I saw a porcelain doll. She had an angelic mesmerising beauty. Once it caught your eyes, it would never let go.
I touched her cold face, amazed. She stared back, right into my soul. I said to myself, I want her.
She whispered to my soul, I am a free being, nobody masters me.
I was stubborn. I insisted. She walked away.
I will change your heart of stone to a heart of flesh, I told her.
She stopped and turned back. She came to me, opening her chest.
I looked into the darkness in her, reached in, and touched her stone heart. It was cold and dead, but the warmth of my human hand brought it to life.
I held her hand and she smiled at me. Beauty.
We started walking.
Where are we going? She asked.
Back home, I answered.
Where is it? She asked.
I pointed to the little light shinning at the end of the road.
She was unwilling to give up the dark, but she held my hand tight, and kept walking.
The light looked so close, but as we walked, it felt further and further. How far is it? How long does it take to get there?
In my hand, I could feel my warmth transforming her. She was hard and cold, but she started to become soft and alive.
At last, she grasped the air and breathed. She fell on her knees, tears all over her face and her eyes wide opened and red. What is this? She asked.
I kneeled down, looking at her, You’re becoming like me, I said.
Is it good? She asked.
Yes, it’s wonderful, I answered confidently.
We continued walking.
We finally made it to the light. We entered the gate, heavenly songs were sung. My tears fell in joy.
I looked at her with a big smile, expecting her to be happy, but she was not. She closed her eyes and her ears, full of anxiety and uncertainty. I held her to calm her down, but she was struggling in my arms.
From afar, I saw another porcelain doll. Pure beauty.
I was still holding the angry porcelain doll in my hand, watching the porcelain doll in the distance, who was already in flesh, singing the heavenly song with beautiful voice.
I want her, I said.
Whom? My porcelain doll asked, anxiously and jealously.
Her, I pointed.
My porcelain doll knew that she could not compete with the beauty of the one I wanted. So, she walked away, into the dark, in a great pain and sorrow.
Her humanly flesh could not bear the darkness. The dark air stabbed into her skin, ripped her heart into pieces, she kept walking, further and further from the light.
She made it to where I found her. She was broken and torn.
The next day, she died.
I am home, safe, and alone, watching the beautiful porcelain doll, singing the heavenly songs, from afar. She’s untouchable.
Tampilkan postingan dengan label monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monolog. Tampilkan semua postingan
02/06/11
16/08/10
tentang kematianku
Aku tahu orang-orang seperti kalian, yang merasa cukup dengan hidup, yang menanti-nanti kematian, yang bahkan datang menghampiri kematian. Dulu, aku mengalami hal yang sama, sebelum aku belajar menyukuri hidup, sebelum aku mengerti bahwa segala masalah yang kuhadapi bukanlah racun bagi hidupku, tetapi pupuk bagi jiwaku.
Namun, sekarang, aku ingin mati, lagi. Bukan karena masalah-masalah yang menghimpitku, meskipun demikian orang-orang akan menuduhku, setelah kematianku. Aku tidak peduli. Ketika aku membuka jendela apartemenku, lantai 24, aku berpikir kembali, berusaha memastikan bahwa keputusanku tepat. Aku bukan anak cengeng yang bunuh diri karena putus cinta, aku muak berbuat dosa, aku ingin berhenti berbuat dosa, dan inilah cara yang tepat.
Aku melompat.
Terjun.
Angin menerpa keras kulitku, membuat kulitku berkelepak.
Sebelum aku menyentuh aspal, aku teringat seorang teman baikku, yang memperkenalkanku kepada Tuhannya, yang mengampuni dosa manusia dan menebus manusia dari perbudakan dosa karena kasih-Nya terhadap manusia.
Lalu hitam.
Namun, sekarang, aku ingin mati, lagi. Bukan karena masalah-masalah yang menghimpitku, meskipun demikian orang-orang akan menuduhku, setelah kematianku. Aku tidak peduli. Ketika aku membuka jendela apartemenku, lantai 24, aku berpikir kembali, berusaha memastikan bahwa keputusanku tepat. Aku bukan anak cengeng yang bunuh diri karena putus cinta, aku muak berbuat dosa, aku ingin berhenti berbuat dosa, dan inilah cara yang tepat.
Aku melompat.
Terjun.
Angin menerpa keras kulitku, membuat kulitku berkelepak.
Sebelum aku menyentuh aspal, aku teringat seorang teman baikku, yang memperkenalkanku kepada Tuhannya, yang mengampuni dosa manusia dan menebus manusia dari perbudakan dosa karena kasih-Nya terhadap manusia.
Lalu hitam.
Label:
cerita fiksi,
keluh kesah,
monolog,
teman,
Tuhan,
untuk sang hijau
11/12/09
Jika Aku menjadi Filsuf yang Mati Bunuh Diri
Inilah kenyataan. Masa lalu dan masa kini. Kau tidak berkuasa mengubahnya. Lebih baku dari bahasa. Kau hanya bisa mengubah sikapmu dan pandanganmu terhadapnya, dan kau bisa mengusahakan masa depanmu. Sebatas itu.
Kau bisa membantah, menyangkal, lalu hidup dalam kebohongan. Kau dapat menerima dan berduka. Kau dapat menerima dengan sukacita.
Sungguh kenyataan bahwa Tuhan ada. Ada satu Tuhan yang kita sebut Maha Kuasa. Ratusan manusia menyembahnya dengan berbagai cara, melalui berbagai agama. Namun, ada manusia yang membenci-Nya, yang tidak mengakui keberadaan-Nya, yang tidak peduli tentang-Nya, yang tidak mengetahui apa-apa tentang-Nya, bahkan yang memilih caranya sendiri untuk menyembah-Nya. Sungguh kenyataan bahwa mereka yang tidak menyembah-Nya pun memunyai tuhan untuk disembah. Esensi kehidupan manusia adalah menyembah dan menikmati tuhannya. Tanyakan pada John Calvin.
Apakah Tuhan, apakah uang, apakah kelamin, apakah diri sendiri yang disembah, pasti ada yang disembah. Setiap manusia memiliki inti dan tujuan hidup. Bahkan mereka yang tidak (pernah) memikirkannya. Yang mereka sembah adalah ketidakpastian dan yang mereka nikmati adalah kesia-siaan.
Manusia-manusia ini hidup bersama dalam kemasyarakatannya, keberagamannya, dan kesombongannya. Ketakutannya terhadap perbedaan, egoismenya, kebanggaannya yang berlebihan terhadap dirinya, egosentrismenya. Manusia.
Mereka bercampur aduk dalam kumpulan spesiesnya. Berusaha memenangkan apa yang di mata mereka patut dimenangkan. Mengejar apa yang mereka lihat pantas dikejar. Membunuh apa dan siapa yang menurut mereka harus mati.
Waktu terus berjalan dan akal terus merantau.
Angin sejuk cenderung dingin melewatiku. Aku memejam mata dan menarik napas panjang.
Aku bersandar kepada pagar pendek yang mengamankan manusia agar tidak jatuh ke laut. Aku menatap kepada keramaian, kepada lalu-lalang manusia, kepada organisme-organisme unik dan kompleks, karya tangan Sang Pencipta, Sang Penguasa, Yang Maha Kreatif.
Aku tertawa dalam hati, tersenyum kepada ironi, bertanya kepada Tuhan, mengapakah dengan ciptaanmu, manusia. Apakah sejak awal Engkau menciptakan kami sebagai pemberontak? Aku tidak mendengar jawaban. Manusia tidak lagi mendengar suara nyata dari Tuhan sejak zaman Perjanjian Baru.
Aku berbalik kepada laut, kepada gelombang air dengan sejuta kehidupan di dalamnya. Sydney Opera House di depanku dan Harbour Bridge di sebelahnya. Berdiri berdampingan dalam kemegahan. Saling tersenyum, meskipun tidak saling menyentuh atau berbincang.
Aku tertawa kepada laut, HAHAHAHAHAHA!
Tuhan, kupanggil nama-Nya, seonggok otak, segelintir pengetahuan, dan secuil akal, Engkau berikan kepada manusia, dan jadilah kami angkuh! Kami bahkan merasa melebihi-MU!! HAHAHAHAHA!
Kusadari beberapa orang mulai memerhatikanku tertawa terpingkal-pingkal, tertawa kepada laut. Kepada perairan lepas, aku berbagi lelucon kehidupan.
Kami bahkan terbatas di daratan, kami akan mati jika ditenggelamkan bulat-bulat di daratan, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Aku menunjuk kepada udara, tertawa kepada langit. Kami terbatas di daratan! Di tanah! Udara pun bukan tempat kami! Kami tidak terbang bebas seperti burung-burung di atas sana, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Ya, ya, aku menemukannya di Kitab Kejadian. Engkau memberikan kuasa kepada manusia, mandat. Salah satu keserupaan manusia terhadap-Mu. Kuasa. Kuasa kecil mungil yang Engkau berikan dan kami banggakan secara berlebihan. HAHAHAHAHA!
Betapa lucu hidup ini.
Aku bertumpu kepada lututku karena kakiku telah lemas berurusan dengan tawaku yang tak terhentikan. Satu tanganku menahan perutku yang keram dan mataku bercucuran air mata. Tanganku yang lain bertumpu kepada pagar pembatas.
HAHAHAHAHAHA!!
Aku beribadah, aku berdoa, aku melakukan apa yang Kau katakan baik, dan aku mengerti, dalam setiap kesulitan yang kualami, Engkau merencanakan kebaikan bagiku. Aku mengerti, aku menunggu waktu-Mu, aku tidak mengeluh, aku tidak menuntut, aku hanya berdoa untuk kekuatan, pimpinan, dan kebijaksanaan dari-Mu.
Aku pun berusaha mengerti bahwa Engkau Maha Adil. Keadilan-Mu tergenapi, di dunia dan di akhirat. Orang-orang membenci-Mu, menuntut-Mu, menunding-Mu, karena Engkau tidak mengehentikan perang, genosida, pembunhan, pemerkosaan, penganiayaan, multilasi, kanibalisme, dan semuanya itu. Engkau membuat peraturan bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan, tetapi Engkau membiarkan orang-orang lahir dengan penyimpangan itu. Aku berusaha mengerti, bahwa dalam setiap kenyataan, Engkau bekerja dengan cara-Mu.
Apakah kita, manusia ? Debu yang Engkau angkat. Apakah kita, manusia, untuk menuntut ini-itu kepada-Mu. Mengapakah kita, manusia, tidak mampu menyadari betapa banyak yang telah Engkau beri kepada kami.
Aku belajar tentang-Mu. Aku berusaha menyelami-Mu. Aku meminta hikmat, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengertian dari-Mu. Aku tak pernah mampu. Kau tak pernah bersedia memampukanku dan aku tidak pernah mampu mengerti mengapa.
Aku lelah. Aku lelah. Manusia merasa akalnya tak terbatas. Manusia salah. Aku salah. Aku lelah.
Laut, terimalah aku.
Tuhan, ambillah aku.
Kau bisa membantah, menyangkal, lalu hidup dalam kebohongan. Kau dapat menerima dan berduka. Kau dapat menerima dengan sukacita.
Sungguh kenyataan bahwa Tuhan ada. Ada satu Tuhan yang kita sebut Maha Kuasa. Ratusan manusia menyembahnya dengan berbagai cara, melalui berbagai agama. Namun, ada manusia yang membenci-Nya, yang tidak mengakui keberadaan-Nya, yang tidak peduli tentang-Nya, yang tidak mengetahui apa-apa tentang-Nya, bahkan yang memilih caranya sendiri untuk menyembah-Nya. Sungguh kenyataan bahwa mereka yang tidak menyembah-Nya pun memunyai tuhan untuk disembah. Esensi kehidupan manusia adalah menyembah dan menikmati tuhannya. Tanyakan pada John Calvin.
Apakah Tuhan, apakah uang, apakah kelamin, apakah diri sendiri yang disembah, pasti ada yang disembah. Setiap manusia memiliki inti dan tujuan hidup. Bahkan mereka yang tidak (pernah) memikirkannya. Yang mereka sembah adalah ketidakpastian dan yang mereka nikmati adalah kesia-siaan.
Manusia-manusia ini hidup bersama dalam kemasyarakatannya, keberagamannya, dan kesombongannya. Ketakutannya terhadap perbedaan, egoismenya, kebanggaannya yang berlebihan terhadap dirinya, egosentrismenya. Manusia.
Mereka bercampur aduk dalam kumpulan spesiesnya. Berusaha memenangkan apa yang di mata mereka patut dimenangkan. Mengejar apa yang mereka lihat pantas dikejar. Membunuh apa dan siapa yang menurut mereka harus mati.
Waktu terus berjalan dan akal terus merantau.
Angin sejuk cenderung dingin melewatiku. Aku memejam mata dan menarik napas panjang.
Aku bersandar kepada pagar pendek yang mengamankan manusia agar tidak jatuh ke laut. Aku menatap kepada keramaian, kepada lalu-lalang manusia, kepada organisme-organisme unik dan kompleks, karya tangan Sang Pencipta, Sang Penguasa, Yang Maha Kreatif.
Aku tertawa dalam hati, tersenyum kepada ironi, bertanya kepada Tuhan, mengapakah dengan ciptaanmu, manusia. Apakah sejak awal Engkau menciptakan kami sebagai pemberontak? Aku tidak mendengar jawaban. Manusia tidak lagi mendengar suara nyata dari Tuhan sejak zaman Perjanjian Baru.
Aku berbalik kepada laut, kepada gelombang air dengan sejuta kehidupan di dalamnya. Sydney Opera House di depanku dan Harbour Bridge di sebelahnya. Berdiri berdampingan dalam kemegahan. Saling tersenyum, meskipun tidak saling menyentuh atau berbincang.
Aku tertawa kepada laut, HAHAHAHAHAHA!
Tuhan, kupanggil nama-Nya, seonggok otak, segelintir pengetahuan, dan secuil akal, Engkau berikan kepada manusia, dan jadilah kami angkuh! Kami bahkan merasa melebihi-MU!! HAHAHAHAHA!
Kusadari beberapa orang mulai memerhatikanku tertawa terpingkal-pingkal, tertawa kepada laut. Kepada perairan lepas, aku berbagi lelucon kehidupan.
Kami bahkan terbatas di daratan, kami akan mati jika ditenggelamkan bulat-bulat di daratan, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Aku menunjuk kepada udara, tertawa kepada langit. Kami terbatas di daratan! Di tanah! Udara pun bukan tempat kami! Kami tidak terbang bebas seperti burung-burung di atas sana, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Ya, ya, aku menemukannya di Kitab Kejadian. Engkau memberikan kuasa kepada manusia, mandat. Salah satu keserupaan manusia terhadap-Mu. Kuasa. Kuasa kecil mungil yang Engkau berikan dan kami banggakan secara berlebihan. HAHAHAHAHA!
Betapa lucu hidup ini.
Aku bertumpu kepada lututku karena kakiku telah lemas berurusan dengan tawaku yang tak terhentikan. Satu tanganku menahan perutku yang keram dan mataku bercucuran air mata. Tanganku yang lain bertumpu kepada pagar pembatas.
HAHAHAHAHAHA!!
Aku beribadah, aku berdoa, aku melakukan apa yang Kau katakan baik, dan aku mengerti, dalam setiap kesulitan yang kualami, Engkau merencanakan kebaikan bagiku. Aku mengerti, aku menunggu waktu-Mu, aku tidak mengeluh, aku tidak menuntut, aku hanya berdoa untuk kekuatan, pimpinan, dan kebijaksanaan dari-Mu.
Aku pun berusaha mengerti bahwa Engkau Maha Adil. Keadilan-Mu tergenapi, di dunia dan di akhirat. Orang-orang membenci-Mu, menuntut-Mu, menunding-Mu, karena Engkau tidak mengehentikan perang, genosida, pembunhan, pemerkosaan, penganiayaan, multilasi, kanibalisme, dan semuanya itu. Engkau membuat peraturan bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan, tetapi Engkau membiarkan orang-orang lahir dengan penyimpangan itu. Aku berusaha mengerti, bahwa dalam setiap kenyataan, Engkau bekerja dengan cara-Mu.
Apakah kita, manusia ? Debu yang Engkau angkat. Apakah kita, manusia, untuk menuntut ini-itu kepada-Mu. Mengapakah kita, manusia, tidak mampu menyadari betapa banyak yang telah Engkau beri kepada kami.
Aku belajar tentang-Mu. Aku berusaha menyelami-Mu. Aku meminta hikmat, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengertian dari-Mu. Aku tak pernah mampu. Kau tak pernah bersedia memampukanku dan aku tidak pernah mampu mengerti mengapa.
Aku lelah. Aku lelah. Manusia merasa akalnya tak terbatas. Manusia salah. Aku salah. Aku lelah.
Laut, terimalah aku.
Tuhan, ambillah aku.
Langganan:
Postingan (Atom)