak memanggilnya, tapi aku tahu ia tidak dapat mendengarku. Sebagian sampah di dalam keranjang itu mengintip iba kepadaku, sebagian tak peduli, sebagian lagi bahkan menertawakanku.
Kini aku sendirian di tepi jalan. Semua sampah yang tadinya tegeletak di sini telah naik keranjang bersama manusia tadi. Tidak ada lagi yang tersisa untuk sekedar menemaniku.
Tiba-tiba saja, seorang manusia berukuran sedang menghampiriku. Ia memungutku dari tepi jalan dan mencari tempat sampah untuk meletakkanku. Dia baik sekali.
“Dasar orang
Sementara itu, dua manusia lain kebetulan berjalan melewati manusia baik itu.
“Sok bersih banget sih!” celetuk salah satu manusia yang kebetulan lewat itu dengan ketus dalam bahasanya.
01/11/07
nilai
Begitulah orang tuanya. Jika melihat anaknya berprestasi, bungkamlah mereka. Jika melihat kesalahan kecil saja, bersemburan makian mereka. Sudah biasa baginya.
Hari ini adalah hari pengambilan laporan hasil belajar selama setengah semester (istilah kerennya rapot mid). Ia menanti dengan gugup di rumah. Menanti laporan hasil belajarnya yang diambilkan ibunya di sekolah.
Begitu ibunya sampai di rumah, ia langsung dihardik keras karena nilai Sejarahnya yang merah. Begitu pula saat malam hari ayahnya pulang dari kantornya. Setelah ibunya mengadu, dihajar pula anak itu. Begitu tak berarti segala prestasi yang dicapainya. Menang lomba-lomba, ranking selalu
Dengan banyak pertimbangan, ia memutuskan untuk menghentikan segala usaha belajar dan prestasinya. Semua itu rasanya tak pernah berguna. Sejak saat itu, nilainya tak pernah mencapai kriteria kelulusan dan tak ada lagi prestasi dicetaknya.
Saat pengambilan rapor semester, berapi-apilah ibunya melihat laporan hasil belajar anaknya yang didominasi warna merah. Sesampai si ibu di rumah, dicarilah anaknya yang bersembunyi dalam kamarnya. Ia tatapi anaknya. Anaknya yang telah siap dimarahi pun menatap balik tanpa bersuara.
Si ibu menanyakan penyebab anaknya memperoleh nilai-nilai buruk, tidak seperti sebelumnya. Sebelumnya ia punya nilai-nilai yang sangat baik dan prestasi menumpuk.
Anak itu tetap diam. Dalam diamnya ia terkejut mengetahui bahwa ibunya sadar akan segala yang dicapainya dahulu.
Anak itu hanya tertunduk dalam-dalam. Saat ia mengangkat wajah untuk menantang ibunya, yang ia lihat adalah wajah sedih dan memelas ibunya. Sedihlah hati anak itu. Ia meminta maaf sambil terisak.
Ibunya merangkulnya. Memeluknya. Membelai punggungnya. Memaafkannya.
17/08/07
Libur
“Hore! Besok 17 Agustus!”
“Hore!”
“Wah, anak-anak, tampaknya kalian senang sekali. Kalian ikut lomba apa besok?”
“Gak ikut.”
“Aku juga gak ikut apa-apa, Pak.”
“Kenapa?”
“
“He eh, besok
Pak Guru menceramahi anak-anak itu tentang makna Hari Kemerdekaan (yang bukan sekedar liburan), entah mereka mengerti atau tidak. Pak Guru berceramah dengan menggebu-gebu dan emosional. Akhirnya, anak-anak itu menangis ketakutan.
15/08/07
ke gereja
“Eh, halo!”
“Halo!”
“Udah lama gak liat. Udah gak ke gereja lagi?”
“Masih, tapi ke gereja lain.”
“Lho? Kenapa?”
“Gereja A liturginya gak enak!”
****
“Eh, coy! Gak ke gereja”
“Gue pindah.”
“Lho?”
“Gereja B pendetanya bikin ngantuk!”
****
“Halo, apa kabar?”
“Baek.”
“Minggu ini ke gereja bareng yuk?”
“Nggak ah!”
“Kenapa?”
“Gue pindah.”
“Ke mana?”
“Gereja D.”
“Kenapa?”
“Gereja C pemusiknya payah!”
****
“Minggu ini lo ikut kebaktian jam berapa?”
“Gak ikut.”
“Kenapa?”
“Pindah.”
“Kenapa?”
“Gereja D jemaatnya dikit!”
****
“Gereja E *blah blah blah*”
****
“Gereja F *blah blah blah*”
****
“*Blah blah blah*”
****
“*Blah blah blah*”
****
“Pakabar, bos?”
“Mayan.”
“Gereja mana lo sekarang?”
“Gak dimana-mana.”
“Gak ke gereja lagi?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Gak ada yang enak.”
“Emangnya lo ke gereja untuk apa?”
“Kebaktian.”
“Untuk siapa?”
“Tuhan.”
“Tuhan gak enak?”
“Bukan Tuhan, tapi gerejanya!”
“Ke gereja untuk?”
“Kebaktian.”
“Untuk?”
“Tuhan.”
“Yakin?”
*************