Tampilkan postingan dengan label telinga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label telinga. Tampilkan semua postingan

18/08/08

pak kumis

Siang ini, sepulang sekolah (di tanggal merah ini, sekolah saya tidak libur), saya beranjak ke sebuah restoran untuk melakukan transaksi jual-beli (produk kosmetik dan perawatan tubuh MLM yang baru saya geluti) dengan seorang klien. Dengan gagah perkasa, saya berjalan kaki dari sekolah satu di SMAK 5 BPK Penabur, yang terletak di Jalan Hibrida, sampai jejeran Mal Kelapa Gading. Dari depan deretan Mal Kelapa Gading itu, saya menghentikan laju sebuah angkot biru bertajuk 37D, lalu menaikinya sampai di depan McDonald Boulevard Barat.

Dari sana, saya menyeberang sampai Holand Bakery. Kemudian, saya menelusuri jalan panjang ke arah bundaran Boulevard demi mencari sebuah restoran yang kunjung saya temukan. Di tengah kebingungan saya, berkali-kali saya menelepon sang klien untuk menanyakan alamat pasti restoran itu, tapi telepon saya tak kunjung diangkat. Senasib dengan SMS-SMS saya yang tak kunjung mendapat balasan.

Saya memutuskan untuk menunggu sebentar di sebuah ruko yang tidak buka pada hari itu. Entah ruko apa itu, letaknya selengkungan dengan Dunkin Donut, Nuansa Musik, dan warnet Nexus. Di tengah penantian saya, muncul seorang pria paruh baya, entah dari mana, begitu saja muncul di samping saya. Tubuhnya agak berisi, kulitnya sawo matang, kumisnya subur, berbaju batik, menenteng jaket coklat, bersepatu pantovel kulit hitam, rambutnya klimis, dan wajahnya susah.

Ia menanyakan arah Pulo Gadung, saya menunjukkannya beserta petunjuk angkot apa yang menuju ke sana dari tempat itu. Orang itu menyatakan bahwa ia tidak butuh angkot, ia akan berjalan kaki, karena uangnya hanya sisa dua ribu rupiah. Maka, saya menawarkan uang receh yang tersisa di kantong saya. Namun, ia menolaknya. Ia menyatakan bahwa dirinya bukan Muslim, sehingga tidak boleh meminta-minta. Pernyataan yang aneh.

Kemudian, tanpa ditanya, ia menceritakan pengalaman pahit yang tengah dialaminya kepada saya. Saya mendengarkan dengan saksama dan berusaha memasang wajah sedih sebagai tanda simpati, meskipun sebenarnya saya kurang menghayati kesulitannya. Berikut ceritanya.

Ia bercerita bahwa ia berangkat dari sebuah rumah sakit di Jawa (tidak saya tanyakan Jawa mana), tanpa telepon genggam dan dengan ongkos pas-pasan. Tujuannya adalah Jakarta, rumah kontrakkan seorang saudaranya. Ia datang untuk membawa kabar dukacita kematian ayahnya. Rupanya, dari pemilik kontrakan, ia mengetahui bahwa orang yang dia cari itu justru sudah berangkat ke Jawa. Ia menjadi bingung.

Di tengah percakapan kami, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa. Saya menyarankan kepadanya untuk mencoba berjualan koran atau menjadi kenek untuk mengumpulkan uang mudah, tetapi ia mengungkapkan masalah waktu. Ia sedang mengejar kereta terakhir di hari itu yang akan berangkat ke daerah tujuannya di Jawa pada jam 15.30 WIB, sementara ia butuh Rp 65.000,- (enam puluh ribu rupiah). Ingat, ia hanya memiliki dua ribu rupiah. Sebagai tanda simpati, saya menggaruk-garuk kepala.

Setelah perbincangan panjang dan bertele-tele, saya memutuskan untuk menyumbang kepadanya Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah). Hanya itu yang bisa saya berikan karena jatah uang saya paling tidak harus bertahan selama satu minggu dan jika saya berikan lebih dari itu, kemungkinan besar saya akan mengalami bencana kelaparan di akhir pekan.

Setelahnya, ia meminta nomor telepon genggam saya, untuk ia kirimi pulsa sebanyak pinjamannya ketika ia telah sampai di tempat tujuannya. Namun, tidak saya berikan. Sebagai gantinya, saya memberikan nomor rekening agar ia dapat mentransfer utangnya. Lalu, saya meminta nomor telepon genggamnya agar bisa saya hubungi. Rupanya, ia lupa. Ya sudah. Lalu, ia mengucap terima kasih, ia turun ke jalan dan mencari tumpangan. Dengan lima puluh ribu itu, ia berniat membujuk kondektur (ketahuilah, saya tidak tahu profesi apa itu).

Karena klien saya tak kunjung tiba, saya memutuskan untuk beranjak ke urusan lain di gereja. Saya mengirim pesan singkat kepada klien saya untuk mengabarinya dan membuat janji lain. Saya berjalan kaki dari tempat itu ke gereja saya, GKI Agape di Jalan Raya Nias. Lelahnya tak seberapa dibanding sorotan matahari yang membuat kulit saya menjadi belang.

Sepanjang perjalanan saya ke gereja, saya menceritakan kepada seorang teman baik saya kejadian yang baru saja saya alami bersama bapak-bapak itu via telepon genggam. Dengan yakin, ia berkata bahwa saya telah ditipu dan bahwa keputusan untuk memberikan nomor rekening adalah kesalahan besar. Entahlah. Jika sudah demikian, kepada Tuhan Yang Maha Tahu-lah saya mengadu.

Saya berdoa agar selembar uang (hasil jerih payah orang tua saya) itu tidak disalahgunakan. Berdoa agar Tuhan menyadarkan orang itu jika orang itu ternyata jahat. Berdoa agar Tuhan mengurungkan setiap niat jahat yang ia rencanakan. Berdoa agar rekeningku aman (di sana hanya ada seratus lima puluh ribu hasil jerih payah memenangkan sebuah lomba karya tulis tingkat kotamadya. Meskipun jumlahnya kecil, kesulitan mendapatkannya membuatnya begitu berarti). Berdoa agar Tuhan membimbing jalan orang itu ke solusi apabila ia memang sedang kesulitan.

Lalu, rugikah saya? Entahlah. Belum bisa saya jawab. Saya sendiri mendapatkan pengalaman baru, mengagumi bakat akting orang itu (jika memang ia berpura-pura), dan mendapatkan cerita baru. Lima puluh ribu rupiah untuk semua itu? Entahlah, apakah setara.

26/03/08

pisah

Aku akan menceritakan sebuah kisah tentang perpisahan. Hanya satu dari sekian banyak kisah tentang perpisahan. Entah apakah cukup berarti, tapi sangat ingin kuceritakan kepadamu.

Aku akan bercerita tentang sepasang hati yang baru dipertemukan setelah masing-masing hati telah terpaut hati lain. Mereka tidak ingin melepas, tidak ingin meninggalkan, tidak ingin mengkhianati, juga tidak ingin menyakiti, tapi itulah yang mereka perbuat satu sama lain.

Aku bercerita tentang seorang perempuan -mungkin namanya "Nita" dari kata "wanita"- yang saat ini sedang menatap lekat pada seorang laki-laki -kita sebut saja dia "Pri" dari kata "pria"-. Aku tahu kau akan protes jika aku bercerita tanpa nama. Kalau pun kau tidak protes, selalu ada orang lain yang protes. Baiklah, kulanjutkan cerita ini. Nita menatap Pri dengan perasaan jatuh cinta. Kuberitahu kau, sebelumnya Nita telah menjatuhkan cintanya pada hati lain. Ah, tapi jangan kau kira Nita ini adalah seorang perempuan yang sembarangan jatuh hati. Ia tidak seperti itu.

Dahulu Nita telah mencintai seorang lain. Siapa namanya? Namailah ia "Ali" dari kata "lain" dengan sedikit modifikasi. Awalnya, Nita tidak menyimpan perasaan khusus untuk Ali. Hanya saja, sikap dan perbuatan Ali yang begitu baik dan tulus kepadanya telah menanamkan setitik benih cinta di hati Nita. Benih itu subur bertumbuh. Sekalipun Nita tidak juga membalas kebaikan Ali, paling tidak ia berikan cinta dan itulah yang paling diharapkan Ali. Lama-kelamaan, cinta Nita pun menjadi tulus, bukan sekadar pamrih. Bahkan, ketika Ali tidak lagi bisa memberikan apa-apa, Nita akan tetap melimpahkan cintanya.

Lalu, saat ini, ketika Nita menatap Pri, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya ketika bersama Ali. Itulah sejenis cinta yang benihnya langsung menjelma menjadi pohon rindang yang berbuah-buah. Sangat cepat tumbuh dan kokoh akarnya tanpa dipupuk atau disiram. Begitu jatuh benih itu di tanah, langsung ia menjadi pohon dewasa yang kuat. Ajaib.

Marilah kita beralih kepada Pri. Ia pun dapat merasakan tatapan Nita. Kujelaskan padamu, saat itu mereka sedang berada dalam sebuah ruangan di mana mereka dilimpahi berbagai macam ilmu oleh seorang guru yang berdiri di bagian depan ruangan itu. Sementara, mereka dan manusia-manusia lain yang seusia dengan mereka akan mendengarkan guru itu dengan seksama, mencatat, dan berusaha meresapi semua yang dapat mereka resapi. Kita sebut tempat mereka berada sebagai "kelas". Kelas-kelas seperti itu banyak terkumpul dalam suatu gedung yang kita namai "sekolah". Ya, tahulah kau sekarang bahwa mereka hanya anak-anak ingusan yang masih bersekolah. Setidaknya, tak sampai satu tahun lagi, mereka akan lulus dan memasuki perguruan tinggi.

Oh, kita telah beralih jauh dari cerita tentang Pri dan Nita. Baiklah, tadi kau sedang mendengarkan tentang Pri. Di kelas itu, Pri duduk tepat di depan Nila. Nila sendiri duduk di bangku paling belakang di baris kedua dari pintu. Terserah bagaimana kau membayangkannya. Itu tidak penting.

Kulang lagi, Pri dapat merasakan tatapan Nita. Perasaan aneh menjalari punggungnya. Ia ingin sekali berbalik dan membalas tatapan Nita, tepat di matanya. Akan tetapi, ia mempertimbangkan bahwa perbuatan itu akan menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan dan pernyataan sesat sebagaimana kita sebut sebagai "gosip". Maka, ia kurungkan niatnya itu. Ia nikmati saja perasaan aneh yang berjalan-jalan di punggungnya.

Sementara, ketika Pri keluar dari kelasnya nanti, ia akan langsung menemui seorang perempuan lain dari kelas lain. Kita bisa memanggil perempuan itu "Rani" sebagai comotan huruf-huruf dari kata "perempuan lain". Sepertinya, semua orang di sekolah itu akan tahu bahwa Pri dan Rani adalah sepasang kekasih sebab mereka tampak akrab dan mesra. Pri tentu tahu bahwa hal ini selalu menyakiti hati Nita, tapi ia merasa tak berdaya untuk mencegahnya. Selain karena kekasih resminya adalah Rani dan Pri membenci perselingkuhan, Pri juga mencintai Rani sebagaimana seharusnya seorang kekasih.

Namun, suatu ketika, saat cinta Pri kepada Nita melolongi hatinya keras-keras, Pri tak sanggup lagi membendung, apalagi menyembunyikan perasaan itu. Ia terombang-ambing antara dua keputusan yang salah satunya harus ia pilih: meninggalkan Rani untuk Nita atau melupakan Nita untuk Rani. Ia plin plan rupanya. Ia memilih jalan yang akan ia benci seumur hidupnya: perselingkuhan.

Perselingkuhan dengan Nita memang ia sesali seumur hidupnya sebab ketika hal itu telah diketahui Rani, Pri pun ditinggalkan oleh Rani yang hatinya pilu. Sejak saat itu, Pri begitu muram. Dilihat hal ini oleh Nita dan dianggapnya bahwa Pri lebih mencintai Rani sebab ia begitu sedih ditinggalkan oleh Rani. Sementara Nita tidak pernah beranjak dari samping Pri, tapi tak pernah mampu menghibur hatinya yang kehilangan. Maka, menyerahlah juga Nita. Nita pergi juga, meninggalkan Pri, dengan perasaan kalah, terabaikan, tak berguna, sakit. Tak lupa berbagai makian ia tujukan bagi dirinya sendiri. Entah karena merasa tak cukup berarti untuk Pri, karena merasa bodoh telah membiarkan dirinya menjadi seorang selingkuhan, atau karena merasa telah menjadi mainan bagi Pri yang akhirnya dibuang ketika tak diinginkan lagi. Sendirilah Pri sekarang. Menahan hati yang remuk. Menangisi kehilangannya.

Sementara, Nita kembali kepada Ali yang selama ini memang tidak pernah ditinggalkannya. Ia benar-benar menyesal akan segala perbuatannya bersama Pri, sehingga ia kehilangan akal dan menceritakan segala sesuatunya kepada Ali. Ali meradang, juga merana. Ali merasa tak sanggup lagi bersama Nita. Ia bahkan tidak mengungkit-ungkit segala kebaikan yang telah ia berikan kepada Nita. Ia hanya yakin dirinya begitu tak pantas, tak layak, tak cukup untuk dicintai. Ia memutuskan untuk menyingkir. Ia hendak membiarkan Nita bersama laki-laki manapun yang dicintainya, bukan terikat bersamanya semata-mata karena hutang budi. Ia tidak lagi mengerti bahwa saat itu yang dibutuhkan Nita adalah dirinya.

Begitulah mereka semua terpisah, tercerai berai.

22/01/08

bodoh

-Andai ia tahu betapa aku mencintainya. Tidak, ia tidak tahu. Jika ia tahu, ia akan menghargaiku. Ia tidak akan melecehkanku dengan hal najis yang ia lakukan padaku. Cinta hanya gombal manis di bibirnya. Bahkan bibirnya tak pernah manis. Asin dan kering. Entah mengapa dulu aku senang mengulumnya. Sampai sekarang pun, aku masih menyukai hal itu, seandainya saja dapat kulakukan. Pasti aku sangat bodoh.

+Andai ia tahu betapa aku mencintainya. Tidak, ia tidak tahu. Jika ia tahu, ia tidak akan menuduhku terus-menerus. Ia tidak akan menyalahkanku atas sesuatu yang telah kami lakukan bersama. Sungguh, aku tidak pernah memaksanya. Aku hanya berpikir bahwa apabila kami melakukan itu, maka kami akan tetap setia satu sama lain karena merasa terikat. Namun, ia berpikir lain. Aku justru menjelma laki-laki bejat di matanya. Aku bingung, sebab kekasih-kekasihku yang terdahulu tidak pernah bereaksi seperti itu. Mereka selalu senang dan puas. Hanya saja, aku salah bila menganggap semua perempuan itu sama. Pasti aku sangat bodoh.

-Andai ia tahu betapa semua ini menyakitiku. Aku merasa sangat hina dan sangat bodoh. Aku hanya seorang perempuan cantik dengan otak kosong yang mau saja ia permainkan. Aku hanya sebuah objek eksploitasi baginya. Sesekali kubayangkan betapa nikmatnya menjadi dirinya. Menggauli tubuhku yang saat itu masih perawan, sementara ia telah bergaul dengan banyak perempuan. Aku merasa kotor. Bahkan, setelah semua itu dilakukannya kepadaku, cintaku padanya tak berkurang secuil pun. Aku pasti sangat bodoh.

+Andai ia tahu betapa semua ini menyakitiku. Aku merasa sangat hina dan bodoh. Aku melakukan itu kepada semua kekasihku, tetapi ia adalah yang paling spesial. Aku melakukannya dengan nafsu yang memburu kepada perempuan-perempuan lain, tetapi aku melakukannya dengan cinta yang menggebu-gebu untuk dirinya. Aku tidak sekedar melakukan itu untuk kepuasanku sendiri, tetapi aku juga ingin memuaskannya. Sayang sekali, aku telah melupakan bahwa semua itu tidak baik dilakukan tanpa status menikah dan aku juga lupa bahwa ia adalah seorang perempuan yang menghargai pernikahan. Aku pasti sangat bodoh.

=Hei, kalian makhluk-makhluk bodoh! Sampai kapan kalian akan terpuruk dalam kenangan masa lalu yang bodoh itu? Sadarlah! Kalian berdua saling mencintai dan saling merusak satu sama lain. Hah! Kalian ini makhluk yang payah!

-Oh, pencipta! Sungguh, semua itu salahnya! Dialah yang merusakku! Dia telah melakukan hal yang sangat hina kepada diriku!

=Kau ini! Cobalah untuk mempunyai pendirian yang pasti! Kau memang perempuan yang taat, tapi kau tergoda saat ia menjilati lehermu! Kau begitu ragu, sehingga kau menolaknya dengan tidak cukup keras. Kau begitu lembek! Pantas saja ia mengira dirimu menginginkannya, hanya saja malu-malu! Kau sendiri menikmati itu, dan kini kau salahkan dia?

Hei! Kau ini hanya seorang perempuan! Dunia menetapkan kodratmu sebagai manusia kelas dua! Kau tetap akan dipersalahkan oleh dunia karena masalah ini! Kau tidak akan dimenangkan! Tak ada yang membelamu! Karena laki-laki selalu dianggap lebih benar! Karena kau hanya seorang wanita!

+Betul, pencipta! Belalah aku! Dia memang keterlaluan! Dia menginginkan itu, tapi terus menumpahkan segala kesalahan kepadaku!

=Kau memang buaya! Kau sendiri paham bahwa ia tidak akan mau melakukan semua itu sebelum waktunya! Kau telah ratusan kali mendengar penolakan darinya! Jangan tulikan telingamu! Ia menolak dan kau abaikan!

Tentu saja ia menikmatinya! Itu memang nikmat! Tapi ingat, ia menolak kenikmatan itu sebelum waktunya! Tapi kau terus memaksanya dengan perlahan dan terus menggodanya!

Kau masih membela dirimu bahwa ia menginginkan itu? Kaulah yang menginginkan itu! Kelaminmu tak pernah puas dengan perempuan-perempuan yang sebelumnya kau perlakukan sama dengannya! Kau selalu ingin lebih! Mungkin suatu saat nanti, kau akan butuh lebih dari satu wanita!

-...

+...

=Dasar bodoh! Kalian memang bodoh! Apa gunanya kalian menangis begitu? Sudah! Aku bosan dengan kalian! Aku akan menciptakan khayalan lain yang lebih menyenangkan! Kalian membosankan!

17/01/08

jijik

Aku tidak membencinya, tapi aku jijik padanya. Aku jijik setiap kali melihatnya, mendengar suaranya, bahkan ketika aku memikirkannya, membayangkan wajahnya. Dahulu, aku dapat menerima segala kelakuannya yang kampungan dan wajahnya yang buruk rupa. Namun, sekarang tidak lagi. Setampan apapun dia dan sebaik apapun prilakunya, aku tak dapat mentoleransi rasa jijikku kepadanya.

Baiklah, aku tahu betapa membosankan jika aku hanya membicarakan rasa jijikku padanya secara panjang lebar tanpa menceritakan mengapa aku begitu jijik padanya.

Awalnya, aku mengenalnya dari dunia maya. Sebuah situs pertemanan mempertemukan kami karena persamaan selera musik kami. Dari sana, kami mulai akrab sebagai online buddy. Lalu, kami mulai bertukaran nomor telepon. Kami mulai saling mengirim pesan pendek, lalu saling menelepon. Semua begitu mengalir sampai suatu saat kami memutuskan untuk bertemu muka. Ternyata, kami sangat cocok dan cepat akrab satu sama lain.

Ia memang kelihatan malu-malu pada mulanya, tapi ia sangat baik. Ia tidak pernah membiarkanku membayar makanan sendiri jika kami berpergian bersama, ia sering membelikanku benda-benda yang kubutuhkan, ia banyak memberiku hadiah, ia juga sering mengisikan pulsaku yang cepat habis karena harus menjaga kelangsungan komunikasi dengannya. Apalagi, kami berhubungan jarak jauh dan kami berdua sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing, sehingga kami tidak bisa sering bertemu.

Hal itu terus berlanjut, sampai suatu hari ia menyatakan perasaan cintanya padaku. Ia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tentu, saat itu aku sangat terkejut. Apalagi, aku tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Aku memang menyayanginya, tetapi sebagai seorang saudara. Namun, aku tidak menolak permintaannya. Selain tidak tega, aku juga berpikir bahwa menjalin hubungan dengannya adalah semacam kesempatan untukku.

Ternyata, perasaan semacam yang dia rasakan kepadaku sangat penting. Aku baru menyadarinya setelah hubungan itu berlangsung agak lama. Saat itu, ia mulai suka menyentuhku dengan cara yang hanya dilakukan orang-orang yang saling mencintai secara intim. Bahkan, bagiku, hal itu baru pantas dilakukan ketika sepasang manusia telah diberkati di bawah pernikahan.

Awalnya, sebagai orang yang tidak mempunyai rasa cinta semacam itu untuknya, aku sama sekali tidak mau membiarkannya melakukan itu padaku. Namun, paksaannya yang halus, pelan, tapi pasti telah menyeretku perlahan-lahan ke arah itu. Itulah yang terjadi, sehingga suatu hari aku memutuskan untuk tidak pernah mengunjungi rumahnya lagi. Rasanya, setiap kali dia menjemputku untuk bertamu ke rumahnya, aku seperti sapi yang sangat tahu bahwa sebentar lagi aku akan dimultilasi di rumah penjagalan.

Perlahan-lahan, aku membatasi hubunganku dengannya. Membatasi, menghapus, memisahkan. Aku ingin lepas darinya. Aku tahu ia tidak akan menerima itu. Makanya, aku melakukannya diam-diam. Sama sekali tidak pernah membicarakan hal ini kepadanya.

Pertama, aku beralasan bahwa aku tidak dapat mengunjungi rumahnya lagi karena tempat itu sangat jauh dan aku akan pulang terlalu larut, sementara aku selalu sibuk esok harinya. Kedua, aku mengurangi perlahan-lahan frekuensi saling bertelepon hingga tidak pernah lagi. Ketiga, aku berusaha menuntaskan segala urusan antara kami berdua yang belum terselesaikan. Keempat, aku juga mengurangi frekuensi saling mengirim pesan pendek sampai tak pernah lagi.

Perlahan-lahan, bertahap, dan butuh kesabaran. Akhirnya, kami sama sekali kehilangan komunikasi. Aku merasa berhasil. Aku telah lolos dari tukang jagal. Aku tidak jadi mati dipotong-potong. Aku lega, bangga, dan bahagia.

Namun, sayangnya, semua itu tidak berlangsung lama. Perlahan-lahan, memori akan hal-hal busuk yang dahulu kulakukan bersamanya muncul kembali. Tampil begitu saja dalam layar ingatanku. Begitu jelas. Mengganggu aktivitasku sehari-hari, mengganggu pekerjaanku, mengganggu ketenangan batinku, dan mengganggu kewarasanku.

Andai aku bisa menundingkan segala kesalahan itu kepadanya, tetapi tidak. Nyatanya, aku juga berandil dalam kenajisan itu. Aku telah pasrah, aku telah menurut, aku telah membiarkannya. Yang paling buruk, aku juga menikmatinya. Andai aku tidak punya libido sebesar itu, tapi kenyataannya sedikit picuan saja darinya dapat membangkitkan birahiku. Bodohnya.

Aku jijik. Aku jijik. Aku jijik. Aku benar-benar tak dapat mengusir bayangan-bayangan itu dari retinaku. Aku mengingat semua itu dengan jelas. Perbuatannya, rasanya, nikmatnya, dan aku jijik!

Aku berusaha menghilangkan semua itu dari penglihatanku. Aku ingin membuangnya. Aku benturkan kepalaku ke dinding kamarku. Aku ingin ingatan itu rontok bersama gempa dalam kepalaku. Kubenturkan. Kubenturkan. Makin kuat. Makin kuat. Tembok bata yang keras, bantu aku.

Aku merasa ringan. Sangat ringan. Seperti melayang. Melayang. Mengambang. Terbang. Naik. Naik. Mungkin perasaan ini yang membuat para pemakai obat-obatan terlarang menjadi kecanduan. Entahlah. Ah… Aku mendekati atap rumahku. Aku melewatinya. Aku sejajar dengan pohon-pohon tinggi. Hei, aku setinggi puncak monas! Oh, aku lebih tinggi darinya! Aku telah menembus awan. Ke luar angkasa kah aku menuju?

*

“…seorang wanita ditemukan tewas di kamarnya. Diduga ia tewas bunuh diri akibat stres. Diduga juga ia stres karena dipecat dari pekerjaannya oleh karena kelalaiannya sendiri…”

07/01/08

kata nenek

Nenek sering menasihatiku sejak ia tahu bahwa aku telah menjalin hubungan percintaan dengan seorang pria yang kukenal melalui sebuah situs pertemanan. Bagi nenek, orang yang dikenal melalui internet harus dicurigai.

Nenek terus mengingatkanku akan nasihat-nasihatnya setiap Hari Minggu. Setiap Hari Minggu sebab aku tinggal di Jakarta dan nenek tinggal di Medan, sehingga kami hanya berbicara seminggu sekali secara rutin melalui telepon. Biasanya aku menelponnya dari Jakarta dan mengobrol panjang lebar sebelum kuoper telepon itu kepada adikku.

Setiap kami mengobrol di telepon, nenek selalu menyisipkan peringatan untuk tidak jalan-jalan atau berkumpul berduaan saja di tempat sepi. Katanya, lebih baik jalan-jalan ramai-ramai bersama teman-teman yang lain supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (mesum). Itulah hal yang paling nenek takutkan.

Meskipun nenek agak cerewet, tetapi ia adalah teman baikku. Ia bersedia merahasiakan hubunganku dengan pria itu dari kedua orang tuaku sebab nenek tahu bahwa ayah dan ibu akan sangat marah kepadaku jika mereka sampai tahu hal itu. Walaupun nenek sendiri tidak menyetujui hubungan itu dan sering menyarankanku dengan cara yang sangat halus untuk tidak berpacaran dengan pria itu.

Bagaimanapun juga, nenek berada di Medan dan aku di Jakarta, sehingga aku kurang mengindahkan nasihatnya. Aku tetap jalan-jalan berdua dengan kekasihku, meskipun kami tidak berkumpul di tempat sepi atau bermesuman.

Suatu hari, aku dan pacarku merencanakan untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang agak jauh dari rumahku. Kami selalu memilih tempat yang jauh dari tempat tinggalku untuk menghindari pertemuan dengan orang tuaku maupun teman-temanku. Ia tentunya takut bertemu dengan orang tuaku karena jika hal itu terjadi, kemungkinan besar aku tidak akan diizinkan lagi bertemu dengannya. Sementara, ia malu bertemu dengan teman-temanku karena ia merasa perbedaan ras membuatnya tidak sederajat dengan mereka.

Tiba-tiba, aku mendapat kabar dari sopir pribadiku bahwa ibu akan berbelanja di tempat di mana kami berbelanja saat itu. Kami pun terpaksa melarikan diri dengan angkutan umum ke sebuah mal yang dekat dengan rumahku. Kami terpaksa memilih mal itu karena waktu kami tidak cukup untuk berbelanja di mal lain yang jauh dari tempat tinggalku karena sekitar dua jam dari saat itu aku harus kursus Bahasa Inggris.

Pada awalnya, kami berbelanja sedikit dengan leluasa. Setelah berbelanja, kami makan di sebuah restoran dengan gembira. Setelah makan, berjalan-jalan sebentar untuk mengahbiskan sedikit waktu sebelum kursus Bahasa Inggris. Saat itulah mataku menangkap sosok segerombolan teman sekolahku. Aku memberi tahu hal itu kepada pacarku dan hendak menghampiri mereka sekedar untuk menyapa, tapi pacarku menarik tanganku untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Kami berdua terus berjalan cepat sampai kami terpojok di sebuah sudut dekat kamar kecil, sementara waktu kursusku semakin dekat. Setelah menunggu beberapa menit, kami pun mengendap-endap keluar dari sudut itu. Kami tidak beruntung, gerombolan teman sekolahku yang lain sedang berkumpul depan kamar kecil. Tampaknya salah satu dari mereka sedang berada di kamar kecil dan yang lain menunggu sambil mengobrol. Kami terpaksa mundur kembali ke sudut semula dan menunggu.

Setelah beberapa lama menunggu, teman-temanku masih belum beranjak dari sekitar kamar kecil. Untungnya, kami ingat bahwa jalan ke sudut itu bukan hanya melalui kamar kecil. Ada jalan berkelok-kelok lain menuju tempat itu yang sering membuat orang tersesat. Tentunya, jalan mirip labirin itu dapat kami manfaatkan untuk keluar dari sana meskipun beresiko tersesat.

Kami pun mulai menyusuri gang-gang labirin itu. Saat kami mulai tersesat, kami bertemu dengan seorang ibu-ibu yang tampaknya juga tersesat. Ibu-ibu itu adalah salah satu teman ibu. Ia menatapku dengan wajah bingung, lalu menatap pacarku dengan wajah sinis. Mungkin karena kami bergandengan tangan di tempat sepi dan terpojok, ia jadi berpikir macam-macam. Kami pun mempercepat langkah kami dan menemukan jalan keluar. Akhirnya, aku dapat sampai ke tempat kursus dengan tepat waktu dan selamat sentosa.

Sepulang dari kursus, ibu telah menungguku di rumah untuk berbicara denganku. Rupanya, teman ibu itu meneleponnya dan mengadu tentang aku dan pacarku. Aku pun tahu ibu akan memarahiku sebab wajahnya telah berubah menjadi lebih beringas daripada narapidana.

Kukira, bagaimanapun juga, nasihat orang tua itu harus dipatuhi. Nasihat mereka berbeda tipis dengan kutukan. Meskipun ancaman mereka sangat jarang terjadi, tetapi segudang kesialan tetap menanti apabila kita tidak menuruti mereka.

10/12/07

hahaha

Sungguh menyebalkan bagaimana ia sering tidak menggubris telepon dan pesan singkat yang puluhan kali berangkat dari ponselku ke ponselnya. Apalagi alasannya yang sekedar “sori, tadi aku lagi tidur” membuat rasa sebalku terdesak sampai ke tenggorokan karena merasa diremehkan olehnya.

Aku tahu, hubungan kami tidak lagi sepasang kekasih. Mungkin itu yang membuatnya tidak menganggapku penting lagi. Ah, tapi ia tetap mencurahkan perhatian dan kebaikannya kepadaku secara berlebih. Juga, ia pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah mencari wanita lain untuk mendampinginya. Ia selalu menyatakan bahwa ia telah terpaku padaku.

+

Ah, dasar perempuan. Selalu saja cerewet menanyakan banyak hal. Padahal aku sedang asik berbagi birahi dengan kekasihku, tapi ia terus-menerus meneleponku dan mengirimku pesan-pesan pendek. Kuatur saja agar ponselku tidak berbunyi dan tidak begetar, lalu kutaruh ponsel itu di dalam laci. Toh ia tidak berhak marah karena ia bukan kekasihku lagi.

Ya, aku memang harus menjaga perasaannya. Mudah saja. Tinggal meminta maaf sekenanya, dan menghujaninya dengan segumpal gombal, ia akan luluh. Wanita seperti dia memang mudah dimainkan perasaannya.

Tentu saja aku harus menjaga perasaannya. Meskipun kami tidak lagi sepasang kekasih, aku akan terus berusaha agar ia terus terikat denganku. Dengan begitu, apa yang kuperlukan untuk membahagiakan kekasihku dapat kuperoleh dengan mudah.

+

Kurang ajar! Wanita itu mengganggu saja! Padahal pria kesayanganku itu sedang bersamaku. Haruskah ia mengganggu kami setiap saat? Huh, tak apalah. Ia akan mendapat ganjarannya nanti.

+++

Oh, tidak! Belakangan ini aku merasa mengalami penuaan dengan sangat cepat. Apakah ini karena stres atau cermin memang tidak bersahabat atau apa? Mengapa kelesuan, kekuyuan, keletihan, keriputan, bermunculan menghuni wajahku. Orang-orang disekitarku sampai mengira aku sedang sakit. Mungkin aku memang sakit. Aku merasa tidak enak badan. Pak Kepala Sekolah sampai memberiku cuti untuk istirahat mengajar selama seminggu.

+

Sedikit lagi, aku tak perlu lagi berurusan dengan wanita manja itu. Aku dapat mencurahkan seluruh perhatianku kepada kekasihku seorang.

+

Hahaha! Aku senang mencuri semua itu dari wanita sialan yang menggangguku dan kekasihku. Aku akan ambil seluruh kecantikan dan energi yang ia punya. Tanpa sisa.

+++

Lima hari telah berlalu sejak aku diberi cuti oleh Bapak Kepala Sekolah. Keadaanku tidak membaik. Bahkan, orang-orang yang tinggal serumah denganku, yaitu kedua teman baikku yang keduanya juga mengajar di sekolah yang sama denganku, telah memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit malam ini.

Aku kelelahan, terlalu stres, dehidrasi, kurang gizi, dan entah apa lagi? Apakah kau percaya? Aku harus dirawat inap di rumah sakit. Oh, ini berarti aku harus meminta uang dari kedua orang tuaku yang tinggal di luar kota. Padahal aku telah bertekad untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada mereka sedikit pun. Bahkan, seharusnya aku yang mengirimkan uang untuk mereka.

+

Aku ingin tahu bagaimana kabar mantan kekasihku itu. Ia tidak lagi menghubungiku. Pasti ia sudah tidak kuat lagi. Aku tak dapat membayangkannya. Yang penting, sekarang kekasihku bertambah cantik dan mempesona. Ia begitu bersinar dan energik.

+

Perlahan-lahan, wanita itu akan mati. Kubayangkan sekarang ia sedang sekarat. Aku bahagia. Aku masih ingat bagaimana dulu ia menghalangi hubunganku dengan kekasihku. Ya, ia penghalang. Entah apa kelebihannya yang membuat kekasihku lebih memilihnya daripada aku.

Untungnya, langkah yang kuambil sangat tepat. Mayor Gimbal, dukun pilihanku. Berkat jasanyalah sekarang kekasihku tergila-gila padaku. Tak ada wanita lain yang dapat menandingiku di hatinya. Semua yang kuminta selalu ia turuti dan ia usahakan terkabul. Bahkan, mengorbankan wanita sial itu pun ia lakukan demi diriku.

Aku bahagia!

+++

Seminggu sejak aku diberi cuti, aku telah lumpuh total. Teman-temanku kalang kabut. Tidak ada dokter yang dapat menjelaskan gangguan medis macam apa yang kualami. Akhirnya, teman-temanku mengambil kesimpulan : aku terkena guna-guna. Mereka pun memanggil dukun.

Aku yang tidak percaya dukun tidak dapat protes karena lidahku pun telah kelu. Aku harus pasrah tubuhku ditaburi macam-macam bunga dan wajahku terus-menerus disemburi air bekas kumur si dukun, lalu dibacai berbagai mantra dan dirituali macam-macam. Setelah semua itu berakhir, kami hanya mendapat kalimat “orang yang mengguna-gunainya mendatangi dukun yang jauh lebih sakti dari saya. Ia adalah dukun paling sakti di kota ini. Maaf, saya tidak dapat membantu. Mana bayaran saya?”.

+

Aku telah lama melupakan mantan kekasihku. Kalaupun mengingatnya, aku hanya sekedar ingin tahu bagaimana wujudnya sekarang. Mungkin ia seperti nenek-nenek lumpuh. Aku kurang peduli sebab di hadapanku telah ada seorang biadadari cantik yang menghipnotisku dengan pesonanya.

+

Kekasihku makin tergila-gila kepadaku. Bayangan wanita sial itu pasti telah terhapus bersih dari ingatannya. Aku akan memberi banyak hadiah untuk Mayor Gimbal.

+++

Maaf, teman serumahku yang tadi lumpuh itu kini telah meninggal. Aku akan mewakilinya untuk melanjutkan cerita.

Temanku yang tadinya muda, cerah, bersemangat, telah perlahan-lahan menjadi kisut. Meskipun perlahan-lahan, hal itu tetap terlalu cepat. Orang lain akan mengalaminya dalam waktu lima puluh atau enam puluh tahun, tapi ia menyelesaikan semua proses itu hanya dalam waktu sepuluh hari.

Aku akan berusaha mendeskripsikan kondisinya saat meninggal. Ia telah mengerut seperti buah yang air dan sarinya tersedot habis dari dalam. Kulit kuning langsatnya yang indah berisi telah menjadi hitam dekil dan longgar seolah tanpa daging. Rambut hitam lurus lebat panjangnya yang indah berkilau telah menjadi putih jarang dan kusut. Gigi-giginya menguning dan sebagian berlubang hitam. Bibirnya yang dahulu merah delima dan berisi telah tersedot masuk dan kusut ke dalam rongga mulutnya. Jari-jarinya yang lentik mengering dan menggulung menjadi keriting. Kuku-kukunya yang dahulu bersih terawat menjadi hitam dan terkelupas. Bentuk tubuhnya yang sintal berisi menjadi sekedar tulang-belulang berlapis kulit. Buah dadanya yang bulat kencang dan indah seolah ditarik paksa oleh gravitasi menjadi panjang dan gepeng. Initnya, ia sangat buruk rupa.

Kami, teman-teman terdekatnya, berusaha agar orang-orang yang melayat tidak melihat mayatnya. Kami pun harus begadang semalaman untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita kematiannya yang tragis keluarganya.

+

Hah? Apa? Mantan kekasihku? Aku tidak punya mantan kekasih. Wanita di hadapanku adalah satu-satunya kekasih yang pernah bertahta di hatiku dan ia akan menjadi ratu di sana untuk selamanya.

+

Aku bahagia! Hahahahahahahaha…

+++

26/11/07

jujur

Setelah beradu argumentasi dengan kekasihnya, ia teringat akan mantan kekasihnya yang tak pernah membantahnya. Mantan kekasihnya itu begitu berbeda dengannya, sehingga hubungan mereka selalu disumbangi kesulitan dari orang-orang yang tidak menyukai mereka. Apa pula hubungan orang-orang itu dengan mereka? Mengapa mereka begitu ikut campur? Mengapa perbedaan begitu mengganggu mereka? Ah, dasar perbedaan laknat!

Mantan kekasihnya itu berbeda ciri jasmani dan ciri rohani dengannya. Mereka berbeda ras, suku bangsa, agama, pendidikan, kelas sosial, dan banyak hal. Persamaan mereka hanya perasaan mereka terhadap satu sama lain. Rasa cinta, namanya.

Namun, ia tidak dapat mempertahankan perasaan itu. Rasa cintanya harus bergilir-giliran diperani hati dengan rasa benci. Kala rasa benci itu muncul, ia menjadi arogan dan semena-mena. Meskipun begitu, mantan kekasihnya itu tidak pernah melawannya. Mantan kekasihnya menuruti semua kemauannya dan rela dibuat sengsara olehnya.

Itulah mengapa ia selalu berpikir bahwa mantan kekasihnya bodoh. Namun, lama-kelamaan ia menjadi curiga. Pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh mantan kekasihnya itu darinya. Jika tidak, ia tidak mungkin segencar itu menunjukan cintanya. Apalagi, perkenalan mereka terjadi di dunia maya. Baginya saat itu, perkenalan di dunia maya tidak pernah berhasil baik. Tiap kali pikiran itu muncul, segala kecurigaan lain pun menyusul. Cerita-cerita yang dahulu menghanyutkannya berubah menjadi kebohongan yang memuakkan baginya. Rasa bencinya pun mendominasi giliran. Merebut kesempatan bagi rasa cinta.

Ia makin menyengsarakan mantan kekasihnya. Ia seringkali menuduh mantan kekasihnya berdusta. Ia mengecap gombal semua ucapan manis, menerka-nerka kebohongan dibalik cerita-cerita, dan curiga akan maksud kebaikan-kebaikan yang diperbuat sang mantan kekasih kepadanya. Saat-saat itu, kekasihnya makin sengsara dibuatnya. Hati mantan kekasihnya sakit teriris-iris tiap kali ia menunjukkan ketidakpercayaannya.

Suatu hari, ia menjadi sangat marah karena mantan kekasihnya tertidur dan tidak mengangkat telepon darinya. Setelah mantan kekasihnya terbangun oleh dering telepon yang terulang-ulang, ia langsung melancarkan segala makian terkasar yang pernah didengarnya kepada mantan kekasihnya. Tak cukup begitu, ia pun menuduh bahwa kekasihnya berbohong tentang latar belakang dirinya, tentang penyakit berat yang dideritanya, tentang segala cerita menyedihkan yang disuguhkan oleh mantan kekasihnya. Ia menuduh bahwa semua itu hanya untuk mengemis rasa kasihan agar ia tidak meninggalkan mantan kekasihnya.

Mantan kekasihnya tak sanggup lagi mendengar semua itu dan menutup teleponnya. Ia mendeteksi itu sebagai tindakan tidak bertanggung jawab, sehingga telepon di tangannya ia lempar dengan kesal. Tak berapa lama setelahnya, mantan kekasih itu menelepon untuk meminta maaf dan berbicara baik-baik. Namun, ia menolak panggilan dan mematikan semua telepon yang ia punya.

Sejak hari itu, segala bentuk komunikasi dengan mantan kekasihnya ditolak olehnya. Telepon, pesan singkat dari ponsel, surat pos, surat elektronik, semua langsung ditolak. Dihapus tak berjejak. Bahkan nama samaran yang digunakan mantan kekasihnya untuk menghubunginya tidak pernah berhasil. Ia pun selalu bersembunyi ketika mantan kekasihnya mendatanginya. Mantan kekasihnya pernah memohon-mohon di depan rumahnya dan berakhir dengan diseret dan dihajar beberapa hansip.

Suatu hari, semua usaha mantan kekasihnya untuk berkomunikasi terhenti. Beberapa hari kemudian, seorang teman mantan kekasihnya yang ia kenal menyampaikan pesan kepadanya bahwa mantan kekasihnya telah dalam keadaan kritis dan dirawat di unit gawat darurat sebuah rumah sakit. Ia tidak menanggapi hal itu karena ia menganggap itu hanya pancingan.

Tiba-tiba ia tersentak. Pikirannya tertarik paksa dari masa lalu ke masa kini. Ia buru-buru merapikan pakaian dan dandanannya, lalu berlari melesat ke bagasi rumahnya dan keluar dari sana dengan mengendarai sebuah mobil sedan yang berpacu kencang mengejar sesuatu.

Dengan kecepatan kilat, ia tidak menghabiskan banyak waktu untuk sampai di rumah mantan kekasihnya. Ia melihat sekeliling dan menangkap tatapan tak bersahabat dari tetangga-tetangga di sana. Ia menekan bel yang tercantum di dekat pagar.

Seorang wanita tua keluar perlahan dari rumah itu dan menatapnya bingung beberapa saat. Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu hanya bertahan sesaat. Wanita tua itu, nenek mantan kekasihnya, tampak terkejut dan terpukul saat teringat dan tersadar akan siapa wanita muda yang berdiri di depannya itu. Nenek itu langsung histeris. Nenek itu menangis, meraung-raung, memaki-maki, dan mengusirnya. Seorang ibu-ibu dari rumah sebelah ikut meneriakinya agar pergi. Ia pun menyingkir dari sana.

Ketika ia menemukan sekumpulan orang yang ia kenal sebagai teman mantan kekasihnya, ia pun menghampiri mereka. Namun, mereka langsung tampak tidak senang dan membubarkan diri. Kemudian, mereka berkumpul kembali di tempat yang agak jauh dari sana. Ia putus asa. Ia duduk sembarang saja di trotoar dekat sana dan mulai menangis.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang membuatnya terkejut. Buru-buru ia menyeka air matanya, menyedot ingusnya agar kembali ke kerongkongannya, dan melihat siapa yang menepuknya itu. Ia mengenali orang itu sebagai teman mantan kekasihnya yang dahulu menyampaikan kabar bahwa mantan kekasihnya sedang sekarat. Ia tersentak berdiri. Ia tak bersuara, tapi bertanya-tanya melalui raut wajahnya. Melalui bahasa wajah pula, teman mantan kekasihnya itu memintanya untuk ikut ke suatu tempat.

Teman mantan kekasihnya itu menuntunnya ke kuburan. Rasa takut, bimbang, was was, beraduk-aduk dalam dadanya. Teman mantan kekasihnya itu berhenti ketika menemukan sebuah batu nisan yang kemudian ditatapnya. Ia yang berdiri di balik punggung teman mantan kekasihnya itu menunggu tanda-tanda dari teman mantan kekasih itu. Tak berapa lama, teman mantan kekasih itu menyingkir ke samping dan menguakkan pemandangan akan sebuah batu nisan berukirkan nama mantan kekasihnya.

Ia jatuh berlutut. Kakinya lemas. Untuk sejenak, ia bahkan tak dapat bereaksi. Setelah itu, ia menangis sejadi-jadinya. Ia mencakari dan meremasi tanah sambil menjerit-jerit.

Teman mantan kekasihnya itu membantunya bangun, meskipun tidak sampai berdiri. Paling tidak, dari posisi mencium tanah sampai duduk tegak. Teman mantan kekasih itu menyerahkan selembar kertas yang telah kusut. Dengan ragu dan bingung, ia menerima kertas itu. Ia meluruskan kertas kusut itu dan menemukan tulisan amburadul dari tangan yang terlalu lemah untuk menulis dengan baik. Ia langsung tahu tulisan siapa itu.

Ia melanjutkan tangisannya, jeritannya, raungannya. Ia meneruskan mencakari tanah, meremasi tanah, memukuli tanah.

***

Kehidupanku membuktikan cintaku

Kematianku membuktikan kejujuranku

Semua untumu

18/11/07

Eits!

“Eits!” Metil mengatup kedua belah bibir Etil hanya dengan salah satu jari telunjuknya. Etil tidak jadi mengecup bibir Metil.

“Kenapa?” tanya Etil.

“Gak boleh. Belum saatnya.” Jawab Metil.

“Kapan saatnya?”

“Nanti. Kalo kita sudah nikah.”

“Kapan kita nikah?”

“Mungkin sepuluh tahun lagi. Aku kan masih ingusan.”

“Hehehe… Kan cuman ciuman.”

“Awalnya ciuman, tapi nanti pasti keterusan ke yang lain-lain. Makanya, mendingan gak usah mulai cari bahaya. Kamu harus bisa menahan diri sepuluh tahun lagi.”

“Rasanya aku udah seratus tahun menahan diri.”

“Hiperbola.”

“Bener kok!”

“Huh!”

“Pliiiissss… Satu kecupan aja. Satuuuu… aja.”

“Hhh… Oke, satu aja.”

Etil mendekati Metil, memeluk Etil, dan mengecup kening Metil. Metil mengira hanya itu yang diminta Etil.

Ternyata Etil meneruskan dengan mengecup hidung Metil, lalu bibir Metil. Meskipun terkejut, Metil mentoleransi perbuatan Etil.

Tak tahu diri, Etil melanjutkan dengan mengulum bibir Metil. Metil memukul-mukul ringan dada Etil.

Metil berusaha mengucapkan kalimat-kalimat perintah untuk menghentikan Etil ketika Etil mulai menggerayangi leher Metil dengan kecupan dan lidahnya. Kalimat-kalimat itu terputus-putus tertahan desah geli.

Setelah Etil mengendusi dada Metil. Barulah Metil mendorong Etil lebih kuat, sehingga pelukan Etil terlepas paksa.

“Kamu bilang satu kecupan!”

“Maaf, keterusan…”

“Tuh kan! Udah kubilang!”

“Maaf…”

“Huh! Aku mau pulang!” Metil memutar kunci kamar Etil, dengan kasar membuka pintu kayu yang hanya dilapisi pelitur, dan segera menghambur keluar dari sana.

“Tunggu! Aku antar kamu pulang ya?” Etil membujuk Metil sambil menguntit langkah-langkah cepat Metil. Akhirnya Etil dapat meraih lengan Metil.

“Gak usah!” Metil menepis.

“Ayo donk, jangan marah.” Etil membujuk lagi, tapi Metil telah sampai di depan rumahnya dan melambai kepada taksi kosong yang kebetulan lewat. Etil tidak mau kalah, ia cepat-cepat menyelip masuk ke dalam taksi itu dengan paksa.

“Heh! Ngapai lo? Keluar sana!” Metil meneriaki Etil. Sopir taksi yang telah berancang-ancang menjalankan kendaraannya menjadi ragu dan terhenti niatnya.

“Udah, jalan aja! Nanti gue yang bayar!” Pak Sopir kembali mengambil ancang-ancang.

“Gak! Gue bisa bayar sendiri!” Pak Sopir membatalkan ancang-ancangnya lagi.

“Gue aja yang bayarin!”

“Gak mau!”

Kan gue cowok lo!”

“Apa hubungannya?”

“Yah, karena gue cowok lo, jadi seharusnya gue bayarin lo!”

“Gak ada hubungannya!”

Sebelum Etil sempat mengeluarkan suara pembelaan dari mulutnya yang telah terlanjur dibuka, Metil telah mendorongnya kuat-kuat sambil berteriak “Keluaaaaaaaarrr!!!”.

Etil pun keluar dari mobil taksi itu dengan terhuyung-huyung menjaga keseimbangannya yang nyaris hilang karena didorong Metil.

Pak Sopir pun akhirnya berancang-ancang dan menjalankan kendaraannya.

***

Etil merenung-renung. Mengapa ada wanita yang begitu pelit terhadapnya. Tak satu pun kekasihnya di masa lalu pernah menolak bentuk sentuhan apa pun darinya. Apakah kekasihnya ini tidak mencintainya? Atau kurang mencintainya?

Etil meraih telepon genggamnya dan langsung menghubungi Metil untuk menanyakan hal tersebut.

“Aku benci kamu!” singkat-padat-jelas pernyataan yang diterima Etil dari Metil.

***

Sejak “Hari Kebencian” itu, Metil tidak pernah lagi menghubungi Etil.

Etil menelepon Metil berkali-kali tanpa jawaban.

Ribuan pesan pendek melayang dari ponsel Etil dengan tujuan nomor Metil tanpa balasan.

Ratusan surat pos dan surat elektronik terkirim tanpa kembalian.

Penitipan salam melalui teman-teman dan keluarga Metil pun telah dilaksanakan dengan balasan sekedar senyum dari para pengantar pesan.

Berkali-kali Etil mencari Metil ke rumah, sekolah, dan tempat kursusnya tanpa menemukan penampakan yang diinginkannya.

Etil tidak berputus asa. Serangan-serangan terus dilancarkan. Suatu saat, segala serangannya itu terhenti. Metil menjadi kebingungan karena tidak sanggup beradaptasi dengan keadaan baru, yaitu keadaan damai-sejahtera-aman-tenteram tanpa teror Etil. Namun, Metil berusaha bertahan untuk tidak menghubungi Etil demi harga dirinya.

Pertahanan Metil pun roboh. Ia berusaha menghubungi Etil meskipun masih penuh gengsi.

Pertama, Metil hanya menitip salam “Mana tuh anak tuyul?!” kepada teman-teman Etil.

Lalu, surat elektronik mulai berterbangan. Surat pos terlalu tradisional bagi Metil.

Pesan-pesan pendek dari ponsel pun menyusul.

Karena tidak ada respon sama sekali dan Etil, Metil memutuskan untuk mendatangi rumah Etil. Dari Nyonya Rumah, Metil tahu bahwa Etil sedang sakit.

Nyonya Rumah mempersilahkan Metil masuh ke dalam rumahnya dan langsung menjenguk Etil di kamarnya. Tanpa sungkan, Metil pun melesat masuk ke rumah itu, ke kamar Etil. Jantung Metil yang sedang bermaraton mendadak berhenti sejenak ketika Metil mendapati Etil terbaring dengan kakinya yang digips dari lutut sampai mata kaki.

Metil memegangi dadanya. Menahan rasa sedih dan rasa bersalah.

Etil mengusap-usap matanya. Membersihkan kotoran mata dan memastikan matanya tidak salah melihat Metil berdiri di hadapannya.

Metil mulai terisak dan Etil mulai menyadari bahwa yang berdiri di samping ranjangnya memang bukan halusinasi.

“Gue gak kenapa-napa kok… Cuma tulang kering gue retak karena jatoh dari tangga.”

“Trus kenapa lo gak bales SMS gue? E-mail gue? Gak angkat telepon gue?” pertanyaan Metil bertubi-tubi tersuarakan di sela-sela isak tangisnya.

“Karena gue mau lo datengin gue.”

Kalimat singkat-padat-jelas itu membuat Metil merasakan perasaan yang merupakan campuran dari perasaan kesal, malu, sekaligus lega, sehingga raut wajahnya menjadi abstrak.

Metil mencubit lengan Etil untuk membantu menetralisir perasaannya yang gado-gado. Etil meringis kesakitan. Lalu Etil dan Metil tertawa bersama. Nyonya Rumah tersenyum-senyum.

12/10/07

benang wol

Ada kecelakaan lalu lintas di Fatmawati. Tabrakan mobil dengan motor. Pengendara motor tewas di tempat.

Pengirim:

Benang

+6288800008888

Terkirim:

20:50:28

11-10-07

*

Pilihan

Pakai rincian

Nomor telepon

Pilihan

Panggil

*

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.

Tut tut tut…

*

“Duh, kok gak bisa ditelpon sih?!”

*

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.

Tut tut tut…

*

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Tuuuuuut…

Klik

“Wei! Kok dari tadi gak diangkat sih?”

“Maaf, Mbak…”

“Lho? Lu siapa? Benang mana?”

“Uhm, maaf…”

“Lo nyolong hapenya yah?! Maling!”

“Nggak! Ini..”

Tut tut tut…

“Lho? Halo? Halo?”

*

(Ringtone)

Klik

“Wol?”

“Benang!”

“Wol…”

“Ke mana ajah sih kamu? Dari tadi aku telpon gak diangkat-angkat! Begitu diangkat, yang ngangkat orang lain! Aku kan khawatir, dapet kabar tentang kecelakaan yang kamu SMS ke aku!”

“Wol…”

“Apa? Kamu di mana sekarang? Baek-baek aja kan?”

“Wol…”

“Iya, kenapa?”

“Wol…”

“Apa sih?”

“Aku cinta kamu, Wol.”

“Aku juga cinta kamu, Benang. Ada apa sih?”

“Terima kasih.”

“Hah?”

“Selamat tinggal.”

“Lho?”

Tut tut tut…

“Wei? Halo? Halooo…?”

*

(Ringtone)

Klik

“Halo?”

“Iya. Ini Wol?”

“Iya. Siapa ini?”

“Saya temennya Benang.”

“Oh, ada apa?”

“Mau ngabarin…”

“Ya?”

“Benang kecelakaan di Fatmawati.”

“…”

“Halo?”

“Ya. Gimana dia?”

“Maaf, dia…”

Tangis.

Tangis.

Tangis.

***

10/10/07

batu bata

Bola menyeret Batu ke tempat sepi. Sebuah ruangan gelap dan pengap. Mungkin gudang.

Bola menundingkan mata sebilah pisau ke wajah Batu. Batu terisak takut.

“Lo mau apa?” tanya Batu lemah.

“Dulu lo ngerusak hubungan gue dengan Balon. Sekarang lo masih mau ganggu Bantal? Perempuan biadab!”

“Gue gak kenal Bantal!”

“Gak ngaku!”

“Sumpah, gue gak kenal Bantal!”

Isak tangis Batu makin menjadi karena ia telah terpojok di sudut ruangan itu dan terjepit oleh Bola. Mata pisau itu pun telah menempel dan sedikit mengoyak kulit pipinya yang empuk.

“Plis, Bola...” Batu terdengar melemah, “gue denger dari orang-orang soal Bantal. Gue tau, dia nangis-nangis dan bilang gue ngelabrak dia. Tapi sumpah, gue bahkan gak kenal dia! Gue belum pernah liat dia! Cuman denger soal dia dari orang-orang!”

“Maksud lo, dia bohong?!”

“Gak tau! Pokoknya gue gak ngapa-ngapain dia!”

“Dulu aja lo begitu!”

“Tapi sekarang beda!”

“Huh!” Bola sinis.

“Oke, dulu gue fall in love with you dan cara gue ngungkapin itu adalah kesalahan besar. Tapi itu dulu! Sekarang beda! Udah gak ada rasa dan gak ada urusan sama lo! Plis…”

“Trus buat apa lo begitu sama Bantal?”

“Gue gak apa-apain dia! Kali ajah dia emang bohong!”

“Lo nuduh dia?!” Bola berang.

“Bisa aja kan? Siapa tau dia gak suka sama gue karena cemburu! Dulu aja, lo gak bisa setia sama Balon! Mungkin sekarang diem-diem lo masih nyimpen hasrat ke gue dan Bantal tau!” Batu tidak lagi menyadari keberadaan pisau yang telah siap mencabiknya karena telah terbawa emosi.

Bola dengan kalap menancapkan pisau itu ke leher Batu. Sekali dan darah telah terciprat ke wajah Bola untuk menyadarkannya dari perbuatannya. Bola mundur selangkah-selangkah dengan langkah tersendat-sendat.

Batu jatuh dengan kaku disertai bunyi-bunyi serak dari tenggorokannya yang telah digenangi darah.

“Batu! Batu!” terdengar panik suara dari luar ruangan itu. Pintu didobrak. Bata masuk tergesa-gesa.

“Batuuuu!” erangnya sekuat tenaga melihat kekasihnya dalam keadaan mengenaskan.

Bata langsung menghampiri Batu. Bata memeluk kekasih sekaratnya. Dicabutnya pisau itu dari leher kekasihnya. Bata menangis dan mengerang semampunya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah-langkah berlari dari luar ruangan. Buru-buru Bola membersihkan darah di wajahnya dengan kaos hitam yang dikenakannya. Lalu, Bola menghampiri sepasang kekasih itu dengan sebilah kayu di tangannya. Dipukulinya Bata dan dipisahkannya si Bata dari Batu. Saat itu juga, beberapa pria menghambur masuk ke sana.

“Pembunuh!” teriak Bola sambil menunding Bata yang tubuhnya telah berlumur darah segar. Saat itu, nyawa Batu telah terambang di udara.

Pria-pria itu memvonis Bata sebagai pembunuh kekasihnya sendiri. Bata diseret keluar dari tempat itu dan dikeroyok sampai tak berbentuk dan tak bernyawa.

***

“Bata!”

“Batu!”

“Bata…”

“Jahat betul mereka itu!”

“Biarlah, Bata. Kini, hanya Tuhan yang dapat memisahkan kita.”

06/10/07

surat

Dalam putih kosong kusuratkan
Kepada kekasih setiaku
Yang mencintaiku tanpa balasan serupa dariku

Kusuratkan permintaan maaf, sayang
Sebab anganku telah najis
Menyusup begitu saja segala birahi busuk itu
Tergiur akan rupanya yang menawan
Memang kau tak dapat menandinginya

Namun cintamu yang setia
Ikhlasmu yang melimpah
Sayang, maafkan
Aku membalasmu dengan pikiran yang lacur

Jangan takut, sayang
Takkan kutinggalkan dirimu
Tak sejengkal pun hatiku akan jauh dari hatimu
Hanya, si hati itu mendua
Maafkan, sayang

Biarlah aku menangis, sayang
Jangan turut sedih
Inilah betapa biadab diriku
Terhadap ketulusanmu
Maafkan, sayang

Maaf, sayang
Maaf

28/09/07

tunding

Aku pergi meninggalkanmu

bersama seorang yang lebih baik darimu

dan sederajat denganku

Itulah tundingmu atas diriku

Kututup rapat telinga ini, tapi masih terdengar sayup

Betapa kejam, menghujam perasaan

Andai kemarahan sanggup membakar,

tapi cinta begitu murah memberi maaf

Maaf yang memadamkan kemarahan tak berdaya

Sakit

muncul sebagai pemenang

Sakit yang melelehkan hati menjadi air mata

dalam diam yang pedih

Lantas untuk apakah semua cinta itu jika aku demikian biadab?

Perpisahan adalah permintaanmu yang lain

Apakah aku ini? Bisul besar bernanah dalam hidupmu?

Mengapakah kau menghimpitku begitu keras?

Menghancurkanku?

Memusnahkanku?

Cukuplah

Tutuplah

Aku lelah

15/09/07

temu

Mereka saling bertatap.

“Aku menemukanmu, akhirnya.”

“Aku menemukanmu, akhirnya.”

“Aku merindukanmu.”

“Bagai ikan yang dirampas dari air.”

Mereka berpegangan tangan.

“Tetapkah cintamu untukku?”

“Tak pernah berkurang setitik pun, makin melimpah tiap harinya.”

“Tak terbendung pula cintaku untukmu.”

Mereka saling menaung dengan peluk.

Hangat.

Lembut.

Mereka saling merasakan detak jantung.

Tenang.

Damai.

Mereka saling mengecup dan sesekali saling berbisik.

“Tidakkah kita kembali?”

“Bersatu?”

“Dalam kasih.”

“Dan birahi.”

“Tidak!”

Mereka terkoyak lepas satu sama lain.

“Tidak?”

“Tidak! Ini pengkhianatan!”

“Pengkhianatan?”

“Terhadap hati masing-masing.”

“Mengapa?”

“Karena kita tidak saling memiliki”

Mereka saling berteriak.

“Lalu milik siapakah aku kalau bukan milikmu?”

“Milik kekasihmu yang menunggumu dengan setia sementara kau mengkhianatinya bersama masa lalumu!”

“Lantas milik siapa kau ini?”

“Milik kekasihku yang sekarat dalam kerinduannya kepadaku sementara aku mengkhianatinya bersama kenanganku!”

Mereka terdiam.

Mereka tertunduk malu.

Mereka saling berbalik.

Mereka berpisah.

Mereka kembali kepada takdir masing-masing.