18/08/08
Maaf, Indonesia
17 tahun umurku
Belum ada sesuatu yang berarti dariku untukmu
Maaf, Indonesia
Sejak dapat berpikir, aku mengkritik
Sejak dapat berbuat, aku berjuang
Belum ada perubahan yang berarti bagimu
Maaf, Indonesia
Berabad melawan penindasan
Berabad berjuang untuk kemerdekaan
Memanusiakan manusia
Apakah sudah berhasil?
Maaf, Indonesia
Menonton permainan politik
Kepentingan golongan
Penyengsaraan rakyat
Aku bukan seorang penguasa
Maaf, Indonesia
Entah berapa lama lagi Engkau akan bertahan sebagai sebuah negara
Entah berapa lama lagi aku akan bertahan sebelum menjadi onggokan daging mati
Takkan kusia-siakan waktu untuk memperjuangkanmu
Maju, Indonesia!
23/05/08
badai dan gempa
Mars : Bumi, kamu makin berair.
Bumi : Iya, aku berkeringat. Mereka membuatku kepanasan.
Merkurius : Begitu panaskah sampai kau menangis, Bumi?
Bumi : Iya, mereka juga menyakitiku. Mereka merusakku.
Mars : Bukankah itu sudah lama mereka lakukan?
Bumi : Mereka bertambah parah. Kulitku, dagingku, darahku, udaraku, semuanya! Mereka tidak mau menyisakan apapun! Oh, Matahari! Panasmu pun ikut menyengatiku!
Matahari : Maafkan aku, Bumi. Bukan kehendakku. Bukan kuasaku untuk meredam atau menghentikan pijar panas dan cahayaku sendiri. Namun, kau telah diberi selimut ozon untuk tetap terlindung dariku. Apakah mereka juga mengambilnya darimu?
Bumi : Ya, mereka melubanginya. Bagi mereka telah tersedia berbagai kenyamanan dariku, sehingga mereka telah menjadi parasit bagi diriku sendiri.
Mars : Kawan, mereka berkembang biak terlalu cepat. Mereka akan semakin mebutuhkan banyak darimu.
Matahari : Ah, mereka selalu punah pada akhirnya. Mungkin kali ini akan punah kupanggang. Namun, Bumi, kau tetap bundar dan mengitariku.
Bumi : Tidak, Matahari. Mereka tak pernah punah. Selalu ada sisa dari mereka yang akhirnya berkembang biak gila-gilaan lagi dan merubah-ubah wajahku lagi.
Mars : Toh kami akan tetap mengenalmu.
Merkurius : Ya. Orbit dan posisimu tak berubah.
Bumi : Hahaha! Betul juga! Tapi aku tetap kepanasan!
Mars : Mari kutiup dirimu agar sejuk!
Merkurius : Aku juga mau meniupimu!
Matahari : Bolehkah aku ikut?
Bumi : TIdak! Jika kau lakukan itu, aku akan terpanggang lidah api dan musnah!
Mars dan Merkurius : (meniupi Bumi).
Mars : Bagaimana? Sudah lebih baik?
Bumi : Jauh lebih baik, tetapi wajahku menjadi berantakan karena badai.
Matahari, Bumi, Mars, dan Merkurius : (tertawa bersama)
Bumi : (gempa)
01/05/08
endin
Endin berjalan kaki ke sekolah. Memang sekolahnya tidak jauh dari rumahnya. Hanya butuh satu belokan untuk sampai di sana melalui jalan terdekat. Sebuah sekolah menengah atas yang sederhana sederhana, kecil, tidak elit, tidak terkenal. Terpencil di sebuah gang buntu.
Sebenarnya, sekolah itu condong bobrok. Hal pertama yang tampak adalah pagarnya yang tidak mungkin mengurungkan niat seorang maling (yang mengurungkan niat maling adalah kenyataan bahwa sekolah itu tampak miskin). Berikutnya, dinding dengan cat koyak-koyak. Mungkin terakhir kalinya dicat adalah sepuluh tahun lalu. Suasana kelas? Aku tidak yakin suasana seperti itu akan baik untuk kegiatan belajar mengajar. Ruangan kecil, diisi deretan bangku dan meja kayu yang telah lapuk, berlubang-lubang, dan penuh coretan. Sebuah lemari seperti telah siap untuk ambruk di salah satu sudut kelas. Meja guru, satu-satunya yang tidak rapuh, dengan taplak yang telah berdebu dan vas bunga lengkap dengan bunga palsu yang juga telah berdebu. Papan tulis hitam. Astaga! Mereka masih menggunakan kapur tulis! Lalu, jendela kaca yang kaca-kacanya berbentuk persegi panjang dan bersusun secara vertikal. Jendela-jendela itu telah ompong. Oh, pintunya! Itu sudah tidak dapat difungsikan lagi. Gagangnya saja tidak ada!
Akhirnya, seorang guru masuk. Guru itu tampak begitu lesu. Mungkin sedang sakit. Selembar tisu tergenggam di tangannya. Mungkin sudah dipakai berkali-kali untuk menampung ingus yang keluar dari hidungnya yang merah itu. Sang guru menuliskan beberapa hal di papan tulis. Soal-soal matematika yang sebenarnya terlalu mudah bagiku. Oh, hari ini mereka ujian! Murid-murid mengeluarkan kertas jawaban ujian dan mulai mengerjakan soal-soal yang terpampang di papan tulis. Aku terpana menatap salah satu kertas ulangan yang terdekat denganku. Pada bagian atas kertas itu, sederetan huruf dan angka menerangkan alamat sekolah itu. Jakarta, kotanya. Aku tercengang. Rupanya, masih ada sekolah semacam ini di Jakarta! Aku merasa seperti katak dalam tempurung!
Ah, itu dia Endin -entah bagaimana aku tahu namanya. Ia mengerjakan soal dengan serius. Dahinya sedikit berkerut dan alisnya saling mendekat. Di sebelahnya duduk seorang murid laki-laki. "Ssst!" seru laki-laki itu berulang kali sebelum akhirnya mencolek bahu Endin. Ia bermaksud untuk meminta contekan. Endin tidak memberikan contekan. Ia merasa konsentrasinya terganggu. Wajahnya ditekuk. Tiba-tiba saja ia mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, sehingga si guru mengalihkan perhatian kepadanya.
"Bu, dia minta contekan terus sama saya!" teriaknya kepada sang guru sambil menunjuk laki-laki itu.
Guru itu lalu mengalihkan pandangannya kepada si laki-laki. Laki-laki itu tidak mampu menutupi rasa terkejut dan gelisahnya. Ia salah tingkah. Apalagi, saat sang guru mendekati mejanya. Mimiknya terbaca jelas oleh sang guru. Sang guru semakin yakin ketika melihat kertas tes yang kosong melompong di mejanya. Maka, laki-laki itu dipersilahkan keluar. Ia tidak berhak mengikuti ujian dan berhak atas sebuah angka nol untuk nilainya kali ini.
***
Pada jam istirahat, murid laki-laki itu menghampiri Endin yang tidak pernah beranjak dari kelas untuk jajan karena ia selalu membawa bekal dari rumah. Si laki-laki tampak marah.
"Heh, tukang ngadu!" seru laki-laki itu sambil menggebrak meja Endin.
Endin tak tampak terkejut sama sekali. Dijawabnya dengan santai, "salah sendiri gak belajar".
Sungguh hal tersebut membuat laki-laki itu marah. Namun, sebelum ia dapat melampiaskan amarahnya, perhatiannya telah teralih kepada sebuah suara dehem berat yang sangat familiar baginya maupun bagi Endin. Mereka berdua menoleh ke arah yang sama. Di sana, seorang pria paruh baya berkepala setengah botak dan berkumis tebal sedang menatap laki-laki yang memarahi Endin itu dengan raut yang dapat dipastikan tidak senang. Laki-laki itu cepat-cepat menunduk.
Tak lama kemudian, tampak pria paruh baya itu berjalan cepat keluar dari kelas itu diikuti seorang murid laki-laki di belakangnya. Tak lama setelahnya di ruang guru, murid laki-laki itu telah diceramahi sang pria paruh baya yang disebutnya sebagai "Pak Guru". Pak Guru menyatakan kekecewaannya pada murid laki-laki itu karena muridnya itu tidak menghargai kesempatan pendidikan yang telah dikaruniakan kepadanya.
***
"Eriiiiiinnn!!!! Baguuuun!!! Kamu udah kesiangan nih!" terdengar pekikan oktaf kesembilan yang langsung manjur mengangkat jiwaku dari alam mimpi.
"Iya, maaa!" balasku.
Kukucek-kucek mataku yang telah disarangi kotoran mata berbagai ukuran. Aku bangkit dari ranjangku perlahan-lahan lalu berjalan gontai menuju kamar mandi di kamarku. Kunyalakan shower yang kuartur agar mengucurkan air hangat, lalu aku mandi. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku bersiap untuk mengenakan seragam sekolah dan berdandan.
"Cepetan, Riiin!! Mama gak mau dipanggil lagi sama wali kelas kamu cuman gara-gara kamu sering telat! Malu tauk!!" lagi-lagi Mama mengomel.
"Iya!" jawabku sekenanya.
"Kamu tuh udah mahal-mahal disekolahin di sekolah yang bagus, bukannya sekolah dengan bener, malah males-malesan!" Mama melanjutkan omelannya.
Sejenak, kata-kata itu membuat desiran kecil di hatiku. Sejenak, terlintas sebuah nama dalam kepalaku. Sejenak, nama itu kubisikkan, "Endin...".
"Riiiinnn!!! Ayo dong!!"
"Iya, Ma! Bentar!!"
Cepat-cepat kusambar tasku yang terletak di meja belajar yang tak jauh dari ranjangku. Aku berlari keluar dari kamarku yang terletak di lantai dua. Aku pun berlari menuruni tangga menuju ruang makan di mana Mama telah menungguku bersama roti panggang berselai coklat dan segelas susu.
"Cepetan makan," sambut Mama sesampaiku di meja makan.
Saat aku tengah mengunyahi roti di dalam mulutku, muncul seorang wanita paruh baya yang tidak kukenal dari dapur membawakan jus buah campur-campur untuk Mama. Baru aku teringat bahwa pembantuku selama ini, Mbak Yati, telah kembali ke kampung untuk menikah.
"Rin, ini pembantu baru kita, Mbok Jah. Mbok, ini anak saya, Erin."
Aku mengangguk pada Mbok Jah dan Mbok Jah membalas anggukanku dengan anggukan juga. Kami sama-sama melakukannya dengan seulas senyum tipis yang agak terpaksa.
"Anaknya Mbok Jah sekalian Mama pekerjakan jadi pembantu kita. Biar rumah kita tambah kinclong," Mama melanjutkan, "anaknya seumuran lho sama kamu".
"Mana?" tanyaku singkat karena mulutku masih penuh dengan roti panggang.
Setelah menyeruput beberapa teguk jus, Mama memanggil anak Mbok Jah "Diiiin!".
Sejenak saja, tampak seorang perempuan berkulit hitam, berambut panjang berombak, berlesung pipit, dan berwajah manis berjalan cepat agak berlari masuk dari kebun belakang rumahku. Aku merasa familiar dengan perempuan yang tengah tersenyum padaku itu.
"Din, ini anak saya, Erin."
Anak Mbok Jah itu mengangguk padaku tanpa menghentikan senyumnya.
"Saya Endin, Non," ia memperkenalkan diri sebelum Mama melakukan hal itu untuknya.
27/01/08
wafat
Rambut-rambut halusku memberontak bangun dari kulitku. Mataku tak hendak berkedip dan keningku tak berhenti berkerut. Aku sedang menyaksikan berita tentang wafatnya Pak Harto, mantan presiden
Aku berpikir, apakah memang ada orang yang berduka cita selain keluarga Cendana? Apakah semua orang hanya berpura-pura bersedih? Aku tidak tahu. Aku pun bingung mengapa aku merasakan kesedihan dan kehilangan. Ia adalah satu-satunya manusia yang kutunggu kematiannya. Bukankah seharusnya aku senang? Aku tidak senang.
Aku tahu, seharusnya aku senang sebab aku menaruh dendam kepadanya. Aku tahu bagaimana ia membuat susah keluargaku karena kami berkulit kuning dan bermata sipit. Itu adalah alasan utama. Aku juga tahu ia adalah diktator dan koruptor raksasa di
Namun, siapakah aku sehingga aku berhak menghakiminya? Tidak, aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak. Semua itu adalah bagian Tuhan. Ia yang berhak menghakimi. Manusia bahkan tak berhak mengira-ngira kemana ia akan pergi, surga atau neraka. Semua itu keputusan Tuhan. Aku meminta ampun kepada Tuhan karena telah mengharapkan kematiannya, telah mendendaminya, telah menghakiminya. Semua itu salah. Aku tidak berhak.
Aku masih menatapi layar kaca. Ayah dan ibuku masih seru dan serius menyaksikan berita berupa siaran langsung yang diliput seorang reporter wanita. Tak lama kemudian, latar dari lapangan dengan reporter berpindah ke studio dengan seorang penyiar yang juga wanita. Penyiar itu memberitakan bahwa Mantan Presiden Soeharto wafat pada hari Minggu tanggal 27 Januari 2008 jam satu siang. Belum lama.
14/01/08
sampah plastik
Aku adalah sampah plastik. Tadinya, aku adalah kemasan sebuah produk makanan. Sebelum itu, aku dimainkan dan dibentuk sesuka hati oleh manusia-manusia di sebuah pabrik. Teman-teman seangkatanku juga mengalami hal itu dan mereka dibentuk persis sama seperti aku. Sebagian kecil teman kami yang berbentuk lain dari yang lain akan dibuang. Menjadi sampah sebelum digunakan. Sementara kami, yang sesuai dengan keinginan para manusia, menjadi sampah setelah manusia-manusia lain menguras habis makanan yang kami kemas.
Setelah menjadi sampah, aku tak tahu lagi arah dan tujuanku. Ini semua adalah akibat dari perbuatan manusia yuang tidak bertanggung jawab. Seharusnya manusia itu memasukkanku ke tempat sampah. Di sanalah seharusnya aku berada. Namun, manusia itu sama sekali tidak menghargai jasaku. Manusia itu melemparku begitu saja dengan sembarangan.
Padahal, aku tidak suka terombang-ambing oleh angin. Sesekali oleh air jika angin menjatuhkanku ke selokan. Di salah satu selokan mampat, aku sempat menjadi bencana bagi manusia. Di
Aku juga pernah terdampar di pantai. Saat itu, seorang manusia kecil memungutku dan menggunakanku untuk menampung kulit-kulit kerang yang dikumpulkanya. Saat itu, setitik harapan muncul untukku. Aku berharap agar manusia itu membawaku sampai ke rumahnya dan akhirnya melemparkanku ke tempatku : tempat sampah. Namun, sayang sekali, seorang manusia betina yang besar memerintahkan manusia kecil itu untuk memindahkan kulit-kulit kerangnya ke plastik yang lebih keras dan tebal.
“Hey! Bungkus makanan!” plastik itu mengejekku.
“Memang kenapa kalo aku bungkus makanan?”
“Kamu cuma dipake sekali, terus jadi sampah! Hahaha! Aku dong… Tupperware! Aku tahan lama dan bisa digunakan berkali-kali. Bahkan, aku tahan suhu ekstrim! Hahaha!”
“Huh! Aku
“Hahaha! Ini
“Biar saja! Suatu saat nanti, aku pasti didaur ulang!”
“Hahaha!” ia terbahak-bahak. Muatanku telah berpindah seluruhnya kepadanya. Aku pun dilempar sembarangan lagi dan melayang bersama angin lagi, sementara ia dibawa oleh manusia-manusia itu. Ia pergi sambil terus menertawakanku, “hahaha!”.
Angin membawaku lagi. Sesekali aku menyapa teman-teman sampahku saat kuterbang dibonceng angin. Angin melepasku di tepi jalan. Di ujung jalan itu, tampak seorang manusia sedang mengumpulkan sampah-sampah plastik ke dalam sebuah keranjang besar yang dipikulnya. Sayangnya, ia telah lama berlalu dari tempatku berada. Ia telah memunguti sampah-sampah yang tadinya berada di tempatku berada saat ini dan sekarang ia telah berjalan pergi memunggungiku.
Aku berteriak-teriak memanggilnya, tapi aku tahu ia tidak dapat mendengarku. Sebagian sampah di dalam keranjang itu mengintip iba kepadaku, sebagian tak peduli, sebagian lagi bahkan menertawakanku.
Kini aku sendirian di tepi jalan. Semua sampah yang tadinya tegeletak di sini telah naik keranjang bersama manusia tadi. Tidak ada lagi yang tersisa untuk sekedar menemaniku.
Tiba-tiba saja, seorang manusia berukuran sedang menghampiriku. Ia memungutku dari tepi jalan dan mencari tempat sampah untuk meletakkanku. Dia baik sekali.
“Dasar orang
Sementara itu, dua manusia lain kebetulan berjalan melewati manusia baik itu.
“Sok bersih banget sih!” celetuk salah satu manusia yang kebetulan lewat itu dengan ketus dalam bahasanya.