16/08/10
tentang kematianku
Namun, sekarang, aku ingin mati, lagi. Bukan karena masalah-masalah yang menghimpitku, meskipun demikian orang-orang akan menuduhku, setelah kematianku. Aku tidak peduli. Ketika aku membuka jendela apartemenku, lantai 24, aku berpikir kembali, berusaha memastikan bahwa keputusanku tepat. Aku bukan anak cengeng yang bunuh diri karena putus cinta, aku muak berbuat dosa, aku ingin berhenti berbuat dosa, dan inilah cara yang tepat.
Aku melompat.
Terjun.
Angin menerpa keras kulitku, membuat kulitku berkelepak.
Sebelum aku menyentuh aspal, aku teringat seorang teman baikku, yang memperkenalkanku kepada Tuhannya, yang mengampuni dosa manusia dan menebus manusia dari perbudakan dosa karena kasih-Nya terhadap manusia.
Lalu hitam.
29/06/10
tetang orang tua Inda
Pagi tadi, aku punya sandwich di tangan kananku dan kopi di tangan kiriku. Mereka semua jatuh ke lantai. Terpaksa kubersihkan. Akibatnya, aku terlambat ke sekolah dan sekarang aku lapar. Dengan perut ribut, aku menghampiri kelasku. Kuketuk pintunya.
“Masuk,” kata Bu Guru.
Aku masuk.
“Kenapa kamu telat lagi?”
“Ummm... “ Aku berusaha menceritakan kisahku dengan singkat dan padat.
“Ya sudah, sana duduk,” ia memotong. Aku tidak jadi bercerita.
Begitu aku mencapai tempat dudukku, seorang siswa di belakangku menyeletuk, “huh, mentang-mentang kaya, telat terus ke sekolah!”
Aku acuh karena tidak mengerti relevansi antara kaya dan terlambat ke sekolah. Tak lama, sebuah benda keras menghantam kepalaku. Ternyata penggaris. Aku menoleh ke belakang. Kepalaku berdenyut sakit.
“Denger gak aku ngomong?” Teman sekelasku tidak senang kuacuhkan.
Aku segera menoleh ke depan, memproses air mata di mataku, lalu berteriak “Buuuuu! Adi mukul aku pake penggaris!”
“Eh, nggak kok! Nggak! Kamu bo’ong!” Adi mengelak. Aku terisak.
Bu Guru membentak, “kalian berdua ya! Kenapa selalu ribut?”
Tangisku kubuat semakin kuat “aaaaaaaaa! Adi duluan, Buuuuu!”
“Adi, kenapa kamu mukul Inda?”
“Dia kan telat, Bu...”
“Kalau Inda telat, Ibu yang hukum, bukan kamu!”
“Tapi Ibu gak hukum dia! Ibu suruh duduk!”
“Karena Ibu mau mengajar. Hukumannya nanti, waktu istirahat. Kamu juga gak boleh mukul temen kamu begitu! Minta maaf!”
“Gak mau!”
“Kamu mau Ibu hukum juga?”
“Gak mau!”
“Minta maaf!”
“Nggak!”
Jam istirahat, teman-teman berkejar-kejaran di lapangan, makan di kantin atau di kelas, aku dan Adi berdiri dengan satu kaki memijak lantai, satu kaki diangkat setinggi lutut, dan dua tangan di telinga, di depan ruang guru, ditertawakan anak-anak yang berlalu-lalang.
“Gara-gara kamu nih, aku jadi dihukum!” bentak Adi.
“Aku gak nyuruh kamu mukul aku pake penggaris.”
“Aku tadi ngomong sama kamu, tapi kamu cuekin!”
“Abis omongan kamu gak penting!”
“Sialan!”
Kami pun saling pukul sampai seorang guru datang melerai. Kami pun naik banding ke ruang kepala sekolah. Kedua orang tua kami dipanggil. Seperti biasa, orang tuaku tidak pernah menggubris panggilan sekolah. Tanteku, seperti biasa, memenuhi panggilan kepala sekolah.
Bahkan ketika aku diwisuda dari perguruan tinggi. Bahkan ketika anak mereka memperoleh nilai tertinggi di angkatannya. Seperti biasa, hanya Tante yang datang.
“Jeng Diah, Inda,” Ibu Adi datang menghampiri kami dengan senyumnya yang selalu tulus dan hangat, “ayo foto bareng kita.”
“Tante! Ayo!”
Aku dan tanteku bergabung dengan Adi sekeluarga.
Adi, seperti biasa, kuliah dengan beasiswa. Sejak SD, selalu beasiswa. Orang tuanya tidak sanggup membiayainya. Ia anak tunggal yang sangat berbakat dan pintar, dari keluarga yang tidak berada. Orang tuanya tentu menaruh harapan yang sangat besar padanya.
“Lu kenapa ngeliatin gue kayak gitu?”
“Lagi mikir aja,” kataku, “gue punya orang tua yang bisa bayarin sekolah, tapi males.Elu...”
“Hahaha... Tapi 4 tahun ini lu rajin banget banget banget!”
“Iya, karena gue mau nunjukin ke bokap nyokap gue kalo gue bisa... Emmm... Gitu deh. Ternyata...”
“Jangan sedih, Da. Gue yakin, nyokap lu sebenernya bangga sama lu.”
“Hah... Dateng aja nggak.”
Ia terdiam. Merenung.
“Udah lah! Starbucks! Ngidam green tea!” seruku.
Kenakalan dan nilai rendah tidak sanggup menarik perhatian mereka. Nilai tinggi dan prestasi pun tidak.
“Da,” panggil Adi ketika aku sedang menyeruput teh hijau dinginku, “kayaknya gue bakal langsung ngelanjutin S2 deh.”
Aku hampir tersendak.
“Gak salah? Gak mau cari kerja dulu? Istirahat dulu?”
“Hehehe. Nggak, Da. Gue udah dapet beasiswa, tapi di Jogja. Bulan depan gue udah harus berangkat.”
Aku benar-benar tersendak. Aku terbatuk-batuk dan ia menepuk-nepuk pundakku.
“Trus lo bakal ninggalin gue sendirian di sini?”
“Yah lo gak bakal sendirian lah, Da. Temen lo yang lain kan masih banyak.”
“Beda. Mereka tuh cuma deket-deket gue karena gue sering traktir mereka belanja, nonton, makan...”
“You’ll be fine, Da.”
Aku menghela napas.
“Sebelum lo pergi, lo harus nginep dulu di rumah gue yah!”
“Oke.”
Adi:
Ini bukan pertama kalinya aku menginap di rumah dia. Sejak kami mulai akrab saat kami menginjak jenjang SMP, aku telah berkali-kali menginap di rumah Inda. Rumah mewah, besar, dengan kamar tamu seluas seluruh rumahku.
Tantenya adalah wanita yang sangat baik. Sangat ramah. Bertahun-tahun, aku bersekongkol dengannya, menutupi kenyataan dan berbohong kepada Inda, tentang kedua orang tuanya. Bertahun-tahun lalu, kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan salah satu sepupu Inda. Ketika mereka melewati sebuah jalan yang sepi dan gelap, mereka dirampok, dan dibunuh. Hal itu terjadi saat aku dan Inda masih duduk di bangku SD, seminggu sebelum Inda pindah ke sekolahku.
Tante Inda menangis di depanku. “Kalo kamu pergi, siapa yang bakal jagain Inda? Gimana kalo ada temennya yang jahat, ngomong macem-macem sama dia?”
“She’ll be fine, Tante.”
Aku tidak akan membiarkannya hidup dalam kebohongan selamanya. Sebelum aku pergi, ia harus tahu kebenaran ini dan ia harus menerimanya.
28/01/10
tentang alay
Dalam ingatannya terekam jelas, peristiwa pagi dan siang ini, yang membuatnya tak berhenti tersenyum sampai saat ini. Jack yang hari ini menemaninya melewati waktu. Sungguh kebetulan bahwa hari ini mereka berdua sama-sama tidak bekerja. Jika bukan karena hujan deras yang mengguyur kota, mungkin mereka masih berbaring di rerumputan hijau North Sydney Park sambil bersenda gurau dan mengemil.
Beruntunglah ia sebab ia boleh tidur dengan hal-hal indah berputar-putar dalam kepalanya. Sementara, di rumah lain, teman baiknya bersungut-sungut, tepat sejak setelah ia membaca pesan singkat dari Ananta yang masuk ke ponselnya. Tentunya, tentang betapa senangnya Ananta hari ini karena kesempatannya bertemu dengan Jack. Tidakkah kami, perempuan, manusia yang tidak loyal terhadap jenisnya? Kami akan saling mencakar dan menjambak dengan sahabat terdekat kami demi memperebutkan laki-laki yang tidak akan saling tonjok dengan sahabat terjauhnya demi memperebutkan perempuan. Paling tidak, saat ini, mereka berdua masih berada di rumah mereka masing-masing, belum saling membunuh dan menggemparkan seisi kota.
Berkebalikan dengan Ananta, Sally merengut saat hujan datang. Segera ia mematikan lampu meja yang tepat terletak di sebelah kepalanya, ditariknya selimutnya sampai menutupi wajahnya, dan ia memaksakan dirinya untuk tidur hingga pagi menyapa.
Betapa rumit juga perang antar perempuan, di pagi hari yang cerah dan masih lembab sebab hujan semalam, dua sahabat baik ini, Ananta dan Sally, saling tersenyum dan menyapa, duduk bersama dan bercanda-tawa. Tentu, karena kami, perempuan, tidak berlaku seperti anjing beringas, yang begitu bertatap muka dengan lawannya, hasratnya untuk mengoyak dan merusak langsung memuncak.
“Eh, gimana kemaren? Cerita dong?” Sally berinisiatif memulai pembicaraan.
Anata pun berkisah dengan menggebu-gebu, sementara Sally menanggapi dengan senyum termanisnya, entah apa pun yang bergejolak di hatinya. Sungguh senyumnya adalah topeng tercantik. Bahkan Ananta pun tak pernah merasa ada yang salah dengannya. Ananta pun tak pernah mengerti mengapa teman-temannya yang lain menatapnya dengan pandangan aneh. Sally mengerti, itu karena Sally bergosip kepada teman-temannya yang lain bahwa “She’s boasting that they’re now a COUPLE! They only went out together ONCE and it wasn’t even a date!”
Namun, kelak, Ananta akan mengerti, mengapa ketika ia menitipkan tugas esainya kepada Sally untuk dikumpulkan ke dosennya, tugas itu tidak pernah sampai. Lebih buruk, hilang. Sally hanya akan memberinya penjelasan, “Aduh, sorry, lupa!”
Ia pun akan melihat dengan lebih jelas ketika ia berjalan-jalan bersama Sally dengan gulungan rambut di poninya yang lupa ia lepas. Ia telah berjalan ke sana dan ke mari selama tiga jam sebelum akhirnya seorang nenek tua bertanya kepadanya, “Darling, is that a new trend?” sambil menunjuk ke rambutnya. Ia pun segera mengambil cermin kecil dari tasnya dan melihat ada apa di kepalanya. Tentu ia terkejut, tentu ia malu, dan tentu ia bertanya penuh tuntut kepada Sally, “kenapa lu gak kasih tau gue??”. Inilah jawaban yang ia terima dari Sally: “Sorry, gw gak tega.”
Ketika Ananta telah mengerti, ia berinisiatif mengajak Jack dan Sally makan malam bersama, bertiga. Tentu saja, itu menjadi sebuah tantangan bagi Sally.
Mereka berdua tiba lebih awal dari jam yang ditetapkan, dengan dandanan tertebal, gaun tercantik, dan pose duduk termanis. Tentu, mereka berdua sama-sama mengerutkan dahi ketika melihat Jack datang tidak sendiri. Kelak mereka akan mengerti, betapa sia-sia pertarungan mereka.
“Kenalkan, this is my wife, Arisa. Dia baru datang lagi dari Indonesia, setelah nyelesain penelitiannya tentang gejolak sosial anak muda golongan menengah ke bawah yang belakangan ini disebut-sebut sebagai ‘alay’. Ananta pasti ngerti banget deh.”
“Yang mana yang namanya Ananta?” istrinya menimpali.
Ananta melambai kecil.
“Oh, halo! Aku udah baca beberapa tulisan kamu tentang alay. Kamu bener-bener berbakat!”
Semua pun tersenyum. Entah senang, entah bersemangat, entah berpura-pura, entah salah tingkah.
14/07/09
kotak
Ia adalah yang pernah menjabati tempat tinggi di hatiku. Menjadi pujaanku. Sampai sekarang.
Saat itu, aku adalah seorang murid baru di sebuah SMU swasta. Sebelumnya, aku bersekolah di sebuah SMP negeri yang terpencil dan tak terdengar namanya. Yang terkadang juga menjadi olok-olok oleh SMP-SMP negeri lain. Bagi kebanyakan orang, mobilitas yang kulakukan sangatlah ekstrem. Berpindah dari sebuah SMP negeri antah berantah ke sebuah SMU favorit di ibukota. Padahal, tidak ada yang istimewa. Aku sama dengan murid-murid lainnya di sana. Aku sama-sama lulus tes masuk ke sana, melunasi uang pangkal dan iuran bulanan yang sama. Aku tidak istimewa, secara negatif maupun positif.
Meskipun aku berpikir dan merasa demikian, tidak dengan murid-murid di sana. Mereka begitu takjub ketika kusebutkan asal sekolahku. Apakah mungkin, sepanjang sejarah sekolah ini, belum ada murid dari sekolah negeri yang menjejakinya? Atau mereka menganggap produk, eh, murid sekolah negeri sangatlah bodoh, sehingga tidak mungkin masuk ke sekolah yang konon mempunyai mutu pengajar dan pelajaran yang sangat tinggi? Atau mereka menganggap murid sekolah negeri terlalu malas untuk dapat bertahan di sekolah ini? Entahlah.
Hari pertama masuk sekolah, aku datang ke sekolah sangat awal, sehingga aku tidak menemukan siapapun dalam kelasku. Tak berapa lama kemudian, seorang murid perempuan masuk. Aku tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumku dan kami mulai berbasa-basi.
"Anak baru ya?" tanyanya.
"Ia. Namaku Peni. Namamu siapa?" sahutku.
"Aku Vita." jawabnya.
Kami berjabat tangan.
"Dari sekolah mana?" tanyanya lagi.
"Dari SMP XXX"
"Wah!" ia tampak takjub.
"Kenapa?" aku heran.
"Dari SMP negeri, kamu langsung masuk kelas tiga SMU di sini? Hebat!"
"Hah? Kelas tiga? Bukan. Aku masih kelas satu."
"Lho? Ini kelas tiga. Oh, kamu pasti salah masuk kelas!"
Aku malu sekali. Sekolah itu memang tampak terlalu besar bagiku. Aku selalu tersesat di dalamnya.
Setelah itu, ia mengantarku ke kelasku yang seharusnya. Aku sangat berterima kasih kepadanya.
Sampai di kelasku yang sebenarnya, aku telah melihat dua orang siswa lain yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Salah satu dari mereka sedang asik membaca novel, yang lain sedang menggali-gali lubang hidungnya dan mengumpulkan harta karun dari hidungnya ke atas meja. Aku masuk saja dan sembarang memilih tempat duduk. Tak lama kemudian, seorang siswi masuk dan langsung mengampiriku.
"Hai! Anak baru ya? Duduk sama aku aja yuk!"
Ia bahkan tidak memberiku kesempatan bicara untuk menyatakan setuju atau tidak. Ia langsung merengutku dari bangku yang kududuki. Akhirnya, aku duduk sebangku dengan anak itu. Anak itu sangat membosankan. Ia selalu membicarakan dirinya. Sebagai seorang murid baru, aku tidak mau membuat musuh. Maka, aku tidak mendengarkannya. Hanya memberi reaksi berupa anggukan yang dibumbui senyum, serta sesekali "oh ya?', "wah!", dan sebagainya.
Setelah murid-murid telah lengkap mengisi kelas dan bel masuk berbunyi, sang wali kelas pun datang. Seorang wanita paruh baya yang agak gemuk. Guru Bahasa Inggris. Ia meminta kami satu persatu memperkenalkan diri kami dalam Bahasa Inggris. Bahasa Inggrisku terlampau buruk. Murid-murid lain menertawakanku. Ketika mereka tahu bahwa aku berasal dari sekolah negeri, mereka menjadi maklum, takjub, dan meremehkan.
"Kamu gak ikut MOS yah?" tanya salah seorang siswa yang duduk tidak jauh dariku. MOS adalah Masa Orientasi Siswa. Sama halnya dengan OSPEK.
"Gak. Aku masih di luar kota." jawabku dengan jujur.
"Ih! Dari sekolah negeri di kampung, bisa masuk sekolah bagusan di Jakarta?" sinisnya.
Aku tersenyum saja. Nyatanya aku memang bisa.
Setelah seluruh murid memperkenalkan dirinya, wali kelas pun mulai merancang sebuah denah kelas, yaitu tata duduk siswa. Ternyata, siswi narsis yang tadi mengajakku duduk bersamanya mendapat tempat duduk tepat di belakangku. Tidak lebih baik dibanding sebangku denganku. Tetap saja bertetanggaan. Di sebelahnya duduk seorang siswa yang sangat mengagumkan.
Doremi, namanya. Doremi. Ia membuatku tidak dapat berkonsentrasi ketika belajar. Bagaimana mungkin aku dapat berkonsentrasi jika kepalaku selalu ingin memutar sedikit ke belakang agar bola mataku dapat mengintipnya sedikit dari sudut mataku? Si Hanoman cerewet itu sering mencongkel, eh, mencolek punggungku untuk memanggilku. Ia selalu ingin bercerewet menceritakan dirinya. Saat itu, aku malah bersyukur karena itu dapat menjadi kesempatan bagiku untuk melihat Doremi. Sesekali, aku mengajak Doremi berbincang singkat. Basa-basi yang menyenangkan.
Ketika kami telah lebih akrab, ia berkeluh kesah bahwa seseorang telah mengganggunya. Ia bercerita dengan sangat kesal bahwa barang-barang pribadinya sering menghilang. Pengganggu itu juga sering mengirimkan pesan pendek ke ponsel Doremi berisi kata-kata cinta. Kebanyakan puisi. Bodoh dan gombalnya aku. Untung dia tidak tahu.
***
Suatu hari, ketika usai berbelanja makanan pada jam istirahat, aku kembali ke kelas. Di kelas aku mendapati segerombolan murid mengerubungi mejaku. Aku pun bergabung dengan mereka. Doremi berada di tengah-tengah mereka sedang memegang dan membaca dengan serius salah satu buku catatanku. Padahal, buku catatan itu tidak berisi apa-apa. Masih perawan. Belum pernah kubuka dan kucatatkan satu pun ilmu di sana.
"Heh! Lagi pada ngapain sih?" teriakku sambil menyelip ke tengah-tengah mereka.
Sertamerta, Doremi menyerahkan buku catatan yang masih terbuka itu kepadaku. Aku menatap isinya, lalu kututup sebentar untuk memastikan milik siapa buku itu. Sampul buku itu persis dengan sampul bukuku dan di sana tertera namaku. Pastilah ini adalah milikku, tapi mengapa ia berisi? Kukira ia masih perawan! Kubuka lagi buku itu untuk kulihat isinya. Aku pucat seketika. Di sana terpampang nama Doremi dalam bentuk grafiti warna-warni dengan segala hiasannya seluas satu halaman penuh! Full colour!
Mereka semua menatapku, meminta jawaban. Aku tak dapat memberikan jawaban. Aku pun butuh jawaban!
"Siapa yang bikin ginian di buku gue?"
Tidak ada yang menanggapi. Malah tiba-tiba terdengar teriakan pengumuman.
"Peni naksir Doremi!"
Wajahku memerah. Aku hendak menyangkal, tapi kata sangkalan itu tidak keluar.
"Jadi, kamu," sebuah suara yang tenang, tapi menusuk. Doremi pun pergi dari gerombolan itu. Aku buru-buru menyusulnya. Aku tidak peduli lagi dengan keramaian di belakangku. Namun, Doremi tidak mau berbicara denganku.
Sore harinya, aku bertamu ke rumahnya. Aku diterima dengan baik oleh nyonya rumah, tetapi tidak oleh Doremi. Wajahnya sangat ketus. Jadi, sebuah kotak besar yang kubawakan untuknya harus kutitipkan kepada ibunya.
Belakangan, aku tahu bahwa Hanomanlah yang telah membuat kaligrafi di buku catatanku. Katanya, ia telah sangat lama memendam hasrat untuk membuat tulisan indah itu karena ia jatuh cinta kepada Doremi tanpa pernah mengungkapkannya. Namun, ia belum menemukan tempat yang tepat. Jika ia membuat dan menyimpannya di rumah, ia takut ibunya akan menemukannya. Jika ia buat di buku sekolahnya, ia takut salah satu murid akan menemukannya. Sementara, jika ia membuatnya di tempat umum, ia takut seseorang memergokinya. Jadilah ia membawa bukuku ke WC untuk memerawaninya. Bakatnya membuatku susah.
Apa? Kotak besar itu? Apakah aku belum memberitahumu? Baiklah. Kotak itu berisi semua benda yang telah kuambil darinya, setumpuk surat cinta, berlembar-lembar puisi dan syair cinta, dan lukisan-lukisan dirinya yang kubuat di atas kanvas mini dengan cat air dan jari-jariku.
Di kemudian hari, ia menghampiriku. Hatiku telah melonjak karena kukira ia telah memaafkanku.
"Mana barang gue yang lain?" begitu bentaknya. Ternyata aku belum dimaafkan.
"Yang mana lagi? Semua udah gue balikin!"
"Masih kurang!"
"Elu kali yang ilangin sendiri!"
"Enak aja! Barang-barang gue tuh baru pernah ilang sejak ada elu!"
Aku melotot kesal mendengarnya.
"Apa? Sewot? Dasar klepto! Tukang nyolong!"
"Heh, enak aja! Barang lu udah gue balikin semua!"
Di tengah perdebatan kami, muncul Hanoman yang membuat kami hening seketika. Ia datang membawa sebuah kotak besar. Kotak besar itu ia serahkan kepada Doremi. Hanoman pun langsung pergi meninggalkan kami berdua. Doremi pun membuka kotak itu.
Kami sama-sama menengok isi kotak itu.
29/12/08
tinggal dalam VIII
IV. Pulang atau Pergi?
Sampai di tempat di mana kami menemukan angkutan umum, Ayah dan Ibu memasukkan barang-barang kami ke dalam angkutan yang kami tempati. Kami menyalami Ayah dan berpelukan dengan Ibu. Saya masih sempat melihat Ibu menangis ketika berpisah dengan kami. Saya pun dengan susah payah menahan tangis.
*Karena saya terus-menerus menahan tangis, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukan menahan tangis karena sok kuat dan sebagainya, melainkan karena tidak mau concealer mata yang menutupi kantong mata saya, yang hitam-tebal-besar, luntur.
Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum yang senantiasa berguncang, saya banyak merenung. Saat itu, saya sama sekali tidak merasa seperti seorang
Dengan angkutan umum tersebut, kami kembali ke pasar Kopeng. Di
Dari pasar Kopeng, kami naik ke bis-bis kami, yang menyerupai kulkas berjalan, lagi. Dari
Malam harinya, kami semua bersama-sama menghadiri sendratari (mungkin ini adalah singkatan dari “seni drama tari”) Ramayana. Cerita tradisional asal
Selain siswa-siswi SMAK 5 BPK Penabur, beberapa menteri dari negara-negara tetangga dan beberapa menteri dari
*
Setelah semalam menginap di
Di Malioboro, rombongan saya yang anggota intinya terdiri dari Pak Chris, saya, Melisa, dan Anastasia berbelanja banyak dengan Pak Chris sebagai juru tawar. Alhasil, bawaan kami bertambah dan dompet kami menipis.
Yang sangat disayangkan adalah keramaian yang terlalu padat di Malioboro memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa siswi SMAK 5 BPK Penabur.
***