-->
28/01/18
Dua Garis.
-->
09/05/11
Mother's Day
I was born in the middle of the year. My sister was born in the end of the year. My sister was very little, red and fragile. We were in the living room. I was playing with my red car. She was inside her baby basket. I was staring at her from a distance. She stared back. The cracking sound of the front door distracted me from her. I looked to the door, then looked away because the light from outside hurt my eyes. Mom came in with a person behind her; a big tall person, with short hair. I had seen one of this kind before.
“Come here, Andy!” Mom called. I ran to her and hugged her leg. She touched my head and brushed my hair with her fingers gently. She picked me up.
“Andy, this is Daddy,” she said, pointing to the big tall person next to her. I starred at that person anxiously. I turned to Mom and hugged her tight. She rubbed my back gently, “it’s alright, Andy. It’s Daddy.”
“Hi, Andy,” the person greeted. His voice very deep and heavy, very different from Mom’s warm soft voice. It scared me, I cried. Mom rocked me in her arms, walking down the corridor to my bedroom, and then put me down on my bed. I believed she tried to calm me down, but I couldn’t remember what she was saying because I was crying so hard. I stopped crying after a while, tired. I was sobbing, staring at Mom beside me, rubbing my forehead with her warm hand with thick and tough skin.
“Is he okay?” I could her that person’s voice, whispering.
“He just needs some time,” Mom replied.
My mobile vibrates in my pocket. I pick it up.
“Hello?”
“Andy.” It was Dad.
“Dad.”
“It’s the Mother’s Day.”
“Yes, I noticed. Everyone’s so happy about it.”
He laughed awkwardly. “Have you called your Mom?”
“Do I have to?”
“Please, Andy, call her. She misses you.”
I sighed. “Alright. I will.”
“Thank you.”
A couple minutes of silence.
“How’s Jenny?” I asked.
“She’s fine. She’s doing great at school. She just won a writing competition.”
“That’s awesome!”
“Yeah, but I think she’s been dating a boy from her class.”
“Wow! That’s great!”
“No! That boy has tattoos and piercings all over his body!”
“Oh, c’mon, Dad!”
“No, don’t ‘c’mon’ me! Talk to your sister. She won’t listen to me.”
I laughed a little bit. “Sure. I will.”
“Great. Remember, call your Mom.”
“Okay, Dad. I gotta go.”
“Alright. Bye.”
“Bye.”
My friends were waiting for me to have lunch together, so I decided to call later on that day.
I got home late at night, 11 o’clock, after a busy day. My phone rang. It was Dad again.
“You haven’t called Mom.”
“Sorry. I just got home. I’ll call her now.”
“Okay. Be nice to her.”
“Okay, Dad. Bye.”
“Bye.”
I looked for Grandma’s number in my phone book and dialled straight away.
“Nana, it’s Andy.”
“Hi, Andy. Mom’s been waiting for your call.”
She handed away the phone right away to Mom. I could hear Mom sobbing before she finally gathered up her voice to say, “hi, Andy.”
“Hi, Mom. How’ve you been?”
She was sobbing again. “I’ve been great, Andy. Thank you for calling.” I could hear trembling in her voice. “How are you, honey?”
“I’m fine, Mom. Thanks.”
She sobbed for another 10 minutes, I was listening. She finally hung up.
I sat for a while on the floor before going to the shower, taking my pills, and going to bed.
One day, I was crawling on the floor. I picked up a white plastic stick and chewed it, watching Mom crying in front of me. I heard the door bell rang. Mom got up and opened the door. A person came in. That person looked like Mom, only slimmer and with blonde hair. Mom took away the stick from me to show it to that person. “I’m pregnant,” she said.
“What? How?”
“It’s not his.”
“Oh, no, no, no. Is it that guy you’ve been talking about? I knew it!”
A few months later, a big tall person came. He saw Mom’s big belly. He was furious. He didn’t unpack his belongings; he left, leaving Mom crying on the floor.
When Jenny was born in the end of the year, Mom stopped crying. A few months after, she found another big tall person. His name is Daddy. Mom never cried again, until one day, she decided that she wasn’t good for all of us. Daddy spent months convincing her that she was the greatest Mom in the world. She wouldn’t listen. One morning, Daddy was away for work, Mom packed up. I came to her and said “Mom, I love you. Please, stay with us.”
“I love you too, Andy. That’s why I have to go,” she said, with tears all over her red face. The door bell rang. She fixed up her face so quickly. Dry, pretty, with a warm smile. She walked to the door, welcoming our lovely neighbour, an elderly woman.
“I’m sorry to trouble you,” Mom apologised sweetly.
“Not at all, sweety. It’s my pleasure to look after these lovely kids,” she smiled dearly.
“Thank you, Maddy. I’ve made breakfast. Please, have some.”
Maddy laughed happily, “I’d love to.”
Mom picked up her luggage and walked out the door.
“Why are you bringing such a large bag for grocery?” the old lady asked.
“Oh,” Mom laughed sweetly, “it’s the stuffs we got from Brunei. I got one for everyone. This is one for you.”
Mom took out a key chain and handed it to the lady. They all looked happy.
“Mom, don’t go!” I begged and cried.
“It’s alright, sweety. Mom’s just going for a grocery shopping. She’ll be back in no time,” said the old lady. I kept on sobbing. The old lady held my hand and took me to the kitchen, where she re-prepared the breakfast.
That day, Mom really did give away souvenirs we got from our trip to Brunei to all the neighbours. Then she disappeared. No one knew where or why.
The night after the Mother’s Day, Mom called me. She never called before. She called to apologise for walking away from us. What annoyed me was that she was still so persistent that it was best for everyone, that everything would have been worse otherwise.
I went to Grandma’s house the next day to visit Mom. Grandma told me that Mom’s gone to visit Dad and Jenny. So I went to Dad’s apartment. They haven’t heard of her. That day, she disappeared again and no one has ever found her.
The time we realised that she was gone, I looked to Dad. He looked broken, but calm. No one understood Mom better than he did.
16/08/10
tentang kematianku
Namun, sekarang, aku ingin mati, lagi. Bukan karena masalah-masalah yang menghimpitku, meskipun demikian orang-orang akan menuduhku, setelah kematianku. Aku tidak peduli. Ketika aku membuka jendela apartemenku, lantai 24, aku berpikir kembali, berusaha memastikan bahwa keputusanku tepat. Aku bukan anak cengeng yang bunuh diri karena putus cinta, aku muak berbuat dosa, aku ingin berhenti berbuat dosa, dan inilah cara yang tepat.
Aku melompat.
Terjun.
Angin menerpa keras kulitku, membuat kulitku berkelepak.
Sebelum aku menyentuh aspal, aku teringat seorang teman baikku, yang memperkenalkanku kepada Tuhannya, yang mengampuni dosa manusia dan menebus manusia dari perbudakan dosa karena kasih-Nya terhadap manusia.
Lalu hitam.
29/06/10
tetang orang tua Inda
Pagi tadi, aku punya sandwich di tangan kananku dan kopi di tangan kiriku. Mereka semua jatuh ke lantai. Terpaksa kubersihkan. Akibatnya, aku terlambat ke sekolah dan sekarang aku lapar. Dengan perut ribut, aku menghampiri kelasku. Kuketuk pintunya.
“Masuk,” kata Bu Guru.
Aku masuk.
“Kenapa kamu telat lagi?”
“Ummm... “ Aku berusaha menceritakan kisahku dengan singkat dan padat.
“Ya sudah, sana duduk,” ia memotong. Aku tidak jadi bercerita.
Begitu aku mencapai tempat dudukku, seorang siswa di belakangku menyeletuk, “huh, mentang-mentang kaya, telat terus ke sekolah!”
Aku acuh karena tidak mengerti relevansi antara kaya dan terlambat ke sekolah. Tak lama, sebuah benda keras menghantam kepalaku. Ternyata penggaris. Aku menoleh ke belakang. Kepalaku berdenyut sakit.
“Denger gak aku ngomong?” Teman sekelasku tidak senang kuacuhkan.
Aku segera menoleh ke depan, memproses air mata di mataku, lalu berteriak “Buuuuu! Adi mukul aku pake penggaris!”
“Eh, nggak kok! Nggak! Kamu bo’ong!” Adi mengelak. Aku terisak.
Bu Guru membentak, “kalian berdua ya! Kenapa selalu ribut?”
Tangisku kubuat semakin kuat “aaaaaaaaa! Adi duluan, Buuuuu!”
“Adi, kenapa kamu mukul Inda?”
“Dia kan telat, Bu...”
“Kalau Inda telat, Ibu yang hukum, bukan kamu!”
“Tapi Ibu gak hukum dia! Ibu suruh duduk!”
“Karena Ibu mau mengajar. Hukumannya nanti, waktu istirahat. Kamu juga gak boleh mukul temen kamu begitu! Minta maaf!”
“Gak mau!”
“Kamu mau Ibu hukum juga?”
“Gak mau!”
“Minta maaf!”
“Nggak!”
Jam istirahat, teman-teman berkejar-kejaran di lapangan, makan di kantin atau di kelas, aku dan Adi berdiri dengan satu kaki memijak lantai, satu kaki diangkat setinggi lutut, dan dua tangan di telinga, di depan ruang guru, ditertawakan anak-anak yang berlalu-lalang.
“Gara-gara kamu nih, aku jadi dihukum!” bentak Adi.
“Aku gak nyuruh kamu mukul aku pake penggaris.”
“Aku tadi ngomong sama kamu, tapi kamu cuekin!”
“Abis omongan kamu gak penting!”
“Sialan!”
Kami pun saling pukul sampai seorang guru datang melerai. Kami pun naik banding ke ruang kepala sekolah. Kedua orang tua kami dipanggil. Seperti biasa, orang tuaku tidak pernah menggubris panggilan sekolah. Tanteku, seperti biasa, memenuhi panggilan kepala sekolah.
Bahkan ketika aku diwisuda dari perguruan tinggi. Bahkan ketika anak mereka memperoleh nilai tertinggi di angkatannya. Seperti biasa, hanya Tante yang datang.
“Jeng Diah, Inda,” Ibu Adi datang menghampiri kami dengan senyumnya yang selalu tulus dan hangat, “ayo foto bareng kita.”
“Tante! Ayo!”
Aku dan tanteku bergabung dengan Adi sekeluarga.
Adi, seperti biasa, kuliah dengan beasiswa. Sejak SD, selalu beasiswa. Orang tuanya tidak sanggup membiayainya. Ia anak tunggal yang sangat berbakat dan pintar, dari keluarga yang tidak berada. Orang tuanya tentu menaruh harapan yang sangat besar padanya.
“Lu kenapa ngeliatin gue kayak gitu?”
“Lagi mikir aja,” kataku, “gue punya orang tua yang bisa bayarin sekolah, tapi males.Elu...”
“Hahaha... Tapi 4 tahun ini lu rajin banget banget banget!”
“Iya, karena gue mau nunjukin ke bokap nyokap gue kalo gue bisa... Emmm... Gitu deh. Ternyata...”
“Jangan sedih, Da. Gue yakin, nyokap lu sebenernya bangga sama lu.”
“Hah... Dateng aja nggak.”
Ia terdiam. Merenung.
“Udah lah! Starbucks! Ngidam green tea!” seruku.
Kenakalan dan nilai rendah tidak sanggup menarik perhatian mereka. Nilai tinggi dan prestasi pun tidak.
“Da,” panggil Adi ketika aku sedang menyeruput teh hijau dinginku, “kayaknya gue bakal langsung ngelanjutin S2 deh.”
Aku hampir tersendak.
“Gak salah? Gak mau cari kerja dulu? Istirahat dulu?”
“Hehehe. Nggak, Da. Gue udah dapet beasiswa, tapi di Jogja. Bulan depan gue udah harus berangkat.”
Aku benar-benar tersendak. Aku terbatuk-batuk dan ia menepuk-nepuk pundakku.
“Trus lo bakal ninggalin gue sendirian di sini?”
“Yah lo gak bakal sendirian lah, Da. Temen lo yang lain kan masih banyak.”
“Beda. Mereka tuh cuma deket-deket gue karena gue sering traktir mereka belanja, nonton, makan...”
“You’ll be fine, Da.”
Aku menghela napas.
“Sebelum lo pergi, lo harus nginep dulu di rumah gue yah!”
“Oke.”
Adi:
Ini bukan pertama kalinya aku menginap di rumah dia. Sejak kami mulai akrab saat kami menginjak jenjang SMP, aku telah berkali-kali menginap di rumah Inda. Rumah mewah, besar, dengan kamar tamu seluas seluruh rumahku.
Tantenya adalah wanita yang sangat baik. Sangat ramah. Bertahun-tahun, aku bersekongkol dengannya, menutupi kenyataan dan berbohong kepada Inda, tentang kedua orang tuanya. Bertahun-tahun lalu, kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan salah satu sepupu Inda. Ketika mereka melewati sebuah jalan yang sepi dan gelap, mereka dirampok, dan dibunuh. Hal itu terjadi saat aku dan Inda masih duduk di bangku SD, seminggu sebelum Inda pindah ke sekolahku.
Tante Inda menangis di depanku. “Kalo kamu pergi, siapa yang bakal jagain Inda? Gimana kalo ada temennya yang jahat, ngomong macem-macem sama dia?”
“She’ll be fine, Tante.”
Aku tidak akan membiarkannya hidup dalam kebohongan selamanya. Sebelum aku pergi, ia harus tahu kebenaran ini dan ia harus menerimanya.
25/06/10
laut malam
Aku berlari sampai air mencapai dadaku, kutarik napas dalam-dalam, dan aku pun menyelam. Terus mengayuh dan menendang ke arah yang lebih dalam. Kubuka mataku, perih. Di depanku, adikku. Juga berenang, menyelam, melambai dan tersenyum kepadaku. Aku berenang mendekat ke arahnya. Rambut hitam pekatnya melambai-lambai, mata hitamnya, hitam benar-benar hitam, berkedip-kedip, kulit putihnya sungguh putih, gaun hitamnya berjuntai dan melambai-lambai. Ia seolah menyatu dengan arus dan ombak. Ia tersenyum. Kami berpelukan. Ia sedingin batu karang.
Aku terbangun. Seluruh tubuhku basah. Matahari terik, menyinari pasir putih. Pasir-pasir putih menempeli tubuhku yang basah. Aku mencari kamar mandi. Membasuh diriku, lalu pulang.
Aku berjalan menuju halte bus terdekat, lalu melambaikan tangan, sebuah bus berhenti. Sang sopir menatap aku yang basah kuyup.
“A ticket to City, please.”
“Three dollars.”
“Thank you.”
Aku duduk. Bangku yang kududuki menjadi basah. Beberapa penumpang lain menatapku sejenak. Lalu kembali ke lamunan, buku, dan ponsel masing-masing.
Aku menatap ke luar jendela. Melamun. Tawa adikku bergema dalam telingaku. Musim panas tahun lalu, Ayah, Ibu, dan Adik datang menjengukku dari Indonesia ke Australia. Adikku sedang liburan panjang pergantian semester. Saat itu, ia kelas 2 SMA. Satu setengah tahun kemudian, seharusnya ia datang melanjutkan kuliahnya di sini. Setengah tahun lagi, seharusnya ia datang, mempersiapkan kuliahnya tahun depan.
Musim panas tahun lalu, di bandara, aku menyambut Ayah dan Ibu dengan pelukan hangat, dan adikku dengan tatapan dan “halo”. Ia tersenyum dan membalas sapa “halo, Kak”. Sejak kecil, kami tidak pernah akur. Aku benci padanya. Ia selalu berusaha meniruku dan aku tidak suka ia meniruku. Ayah dan Ibu suka membanding-bandingkanku dengannya, dan mereka tidak pernah adil.
Lamunanku bertambah jauh. Bertahun-tahun lalu, di rumah kita di Jakarta, di Indonesia. Aku berumur 7 tahun, adikku 4 tahun. Kami berdua bermain-main di dapur, sambil memperhatikan Ibu membuat kue. Aku melihat tepung-tepung bertaburan di atas meja. Aku ingat iklan kosmetik di televisi. Kuluruskan telapak tanganku, kuraih tepung yang bertebaran di atas meja, lalu kuoleskan di wajahku. Sebelah wajahku menjadi putih. Aku kaget karena tiba-tiba Ibu memukul tanganku.
“Jangan mainan tepung!” teriaknya.
Wajahku memerah. Aku menahan tangis. Adikku tampak sedih. Ia ingin menemaniku. Ia mencolek sedikit tepung dari meja dengan telunjuknya, lalu ia mengoleskannya di wajahnya. Satu garis putih terbentuk di sebelah pipinya. Ibu tersenyum melihat hal itu. Ia ikut mencolek sedikit tepung, lalu mengoleskannya ke hidung adikku. Lalu Ibu tertawa. Adikku menoleh kepadaku dan menatapku. Wajahku merah, marah. Adikku tampak sedih.
Kurasa, aku tidak pernah mengerti bahwa adikku selalu mengidolakanku. Aku selalu melihatnya sebagai anak yang diidam-idamkan Ayah dan Ibu. Bodohnya aku karena aku selalu menyalahkan adikku, yang juga selalu bersedih atas perlakuan Ayah dan Ibu terhadapku. Ia selalu membangkang, menolak perhatian dan perlakuan manis Ayah dan Ibu, dan selalu direspon dengan kata-kata dan perlakuan manis mereka. Aku berusaha menjadi anak baik, melakukan semua yang mereka ingin kulakukan, tetapi aku tidak pernah cukup baik.
Aku turun di sebuah halte dekat apartemenku. Aku pulang, mandi, makan siang, lalu tidur.
Aku memimpikan adikku. Musim panas tahun lalu. Ayah, Ibu, aku, dan Adik, menginap di sebuah hotel. Kami menyewa dua kamar yang tersambung dengan sebuah pintu. Ayah dan Ibu di satu kamar, aku dan Adik di kamar lainnya. Malam yang panas, kami semua terlelap, dibuai pendingin ruangan.
Adik terbangun. Ia membangunkanku.
“Apaan sih kamu? Udah malem! Jangan ganggu! Sana tidur!” bentakku.
“Ke pantai yuk, Kak?”
“Kamu gila?! Malem-malem gini?!”
“Aku mau berenang, Kak!”
“Sinting kamu! Besok pagi aja!”
“Ayo, Kak, aku gak bisa tidur!”
“Pergi aja sendiri! Aku ngantuk!”
Malam itu, bulan bulat mengintip dari balik awan hitam, malu-malu menyapa satu dua bintang yang berkelip, menghiraukan ribuan bintang lain yang hanya bertabur.
Malam itu, ia berenang di laut, terseret ombak besar, menabrak karang, dan ditemukan keesokan paginya. Di atas pasir, dengan kakinya terbenam dalam pasir yang terseret ombak lalu-lalang, dan ia pun diterpa-terpa ombak yang datang dan pergi, membuat kepalanya bergeleng-geleng mengikuti sapuan ombak. Rambut hitamnya yang panjang turut melambai, menyatu dengan irama ombak.
Malam ini, aku kembali ke laut. Menyelam. Ke arah yang lebih dalam dan tidak pernah kembali.
07/04/10
botol kaca
Kepalanya dibalut sorban, janggutnya menjuntai-juntai, jubahnya putih panjang, bahasanya bukan Indonesia. Entah apa yang ia komat-kamitkan, si tuyul yakin, manusia itu pun tak mengerti. Manusia itu bersama manusia-manusia lain, yang tampak lebih normal, tetapi membawa peralatan-peralatan yang asing bagi si tuyul. Manusia-manusia itu berdiri di sekitar manusia berjanggut panjang yang sedang berusaha mengurung si tuyul ke dalam botol.
“Cut!” kata salah seorang manusia di antara mereka, “raut wajah kamu kurang dramatisir!”
Si tuyul yang belajar bahasa Indonesia di sekolah bertanya-tanya, bukankah “dramatisir” tidak baku?
“Aduh, mau gimana lagi? Ini saya udah ngeden-ngeden!” kata si janggut.
“Ngeden lebih kuat lagi!” bentak manusia tadi. “Ulang!” teriaknya.
Si tuyul pun dilepas lagi. Belum jauh ia lari, ia ditarik lagi oleh si janggut. Kembali ia meronta-ronta, menjerit-jerit, berusaha lari, percuma. Ia tertangkap, dijejalkan lagi ke dalam botol kaca, dikurung lagi. Pacarnya sedih melihatnya disiksa begitu, tetapi tidak berani keluar dari persembunyiannya.
Lama-kelamaan, pacarnya tidak tahan juga. Ia keluar sedikit, mengintip, tetapi langsung masuk lagi karena terlalu takut.
Terlambat. “Itu! Di sana! Ada satu lagi!” teriak salah satu manusia yang sempat melihat penampakan pacarnya. Pacarnya pun turut ditarik-tarik, ditangkap, dijejalkan, dan dikurung di dalam botol yang sama dengannya.
Mereka berdua dibawa ke kediaman sang pria berjanggut.
Keesokan harinya, ketika pagi menyapa dan sinar matahari menerangi seisi ruangan tempat mereka berada, sadarlah mereka bahwa mereka berada di ruangan berisi rak-rak besar. Dalam rak-rak besar itu, tertata rapi botol-botol kaca. Dari minuman soda, teh, maupun sirup. Botol-botol yang tampak kosong oleh mata awam, di mana tuyul-tuyul terkurung.
Siang hari, pintu berdecit pelan, terbuka perlahan. Pak Janggut masuk bersama seorang manusia lain. Pria, kulit hitam, tulang-tulangnya tampak kokoh, otot-otot liatnya tampak keras berurat tebal menempeli tulang-tulangnya, wajahnya sungguh bukan ningrat. Tentu saja, anggota masyarat jelata yang bosan melarat, tetapi tidak mempunyai kualitas untuk meningkatkan taraf hidup (atau tidak tahu caranya).
Mereka tampak berbisik-bisik. Tak lama kemudian, si manusia pekerja itu menyelipkan beberapa lembaran ke tangan si janggut. Tuyul manapun pasti tahu, lembaran-lembaran itu adalah uang, duit, fulus, apapun namanya. Manusia pekerja itu berjalan mengelilingi ruangan. Mengamati botol-botol kaca, satu per satu. Lalu, ia berhenti saat matanya tertuju kepada botol yang ditempati si tuyul dan pacarnya. Ia meraih botol mereka pelan-pelan dengan satu tangannya, lalu membelai permukaan botol itu dengan tangannya yang lain. Kemudian ia dekatkan dan tempelkan botol itu ke dadanya, lalu ke wajahnya.
Si laki-laki pekerja meletakkan botol yang baru saja ia dapat dari rumah si janggut. Setelah usahanya berpuasa untuk menabung, akhirnya ia mengumpulkan cukup uang untuk membeli tuyul. Botol tersebut tampak kosong. Ia mengeluarkan sebungkus ramuan pemberian si janggut. Ia buka bungkusan tersebut, isinya adalah jumputan daun yang telah ditumbuk. Ia telan dan ia ucap mantra yang telah diajarkan si janggut. Seketika, sepasang tuyul pun menjadi kasat mata baginya. Ia tersenyum puas.
Istrinya tiba-tiba membuka pintu kamarnya dengan kasar. Begitu masuk, ia langsung berteriak-teriak “ngapain kamu di sini? Gak narik? Udah miskin, males kerja! Kapan kita bisa kaya?”
Melihat reaksi suaminya yang tidak biasa, ia pun kembali berteriak-teriak “kenapa kamu senyum-senyum? Bego kamu?”
“Mulai besok, kita ndak akan miskin lagi,” ucapnya pelan.
“Apa kamu bilang?” istrinya tetap berteriak.
“Mulai besok, kita akan kaya.”
“Gimana bisa kita kaya kalo kamu cuman duduk-duduk begitu kerjaannya??”
Manusia pekerja itu hanya tersenyum.
“Ngapain kamu pegang-pegang botol sirup begitu?” bentak istrinya.
“Kamu ingat pertama kali kita ketemu?”
“Hah? Ngomong apa sih kamu?”
Si manusia pekerja ini pun bercerita panjang lebar, mengingatkan istrinya akan kisah cinta mereka. Bertahun-tahun lalu, jalanan tanah menjadi becek dan berlumpur karena hujan deras. Istrinya berlari-lari ke warung terdekat dari rumahnya, membeli sebotol sirup untuk tamu yang sedang dijamu keluarganya. Keluarga Pak Lurah yang datang melamarnya. Dalam perjalanannya pulang, ia tertabrak sepeda. Sebotol sirup di tangannya terbanting ke tanah dan pecah. Segera ia memarahi laki-laki yang menabraknya. Namun, begitu mereka berada di jarak yang cukup dekat untuk saling memandang, mereka pun diam, saling menatap, reda pula amarah perempuan itu. Hari itu juga, ia menolak anak Pak Lurah, yang gendut dan manja, untuk menjadi suaminya.
Awalnya, si istri tersenyum-senyum mengingat kenangan manis mereka, tetapi seketika kemudian, ia pun menjadi ketus “Sialan! Kalo waktu itu aku ndak ketemu kamu, aku udah jadi istri Si Gendut itu! Lihat istrinya sekarang! Gendut, jelek, tapi baju dan perhiasannya bagus-bagus! Ndak pantas tho kalo dia yang pake! Lebih cocok buat aku!”
Si pekerja tersenyum. Besok-besok, kamu udah bisa beli baju dan perhiasan yang cantik-cantik, batinnya.
Malam itu, sepasangan tuyul ditugaskan untuk mencuri uang dari rumah Pak Lurah. Mereka berlari dan berlompatan menuju rumah Pak Lurah, merasakan kebebasan kehidupan di luar botol kaca. Sampai di rumah Pak Lurah, mereka bahkan tak perlu memanjat dinding. Mereka menembus.
“Hei, ini rumah si gendut!”
“Iya! Ssst! Jangan berisik!”
Tanpa mereka sadari, si gendut yang mereka bicarakan telah berdiri di belakang mereka, bersama dengan istrinya.
“Heh! Ngapain kalian di sini? Ke mana aja kalian?” bentaknya. Tanpa menunggu jawaban, ia pun melanjutkan, “saya udah punya tuyul baru! Saya gak butuh kalian lagi!”
Kedua tuyul itu hanya cekikian.
“Apa? Kenapa kalian ketawa?”
“Anu, kami disuruh orang lain.” aku salah satu dari mereka, sebelum mereka cekikian lagi.
Si gendut saling tatap dengan istrinya. “Siapa?!” si gendut murka.
“Anu, ...” salah satu dari mereka menunjuk ke luar jendela.
“Siapa??” si gendut semakin penasaran. Ia mendekatkan wajahnya ke arah jendela dan menatap jauh ke luar.
“Itu,” si tuyul menunjuk lagi, “yang atapnya seng.”
Si gendut semakin murka, “kan banyak yang atapnya seng! Ah!”
“Hihihihi... Itu, yang ada kucingnya.” Hanya ada satu atap rumah yang saat itu diduduki seekor kucing. Seekor kucing hitam kurus, kucing liar.
Si gendut mendengus jijik, juga puas.
“Ya sudah! Kalian sana! Ambil uang saya dan perhiasan istri saya!”
Si tuyul dan pacarnya bingung, tetapi tetap menjalankan tugasnya.
“Kita panggil polisi sekarang?” tanya istri si gendut yang juga gendut.
“Ah, besok pagi saja,” jawab si gendut.
12/03/10
sekolah
Sudah lama aku tidak mengunjungi Indonesia, negara kelahiranku, sang surga yang sedang menuju kehancuran. Musim dingin tahun ini, aku pulang. Pertama, karena aku benci musim dingin. Kedua, untuk memperkenalkan calon suamiku kepada keluargaku.
Hari ketiga di Indonesia, Minggu pagi, sebelum ke gereja, aku menyempatkan diri menengok SDN 13 Petang, tempatku mengajar dahulu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengambil program sarjana untuk Fine Arts di Australia.
Minggu pagi, sejuk embun, kicau burung, mengatasi kesunyian. Sebuah bajaj berlalu, asapnya mengepul. Sambil mengibas-ngibas udara, aku berjalan memasuki gerbang sekolah. Seorang pria tua sedang menyapu lapangan.
“Aki,” sapaku. Ia menoleh. Terulas senyum di wajahnya.
“Bu Sarah,” ia ingat.
Minggu masih juga pagi. Aku memutuskan untuk mampir ke pasar dekat rumah, membeli sekilo belimbing dan sekilo mangga, buah-buahan yang sungguh mahal di Australia. Di Sydney, tempatku menetap, mangga berharga 2-3 dolar Australia per buah, sementara belimbing, terhakhir kutengok, 14.9 dolar Australia per buah. Kurs 1 dolar Australia = 8000-9000 rupiah. Maka, mumpung masih di Indonesia, aku harus puas membabat dua jenis buah itu.
Ponselku bergetar. Hanung, calon suamiku, menelepon. Ia sudah menunggu di depan pasar, menjemputku.
Ia berasal dari Medan. Kami memutuskan untuk ke Jakarta dahulu, bertemu keluargaku, sebelum ke Medan untuk bertemu keluarganya.
Setelah membayar belanjaan, aku berjalan cepat keluar dari pasar. Sejenak, aku berpapasan dengan seorang perempuan belia. Serasa aku mengenalnya. Ia pun menatapku sejenak. Namun, kami terus berlalu, dikejar waktu dan kesibukan masing-masing.
Sampai di mobil, aku menaruh buah-buahan di jok belakang, sebeluym akhirnya duduk di sebelah Hanung yang menyetir. Rem tangan ia lepas, tetapi tak jadi kita berangkat, sebab aku berteriak “Stop!”. Ia pun segera rem mendadak, membuat mobil di belakangn kami, yang hendak keluar dari parkiran menjadi terkejut. Klakson panjang dan makian pun mengotori udara.
“Ada apa, Sayang?” tanya Hanung.
“Ada yang kelupaan.”
Tanpa menunggu reaksinya, aku segera beranjak turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam pasar.
Aku mencari-cari wajah yang tadi kulihat. Aku ingat dia, Siti, namanya.
“Siti!” teriakku begitu pandanganku menangkap sosoknya.
Ia menoleh, tampak bingung. Ketika ia melihatku kemakin mendekat dan munkin ia mulai mengoingatku, ia berlari menjauh, lalu menghilang.
Aku membeli sekotak kue lupis, favoritku.
“Tadi lupa beli ini,” alasanku kepada Hanung ketika aku masuk kembali ke mobil. Ia hanya menggeleng dan tersenyum.
Senin pagi, aku ke pasar lagi. Pertama, untuk mencari Siti. Kedua, membeli gula jawa, favoritku. Tidak lupa, jagung manis, wortel, bihun, ayam, dan segala yang kuperlukan untuk memasak sekuali sup jagung, favoritku.
Setelah semua daftar belanjaan terpenuhi, aku pun mulai berkeliling pasar, berusaha mencari Siti. Dari kejauhan, mataku menangkap sosoknya. Ketika aku berjalan mendekat, ia tampak mulai waswas. Namun, kali ini, ia tidak dapat beranjak karena ia rupanya berjualan sayur dan saat itu, ia sedang melayani seorang pelanggan wanita paruh baya.
Aku telah berdiri tepat di sebelah pelanggannya. Aku turut memilah-milah sayur-mayur hijau di depanku. Aku benci sayur hijau, tetapi akan kubeli seikat kemangi untuk Hanung. Pelanggannya membayar, lalu pergi. Aku memasukan seikat kemangi ke keranjang belanjaku, lalu membayar sepuluh ribu rupiah. Ketika ia hendak memberi kembalian, aku menolak.
“Ibu Sarah,” ucapnya lirih.
“Siti, gimana kabarmu?”
“Baik, Bu.”
Kami sama-sama tersenyum. Agak kaku, tetapi tulus.
“Kamu tinggal di mana sekarang?” tanyaku.
“Masih sama, Bu, di belakang pasar.”
“Boleh kalau sekali-sekali saya mampir?”“Ah, jangan, Bu. Malu. Rumah saya kecil.”
“Jangan malu kalau tidak salah, Siti.”
Ia mengangguk dan tersenyum.
Ke rumah Siti, aku berkunjung. Tidak kecil seperti yang disebutnya tempo hari. Rumah yang tenang dan sederhana.
“Mari masuk, Bu.”
“Terima kasih, Siti.”
Hal pertama yang kulihat di sana adalah sebuah pigura di dinding ruang tamunya. Seorang pria, Siti, dan seorang anak perempuan.
Tak lama, pria dalam pigura itu muncul dalam bentuk nyata di depanku.
“Kenalkan, Bu, ini Joko, suami saya.”
Kami saling tersenyum dan bersalaman.
Suami? Berapa umur dia sekarang? 16 atau 17? Terlalu muda untuk berkeluarga.
Siti menunjuk kepada sesosok anak perempuan dalam pigura itu, “ini anak saya. Sekarang lagi di sekolah.” Anak itu lebih mirip Siti daripada Joko. Umurnya mungkin 5 atau 6 tahun. Pasti masih kelas 1 SD. Eh, kapan Siti menikah jika anaknya sudah sebesar itu?
“Di SDN 13?” iseng, kubertanya.
Namun, kemudian aku merasa bersalah karena kegembiraan di wajah Siti lenyap.
“Bukan, Bu. Di SDN 06 Pagi.”
“Maaf, Siti.”
“Ndakpapa, Bu.”
Mereka menjamuku makan siang. Sederhana dan nikmat. Nasi putih, tempe, dan kangkung. Betapa aku merindukan masakan semacam ini.
Sampai di rumah, aku masih dibayangi perasaan bersalah karena pertanyaan yang kulontarkan tadi. Aku teringat akan saat-saat terakhir aku mengajar musik dan bahasa Indonesia di SDN 13 Petang.
Siti adalah salah satu murid paling cermelang. Kesayangan semua guru. Menangkap pelajaran dengan cepat, cerdas, rajin, sopan, baik, taat beribadah, sempurna, idaman, lengkap. Masalahnya hanya satu, masalah klasik kebanyakan murid sekolah negeri yang miskin, kesulitan membayar uang sekolah. Ayahnya sudah meninggal , ibunya menghidupi dirinya, Siti, dan adik Siti dengan berjualan sayur di pasar dekat rumahnya.
Sebenarnya, SDN 13 menerima subsidi pemerintah (selayaknya sekolah negeri), sehingga uang bulanan yang harus dibayar siswa relatif murah. Namun, beberapa siswa berkemampuan ekonomi terlalu jauh di bawah garis kemiskinan sampai subsidi pemerintah pun tak mampu lagi menolong mereka. Tak sedikit dari mereka yang putus sekolah karenanya.
Selain itu, kami juga mengadakan program subsidi silang, di mana murid-murid dengan kemampuan finansial lebih baik membayar lebih untuk menutupi kekurangan murid-murid yang tidak mampu. Namun, karena proporsi murid yang tidak mampu terlalu besar dibandingkan dengan yang mampu, hal ini pun hanya sedikit membantu.
Program orang tua asuh, juga ada. Hanya membutuhkan promosi kepada orang tua-orang tua yang tidak dapat disanggupi sekolah yang terlampau miskin ini.
Paling tidak, dengan keberadaanku di sana, mereka boleh sedikit berhemat, karena mereka tidak perlu membayarku. Aku mengajar dengan sukarela.
Suatu hari, di semester pertama tingkat akhir Siti di SDN 13, kulihat Siti terduduk murung di tepi lapangan sekolah. Kulirik jam tanganku, jam 5 sore. Sekolah usai pukul 1 siang. Bahkan guru-guru pun sudah pulang semua. Hanya aku, yang tadinya sudah pulang, tetapi terpaksa kembali ke skolah karena kertas-kertas ulangan siswa yang seharusnya kukoreksi di rumah, tetapi lupa kubawa pulang.
Setelah mengambil kertas-kertas tersebut, aku menghampiri Siti dan duduk di sebelahnya. Rupanya, ia sedang menangis. Kusodorkan sebungkus tisu yang ia tolak dengan gelengan kepala.
“Ada apa, Siti?” tanyaku.
Ia menggeleng lagi.
“Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama Ibu.”
Gelengan lagi.
“Uang sekolah kamu?”
Ia mengangguk sejenak, tetapi kemudian menggeleng lagi. Tangisnya bertamabah gawat.
“Ibu bisa bantu kamu kalau itu masalahnya.” Aku merasa bodoh sekali karena gagasan ini baru sekarang muncul.
Ia kembali menggeleng. Lalu ia bangkit, berjalan pergi, tertatih-tatih. Aku terheran, terpaku di tempat, tidak berusaha menyusulnya.
Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi muncul di sekolah. Setiap aku berkunjung ke rumahnya, mencarinya, ibunya akan beralasan bahwa ia sakit dan tidak bisa diganggu. Jika kutanya apakah ia sudah dibawa ke Puskesmas, jawabanya adalah “Ibu tidak perlu khawatir.” Terakhir kali aku berkunjung, ibunya menyatakan bahwa Siti sudah berhenti sekolah.
“Saya tidak sanggup membiayainya lagi,” kata ibunya.
“Tidak apa-apa, Bu,” kataku, “Siti anak yang sangat pintar dan rajin. Saya bisa membiayai sekolahnya,” aku menawarkan lagi.
“Tidak, Bu. Dia tidak mau sekolah lagi.”
Sampai saat ini, hal itu masih misteri bagiku. Bagaimana mungkin siswa teladan yang cinta pendidikan seperti Siti tidak mau sekolah lagi? Angan-anganku akan masa depan cerah yang sudah tersedia baginya, yang sedang menunggunya untuk meraih, seketika buyar, hancur.
Segala rasa bersalah menghantuiku, karena aku tidak sejak dulu-dulu membiayai sekolahnya dan karena di petang hari itu aku tidak menyusulnya. Maka aku mengerti ketika Kepala Sekolah menegurku karena kinerjaku semakin lama semakin tidak memenuhi standar. Konsentrasiku berlibur entah ke mana, membuat caraku mengajar jadi lucu dan tidak kondusif.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi jauh. “Aku mau kuliah lagi,” alasanku kepada semua orang.
Kupilih sebuah negara yang ada di benua seberang, negara yang tenang dan damai, Australia.
Siti selalu suka belajar. Cinta pengetahuan dan pendidikan. Anak kesayangan semua guru, anak yang diharapkan semua orang tua.
Bel tanda sekolah usai berdering. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas-kelas. Siti masih di kelas. Mencatat segala tulisan kapur yang terukir di papan tulis hitam di depannya. Ibu Asih, guru matematika, tersenyum melihatnya. Ditemaninya anak itu sampai selesai, sambil mengoreksi pekerjaan rumah yang baru dikumpulkan murid-muridnya.
Setengah jam berlalu, sekolah telah sepi. Tersisa beberapa guru yang tampak masih banyak tugas, beberapa lagi hanya mengobrol di ruang guru. Siti selesai mencatat. Ia berpamitan dengan Bu Asih, lalu segera berlari pulang. Lapar, membayangkan makan siang masakan ibunya.
Selangkah sebelum menjangkau gerbang sekolah, Pak Kepala Sekolah menghadangnya.
“Siti.”
“Iya, Pak?”
“Kamu tolong ke ruangan saya.”
“Ada apa, Pak?”
“Masalah uang sekolah kamu.”
Keceriaan di wajah Siti jatuh murung. Takut tidak mampu menghadapi masalah dan mengutuki keadaan yang menempatkannya di posisi sulit.
“Iya, Pak.” Jawabnya tanpa semangat.
Di ruang Kepala Sekolah, ia dibiarkan menunggu, lama sekali. Didengarnya suara-suara di ruangan sebelah, ruang guru, satu per satu guru beranjak meninggalkan sekolah. Ada yang naik motor, ada yang naik sepeda, ada yang berjalan kaki. Ada yang bercerita ria tentang anaknya yang berprestasi di sekolah, ada juga yang mengeluh tentang muridnya yang nakal. Akhirnya, sepi total. Hanya gemerisik dedaunan dimainkan angin. Siti tetap menunggu, sementara Pak Kepala Sekolah berada di warung terdekat, menghirup kopi panas dan merokok bersama tukang ojek setempat.
Ketika Pak Kepala Sekolah kembali ke sekolah dan memasuki ruangannya, ia melihat Siti masih menunggu di sana, tampak gelisah. Mungkin ia pikir, ibunya akan khawatir menunggunya pulang. Sebenarnya, jika ibunya khawatir, ia akan datang ke sekolah dan menjemput Siti. Namun, Pak Kepala Sekolah sudah memastikan bahwa ibunya saat ini masih berada di Puskesmas, mengikuti acara penyuluhan kesehatan bersama ibu-ibu lain.
Ketika Siti menyadari Pak Kepala Sekolah telah datang, perasaannya mulai tidak enak, dan ia pun tampak semakin gelisah. Apalagi ketika Pak Kepala Sekolah mengunci pintu dan menurunkan semua tirai agar menutupi semua jendela di ruangan itu. Ruangan itu kini benar-benar tertutup.
“Kenapa, Pak?” tanya Siti dengan suara bergetar takut, tanpa sepatah kata pun jawaban dari Pak Kepala Sekolah.
Pak Kepala Sekolah segera menghambur ke arahnya, menutup mulutnya, meraih sembarang kertas-kertas di mejanya untuk menyumpal mulut Siti. Mulut Siti terasa sakit karena terlalu banyak kertas dijejalkan ke dalamnya. Siti berusaha memberontak, memukul-mukul, menggeliat, menendang-nendang, tetapi Pak Kepala sekolah begitu kuat, mencengkeram tangannya, mengangkat tubuhnya, dan membantingnya ke lantai. Siti kesakitan, tapi teriaknya tertahan sumpalan kertas-kertas.
Siti terbaring terlentang di ubin putih yang dingin menusuki punggungnya. Tubuhnya tetap meronta-ronta, meskipun sia-sia. Pak Kepala Sekolah melepas dasi dan memakai dasinya untuk mengikatkan tangan Siti ke kaki meja. Siti tetap memberontak, tetap sia-sia.
Pakaiannya, perawannya, harga dirinya, pendidikannya, dan masa depannya, dilucuti habis sekaligus oleh Pak Kepala Sekolah, yang sejak ibu Siti menjanda, gigih mengejar dan menggodanya, tetapi selalu gagal dan ditolak.
28/01/10
tentang alay
Dalam ingatannya terekam jelas, peristiwa pagi dan siang ini, yang membuatnya tak berhenti tersenyum sampai saat ini. Jack yang hari ini menemaninya melewati waktu. Sungguh kebetulan bahwa hari ini mereka berdua sama-sama tidak bekerja. Jika bukan karena hujan deras yang mengguyur kota, mungkin mereka masih berbaring di rerumputan hijau North Sydney Park sambil bersenda gurau dan mengemil.
Beruntunglah ia sebab ia boleh tidur dengan hal-hal indah berputar-putar dalam kepalanya. Sementara, di rumah lain, teman baiknya bersungut-sungut, tepat sejak setelah ia membaca pesan singkat dari Ananta yang masuk ke ponselnya. Tentunya, tentang betapa senangnya Ananta hari ini karena kesempatannya bertemu dengan Jack. Tidakkah kami, perempuan, manusia yang tidak loyal terhadap jenisnya? Kami akan saling mencakar dan menjambak dengan sahabat terdekat kami demi memperebutkan laki-laki yang tidak akan saling tonjok dengan sahabat terjauhnya demi memperebutkan perempuan. Paling tidak, saat ini, mereka berdua masih berada di rumah mereka masing-masing, belum saling membunuh dan menggemparkan seisi kota.
Berkebalikan dengan Ananta, Sally merengut saat hujan datang. Segera ia mematikan lampu meja yang tepat terletak di sebelah kepalanya, ditariknya selimutnya sampai menutupi wajahnya, dan ia memaksakan dirinya untuk tidur hingga pagi menyapa.
Betapa rumit juga perang antar perempuan, di pagi hari yang cerah dan masih lembab sebab hujan semalam, dua sahabat baik ini, Ananta dan Sally, saling tersenyum dan menyapa, duduk bersama dan bercanda-tawa. Tentu, karena kami, perempuan, tidak berlaku seperti anjing beringas, yang begitu bertatap muka dengan lawannya, hasratnya untuk mengoyak dan merusak langsung memuncak.
“Eh, gimana kemaren? Cerita dong?” Sally berinisiatif memulai pembicaraan.
Anata pun berkisah dengan menggebu-gebu, sementara Sally menanggapi dengan senyum termanisnya, entah apa pun yang bergejolak di hatinya. Sungguh senyumnya adalah topeng tercantik. Bahkan Ananta pun tak pernah merasa ada yang salah dengannya. Ananta pun tak pernah mengerti mengapa teman-temannya yang lain menatapnya dengan pandangan aneh. Sally mengerti, itu karena Sally bergosip kepada teman-temannya yang lain bahwa “She’s boasting that they’re now a COUPLE! They only went out together ONCE and it wasn’t even a date!”
Namun, kelak, Ananta akan mengerti, mengapa ketika ia menitipkan tugas esainya kepada Sally untuk dikumpulkan ke dosennya, tugas itu tidak pernah sampai. Lebih buruk, hilang. Sally hanya akan memberinya penjelasan, “Aduh, sorry, lupa!”
Ia pun akan melihat dengan lebih jelas ketika ia berjalan-jalan bersama Sally dengan gulungan rambut di poninya yang lupa ia lepas. Ia telah berjalan ke sana dan ke mari selama tiga jam sebelum akhirnya seorang nenek tua bertanya kepadanya, “Darling, is that a new trend?” sambil menunjuk ke rambutnya. Ia pun segera mengambil cermin kecil dari tasnya dan melihat ada apa di kepalanya. Tentu ia terkejut, tentu ia malu, dan tentu ia bertanya penuh tuntut kepada Sally, “kenapa lu gak kasih tau gue??”. Inilah jawaban yang ia terima dari Sally: “Sorry, gw gak tega.”
Ketika Ananta telah mengerti, ia berinisiatif mengajak Jack dan Sally makan malam bersama, bertiga. Tentu saja, itu menjadi sebuah tantangan bagi Sally.
Mereka berdua tiba lebih awal dari jam yang ditetapkan, dengan dandanan tertebal, gaun tercantik, dan pose duduk termanis. Tentu, mereka berdua sama-sama mengerutkan dahi ketika melihat Jack datang tidak sendiri. Kelak mereka akan mengerti, betapa sia-sia pertarungan mereka.
“Kenalkan, this is my wife, Arisa. Dia baru datang lagi dari Indonesia, setelah nyelesain penelitiannya tentang gejolak sosial anak muda golongan menengah ke bawah yang belakangan ini disebut-sebut sebagai ‘alay’. Ananta pasti ngerti banget deh.”
“Yang mana yang namanya Ananta?” istrinya menimpali.
Ananta melambai kecil.
“Oh, halo! Aku udah baca beberapa tulisan kamu tentang alay. Kamu bener-bener berbakat!”
Semua pun tersenyum. Entah senang, entah bersemangat, entah berpura-pura, entah salah tingkah.
10/10/09
hilang**
Aku menahan tawa melihat kelakuan perempuan yang berdiri tepat di depanku itu. Ia menyadari hal itu, sehingga ia menjadi salah tingkah. Ia menggoyang-goyang pundaknya sedikit dan menggerak-gerakkan kakinya. Akibatnya, aku harus menambah tenaga untuk menahan tawa.
Aku sering kebetulan berada dalam satu kereta dan satu gerbong dengannya. Kami tinggal di suburb yang sama, Chatswood. Kami kuliah di daerah yang berbeda, tetapi searah. Sebenarnya, aku sangat ingin mengenal perempuan itu, tetapi saat itu adalah terakhir kalinya aku melihatnya. Aku jadi agak menyesal karena berkali-kali aku bertemu dengannya, belum pernah sekalipun aku mengajaknya berbicara, apalagi berkenalan dengannya.
Sesegera itu, aku melupakannya.
Aku kembali kepada keseharianku yang memabukkan, di mana Aku menginginkan Pascal dengan segenap perasaan, pikiran, dan nafsuku. Iya, namanya Pascal. Terdengar sangat ilmiah karena ayahnya adalah seorang ilmuan. Ia mempunyai seorang adik perempuan yang dinamai Sonata karena ibunya adalah seorang musisi, komposer, dan pianis handal. Sayangnya, mereka berdua sama sekali tidak menunjukkan minat dalam bidang sains dan musik. Pascal penggemar olahraga dan Sonata penggemar komputer.
Aku sendiri penggemar sastra. Kurang berhubungan, tetapi Pascal memang sangat memabukkan dan sangat adiktif, paling tidak bagiku. Sekali aku mengenalnya, ia seperti tidak bisa sedetik pun absen dari pikiranku. Beberapa kali, aku mengacaukan tugasku karenanya. Akhirnya aku harus mengakali diriku sendiri dengan berpikir bahwa dengan mengerjakan tugas dengan baik, aku dapat membanggakan sesuatu di depannya. Cukup berhasil.
Hari ini, aku membantunya mencari data untuk penelitiannya dari internet. Aku memasukkan kata kunci yang ia berikan, lalu mulai mencari dan melaporkan kepadanya jika aku menemukan sesuatu. Kesenangan yang tak terkatakan.
Kami banyak mengobrol. Simpang siur dan akhirnya sampai kepada topik keagamaan. Ia seorang relijius. Ia banyak berdoa, ia beribadah secara rutin, dan sering beramal. Tanpa mengetahui semua itu pun, semua orang dapat melihat bahwa ia adalah orang yang baik karena ia begitu ramah dan suka menolong.
Kami pulang bersama hari ini. Sebenarnya, ia tinggal di daerah lain. Hanya saja, ia besi keras ingin mengantarkanku pulang sampai ke rumahku. Tentu, aku tidak menolak. Dalam perjalanan pulang, ia bercerita tentang seorang perempuan.
“Ia mungil, berambut pendek, berkulit putih, bermata besar. Senyumnya manis dan tanpa tersenyum pun, ia manis.”
Aku agak cemburu mendengar deskripsinya tentang perempuan itu. Namun, ia mengingatkanku akan perempuan yang sering sekereta denganku itu.
Ia bercerita bahwa dulu ia berhubungan dengan wanita itu. Bahwa ia sering juga mengantar wanita itu pulang, ke Chatswood. Hanya saja, sekarang perempuan itu menghilang.
Sejenak aku tersentak. Lalu, aku menceritakan tentang perempuan yang sering kulihat sekereta denganku itu. Kami yakin, kami membicarakan orang yang sama.
“Kira-kira, kenapa yah dia hilang?” iseng-iseng, aku bertanya.
“Mungkin karena dia tidak bisa menerima kenyataan.”
Aku menoleh kepadanya dengan dahi berkerut dan mata penuh kebingungan. Ia hanya tertawa.
Aku tidak puas. Maka aku menekankan kebingunganku dengan pertanyaan “maksud kamu apa?”
Ia tersenyum misterius. Ia memberi tanda kepadaku agar aku mendekatkan telinga kepadanya. Ia membisikkan sesuatu padaku. Mataku melebar, mulutku ternganga. Aku menoleh kepadanya lagi dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Sebuah pukulan ringan kudaratkan di lengan kanannya sebagai tanda peringatan agar ia tidak bercanda secara berlebihan.
“Kok kamu tau?”
“Tau aja.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Masih tidak percaya dan berusaha menganggap itu sebagai kabar burung belaka, tetapi aku merasa harus memercayai hal itu, entah mengapa. “Ck ck ck … Siapa yang tega melakukan hal kayak gitu sama perempuan secantik dan semanis dia. Gak mungkin.” Aku meyakinkan diriku sendiri.
“Aku,” jawabnya, tanpa kuduga.
“Jangan main-main kamu! Ini serius!”
“Aku serius.” Dan ia tertawa.
Meskipun ia tertawa, aku melihat keseriusan dalam nada suara dan wajahnya. Ini tidak mungkin nyata.
Aku menamparnya. Tepat di wajah. Aku tidak peduli meskipun orang-orang menatap kami penuh ketegangan. Ia kembali tertawa. “Kamu juga tidak bisa menerima kenyataan,” katanya sebelum tertawa lagi.
Kereta berhenti. Belum sampai tujuanku, tetapi aku turun. Aku tidak tahan berada di sana lebih lama lagi.
Sebelum pintu kereta tertutup lagi, ia meneriakkan sesuatu kepadaku.
“Jika kamu sudah melakukan begitu banyak hal untuk Tuhan, bukankah Ia akan mengerti jika sesekali kamu melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri?”
06/10/09
hilang*
Namun, aku tidak membenci dia. Justru, dialah yang membuatku membenci segala sesuatu.
Ia tidak salah. Satu-satunya kesalahannya hanyalah kesempurnaannya. Kesempurnaan yang tidak ia percayai.
Ia realistis. Ia mengerti betapa dunia dan isinya tidak mungkin sempurna. Ia mengerti bahwa tidak ada insan yang sempurna di dunia ini. Ia hanya tidak mengerti bahwa setiap titik ketidaksempurnaannya pun adalah kesempurnaan bagiku.
Aku tenggelam dalam silau kilau kehadirannya.
Aku merongrong mengemis kehadirannya dan ketika ia hadir, aku menciut dan bersembunyi dalam kenistaan.
Aku gila mutlak.
Aku mengharapkan eksistensi ujung dunia, aku berharap mencapai ujung dunia, untuk kemudian menghilang di sana.
Atau tengah dunia sudi menelanku?
Ini semua ilmiah. Jatuh cinta, ketidakpercayadirian, gangguan jiwa dan kepribadian, gejolak hormon, dan penolakan. Hanya saja, jika semuanya kau alami secara bersamaan, kau jadi tidak mampu berpikir secara ilmiah, atau paling tidak secara realistis.
Kau akan memandang dunia seperti ini.
Seperti bola besar berputar-putar, membuatmu mabuk, tenggelam dalam hiruk pikuk, tertawa lepas di tengah keramaian, menari-nari di antara gelimangan percik-percik bintang, dan kemudian kau sadar, semua itu tidak nyata. Kau terjatuh ke dalam kegelapan, mencari-cari apapun yang konkrit. Apapun yang dapat kau raih, kau raba, kau pegang, kau lihat, kau dengar. Namun, semua hanya kekosongan dan kau berharap, kamu pun tak pernah ada. Kau berharap, kamu pun hanya kosong.
Aku menatap diriku dalam pantulan cermin di depanku. Aku berbisik memanggil namaku. Aku menatap nanar kepada mataku yang sembab dan bengkak, juga agak merah. Aku memaafkan diriku karena telah menangis begitu parah. Aku mengerti perasaanku. Aku tidak menuntut diriku untuk menjadi wajar atau menjadi kuat. Aku menerima diriku yang lemah, cengeng, pecundang, dan putus asa.
Aku menatap sebilah belati di tangan kananku.
Akankah kupakai untuk membelah leherku sendiri atau lebih baik kupakai untuk membelah lehernya saja?
Ini terlalu kekanak-kanakan dan tidak berpendidikan, tetapi ketika otakmu telah kehilangan rasio, kau menjadi barbar seperti kera. Aku tidak memaafkan diriku untuk itu, tetapi aku juga tidak berusaha mengendalikan diriku. Aku perusak kesejahteraan umat manusia.
Aku akan pergi ke ujung dunia. Aku tidak akan membuat orang-orang takut (atau sedih, jika ada yang sedih jika aku mati). Aku yakin mereka tidak akan meributkanku. Aku yakin aku bukan sesuatu yang cukup eksis untuk diributkan jika tiba-tiba aku menghilang.
Maka aku menghilang. Aku ingin menghilang di ujung dunia, lalu aku akan menghilang dari dunia ini.
Aku berjalan dituntun kakiku. Melewati jalan-jalan besar, menelusuri jalan-jalan kecil, mendaki jalan-jalan menanjak, menuruni jalan-jalan curam, menyeberangi sungai yang deras dan dingin, membiarkan diriku terbawa di sana. Lalu, aku tersadar, aku terkapar dan terdampar di tepi perairan. Tempat di mana tidak tampak tanda-tanda keberadaan manusia, tetapi penuh dengan tumbuhan dan hewan-hewan berbunyi merdu.
Jika aku hidup di sini, betapa aku akan bahagia. Betapa alam ini memanjakan manusia, andai manusia menyadarinya.
Namun, bayangannya menyergap pikiranku. Aku tidak mau hidup di dunia yang sama dengannya. Aku mau pergi. Aku memeriksa tangan kananku. Belatiku tidak lagi ada di sana. Aku mencari cepat ke kiri, ke kanan, ke sekelilingku. Aku tidak menemukannya. Aku menutup wajah dan menangis.
Aku berjalan ke tengah hutan. Berdoa kepada alam agar mengutus beruang, serigala, singa, harimau, atau apapun, untuk memakanku. Nihil. Aku berjalan dengan langkah terseret-seret dengan segala hewan yang kulewati melirik kepadaku, tetapi hanya itu. Hanya lirikan. Tiada respon lebih lanjut. Aku memohon dalam hati kepada mereka agar mereka menyerangku. Mereka hanya menatap.
Malam menenggelamkan matahari, tetapi aku melihat terang selain terang bulan. Aku berjalan ke arah terang itu. Segerombolan anak muda. Mereka sedang berkemah. Mereka membuat tenda di tanah lapang terbuka. Aku terduduk dan tersandar di salah satu pohon di tepi lapangan itu. Aku memerhatikan mereka. Membakar daging dan bersenda gurau. Seseorang muncul dari balik salah satu tenda. Dia.
Itu dia.
Aku menghela nafas, meskipun aku tidak merasakan nafas melewati rongga dadaku.
Sejauh ini pun, ia masih harus hadir di depanku. Aku memejam mata. Aku ingin memejamkan mata untuk selamanya.
Aku membuka mata. Matahari telah kembali merajai langit. Seorang di antara mereka berteriak-teriak dengan ribut. Membangunkan semua orang dan membuatku spontan membuka mata.
Mayat, mayat, katanya.
Semua temannya, termasuk dia, berlari mengikutinya ke tempat di mana ia mengaku melihat mayat. Aku ingin tahu. Aku turut ke sana.
Di sana, aku melihat seorang wanita terbujur kaku dan membiru, dibalut gaun tanpa lengan, selutut, putih, dan koyak-koyak. Rambutnya pendek. Di tangan kanannya, sebuah belati.
Kurasa, aku kenal dia.
26/08/09
hilang IV
Kuli itu diungsikan ke sebuah kamar di bagian belakang ruko oleh sang kakek. Di
Ketika kuli itu telah ditinggal sendirian di kamar belakang itu agar bisa istirahat, cucu perempuan sang kakek penasaran ingin menengoknya. Sang cucu meminta izin ke toilet –yang kebetulan juga terletak di bagian belakang ruko- kepada sang kakek.
Di kamar belakang, Arien menemukan Gani.
“Aku tau kamu masih hidup,” bisik Arien dengan senyum lebar di wajahnya. Arien beranjak duduk di sisi ranjang yang ditiduri Gani.
Gani terlonjak kaget. Ia terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit. Dahinya terasa berdenyut. Ia tidak mampu berkata-kata. Arien pun terkejut karena reaksi Gani yang begitu rupa.
Untuk beberapa lama, mereka saling diam. Tidak bicara dan salah tingkah. Terkadang ada yang mencoba memulai, sudah membuka mulut, tetapi tak muncul satu patah kata pun. Lalu, mereka menyerah. Mereka membiarkan jam dinding mendominasi ruangan dengan detak detiknya. Mereka saling diam dan masing-masing tersedot kepada masa lalu. Butuh waktu lama agar mereka masing-masing merasa dekat lagi seperti dulu kala.
Ketika perasaan akrab itu sudah cukup membauri mereka, mereka pun saling tatap.
“Ngapain kamu ke sini?” Gani memulai.
“Ini toko kakekku.”
“Oh.”
Hening lagi.
“Kamu lihat aku?”
“Kamu luka-luka gara-gara aku. Maaf ya...”
“Bukan itu maksudku. Kamu lihat, aku ini miskin. Aku cuman bisa kerja serabutan. Hidup pontang-panting. Kamu lihat diri kamu. Kamu anak orang kaya. Pengusaha sukses. Gak pantes kita deket-deket begini.”
Dengan dahi terkerut sempuran, Arien mencurigai, “omongan kamu persis Mama.”
“Memang mama kamu yang bilang begitu sama aku.”
Mata Arien terbelalak.
“Gak usah heran,” Gani hendak bercerita, “sebelum kamu pulang dari Singapur, mama kamu nyamperin aku.” Kedekatan yang terasa di antara mereka berdua membuatnya menjadi berani untuk terbuka. “Orang tua kamu kasih aku rumah dan uang. Mereka mau aku pergi dan jauh-jauh dari kamu. Aku gak boleh berhubungan dengan kamu lagi. Kalo sampai aku nolak, aku masuk penjara. Lagian, apa kata mama kamu toh bener! Aku memang gak pantes buat kamu.”
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gani. Dahinya makin berdenyut.
“Kamu rela ninggalin aku untuk rumah dan uang? Kamu takut masuk penjara?” Arien menuntut dalam isaknya.
“Kamu mengharapkan sesuatu yang berlebihan, Rien!” bentak Gani. “Kamu tau ayahku udah meninggal. Siapa yang urus ibuku kalo aku dipenjara?” Urat-uratnya menegang dan tampak di lehernya. Dahinya makin berdenyut. “Kamu enak! Orang tua kamu tajir! Kamu gak usah mikirin duit, duitnya dateng sendiri! Kamu liat aku! Aku ini orang susah! Kalo gak kerja keras, gak dapet duit! Gimana mau makan? Kamu juga tau ibuku sakit-sakitan! Aku gak tega liat dia kelaperan! Kamu tau, aku bisa bawa dia berobat karena duit yang orang tua kamu kasih!” Napasnya tersengal-sengal.
Arien menangis sesungukan. Arien sungguh-sungguh menyesali ucapan dan tuntutannya. Ia begitu saja menghambur memeluk Gani. Gani mendekapnya erat. Di pelukan Gani, Arien makin deras menangis.
“Rien, aku gak pantes deket-deket kamu. Apalagi meluk kamu kayak gini. Aku gak tau diri,” ucap Gani lirih sekali.
Gani hendak melepas Arien dari pelukannya, tetapi Arien bertambah erat memeluk, sehingga tubuh Gani yang tadi terjatuh dari tangga terasa ngilu. Ia kembali memeluk Arien dan membelai rambutnya.
Muncul sebuah gagasan di kepala Gani. Gagasan itu ia rumuskan menjadi sebuah janji yang ia ingin Arien percayai dan pegang teguh. “Aku janji, aku akan kerja keras. Aku akan jadi orang sukses. Lalu-“
“Sssst...” Arien memotong.
Mereka berdua lama sekali tetap berpelukan seperti itu. Menikmati detak jantung lawannya.
Sementara, kakek Arien yang tetap setia menunggui toko tahu persis apa yang terjadi di belakang
*****
-harus berakhir di sini-
02/08/09
hilang
Seorang gadis remaja, begitu jelita, teronggok tak beradaya di ranjangnya. Raganya tidak sakit. Hanya jiwanya sedang bimbang. Merenung-renungi masa lalunya. Masa-masa indah bersama seorang remaja putra yang sangat membahagiakan dirinya. Kemudian, masa-masa sulit ketika mereka menghadapi orang tua masing-masing. Kedua orang tuanya yang merasa tidak sudi anaknya terlalu akrab dengan anggota masyarakat golongan ekonomi bawah karena dianggap memalukan atau membuat aib. Juga satu-satunya orang tua kekasihnya, yaitu ibunya, yang menganggap persahabatan dengan orang kaya hanya akan memberi kesempatan bagi mereka untuk menghina dan melecehkan dirinya. Kemudian, teringat masa-masa perpisahan mereka. Ketika ia diharuskan meneruskan studi ke luar negeri, sementara kekasihnya tidak punya cukup dana untuk turut serta.
Kini ia kembali ke tanah air di waktu liburannya. Segala benteng yang dibangunnya untuk menghalangi memori sentimentil itu agar tidak mengganggu studinya kini runtuh seketika. Tepat ketika ia menginjakkan kakinya di tanah air, menghirup udara setempat. Semua kenangan menyerbu masuk ke dalam dirinya. Membuatnya menjadi perhatian banyak orang karena menangis secara tidak wajar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tak lama, muncul kedua orang tuanya, yang mengira anaknya menangis karena terlampai merindukan mereka, memeluknya dan membuat orang-orang maklum.
Beberapa hari telah ia lewatkan di rumah, tidak banyak yang ia telah lakukan. Ia lebih banyak terkapar di kamar. Merenungi kenangan. Di mana ia sekarang? Masih ingatkah padaku? Masih sudikah denganku?
Telepon genggam ia raih untuk menghubungi seorang teman terdekat. Dari teman dekatnya itu, kemudian ia mendapatkan nomor-nomor teman-teman yang lain. Ia memulai sebuah penyelidikan kecil dengan dibantu teman baiknya itu.
***
“Gimana? Apa kata Endah?” tanya si gadis.
“Dia bilang, udah sekitar tiga bulan dia gak nongkrong-nongkrong bareng mereka,” jawab sahabatnya membuat dirinya kehilangan harapan karena kenyataan bahwa Endah adalah kekasih terakhir kekasihnya setelah ia tinggalkan tidaklah menolong.
Mereka berdua tampak berpikir lama. Masing-masing mengerutkan dahinya. Semua mendiamkan minuman lezat yang tersaji di depannya. Tiada juga yang memerhatikan mereka, tidak pengunjung-pengunjung kafe yang mereka tongkrongi, tidak juga pelayan-pelayan di
“Cindy? Arien?”
Yang mereasa namanya disebut pun menoleh.
“Nando?” terdengar pekik serempak dengan dua nada berbeda. Yang satu dengan tertarik dan senang, yang satu dengan penuh harapan.
“Kamu ngapain di sini?” Cindy, sahabat si gadis cantik yang juga tak kalah cantik, mendadak ceria berbasa-basi dengan penuh kecentilan.
Nando tersipu-sipu menjawab lirih, “minum kopi.”
Arien, si gadis yang benar-benar berkeperluan dengan penyelidikan kecilnya, berusaha menyusun pertanyaan di dalam kepalanya untuk kemudian disemburkan kepada Nando, yang ia tahu benar adalah teman baik kekasihnya. Ia masih sempat mengutuk-ngutuki dirinya sendiri yang tidak kepikiran untuk menanyakan Nando kepada teman-temannya yang lain atau kepada sahabatnya yang naksir berat Nando ini.
Tanpa menunggu pertanyaan untuk selesai tersusun di kepala Arien, Nando mendahului bertanya, “gue denger dari temen-temen lain, lo lagi nyari si Gani.”
“Iya.”
“Percuma lo tanya-tanya mereka.”
Pernyataan Nando membuat dua gadis di depannya terbelalak bingung.
“Sejak lo tinggal,” Nando meneruskan, “dia udah jarang banget maen sama anak-anak laen. Jadi petapa di rumah. Ketemu gue aja jarang!”
“Endah?” Cindy terpikir akan gadis lain yang belakangan dikabarkan berpacaran dengan Gani.
“Endah
Sesuatu menyengat hati Arien. Ia ingat perlakuan ketus ibu Gani padanya. Ternyata ibu Gani lebih menyenangi Endah daripada dirinya. Cindy yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya langsung memotong pembicaraan Nando, “terus, sekarang Gani di mana?”.
“Nah, itu gua juga gak tau!” jawaban Nando mengecewakan sekaligus mengejutkan mereka berdua.
“Sekitar... Hmmm... Tiga bulan lalu, dia pindah rumah. Gak bilang-bilang ama gue! Monyet! Gue tau dari tetangganya! Trus gak ada kabar lagi ampe sekarang.”
Kini semua tertunduk lesu.
Paling tidak, sekarang Arien mendapat satu tenaga baru untuk masuk ke dalam tim penyelidiknya.
*
Semua pulang ke rumah masing-masing.
Sampai di rumah, Arien langsung masuk ke kamar untuk berganti baju. Sebelum ia membuka bajunya, pembantunya telah memanggil-manggil.
“Noooon! Non Ariiiiin!
Buru-buru Arien keluar dari kamarnya dan meraih gagang telepon tanpa kabel yang telah diantar oleh sang pembantu sampai ke depan pintu kamarnya.
“Makasi, Bi,” katanya sebelum masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu.
“Halo?”
“Iya, halo! Kamu Arien?” suara wanita paruh baya begitu ketus di seberang
“I-iya, aku Arien.
“Heh! Kamu! Jangan cari-cari Gani lagi! Cewek gak tau diri! Jangan cari-cari anak gua lagi!”
Arien susah payah menelan ludah dan berkeringat dingin.
“Denger gak kamu!”
Arien jatuh terduduk di ranjangnya yang tebal dan empuk.
“Kamu anak orang kaya, cari cowok orang kaya juga
“Ma-maaf, Bu?”
“Eh, gua najis sama bapak lo, tau! Bapak lo tuh pejabat korup! Gua najis kalo anak gua harus deket-deket sama anak tukang korup! Apalagi ampe megang duit hasil korup lo! Najiiiis!!”
Sekarang Arien mengerti mengapa segala hadiah di segala hari raya yang ia berikan kepada ibu Gani selalu ditolak dengan cara paling menyakitkan.
“Setan! Denger gak lo! Jauhin anak gua!”
Klik. Telepon dimatikan secara sepihak dari seberang
Dengan tangan berkeringat dingin dan gemetaran, Arien bersusah payah menekan tombol redial.
“Halo?” ucapnya lirih, “Bu?”
“Maaf, Dek,” suara seorang pria, “ini telepon umum.”
Arien menghela napas.
“Sudah yah? Saya mau pake.”
“Iya, Pak. Maaf.”
Klik.
(bersambung)