02/06/11
the porcelain doll
I touched her cold face, amazed. She stared back, right into my soul. I said to myself, I want her.
She whispered to my soul, I am a free being, nobody masters me.
I was stubborn. I insisted. She walked away.
I will change your heart of stone to a heart of flesh, I told her.
She stopped and turned back. She came to me, opening her chest.
I looked into the darkness in her, reached in, and touched her stone heart. It was cold and dead, but the warmth of my human hand brought it to life.
I held her hand and she smiled at me. Beauty.
We started walking.
Where are we going? She asked.
Back home, I answered.
Where is it? She asked.
I pointed to the little light shinning at the end of the road.
She was unwilling to give up the dark, but she held my hand tight, and kept walking.
The light looked so close, but as we walked, it felt further and further. How far is it? How long does it take to get there?
In my hand, I could feel my warmth transforming her. She was hard and cold, but she started to become soft and alive.
At last, she grasped the air and breathed. She fell on her knees, tears all over her face and her eyes wide opened and red. What is this? She asked.
I kneeled down, looking at her, You’re becoming like me, I said.
Is it good? She asked.
Yes, it’s wonderful, I answered confidently.
We continued walking.
We finally made it to the light. We entered the gate, heavenly songs were sung. My tears fell in joy.
I looked at her with a big smile, expecting her to be happy, but she was not. She closed her eyes and her ears, full of anxiety and uncertainty. I held her to calm her down, but she was struggling in my arms.
From afar, I saw another porcelain doll. Pure beauty.
I was still holding the angry porcelain doll in my hand, watching the porcelain doll in the distance, who was already in flesh, singing the heavenly song with beautiful voice.
I want her, I said.
Whom? My porcelain doll asked, anxiously and jealously.
Her, I pointed.
My porcelain doll knew that she could not compete with the beauty of the one I wanted. So, she walked away, into the dark, in a great pain and sorrow.
Her humanly flesh could not bear the darkness. The dark air stabbed into her skin, ripped her heart into pieces, she kept walking, further and further from the light.
She made it to where I found her. She was broken and torn.
The next day, she died.
I am home, safe, and alone, watching the beautiful porcelain doll, singing the heavenly songs, from afar. She’s untouchable.
06/08/08
wewek in the bottle
“Kamu pernah jatuh cinta?”
“Ah, pertanyaan klise.”
”Tapi menarik.”
”Hanya bagi orang-orang yang suka mengurusi hal-hal sepele.”
”Orang-orang yang tidak bisa mengurusi hal-hal sepele, tidak akan bisa mengurusi hal-hal besar.”
”Orang-orang yang terlalu banyak mengurusi hal-hal sepele, tidak akan pernah menyadari hal-hal besar untuk diurusi.”
”Tidak berarti hal-hal sepele tidak perlu diurusi, ‘
“Huh…”
***
Ketika dipasangkan untuk duduk bersama Kuntilanak oleh wali kelasnya, Jurig merasa ditimpa bencana besar untuk setahun pelajaran ke depan. Perasaan yang selalu ia rasakan setiap tahun, setiap kenaikan kelas, setiap dipasangkan dengan seseorang untuk menjadi tetangga bangkunya di sekolah.
Keuntungan bagi Kuntilanak yang mudah bergaul, ia dapat dengan cepat akrab dengan teman-teman di sekitar tempat duduknya. Jika sedang bosan, ia langsung mengobrol dengan tetangga di seberangnya, atau depan belakangnya. Namun, ia tetap risih karena hantu di sebelahnya diam sehening cadas. Kadang ia bergidik, merasa duduk di sebelah manusia (ini salah satu pengaruh hobinya menonton film horor). Apalagi, ia sering diabaikan ketika mengajak sang cadas berbicara. Jika sedang beruntung, ia masih bisa mendapatkan jawaban ketus.
Keuntungan bagi Jurig, nyaris tidak ada kecuali tempat duduknya yang tepat di tengah kelas itu membuatnya nyaman. Sementara, Kuntilanak seringkali mengganggunya dengan mengajaknya mengobrol ketika pelajaran sedang berlangsung atau ketika ia sedang membaca buku saat jam istirahat.
***
Pada suatu jam istirahat, seperti biasa, Jurig membaca buku berisi jurus-jurus Ki Jaka Bono. Tiba-tiba, datang Kuntilanak sendirian (biasanya ia selalu bergerombol dengan cewek-cewek tukang rumpi), menghampiri Jurig.
”Eh, kenapa sih lu selalu sendirian?” buka Kuntilanak.
”Suka-suka gue,” jawab Jurig tanpa berpaling dari bukunya.
”Pasti ada alesan yang lebih jelas dong?”
Kali ini, Jurig berhenti membaca dan memalingkan tatapan kepada Kuntilanak. ”Otak lu terlalu dangkal.”
”Otak gue masih bisa digali lagi kok.”
”Gak semua orang mau otaknya digali-gali.”
”Oke, tapi karena gue mau, lu mau dong ngobrol sama gue?”
“Hah? Yang ada entar kita gak nyambung!”
“Coba dulu!”
Jurig tidak menyangka, jika Kuntilanak tidak kalah berpengetahuan dan berwawasan dibanding dirinya. Maka, segera terkikis sikap sombong yang sebelumnya juga ia tunjukkan kepada Kuntilanak.
***
Di hari sebelumnya, Kuntilanak terlibat pembiacaraan dengan beberapa temannya. Mungki hanya salah satu temannya, yang selalu diekori beberapa teman lainnya. Si teman ini bernama Wewek.
“Lu betah duduk ama si Jurig?”
“Oke aja. Kenapa?”
“Ih, gue sih benci banget ama dia!”
“Kenapa?”
“Udah jutek, sombong, aneh lagi!”
“Bukan karena Tuyul suka lirik-lirik dia?”
“Kurang ajar lu!”
Kuntilanak mengangkat kedua tangannya setinggi bahu dan menampakkan kedua telapak tangannya, tanda tak ingin bertengkar.
“Gue mau minta tolong sama lu,” lanjut Wewek.
Kuntilanak mengangkat kedua alisnya, tanda tertarik.
“Gue butuh lu buat ngerjain si Jurig!”
“Kalo gue gak mau?”
“Kita semua bakal musuhin lu dan itu berarti seisi sekolah juga bakal musuhin lu!”
“Hmm, gue pikir-pikir dulu deh!”
“Hah? Mau mikir apa lagi? Emangnya lu mau jadi public enemy?”
“Nggak sih, tapi gue juga gak suka celakain orang lain dengan sengaja.”
“Huh! Pikirin deh!”
Kemudian, Wewek and the gank melangkah pergi dengan langkah kucing.
***
Hanya dalam kurun beberapa hari berteman dengan Kuntilanak, Jurig telah menyadari betapa sama sekali tidak ada makhluk yang punya alasan untuk sombong. Ia menyesali dirinya di masa lalu yang angkuh dan menyepelekan orang lain. Ia belajar bersikap seperti Kuntilanak, yang menganut ilmu padi. Makin berisi, makin menunduk. Ia juga belajar berbicara dengan orang lain dengan ramah dan sesuai dengan bahasa mereka. Artinya, ia tidak bicara politik dengan pecinta musik. Ia tidak bicara olahraga dengan pecinta teater. Ia tidak bergosip dengan pecinta agama. Hal tersebut membuatnya menambah pengetahuan dari berbagai bidang.
Nun jauh di tempat lain, sepasang bola mata memandang benci kepada Jurig yang semakin terbuka untuk berteman dan bertambah temannya. Wewek, pemilik sepasang mata indah itu, merasa terancam karena perubahan Jurig. Ia lebih merasa terancam lagi (ditambah cemburu) ketika melihat Jurig bersenda gurau dan berbagi sesajen dengan Tuyul di jam istirahat sekolah di kelas mereka.
“Di Sekolah Setan ini, gue cewek paling cantik! Kenapa Tuyul malah deket-deket sama Jurig?! Kenapa bukan sama gue!”
Bidak-bidak pengekornya diam semua.
Wewek kesal. Ia memukulkan tangannya kepada tembok, bangkit berdiri bangkunya, lalu berjalan penuh amarah tanpa menghilangkan kesan anggunnya. Ia hendak menghampiri Jurig untuk menjambaki rambutnya, menampari mukanya, dan menjejali mulutnya dengan tanah!
Sayangnya, belum sepuluh meter ia melangkah, ia harus memekik ngilu, sehingga semua mata teralih padanya. Semua mata itu terkejut dan takut. Ekspresi yang terkadang diikuti seringai ngeri. Kemudian, semua berhambur keluar kelas untuk mencari ruangan lain yang lebih aman.
Di
Wewek menangis sejadi-jadinya di dalam botol sirup kaca yang tutupnya berbahan plastik berwarna putih.
30/07/08
tembok
Di malam yang panas, Urdin bosan bersembunyi di dalam kamar. Urdin bosan mendengarkan makian bersahut-sahutan dari ayah dan ibunya yang sedang bertengkar. Urdin bangkit dari persembunyiannya di balik selimut di atas ranjangnya. Ia mencopot piyamanya, menggantinya dengan pakaian yang pantas dipakai berpergian, lalu ia merengut sebuah tas ransel kecil dari salah satu rak di kamarnya. Ia isi ransel itu dengan sebotol air mineral, dompet, dan dua buah telepon genggamnya. Tanpa basa-basi, ia menerobos keluar pintu kamarnya. Ia tidak hiraukan sepasang orang tuanya yang masih saling meneriaki. Demikian juga kedua orang tua itu tidak menghiraukan satu-satunya anak mereka yang berjalan ke arah rak sepatu, memasang sepasang sepatu olah raga ke kakinya, dan lenyap di balik pintu depan rumah mereka.
Urdin yang telah berada di teras menarik keluar sepedanya dan memacu sepedanya secepat yang ia bisa. Kemanapun, ia tak tahu. Ia mengayuh sekuat tenaga. Angin menerpa wajahnya kuat-kuat sampai pipinya tampak sedikit bergelambir ke belakang. Teriakan pejalan kaki yang nyaris tertabrak olehnya, makian sopir angkutan umum yang nyaris menabraknya, semua tidak ia hiraukan.
Suatu ketika, Urdin masuk ke sebuah gang buntu tanpa menyadarinya karena tempat itu begitu gelap dan ia begitu kalap. Ia baru sadar ketika seorang tunawisma yang tidur di pinggir gang itu meneriakinya, "heh! Awas! Tembok!". Urdin sedikit berteriak, memejamkan mata, dan mengerem sepedanya secepat mungkin. Itulah persiapannya menghadapi tabrakan dengan tembok yang rasanya memang tak terelakkan lagi. Namun, tiba-tiba segala sesuatu seperti berjalan dengan sangat lambat. Seolah hidupnya dikendalikan oleh seorang yang jauh lebih besar dan orang itu menekan tombol "slow motion" pada rimut di tangannya. Ketika jarak antara tembok dan roda sepedanya hanya tinggal 1 milimeter, ia mendengar bisikan "tembok tidak bisa ditabrak. Tembok adalah segala kesenangan di baliknya!". Sepersekian detik, ia tersentak. Sepersekian detik, ia melihat roda depan sepedanya memasuki tembok itu. Tembus.
***
Dengan satu sentakan, Urdin bangun terduduk dan mendapati dirinya duduk di atas permukaan empuk, sementara yang dilihatnya adalah kegelapan karena sesuatu menutupi wajahnya. Dengan satu tarikan oleh tangannya, sesuatu yang menyelubungi wajah dan seluruh tubuhnya ia tarik. Maka, ia melihat cahaya dari lampu kamarnya dan selimut di tangannya. Ia menghela napas panjang.
Dengan malas, ia turun dari ranjangnya. Ia menyeret kakinya berjalan untuk mencari sebotol air mineral karena ia begitu haus. Ia ingat botol air itu sebelumnya ia letakkan di atas meja belajarnya, tapi sekarang ia tidak menemukannya di sana. Urdin memutar otaknya. Mengingat-ingat apabila ia telah memindahkan botol itu. Maka, kejadian tentang berpacu dengan sepeda, tembok, dan semuanya itu terlintas lagi di kepalanya. Buru-buru, ia mencari tas ransel kecil miliknya di rak tempat biasa ia menaruhnya. Tidak ada. Rupanya, tas ransel itu ada di atas ranjangnya. Ia buka tas itu dan mendapati botol air mineralnya ada di sana bersama sepasang telepon genggam dan dompetnya. Dengan cepat, ia serbu botol itu, ia buka tutupnya, dan ia tegak isinya sampai tandas.
Baru ia sadari, dari luar kamarnya tidak terdengar keributan lagi. Perlahan ia berjalan ke pintu kamarnya. Ia buka pintu itu dan ia keluarkan sedikit demi sedikit kepalanya. Ia dapati rumahnya diterangi cahaya, tetapi bukan cahaya lampu, melainkan cahaya matahari. Petanda hari tidak lagi malam. Aku pasti tertidur semalam, pikir Urdin.
Urdin masuk kembali ke kamarnya. Ia mengganti piyamanya dengan baju lain yang biasa ia pakai di dalam rumah. Setelah itu, ia beranjak ke dapur untuk memuaskan perutnya yang telah ribut memprotes kelaparan. Dari dapur terdengar kasak-kusuk dan Urdin yakin itu adalah pembatunya yang sedang menyiapkan sarapan bagi ia sekeluarga. Namun, begitu menerobos ke dalam dapur, ia terkejut mendapati ibunya tengah memasak. Sebelum selesai ia terkejut, ibunya telah berkata-kata dengan nada sangat riang.
"Hari ini, Mama masak masakan spesial buat kamu dan Papa!"
"A... Ada apa, ... Ma?"
"Duh, kamu lupa ya? Hari ini, ulang tahun pernikahan Papa dan Mama!"
Urdin terkejut sebab hal itu belum pernah disebut-sebut di rumahnya sepanjang hidupnya. Ibunya seolah tidak membaca keterkejutan Urdin, terus saja meneruskan pekerjaannya. Setelah selesai, ia menata semua masakannya dengan rapi di atas meja. Kemudian, ia pergi ke kamarnya sendiri untuk membangunkan suaminya. Mereka sarapan bersama.
Selama sarapan, ayah dan ibu Urdin tampak begitu akrab dan mesra. Urdin sampai tidak sanggup menelan makanannya. Ia hanya memain-mainkan makanan di piringnya dengan sendok dan grapu di tangannya. Sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya, tapi hanya dikunyah pelan-pelan tanpa ditelan, sehingga mulutnya menjadi begitu penuh. Dengan tiba-tiba, Urdin menyambar gelas berisi air mineral. Air di dalam gelas itu ia habiskan untuk mendorong makanan dalam mulutnya. Setelah itu, ia bangkit dari sana dan tanpa permisi menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar, ia merenung. Di tengah-tengah renungannya, samar-samar ia mendengar suara pintu dibuka dengan kasar, lalu ditutup kembali dengan keras. Ia yakin, itu adalah suara pintu kamar ayah dan ibunya. Ia pun mendengar teriakan, "gak tau adat! Jangan banting-banting pintu!". Buru-buru Urdin meraih gagang pintunya, membuka pintu kamarnya, dan melongokkan kepalanya keluar kamar. Ia tidak mendapati siapapun di ruang keluarga yang menghubungkan semua kamar di dalam rumahnya. Belum sempat ia bereaksi, ia mendengar lagi teriakan parau yang samar, "lu yang gak tau adat! Jadi suami, kerjaannya cuman males-malesan! Cuman buang-buang uang! Kerja dong!". Urdin terkejut.
Begitu Urdin mengingat bahwa tadi ia bertemu ayah dan ibunya di ruang makan, ia langsung berlari ke sana. Ia terkejut lagi. Demikian juga ayah dan ibunya terkejut karena dipergoki anaknya sedang berciuman mesra. Mereka jadi salah tingkah dan muncul kemerah-merahan di wajah mereka. Seketika itu juga, Urdin lupa akan suara-suara yang didengarnya. Ia ikut salah tingkat, meminta maaf, dan cepat-cepat kembali ke kamarnya.
Kali ini, ia langsung mandi di kamar mandi dalam kamarnya. Ia mengenakan pakaian sekolahnya dengan rapi, membawa tas selempang berisi buku-buku sekolah dan alat tulis, lalu mengambil botol minumannya. Ia langsung menuju ke dapur untuk mengisi botol minumannya sampai penuh, mengambil sekotak bekal yang disediakan pembantunya, lalu ia hendak langsung beranjak ke sekolah. Namun, baru sampai di ruang keluarga, ia telah mendengar maki-makian yang sebenarnya tak mungkin pantas diperdengarkan. Juga pukulan dan tangisan. Ia mencari ke semua ruangan di rumahnya untuk menemukan asal suara itu. Tidak ada siapa-siapa. Terakhir, ia berhenti di dapur dan menemukan pembantunya.
"Mbok, Papa dan Mama mana?"
"Oh, mereka pergi. Kayaknya mau bulan madu lagi tuh..." kata pembantunya dengan nada menggoda dan senyum yang lucu.
Urdin tersenyum, mengangguk, lalu berpamit. Setelah itu, ia langsung menuju ke terasnya. Karena tidak mendapati sepedanya di sana, tanpa pikir panjang ia langsung berjalan kaki.
***
Sepulang sekolah, Urdin tiba-tiba teringat jalan buntu yang pernah ia masuki di mana ia menabrak, atau menembus, temboknya. Ia pikir, di saat siang, pasti lebih mudah melihat apa yang ada di sana. Dengan susah payah, ia mengingat-ingat jalannya. Akhirnya, ia temukan juga gang itu. Ia langsung berlari hendak menghampiri ujung jalan itu.
Betapa terkejut dirinya mendapati sepedanya di ujung jalan itu. Sedikit lecet di bagian depannya dan tergeletak di tanah. Ia menengok ke sampingnya di mana seorang tunawisma tersenyum kepadanya. Ia membalas senyuman itu. Kemudian, ia mengangkat sepedanya dan menaikinya sampai ke rumahnya.
Setelah masuk ke dalam rumahnya, kali ini ia mendengar (masih samar-samar) suara teriakan, makian, pukulan, tangisan, dan semuanya itu. Ia menjadi sangat bingung. Ia memutuskan untuk menajamkan telinganya, sehingga ia mendengar semua itu menjadi semakin jelas dan nyata. Ia ingin menangis dan berteriak karena ia mulai berpikir semua kebahagiaan ini pasti hanya mimpi dan aku pasti masih tertidur di kamarku sementara semua kegaduhan itu bercampur dengan mimpiku.
”Semua suara itu dapat kau abaikan,” tiba-tiba sebuah bisikan terdengar dan membuat Urdin terkejut.
Ia turuti saja suara itu. Ia berusaha mengabaikan suara-suara itu. Perlahan-lahan, suara-suara itu pun surut. Lalu hilang sama sekali. Betapa senang hati Urdin saat itu. Dengan riang, ia melompat ke sana ke mari.
***
”Kamu liat sekarang! Gara-gara punya ibu kayak kamu, anak kita jadi gila!”
Urdin masih terus berlompatan dan tertawa riang.
”Aku? Justru gara-gara punya bapak kayak kamu, dia jadi gila!”
Urdin tetap terus berlompatan sambil tertawa-tawa.
”Keluargaku bahagia!” teriak Urdin.
23/05/08
badai dan gempa
Mars : Bumi, kamu makin berair.
Bumi : Iya, aku berkeringat. Mereka membuatku kepanasan.
Merkurius : Begitu panaskah sampai kau menangis, Bumi?
Bumi : Iya, mereka juga menyakitiku. Mereka merusakku.
Mars : Bukankah itu sudah lama mereka lakukan?
Bumi : Mereka bertambah parah. Kulitku, dagingku, darahku, udaraku, semuanya! Mereka tidak mau menyisakan apapun! Oh, Matahari! Panasmu pun ikut menyengatiku!
Matahari : Maafkan aku, Bumi. Bukan kehendakku. Bukan kuasaku untuk meredam atau menghentikan pijar panas dan cahayaku sendiri. Namun, kau telah diberi selimut ozon untuk tetap terlindung dariku. Apakah mereka juga mengambilnya darimu?
Bumi : Ya, mereka melubanginya. Bagi mereka telah tersedia berbagai kenyamanan dariku, sehingga mereka telah menjadi parasit bagi diriku sendiri.
Mars : Kawan, mereka berkembang biak terlalu cepat. Mereka akan semakin mebutuhkan banyak darimu.
Matahari : Ah, mereka selalu punah pada akhirnya. Mungkin kali ini akan punah kupanggang. Namun, Bumi, kau tetap bundar dan mengitariku.
Bumi : Tidak, Matahari. Mereka tak pernah punah. Selalu ada sisa dari mereka yang akhirnya berkembang biak gila-gilaan lagi dan merubah-ubah wajahku lagi.
Mars : Toh kami akan tetap mengenalmu.
Merkurius : Ya. Orbit dan posisimu tak berubah.
Bumi : Hahaha! Betul juga! Tapi aku tetap kepanasan!
Mars : Mari kutiup dirimu agar sejuk!
Merkurius : Aku juga mau meniupimu!
Matahari : Bolehkah aku ikut?
Bumi : TIdak! Jika kau lakukan itu, aku akan terpanggang lidah api dan musnah!
Mars dan Merkurius : (meniupi Bumi).
Mars : Bagaimana? Sudah lebih baik?
Bumi : Jauh lebih baik, tetapi wajahku menjadi berantakan karena badai.
Matahari, Bumi, Mars, dan Merkurius : (tertawa bersama)
Bumi : (gempa)
24/03/08
tante peri*
Tante Peri. Begitulah biasa kupanggil dia. Waktu aku masih kecil orang-orang menganggapnya teman khayalanku karena hanya aku yang dapat melihatnya, tapi sampai saat ini pun, saat aku duduk di bangku SMU, ia masih bersamaku dan ia begitu nyata. Mungkin aku terlalu banyak menonton serial TV yang episodenya tak berkesudahan. Mereka mencekokiku kepercayaan akan makhluk-makhluk gaib.
“Ayo bongkar! Curi soal tes minggu depan!” seru Tante Peri padaku saat aku berada di ruang wali kelasku, guru fisika, karena keanjlokan nilai-nilaiku. Aku hanya berdiri diam, sementara Pak Hasan, guru fisikaku, belum kembali dari toilet.
“Kalau kamu nggak nurut, nanti kamu kutinggalkan!” ancam Tante Peri. Aku benci kesendirian. Kuputar kunci laci yang tertancap pasrah pada lubangnya dan kutarik laci itu keluar dari persembunyiannya pelan-pelan. Tanpa lama kurogohi, kutemukan soal tes yang kucari. Hanya kuambil selembar dari tumpukan itu. Pak Hasan tidak akan menyadarinya. Aku melipat-lipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celanaku, sementara Tante Peri terbang bolak-balik dengan senang sambil tertawa melengking. Tawa yang menyamankan telingaku. Mungkin karena aku sudah terbiasa mendengarkannya.
Setelah mendapat surat panggilan untuk orang tuaku, aku meninggalkan ruangan Pak Hasan. Aku berjalan dengan tenang dan senang ke kelas karena aku tahu aku tidak akan mendapat nilai jelek untuk tes minggu depan.
“Hei, Duck!” teriak seorang anak laki-laki padaku sambil menempeleng bagian belakang kepalaku. Mereka memanggilku begitu karena menurut mereka aku harus mengikuti reality show “Duck” yang me-make over seorang buruk rupa secara ekstrim. Lalu seorang temannya menyelengkatku sampai jatuh. Bangun dari posisi tengkurap bukanlah hal mudah untukku. Ada yang mengambil kacamata bulat tebalku dan melemparnya ke suatu tempat yang jauh.
Bel masuk berdering tanda usainya istirahat. Anak-anak lain menjejalkan diri ke dalam kelas, sementara aku merabai koridor panjang sekolah demi menemukan kacamataku dan Tante Peri hanya tertawa sambil terbang mengitar di atas kepalaku dan mengejekku. Setelah lama aku merangkak di koridor sambil meraba-raba tanpa ada yang peduli, aku menemukan kacamataku dalam keadaan cukup baik. Hanya lecet sedikit. Baguslah, kali ini kacamataku tidak pecah. Tante Peri menyuruhku membolos pada jam pelajaran ini daripada masuk terlambat. Aku selalu menurut karena aku belum pernah membuat keputusan sendiri.
Aku ke toilet untuk mencuci muka dan membersihkan kacamataku. Sampai di toilet, aku bertemu beberapa anak sekelasku. Mereka menyeretku ke kelas dan mengadukan pada guru yang saat itu mengajar bahwa aku membolos, sehingga aku harus berdiri di belakang kelas selama ia mengajar. Seperti biasa, Tante Peri hanya tertawa dan mengejekku.
Di sini aku berdiri tepat di belakang seorang gadis yang kutaksir sejak SMP.
“Tarik! Tarik!” bisik Tante Peri pada telingaku saat kutatap tali bra-nya yang biru muda terang dan mencolok mengalahkan daya lapis kemeja ketatnya. Tak perlu kusadari saat tanganku mengulur, lalu menarik dan melepas tali itu dengan cepat. PLAK! Kentara betul bunyinya. Ia begitu terkejut.
Ia dan seisi kelas kini menatapiku. Aku hanya celingak-celinguk tanpa ekspresi khusus pada wajahku, sementara Tante Peri begitu riangnya melengkingkan tawanya sambil mengitari kepalaku. Melewati wajahku berkali-kali dengan cepat.
“Nando narik tali beha Lina, Pak.” Jawab anak sebangku Lina dengan tampang polos saat guru menanyainya. Itu membuat seisi kelas terbahak membuat gemuruh. Wajah Lina sangat merah sekarang. Paduan antara malu dan marah.
***
Setelah bel pulang sekolah berbunyi aku buru-buru mengeluarkan diri dari kelas, berhubung tempat dudukku paling dekat dengan pintu kelas, sebelum anak-anak lain berhamburan ke koridor dan menggencetiku. Sayang, sebuah tarikan pada bagian belakang kerah bajuku membatalkan segala niatku. Lina dan teman-temannya.
“Buat apa sih lo kayak gitu tadi?” bentaknya tanpa bisa kujawab. Mereka menyeretku cukup jauh sampai ke perkarangan di belakang sekolah. Tante Peri memang tak pernah membantu. Hanya tertawa dengan lengkingan.
“Lo nggak ada kerjaan lain ya?”
“Lo tuh mendingan isi formulir buat ikutan Duck!”
“Iye. Biar lo disedot lemak!”
“Lemak lo tuh musti disedot tujuh kali baru lo bisa langsing !”
“Trus lo musti oprasi plastik tujuh kali biar tampang lo nggak bikin eneg!”
Tak satupun makian mereka kujawab karena mereka pasti tertawa mendengar kegagapanku. Mereka memukuli, menendangi, dan menginjakiku. Setelah selesai, mereka bubar meninggalkanku berdua dengan Tante Peri.
“Kamu jelek! Kamu jelek! Gendut!” Tante Peri terus-menerus mengejekku. Tetap terdengar cemooh itu meskipun kututup rapat telingaku. Tetap tampak tariannya meskipun kututup rapat mataku. Sangat lama. Tiba-tiba semua itu berhenti.
“Hei, ayo cari dia!” Tante Peri membangunkanku dari ketertutupanku.
Sore sudah larut. Aku bangkit dan mulai mengendap-endap menyelidiki setiap sudut sekolah. Hanya kutemukan penjaga sekolah tertidur pulas dekat gerbang sekolah. Setelah cukup lama aku mondar-mandir, kudapati Lina memasuki toilet wanita dengan seragam cheerleader-merah-ngejreng-nya. Teman-temannya pasti sudah pulang.
“Kerjain dia!” kata Tante Peri,”Nggak bakal ada yang tau!”
Aku berjalan tanpa suara memasuki toilet wanita. Ia sedang berada di salah satu ruangan dalam toilet itu. Ruangan paling ujung. Kulihat strip kecil di atas gagang pintu itu berwarna hijau, bukan merah. Ia tidak mengunci pintunya. Meskipun sulit, kurendahkan kepalaku untuk mengintip lubang setinggi sejengkal di bawah pintu itu. Kudapati kaki-kaki indahnya tanpa alas.
Begitu saja aku menerobos masuk. Kuincar mulutnya untuk kubekap dengan satu tanganku dan tanganku yang lain memelintir dan menggenggami kedua tangannya di depan punggungnya dengan kuat. Dengan sangat cepat kuambil salah satu baju pada gantungan pintu untuk menyumpal mulutnya. Lalu, kuambil kain lain yang tergantung untuk mengikat tangannya. Kulepas dasiku untuk mengikat kakinya. Setelah itu, kukunci pintu WC itu. Rontaannya yang tadi bergitu kuat sekarang terasa begitu pasrah. Ia mulai meneteskan air mata, sementara keringatku pun menetes-netes.
“Buka!” pinta Tante Peri dengan bisikan geram.
Tangan-tanganku mulai kelayapan mem-browse kulitnya dan hendak melepaskan helai-helai yang melapisinya. Kulihat wajahnya begitu ketakutan dan tatapan memohon ampunnya padaku membuatku lemas. Kuhentikan aksiku dan aku hanya duduk diam di depannya. Ia pun merosot jatuh dari posisi berdiri ke posisi duduk di depanku. Aku tak akan sanggup. Ia satu-satunya manusia yang kusayangi.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Tante Peri sambil melototiku.
“Aku nggak mau nyakitin dia, Tante Peri.” Ucapku dengan lancar. Lina menatapku dengan bingung. Entah bingung karena kegagapanku telah ciut dan hilang atau karena “Tante Peri”. Tante Peri begitu marah, ia terbang dengan cepat untuk meninggalkanku.
Aku maju dan memeluk Lina dengan erat. Kubenamkan wajahnya ke dadaku yang empuk. Cukup lama kurasakan pemberontakannya sampai akhirnya ia hening. Kurenggangkan pelukanku. Kutatap wajahnya yang biru dan matanya yang membelalak kaku. Ia lemas. Buru-buru kukeluarkan kain yang menyumpal mulutnya dan kulepaskan segala yang mengikat pergelangannya. Kupegangi wajahnya dan kutampar pelan beberapa kali tanpa ia beri reaksi. Butuh waktu cukup lama untuk kusadari bahwa ia telah pergi meninggalkanku SENDIRIAN.
Dadaku kembang kempis dengan cepat saat aku berusaha membuka pintu dengan tangan-tanganku yang gemetaran. Setelah aku dapat menghambur keluar dari sana, kupanggil Tante Peri. Aku berteriak dengan serak dan dia tak kunjung tiba. Satu tanganku memegang dan memeras dadaku yang sakit dan tanganku yang lain bertumpu pada wastafel untuk membangkitkan tubuhku. Baru sejenak aku berdiri agak tegak, banyak kunang-kunang menghinggapi mataku dan menari-nari disana. Kepalaku sangat sakit. Ngilu dan berputar-putar. Aku kehilangan kekuatan dan keseimbangan. Aku roboh dan kepalaku menghantam wastafel yang jelas tak mungkin dikalahkannya. Hal terakhir yang kurasakan adalah panas dan amir cairan yang mengalir keluar dari kepalaku.
01/03/08
bosan (alam dinding III)
Aku telah menggali banyak lubang. Aku telah menemukan banyak mayat. Aku telah berdansa dengan banyak mayat. Aku telah bosan dengan semua ini.
Andai jiwa ini dapat mati. Tidakkah sang pencipta tahu bahwa aku tersesat di sini? Tidakkah ia kasihan dan ingin merengutku ke alam baka? Aku bosan!
Dari mana asal mayat-mayat itu? Oh, mengapa kau menanyakan pertanyaan yang tidak penting? Mereka berasal dari kuburan, tentunya. Jika kuburan mereka ditimpa dengan kuburan lain atau dengan bangunan atau apapun, mereka akan sampai kemari. Sebenarnya, mereka tersesat. Ada alam lain yang seharusnya menampung mereka. Di sana, mereka dapat berlaku selayaknya makhluk hidup. Mereka dapat berinteraksi satu sama lain dan mempunyai kehidupan yang menarik dan normal seperti manusia di dunia nyata. Namun, sayangnya, mereka tersesat ke tempat ini dan hanya menjadi boneka mayat. Mereka hanya mampu mengerang. Lalu, menjadi mainanku.
Kembalilah membicarakan diriku yang bosan ini! Ayolah, bantu aku keluar dari keadaan ini!
Aku ingin mati! Mati! Mati!
Aku telah mencoba banyak hal. Melompat dari atap gedung tinggi, menusuk diriku dengan pisau, sekop, garpu, gunting, apa pun! Percuma! Aku memang dapat menyentuh benda-benda itu sebagaimana benda-benda itu juga dapat menyentuhku, tapi mereka bahkan tidak dapat mencederaiku! Aku arwah! Arwah penasaran! Oh!
Aku benci dunia ini! Benci! Benci!
Aku mengambil tongkat besi, sekop, cangkul, bambu, apa pun!
Aku ingin memukul! Pukul! Pukul!
Mayat-mayat telah hancur menjadi onggok-onggok daging kecil karena kupukul.
Pukul! Pukul!
Marah! Marah!
Benci! Benci!
Bosan! Bosan!
Tembok. Pohon. Jembatan. Aspal. Tanah. Jendela. Pukul semua! Hancurkan!
Aku memukul terus-menerus sambil berteriak sekeras-kerasnya. Terus berteriak. Memukul. Berteriak.
"Diem dong! Berisik banget sih!"
Aku terdiam. Aku melihat sekeliling. Aku telah berada di sebuah ruangan dalam sebuah rumah sederhana setelah seharian mengikuti kakiku melangkah untuk terus memukul dan berteriak.
Tak ada suara lagi.
Aku kembali memukul dan berteriak. Merusak lantai.
"Heh! Gila yah?! Diem dong! Udah malem nih!"
Siapa gerangan meneriakiku? Oh, ada orang lain di sini! Aku mencari ke sekelilingku. Nihil. Mungkin halusinasiku. Lagipula, aneh jika aku dapat mendengar teriakan kecil sementara aku sendiri tengah berteriak seperti sedang kesurupan.
Aku kembali memukul dan berteriak. Menghancurkan lantai.
"Heh! Tetangga gila! Gue mau tidur! Lu mau berisik, di hutan aja! Dasar sinting!"
Tetangga?
"Elu tuh tetangga gila! Orang dari tadi diem-diem aja! Elu tuh yang sinting! Giling!"
Wah, ada yang ribut-ribut karena perbuatanku. Akan kujelaskan jika kau tidak mengerti situasinya. Salah satu dari mereka dapat mendengarku, tapi tidak tahu hal itu, sehingga ia mengira dirinya sedang mendengarkan tetangganya yang berisik. Tentangganya yang tidak tahu apa-apa dan tidak dapat mendengar dunia ini menjadi marah karena merasa difitnah. Sepertinya dinding rumah-rumah sederhana ini terlalu tipis. Hahaha! Ini menarik.
Tak lama, orang-orang dari kedua rumah telah bertemu di depan rumah mereka. Di jalanan, tepatnya. Dua orang remaja yang ribut-ribut itu telah membangunkan seisi rumah masing-masing dan meluaskan masalah mereka. Hahaha!
Hei! Bukankah aku dapat melakukan pertukaran dengan salah satu remaja yang dapat mendengarku itu? Ah, itu sangat kejam untuknya. Akan tetapi, menetap di sini pun terlampau kejam untukku.
Sekitar dua jam setelah keributan itu, orang-orang itu telah kembali ke ranjang masing-masing. Beranjak tidur dengan kedongkolan di dada. Saat itu, kuperkirakan si remaja itu telah kembali juga ke ranjangnya. Aku ingin mengintipnya.
Kutempelkan salah satu telingaku ke dinding yang merupakan dinding kamarnya di dunia nyata. Kupejamkan mataku. Aku dapat melihatnya! Seorang remaja putri. Cantik, menurut ukuranku. Tubuh proporsional. Tinggi sekitar 160cm dengan berat sekitar 45kg. Ukuran dadanya 34B. Kulit kuning langsat. Rambut sepinggang yang lurus, tapi ikal di ujung-ujungnya dengan poni miring. Sangat tipikal. Tidur dengan hot pants merah jambu dan tank top belang-belang merah jambu-putih, tanpa selimut. Mungkin pendingin ruangannya rusak. Butir-butir keringat kecil-kecil muncul di dahinya.
Dialah incaranku.
18/02/08
mayat dinding (alam dinding II)
Alam dinding. Dinding menjadi pembatas dan pemisah, sekaligus penghubung tak terbatas.
Terhubung tanpa tersentuh.
Mendengar tanpa melihat.
Kujalani hari-hariku dalam kesepian.
Sendiri.
Hening, kecuali dinding.
Tanpa suara manusia, kecuali dari dinding.
Tetumbuhan. Satu-satunya makhluk hidup yang menemaniku. Berbisik dalam gemerisik. Mereka berjiwa, tapi bukan di sini. Andai saja jiwa mereka ada di sini, aku akan berteman dengan mereka.
Yang tenang dan diam, justru begitu menyiksa. Aku hanya ingin mati. Lenyap tak berjejak. Kukira, itu pasti lebih baik daripada mencari orang lain untuk menggantikanku di sini. Kejam sekali membiarkan orang lain merasakan hal yang sama.
Aku naik ke atas sebuah gedung tinggi. Sebuah sekolah mewah dengan dominasi cat biru cerah di bagian luarnya. Aku naik ke atas atapnya. Terjuan dari sana. Menerpa angin, menabrak aspal.
Tidak, aku tidak mati.
Aku terantuk keras pada aspal tanpa merasakan apapun kecuali kerasnya aspal. Itu benar-benar tanpa rasa sakit.
Aku terbaring pasrah di atas aspal. Mendengarkan suara-suara aktivitas di bawah aspal. Kupikir, itu adalah suara aktivitas di atas aspal di dunia nyata. Adakah aspal juga merupakan dinding? Entahlah.
Adakah neraka lebih baik atau lebih buruk dari ini?
Atau inilah neraka?
Jika ini neraka, mana setan? Mana orang-orang bejat?
Mungkin mereka masih berkeliaran di alam nyata karena kiamat belum menjemput mereka kemari. Manusia bejat yang masih hidup berbuat jahat. Menghabiskan hidupnya untuk mati dan mati lagi di neraka. Manusia-manusia bejat yang sudah mati gentayangan. Mencari mangsa untuk ditakut-takuti. Si setan berkeliaran. Menggoda manusia. Menggelitiki iman mereka. Menggerogoti hati nurani mereka. Memanfaatkan mereka untuk pekerjaan haramnya.
Kalau begitu, aku harus menunggu akhir zaman tiba agar mereka beramai-ramai ke sini. Mungkin, aku hanya akan punya sedikit waktu untuk bermain-main dengan mereka. Setelah itu, tempat ini akan dihujani bahan bakar, lalu dibakar. Sementara di bakar, terus dihujani bahan bakar. Api yang tiada henti membakar. Semua benda habis. Gedung-degung habis. Manusia habis. Tumbuhan habis. Tetap dibakar. Sampai ke inti bumi. Cukup.
Erangan-erangan dari bawah aspal membangunkanku dari lamunanku. Dahiku berkerut penasaran. Kutempelkan salah satu telingaku pada aspal dingin itu. Matahari diacuhkannya, sehingga ia tidak menjadi panas. Erangan lagi. Erangan-erangan. Mengapa ada manusia mengerang-erang demikian rupa di dunia nyata? Atau, itu adalah dunia lain? Aku ingin menemukannya.
Aku bangkit, lalu berlari. Memasuki gedung sekolah (di sini tidak ada pintu yang terkunci). Mencari-cari di gudang sekolah. Lalu, berlari ke rumah-rumah. Mencari. Aku sadar. Meskipun aku bisa memasuki ruangan manapun dan mendengarkan apapun dari tembok manapun, di ruangan-ruangan itu tidak ada peralatan dan perlengkapan hidup seperti pakaian, teknologi, tidak juga perabotan, tidak juga makanan dan minuman, perkakas, tidak ada apa-apa.
Maka, kugunakan tanganku saja. Aku berlari lagi ke sekolah. Menjatuhkan diri di tanah kebun di belakang sekolah itu. Kutempelkan lagi telingaku pada tanah. Erangan-erangan lagi. Aku mulai menggali menggunakan tanganku. Menggali tanpa kenal waktu. Aku adalah... entah arwah atau jiwa. Tak butuh makanan, minuman, maupun istirahat. Juga tak kenal lelah. Aku menggali. Menggali. Menggali. Pagi. Siang. Sore. Malam. Menggali. Menggali.
Aku menemukannya! Sebuah kepala! Kutarik keluar kepala itu dari tanah. Perlahan-lahan agar tidak lepas dari tubuhnya. Kepala dan tubuh yang sama-sama kumal, berlubang-lubang, lusuh, lemas, hitam, dan begitulah. Aku berhasil menariknya keluar tanpa merusaknya. Jika ia terlihat rusak, ia memang telah rusak dari sebelumnya. Rusak dikunyah tanah.
Ia masih mengerang. Mulutnya membuka sesekali dan mengeluaran bunyi erangan. Ia seperti boneka yang bisa berbicara. Ia adalah boneka yang bisa mengerang. Aku mengangkatnya agar ia berposisi berdiri.
Aku memeluknya. Kami berpelukan.
Satu tanganku di pinggangnya. Satu tanganya di pundakku. Dua tangan yang lain berpasangan dan terangkat sejajar bahu.
Kami bergoyang-goyang. Berputar-putar. Melangkah maju-mundur. Kami berdansa di tengah kawah yang kugali dengan tangan-tanganku.
Sambil menari, aku menamai teman baruku: mayat.
15/02/08
alam dinding
6.29 pagi. Aku tiba di sekolah lebih awal 30 menit dari bel masuk sekolah. Menunaikan tugas apel pagi (huruf "E" pada kata "apel" dibaca seperti "bebek", bukan seperti "belatung")-melapor ke guru piket sebelum jam 6.30 pagi- selama beberapa minggu berturut-turut akibat tiba di sekolah terlambat beberapa kali. Setelah melapor kepada guru piket, aku pun memasuki kelasku yang terletak di salah satu sudut di lantai dua. Sesampaiku di sana, kutatap kelasku yang kosong melompong. Empat buah tas dengan desain dari zaman megalithikum sampai zaman orde reformasi tergeletak tanpa pemilik di empat meja secara acak. Aku tidak ingat siapa saja pemilik tas itu karena murid-murid di sekolah anak-anak orang kaya ini terlalu sering berganti tas. Ah, anak manja ibukota. Aku berjalan menyusuri gang-gang di antara deretan meja-meja dan kursi-kursi sampai ke tempat dudukku di pojok kiri belakang. Aku duduk.
Sambil menunggu seseorang datang, imajinasiku menari-nari di dalam kepalaku. Apakah bencana banjir baru-baru ini (saat ini awal bulan Februari tahun 2008) telah mengakibatkan sesuatu terjadi kepada teman-teman sekelasku? Apakah ada sesuatu yang lain yang terjadi dan membuat mereka menjadi makhluk-makhluk tak terlihat? Atau, justru aku yang tak terlihat dan tak dapat melihat mereka? Aku teringat akan "Misteri Kota Ninggi" karya Seno Gumira Ajidarma (kubaca dalam Cerpen Pilihan KOMPAS 1994) yang menceritakan tentang sebuah kota dengan orang-orang tak terlihat. Suasana mendadak mencekam.
Aku menunggu. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Setengah jam. Satu jam. Sebenarnya aku tertidur. Tiba-tiba, aku tersentak bangun. Aku dapat merasakan bahwa tidurku memang telah terlampau lama. Kukira kelas ini sudah penuh dan seorang guru telah masuk dan mengajar. Lalu, mereka memilih menertawakan lalu membiarkanku tidur selama pelajaran daripada membangungkanku. Mungkin juga mereka telah membangunkanku, tetapi tidurku terlampau nyenyak. Aku terkejut. Tidak seperti yang kukira, kelas ini tetap kosong! Hening sunyi senyap diam tanpa tanda-tanda kehidupan. Kulirik jam tanganku: 7:30.
Aku berlari keluar kelas. Memeriksa setiap kelas, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, laboratorium akuntansi, laboratorium biologi, laboratorium fisika, ruang musik, ruang tata boga, ruang multimedia, ruang guru, perpustakaan, aula, kantin, toilet, tata usaha, gudang. Kemana semua orang? Ini konyol! Tadi, ketika aku baru tiba, masih ada guru piket dan secuil murid penunai apel pagi. Mengapa semua menjadi janggal begitu aku memasuki kelasku?
Aku berlari keluar sekolah. Menatapi sebuah kota mati dari sudut pandangku. Sebatas pandanganku. Tak ada manusia. Gedung-gedung kosong. Mobil-mobil kosong. Semua kosong. Aku berteriak sekeras mungkin. Berkali-kali. Sekuat tenaga. Sampai tenggorokkanku sakit. Aku berhenti. Aku melirik ke kiri dan kanan. Berharap seseorang akan muncul. Nihil.
Ini mimpi. Ini hanya mimpi. Aku berusaha bangun. Kucek mata berkali-kali. Tampar wajah berkali-kali. Sentakkan kepala berkali-kali. Injakkan kaki kuat-kuat berkali-kali. Aku tetap di sini. Dunia yang sama. Aku ingin bangun. Mungkin aku masih tergeletak di ranjang di kamarku dengan jam beralaram menjerit-jerit di sampingku tanpa kusadari. Aku ingin bangun. Aku tidak bangun. Aku memang sudah bangun. Semua ini nyata.
7.45. Bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Dengan keadaan kosong begini, entah apa pengaruhnya. Aku berjalan malas kembali ke sekolah. Mencari toilet terdekat. Bercermin dan menangis di depan cermin. Siapa tahu, pantulan bayanganku di cermin itu bisa menarikku ke dunianya yang mungkin tidak sekosong di sini. Benar saja, pantulan bayangan itu bergerak dengan gerak-gerik yang berbeda dengan yang kubuat. Aku pun heran dan menyelidiki.
Aku bergerak ke sana kemari. Ia diam. Aku melambai. Ia diam. Aku menyapa. Ia diam. Aku menyentuh cermin. Wah, cermin itu bergelombang! Seperti air yang disentuh ringan. Hanya saja, cermin itu tidak bisa ditembus seperti air. Rupanya, sentuhan itu membuat si pantulan tersenyum. Aku pun turut senang karena setitik harapan muncul bersama senyumannya itu.
“Halo, Vena!” sapanya padaku. Wah, ia tahu namaku!
“Halo! Kamu Vena juga ya?”
“Ia. Sekarang aku Vena.”
“Sekarang? Memang dulu bukan?”
“Bukan. Dulu aku Inggri.”
“Kukira kamu bayanganku. Jadi, namamu sama denganku.”
“Tidak. Maaf ya, aku mengambil alih tubuh kamu di alam nyata. Jadi, kamu yang menggantikanku di alam itu. Itu berarti, aku tidak pernah menjadi bayanganmu.”
Aku tercengang tidak mengerti. Ia pun mengulang-ulang pernyataannya dengan berbagai kalimat yang berbeda-beda dengan maksud yang sama dan sesederhana mungkin supaya aku mengerti. Aku mengerti apa yang ia maksud. Hanya saja, itu terlalu tidak masuk akal.
Tidak peduli dengan wajahku yang masih tercengang hingga liurku hampir menetes, ia pun melanjutkan dengan bercerita. Katanya, dulu ia juga pernah berada dalam posisiku. Seorang lain mengambil alih tubuhnya juga. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Ia harus menunggu orang lain yang dapat mendengarnya dari balik tembok kelasnya agar dapat kembali ke alam nyata dengan cara mengambil alih tubuh orang itu.
Aku pun teringat. Tembok di belakang bangkuku itu memang berbunyi aneh-aneh. Terkadang seperti suara aktivitas kelas, tetapi di balik tembok itu adalah gudang. Bukan kelas. Terkadang suara orang memanggil-manggil. Padahal, gudang itu telah lama mati fungsi dan dikunci begitu saja. Tentunya semua itu membuatku ngeri, meskipun itu memang menarik perhatianku. Karena aku menunjukkan ketertarikanku dengan menempelkan telinga ke tembok itu ketika di kelas tidak ada orang lain (misalnya ketika aku datang sangat pagi), mantan Inggri menjadi tahu bahwa aku mendengarnya.
Katanya, orang yang bisa mendengarnya adalah orang yang mempunyai akses ke alam ini. Tanpa kuketahui, ia pun telah menarikku ke alam ini dan menggantikan diriku di alamku. Jadi, aku harus melakukan hal yang sama kepada orang lain yang mempunyai persyaratan akses itu agar aku dapat kembali ke alamku.
Karena kukira alam ini adalah alam hantu, aku pun memberanikan diri bertanya, “kok di sini kosong? Hantu-hantu lain mana? Masak sesama hantu gak bisa liat hantu?”
Dia tertawa mendengarnya.
“Itu bukan alam hantu! Hahaha! Dasar! Kamu kebanyakan dicekokin cerita-cerita aneh!”
“Jadi apa dong?”
“Itu alam yang belum pernah ditemukan makhluk manapun kecuali kita yang telah menjadi korbannya.”
Dahiku mengerut dan alis-alisku saling mendekat tanda tak mengerti.
“Seumpama alam itu planet, ini adalah planet yang belum ditemukan makhluk lain. Kita adalah penemunya.”
“Kenapa kita bisa sampai ke sini?”
“Itu kan kejadian berantai.”
“Maksudku, orang yang paling pertama menemukan alam ini. Siapa dia? Bagaimana caranya?”
“Oh, aku menanyakan pertanyaan yang sama kepada pendahuluku!”
“Jawabnya?”
“Ia bercerita tentang seorang murid perempuan dari angkatan pertama sekolah ini. Berarti, saat sekolah ini masih baru.”
Raut wajahku antusias.
“Ia adalah seorang perempuan buruk rupa. Laki-laki maupun perempuan enggan melihatnya. Wajahnya maupun tubuhnya, tak ada yang indah.”
Aku makin antusias.
“Suatu hari, ia jatuh cinta kepada seorang murid laki-laki yang tampan dan populer. Mudah ditebak, ia bagaikan pungguk merindukan bulan. Laki-laki itu sudah mempunyai kekasih yang sangat cantik dan juga populer. Dirinya bagi laki-laki itu hanya mainan. Bulan-bulanannya dan murid-murid lain kala jam pelajaran kosong atau jam istirahat.”
Aku mulai sedih.
“Keputusan perempuan itu adalah bunuh diri.”
Hening.
“Ia menyayat urat nadi di pergelangan tangannya dengan gunting yang ia bawa untuk tugas keterampilan tangan. Saat itu, bahkan tidak ada orang yang menyadari kematiannya. Apalagi, ia duduk sendiri tanpa teman sebangku. Tepat di tempat dudukmu. Sementara, murid-murid lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.”
Hening.
“Lalu?” desisku.
“Lalu, si pengajarlah yang akhirnya menyadari hal itu saat hendak memeriksa pekerjaannya. Rupanya, ia menemukan genangan darah di atas meja dan mengalir membentuk genangan baru di lantai.”
Hening.
“Seharusnya, ia pergi ke alam orang mati. Desa Sukamati. Tempat orang-orang yang mati bunuh diri bermukim.”
“Tapi?”
“Tapi, ia tersesat. Ke alam ini. Alam tanpa makhluk lain. Rupanya, alam ini dapat terhubung dengan alam manusia, sehingga kita dapat mendengar hal-hal dari dunia manusia melalui setiap dinding yang ada di sana.”
“Bagaimana?”
“Jika kamu tempelkan telingamu di pasar, kamu akan dengar suara-suara pasar di alam nyata. Di dinding sekolah, suara-suara sekolah. Ia memilih dinding sekolah ini. Tepat pada dinding yang terdekat dengan tempat duduknya. Sebagian penerusnya memilih dinding sekolah juga. Termasuk aku. Ada juga yang memilih dinding pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah. Terserah.”
“Semua dinding di seluruh dunia terhubung ke sini?”
“Ya.”
“Berarti, aku bisa keliling dunia di sini?”
“Jika kamu mau. Beberapa pendahulumu melakukan itu.”
“Wah…”
“Ya sudah, aku harus kembali ke alam yang nyata. Kutinggal kamu di sana. Terserah apa yang mau kamu lakukan. Kamu bisa mengambil alih orang lain yang memenuhi syarat, tapi kami tidak bisa mengambil kembali tubuh yang telah kuambil ini karena begitulah peraturannya. Selamat tinggal!”
Ia menghilang. Jadi, aku ini tidak punya bayangan lagi. Aku melihat ke lantai. Memang tidak ada bayangan. Pasti karena aku hanya arwah. Jiwa. Entah apa.
Sekarang aku bingung. Apa yang harus kulakukan? Keliling dunia atau meneriaki dinding-dinding untuk mencari orang yang dapat mendengarku? Mungkin menikmati kesendirian yang tidak mungkin kudapatkan di alam nyata?
Sambil kupikirkan, kunamai tempat ini: alam dinding.