09/05/11
Mother's Day
I was born in the middle of the year. My sister was born in the end of the year. My sister was very little, red and fragile. We were in the living room. I was playing with my red car. She was inside her baby basket. I was staring at her from a distance. She stared back. The cracking sound of the front door distracted me from her. I looked to the door, then looked away because the light from outside hurt my eyes. Mom came in with a person behind her; a big tall person, with short hair. I had seen one of this kind before.
“Come here, Andy!” Mom called. I ran to her and hugged her leg. She touched my head and brushed my hair with her fingers gently. She picked me up.
“Andy, this is Daddy,” she said, pointing to the big tall person next to her. I starred at that person anxiously. I turned to Mom and hugged her tight. She rubbed my back gently, “it’s alright, Andy. It’s Daddy.”
“Hi, Andy,” the person greeted. His voice very deep and heavy, very different from Mom’s warm soft voice. It scared me, I cried. Mom rocked me in her arms, walking down the corridor to my bedroom, and then put me down on my bed. I believed she tried to calm me down, but I couldn’t remember what she was saying because I was crying so hard. I stopped crying after a while, tired. I was sobbing, staring at Mom beside me, rubbing my forehead with her warm hand with thick and tough skin.
“Is he okay?” I could her that person’s voice, whispering.
“He just needs some time,” Mom replied.
My mobile vibrates in my pocket. I pick it up.
“Hello?”
“Andy.” It was Dad.
“Dad.”
“It’s the Mother’s Day.”
“Yes, I noticed. Everyone’s so happy about it.”
He laughed awkwardly. “Have you called your Mom?”
“Do I have to?”
“Please, Andy, call her. She misses you.”
I sighed. “Alright. I will.”
“Thank you.”
A couple minutes of silence.
“How’s Jenny?” I asked.
“She’s fine. She’s doing great at school. She just won a writing competition.”
“That’s awesome!”
“Yeah, but I think she’s been dating a boy from her class.”
“Wow! That’s great!”
“No! That boy has tattoos and piercings all over his body!”
“Oh, c’mon, Dad!”
“No, don’t ‘c’mon’ me! Talk to your sister. She won’t listen to me.”
I laughed a little bit. “Sure. I will.”
“Great. Remember, call your Mom.”
“Okay, Dad. I gotta go.”
“Alright. Bye.”
“Bye.”
My friends were waiting for me to have lunch together, so I decided to call later on that day.
I got home late at night, 11 o’clock, after a busy day. My phone rang. It was Dad again.
“You haven’t called Mom.”
“Sorry. I just got home. I’ll call her now.”
“Okay. Be nice to her.”
“Okay, Dad. Bye.”
“Bye.”
I looked for Grandma’s number in my phone book and dialled straight away.
“Nana, it’s Andy.”
“Hi, Andy. Mom’s been waiting for your call.”
She handed away the phone right away to Mom. I could hear Mom sobbing before she finally gathered up her voice to say, “hi, Andy.”
“Hi, Mom. How’ve you been?”
She was sobbing again. “I’ve been great, Andy. Thank you for calling.” I could hear trembling in her voice. “How are you, honey?”
“I’m fine, Mom. Thanks.”
She sobbed for another 10 minutes, I was listening. She finally hung up.
I sat for a while on the floor before going to the shower, taking my pills, and going to bed.
One day, I was crawling on the floor. I picked up a white plastic stick and chewed it, watching Mom crying in front of me. I heard the door bell rang. Mom got up and opened the door. A person came in. That person looked like Mom, only slimmer and with blonde hair. Mom took away the stick from me to show it to that person. “I’m pregnant,” she said.
“What? How?”
“It’s not his.”
“Oh, no, no, no. Is it that guy you’ve been talking about? I knew it!”
A few months later, a big tall person came. He saw Mom’s big belly. He was furious. He didn’t unpack his belongings; he left, leaving Mom crying on the floor.
When Jenny was born in the end of the year, Mom stopped crying. A few months after, she found another big tall person. His name is Daddy. Mom never cried again, until one day, she decided that she wasn’t good for all of us. Daddy spent months convincing her that she was the greatest Mom in the world. She wouldn’t listen. One morning, Daddy was away for work, Mom packed up. I came to her and said “Mom, I love you. Please, stay with us.”
“I love you too, Andy. That’s why I have to go,” she said, with tears all over her red face. The door bell rang. She fixed up her face so quickly. Dry, pretty, with a warm smile. She walked to the door, welcoming our lovely neighbour, an elderly woman.
“I’m sorry to trouble you,” Mom apologised sweetly.
“Not at all, sweety. It’s my pleasure to look after these lovely kids,” she smiled dearly.
“Thank you, Maddy. I’ve made breakfast. Please, have some.”
Maddy laughed happily, “I’d love to.”
Mom picked up her luggage and walked out the door.
“Why are you bringing such a large bag for grocery?” the old lady asked.
“Oh,” Mom laughed sweetly, “it’s the stuffs we got from Brunei. I got one for everyone. This is one for you.”
Mom took out a key chain and handed it to the lady. They all looked happy.
“Mom, don’t go!” I begged and cried.
“It’s alright, sweety. Mom’s just going for a grocery shopping. She’ll be back in no time,” said the old lady. I kept on sobbing. The old lady held my hand and took me to the kitchen, where she re-prepared the breakfast.
That day, Mom really did give away souvenirs we got from our trip to Brunei to all the neighbours. Then she disappeared. No one knew where or why.
The night after the Mother’s Day, Mom called me. She never called before. She called to apologise for walking away from us. What annoyed me was that she was still so persistent that it was best for everyone, that everything would have been worse otherwise.
I went to Grandma’s house the next day to visit Mom. Grandma told me that Mom’s gone to visit Dad and Jenny. So I went to Dad’s apartment. They haven’t heard of her. That day, she disappeared again and no one has ever found her.
The time we realised that she was gone, I looked to Dad. He looked broken, but calm. No one understood Mom better than he did.
11/12/09
Jika Aku menjadi Filsuf yang Mati Bunuh Diri
Kau bisa membantah, menyangkal, lalu hidup dalam kebohongan. Kau dapat menerima dan berduka. Kau dapat menerima dengan sukacita.
Sungguh kenyataan bahwa Tuhan ada. Ada satu Tuhan yang kita sebut Maha Kuasa. Ratusan manusia menyembahnya dengan berbagai cara, melalui berbagai agama. Namun, ada manusia yang membenci-Nya, yang tidak mengakui keberadaan-Nya, yang tidak peduli tentang-Nya, yang tidak mengetahui apa-apa tentang-Nya, bahkan yang memilih caranya sendiri untuk menyembah-Nya. Sungguh kenyataan bahwa mereka yang tidak menyembah-Nya pun memunyai tuhan untuk disembah. Esensi kehidupan manusia adalah menyembah dan menikmati tuhannya. Tanyakan pada John Calvin.
Apakah Tuhan, apakah uang, apakah kelamin, apakah diri sendiri yang disembah, pasti ada yang disembah. Setiap manusia memiliki inti dan tujuan hidup. Bahkan mereka yang tidak (pernah) memikirkannya. Yang mereka sembah adalah ketidakpastian dan yang mereka nikmati adalah kesia-siaan.
Manusia-manusia ini hidup bersama dalam kemasyarakatannya, keberagamannya, dan kesombongannya. Ketakutannya terhadap perbedaan, egoismenya, kebanggaannya yang berlebihan terhadap dirinya, egosentrismenya. Manusia.
Mereka bercampur aduk dalam kumpulan spesiesnya. Berusaha memenangkan apa yang di mata mereka patut dimenangkan. Mengejar apa yang mereka lihat pantas dikejar. Membunuh apa dan siapa yang menurut mereka harus mati.
Waktu terus berjalan dan akal terus merantau.
Angin sejuk cenderung dingin melewatiku. Aku memejam mata dan menarik napas panjang.
Aku bersandar kepada pagar pendek yang mengamankan manusia agar tidak jatuh ke laut. Aku menatap kepada keramaian, kepada lalu-lalang manusia, kepada organisme-organisme unik dan kompleks, karya tangan Sang Pencipta, Sang Penguasa, Yang Maha Kreatif.
Aku tertawa dalam hati, tersenyum kepada ironi, bertanya kepada Tuhan, mengapakah dengan ciptaanmu, manusia. Apakah sejak awal Engkau menciptakan kami sebagai pemberontak? Aku tidak mendengar jawaban. Manusia tidak lagi mendengar suara nyata dari Tuhan sejak zaman Perjanjian Baru.
Aku berbalik kepada laut, kepada gelombang air dengan sejuta kehidupan di dalamnya. Sydney Opera House di depanku dan Harbour Bridge di sebelahnya. Berdiri berdampingan dalam kemegahan. Saling tersenyum, meskipun tidak saling menyentuh atau berbincang.
Aku tertawa kepada laut, HAHAHAHAHAHA!
Tuhan, kupanggil nama-Nya, seonggok otak, segelintir pengetahuan, dan secuil akal, Engkau berikan kepada manusia, dan jadilah kami angkuh! Kami bahkan merasa melebihi-MU!! HAHAHAHAHA!
Kusadari beberapa orang mulai memerhatikanku tertawa terpingkal-pingkal, tertawa kepada laut. Kepada perairan lepas, aku berbagi lelucon kehidupan.
Kami bahkan terbatas di daratan, kami akan mati jika ditenggelamkan bulat-bulat di daratan, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Aku menunjuk kepada udara, tertawa kepada langit. Kami terbatas di daratan! Di tanah! Udara pun bukan tempat kami! Kami tidak terbang bebas seperti burung-burung di atas sana, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Ya, ya, aku menemukannya di Kitab Kejadian. Engkau memberikan kuasa kepada manusia, mandat. Salah satu keserupaan manusia terhadap-Mu. Kuasa. Kuasa kecil mungil yang Engkau berikan dan kami banggakan secara berlebihan. HAHAHAHAHA!
Betapa lucu hidup ini.
Aku bertumpu kepada lututku karena kakiku telah lemas berurusan dengan tawaku yang tak terhentikan. Satu tanganku menahan perutku yang keram dan mataku bercucuran air mata. Tanganku yang lain bertumpu kepada pagar pembatas.
HAHAHAHAHAHA!!
Aku beribadah, aku berdoa, aku melakukan apa yang Kau katakan baik, dan aku mengerti, dalam setiap kesulitan yang kualami, Engkau merencanakan kebaikan bagiku. Aku mengerti, aku menunggu waktu-Mu, aku tidak mengeluh, aku tidak menuntut, aku hanya berdoa untuk kekuatan, pimpinan, dan kebijaksanaan dari-Mu.
Aku pun berusaha mengerti bahwa Engkau Maha Adil. Keadilan-Mu tergenapi, di dunia dan di akhirat. Orang-orang membenci-Mu, menuntut-Mu, menunding-Mu, karena Engkau tidak mengehentikan perang, genosida, pembunhan, pemerkosaan, penganiayaan, multilasi, kanibalisme, dan semuanya itu. Engkau membuat peraturan bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan, tetapi Engkau membiarkan orang-orang lahir dengan penyimpangan itu. Aku berusaha mengerti, bahwa dalam setiap kenyataan, Engkau bekerja dengan cara-Mu.
Apakah kita, manusia ? Debu yang Engkau angkat. Apakah kita, manusia, untuk menuntut ini-itu kepada-Mu. Mengapakah kita, manusia, tidak mampu menyadari betapa banyak yang telah Engkau beri kepada kami.
Aku belajar tentang-Mu. Aku berusaha menyelami-Mu. Aku meminta hikmat, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengertian dari-Mu. Aku tak pernah mampu. Kau tak pernah bersedia memampukanku dan aku tidak pernah mampu mengerti mengapa.
Aku lelah. Aku lelah. Manusia merasa akalnya tak terbatas. Manusia salah. Aku salah. Aku lelah.
Laut, terimalah aku.
Tuhan, ambillah aku.
23/05/08
badai dan gempa
Mars : Bumi, kamu makin berair.
Bumi : Iya, aku berkeringat. Mereka membuatku kepanasan.
Merkurius : Begitu panaskah sampai kau menangis, Bumi?
Bumi : Iya, mereka juga menyakitiku. Mereka merusakku.
Mars : Bukankah itu sudah lama mereka lakukan?
Bumi : Mereka bertambah parah. Kulitku, dagingku, darahku, udaraku, semuanya! Mereka tidak mau menyisakan apapun! Oh, Matahari! Panasmu pun ikut menyengatiku!
Matahari : Maafkan aku, Bumi. Bukan kehendakku. Bukan kuasaku untuk meredam atau menghentikan pijar panas dan cahayaku sendiri. Namun, kau telah diberi selimut ozon untuk tetap terlindung dariku. Apakah mereka juga mengambilnya darimu?
Bumi : Ya, mereka melubanginya. Bagi mereka telah tersedia berbagai kenyamanan dariku, sehingga mereka telah menjadi parasit bagi diriku sendiri.
Mars : Kawan, mereka berkembang biak terlalu cepat. Mereka akan semakin mebutuhkan banyak darimu.
Matahari : Ah, mereka selalu punah pada akhirnya. Mungkin kali ini akan punah kupanggang. Namun, Bumi, kau tetap bundar dan mengitariku.
Bumi : Tidak, Matahari. Mereka tak pernah punah. Selalu ada sisa dari mereka yang akhirnya berkembang biak gila-gilaan lagi dan merubah-ubah wajahku lagi.
Mars : Toh kami akan tetap mengenalmu.
Merkurius : Ya. Orbit dan posisimu tak berubah.
Bumi : Hahaha! Betul juga! Tapi aku tetap kepanasan!
Mars : Mari kutiup dirimu agar sejuk!
Merkurius : Aku juga mau meniupimu!
Matahari : Bolehkah aku ikut?
Bumi : TIdak! Jika kau lakukan itu, aku akan terpanggang lidah api dan musnah!
Mars dan Merkurius : (meniupi Bumi).
Mars : Bagaimana? Sudah lebih baik?
Bumi : Jauh lebih baik, tetapi wajahku menjadi berantakan karena badai.
Matahari, Bumi, Mars, dan Merkurius : (tertawa bersama)
Bumi : (gempa)