Tampilkan postingan dengan label untuk sang kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk sang kenangan. Tampilkan semua postingan

26/08/09

hilang IV

Kuli itu diungsikan ke sebuah kamar di bagian belakang ruko oleh sang kakek. Di sana, beberapa kuli membantu mengobati tangan kakinya yang lecet dan memar, juga dahinya yang berdarah tertimpa tangga. Sebentar saja, sang kakek muncul membawa segulung perban, lalu membantu membalut luka di dahi si kuli. Kuli tersebut sangat berterima kasih. Kakek itu memberikan dua botol obat Cina, sebotol arak dan sebotol tie da yao jin untuk si kuli. Saat pulang nanti pun, kakek itu akan memberi bayaran lebih bagi kuli yang tertimpa bencana itu.

Ketika kuli itu telah ditinggal sendirian di kamar belakang itu agar bisa istirahat, cucu perempuan sang kakek penasaran ingin menengoknya. Sang cucu meminta izin ke toilet –yang kebetulan juga terletak di bagian belakang ruko- kepada sang kakek.

Di kamar belakang, Arien menemukan Gani.

“Aku tau kamu masih hidup,” bisik Arien dengan senyum lebar di wajahnya. Arien beranjak duduk di sisi ranjang yang ditiduri Gani.

Gani terlonjak kaget. Ia terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit. Dahinya terasa berdenyut. Ia tidak mampu berkata-kata. Arien pun terkejut karena reaksi Gani yang begitu rupa.

Untuk beberapa lama, mereka saling diam. Tidak bicara dan salah tingkah. Terkadang ada yang mencoba memulai, sudah membuka mulut, tetapi tak muncul satu patah kata pun. Lalu, mereka menyerah. Mereka membiarkan jam dinding mendominasi ruangan dengan detak detiknya. Mereka saling diam dan masing-masing tersedot kepada masa lalu. Butuh waktu lama agar mereka masing-masing merasa dekat lagi seperti dulu kala.

Ketika perasaan akrab itu sudah cukup membauri mereka, mereka pun saling tatap.

“Ngapain kamu ke sini?” Gani memulai.

“Ini toko kakekku.”

“Oh.”

Hening lagi.

“Kamu lihat aku?”

“Kamu luka-luka gara-gara aku. Maaf ya...”

“Bukan itu maksudku. Kamu lihat, aku ini miskin. Aku cuman bisa kerja serabutan. Hidup pontang-panting. Kamu lihat diri kamu. Kamu anak orang kaya. Pengusaha sukses. Gak pantes kita deket-deket begini.”

Dengan dahi terkerut sempuran, Arien mencurigai, “omongan kamu persis Mama.”

“Memang mama kamu yang bilang begitu sama aku.”

Mata Arien terbelalak.

“Gak usah heran,” Gani hendak bercerita, “sebelum kamu pulang dari Singapur, mama kamu nyamperin aku.” Kedekatan yang terasa di antara mereka berdua membuatnya menjadi berani untuk terbuka. “Orang tua kamu kasih aku rumah dan uang. Mereka mau aku pergi dan jauh-jauh dari kamu. Aku gak boleh berhubungan dengan kamu lagi. Kalo sampai aku nolak, aku masuk penjara. Lagian, apa kata mama kamu toh bener! Aku memang gak pantes buat kamu.”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gani. Dahinya makin berdenyut.

“Kamu rela ninggalin aku untuk rumah dan uang? Kamu takut masuk penjara?” Arien menuntut dalam isaknya.

“Kamu mengharapkan sesuatu yang berlebihan, Rien!” bentak Gani. “Kamu tau ayahku udah meninggal. Siapa yang urus ibuku kalo aku dipenjara?” Urat-uratnya menegang dan tampak di lehernya. Dahinya makin berdenyut. “Kamu enak! Orang tua kamu tajir! Kamu gak usah mikirin duit, duitnya dateng sendiri! Kamu liat aku! Aku ini orang susah! Kalo gak kerja keras, gak dapet duit! Gimana mau makan? Kamu juga tau ibuku sakit-sakitan! Aku gak tega liat dia kelaperan! Kamu tau, aku bisa bawa dia berobat karena duit yang orang tua kamu kasih!” Napasnya tersengal-sengal.

Arien menangis sesungukan. Arien sungguh-sungguh menyesali ucapan dan tuntutannya. Ia begitu saja menghambur memeluk Gani. Gani mendekapnya erat. Di pelukan Gani, Arien makin deras menangis.

“Rien, aku gak pantes deket-deket kamu. Apalagi meluk kamu kayak gini. Aku gak tau diri,” ucap Gani lirih sekali.

Gani hendak melepas Arien dari pelukannya, tetapi Arien bertambah erat memeluk, sehingga tubuh Gani yang tadi terjatuh dari tangga terasa ngilu. Ia kembali memeluk Arien dan membelai rambutnya.

Muncul sebuah gagasan di kepala Gani. Gagasan itu ia rumuskan menjadi sebuah janji yang ia ingin Arien percayai dan pegang teguh. “Aku janji, aku akan kerja keras. Aku akan jadi orang sukses. Lalu-“

“Sssst...” Arien memotong.

Mereka berdua lama sekali tetap berpelukan seperti itu. Menikmati detak jantung lawannya.

Sementara, kakek Arien yang tetap setia menunggui toko tahu persis apa yang terjadi di belakang sana. Ia sempat menguping sebentar. Ia tersenyum-senyum. Mengingat bagaimana hal serupa terjadi atas dirinya dan istrinya. Ia tersipu-sipu. Dalam hati, ia berjanji akan membantu kuli itu.

*****


-harus berakhir di sini-

02/08/09

hilang

Seorang gadis remaja, begitu jelita, teronggok tak beradaya di ranjangnya. Raganya tidak sakit. Hanya jiwanya sedang bimbang. Merenung-renungi masa lalunya. Masa-masa indah bersama seorang remaja putra yang sangat membahagiakan dirinya. Kemudian, masa-masa sulit ketika mereka menghadapi orang tua masing-masing. Kedua orang tuanya yang merasa tidak sudi anaknya terlalu akrab dengan anggota masyarakat golongan ekonomi bawah karena dianggap memalukan atau membuat aib. Juga satu-satunya orang tua kekasihnya, yaitu ibunya, yang menganggap persahabatan dengan orang kaya hanya akan memberi kesempatan bagi mereka untuk menghina dan melecehkan dirinya. Kemudian, teringat masa-masa perpisahan mereka. Ketika ia diharuskan meneruskan studi ke luar negeri, sementara kekasihnya tidak punya cukup dana untuk turut serta.

Kini ia kembali ke tanah air di waktu liburannya. Segala benteng yang dibangunnya untuk menghalangi memori sentimentil itu agar tidak mengganggu studinya kini runtuh seketika. Tepat ketika ia menginjakkan kakinya di tanah air, menghirup udara setempat. Semua kenangan menyerbu masuk ke dalam dirinya. Membuatnya menjadi perhatian banyak orang karena menangis secara tidak wajar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tak lama, muncul kedua orang tuanya, yang mengira anaknya menangis karena terlampai merindukan mereka, memeluknya dan membuat orang-orang maklum.

Beberapa hari telah ia lewatkan di rumah, tidak banyak yang ia telah lakukan. Ia lebih banyak terkapar di kamar. Merenungi kenangan. Di mana ia sekarang? Masih ingatkah padaku? Masih sudikah denganku?

Telepon genggam ia raih untuk menghubungi seorang teman terdekat. Dari teman dekatnya itu, kemudian ia mendapatkan nomor-nomor teman-teman yang lain. Ia memulai sebuah penyelidikan kecil dengan dibantu teman baiknya itu.

***

“Gimana? Apa kata Endah?” tanya si gadis.

“Dia bilang, udah sekitar tiga bulan dia gak nongkrong-nongkrong bareng mereka,” jawab sahabatnya membuat dirinya kehilangan harapan karena kenyataan bahwa Endah adalah kekasih terakhir kekasihnya setelah ia tinggalkan tidaklah menolong.

Mereka berdua tampak berpikir lama. Masing-masing mengerutkan dahinya. Semua mendiamkan minuman lezat yang tersaji di depannya. Tiada juga yang memerhatikan mereka, tidak pengunjung-pengunjung kafe yang mereka tongkrongi, tidak juga pelayan-pelayan di sana, kecuali sepasang mata milik seorang laki-laki yang duduk sendirian di pojok. Tadinya ia tampak tenang-tenang saja. Menyeruput kopi sambil membaca buku dan menikmati kesendiriannya. Namun, kini dahinya pun turut dikerut-kerutkan. Tak lama, ia datang menghampiri dua gadis yang semenjak tadi ia perhatikan.

“Cindy? Arien?”

Yang mereasa namanya disebut pun menoleh.

“Nando?” terdengar pekik serempak dengan dua nada berbeda. Yang satu dengan tertarik dan senang, yang satu dengan penuh harapan.

“Kamu ngapain di sini?” Cindy, sahabat si gadis cantik yang juga tak kalah cantik, mendadak ceria berbasa-basi dengan penuh kecentilan.

Nando tersipu-sipu menjawab lirih, “minum kopi.”

Arien, si gadis yang benar-benar berkeperluan dengan penyelidikan kecilnya, berusaha menyusun pertanyaan di dalam kepalanya untuk kemudian disemburkan kepada Nando, yang ia tahu benar adalah teman baik kekasihnya. Ia masih sempat mengutuk-ngutuki dirinya sendiri yang tidak kepikiran untuk menanyakan Nando kepada teman-temannya yang lain atau kepada sahabatnya yang naksir berat Nando ini.

Tanpa menunggu pertanyaan untuk selesai tersusun di kepala Arien, Nando mendahului bertanya, “gue denger dari temen-temen lain, lo lagi nyari si Gani.”

“Iya.”

“Percuma lo tanya-tanya mereka.”

Pernyataan Nando membuat dua gadis di depannya terbelalak bingung.

“Sejak lo tinggal,” Nando meneruskan, “dia udah jarang banget maen sama anak-anak laen. Jadi petapa di rumah. Ketemu gue aja jarang!”

“Endah?” Cindy terpikir akan gadis lain yang belakangan dikabarkan berpacaran dengan Gani.

“Endah kan dari bahuela udah naksir berat sama Gani,” Nando menjelaskan,”sejak lo pergi,” ia menunjuk Arien, “dia nempel-nempel si Gani, trus ngaku-ngaku udah jadian. Padahal, kalo dateng ke rumah Gani aja, dia cuma diladenin sama emaknya Gani. Gani mah boro-boro mau keluar kamar cuman buat ketemu cewek centil macam gitu!”

Sesuatu menyengat hati Arien. Ia ingat perlakuan ketus ibu Gani padanya. Ternyata ibu Gani lebih menyenangi Endah daripada dirinya. Cindy yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya langsung memotong pembicaraan Nando, “terus, sekarang Gani di mana?”.

“Nah, itu gua juga gak tau!” jawaban Nando mengecewakan sekaligus mengejutkan mereka berdua.

“Sekitar... Hmmm... Tiga bulan lalu, dia pindah rumah. Gak bilang-bilang ama gue! Monyet! Gue tau dari tetangganya! Trus gak ada kabar lagi ampe sekarang.”

Kini semua tertunduk lesu.

Paling tidak, sekarang Arien mendapat satu tenaga baru untuk masuk ke dalam tim penyelidiknya.

*

Semua pulang ke rumah masing-masing.

Sampai di rumah, Arien langsung masuk ke kamar untuk berganti baju. Sebelum ia membuka bajunya, pembantunya telah memanggil-manggil.

“Noooon! Non Ariiiiin! Ada telpon! Katanya penting!”

Buru-buru Arien keluar dari kamarnya dan meraih gagang telepon tanpa kabel yang telah diantar oleh sang pembantu sampai ke depan pintu kamarnya.

“Makasi, Bi,” katanya sebelum masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu.

“Halo?”

“Iya, halo! Kamu Arien?” suara wanita paruh baya begitu ketus di seberang sana.

“I-iya, aku Arien. Ada apa ya?”

“Heh! Kamu! Jangan cari-cari Gani lagi! Cewek gak tau diri! Jangan cari-cari anak gua lagi!”

Arien susah payah menelan ludah dan berkeringat dingin.

“Denger gak kamu!”

Arien jatuh terduduk di ranjangnya yang tebal dan empuk.

“Kamu anak orang kaya, cari cowok orang kaya juga sana! Jangan genit-genit sama anak gua! Jangan kamu kira karna lo banyak duit, semua orang tunduk sama lo! Najis!”

“Ma-maaf, Bu?”

“Eh, gua najis sama bapak lo, tau! Bapak lo tuh pejabat korup! Gua najis kalo anak gua harus deket-deket sama anak tukang korup! Apalagi ampe megang duit hasil korup lo! Najiiiis!!”

Sekarang Arien mengerti mengapa segala hadiah di segala hari raya yang ia berikan kepada ibu Gani selalu ditolak dengan cara paling menyakitkan.

“Setan! Denger gak lo! Jauhin anak gua!”

Klik. Telepon dimatikan secara sepihak dari seberang sana.

Dengan tangan berkeringat dingin dan gemetaran, Arien bersusah payah menekan tombol redial.

“Halo?” ucapnya lirih, “Bu?”

“Maaf, Dek,” suara seorang pria, “ini telepon umum.”

Arien menghela napas.

“Sudah yah? Saya mau pake.”

“Iya, Pak. Maaf.”

Klik.


(bersambung)

31/07/08

Sang Kenangan Telah Pulang

Tera melangkah perlahan sepanjang jalan setapak kuburan itu. Udara pagi yang dingin dan berembun membelai kulitnya. Kemeja hitam dan rok hitamnya tidak mampu melawan udara yang menggigilkan tubuhnya. Dengan dituntun seorang penjaga kubur tua yang baik, ia menemukan kuburan yang ia cari. Kuburan yang sederhana. Dengan nisan kayu dan tidak dicor. Kembang-kembang setengah segar berwarna merah muda masih banyak bertebaran di atasnya.

Tera duduk perlahan di sebelah kubur itu. Si penjaga kubur pamit dan pergi. Tera sendiri di sana. Menyediakan waktu pribadi bagi dirinya dan dia yang di dalam kubur itu. Tera meletakkan sebuah kotak kardus yang sejak tadi ia bawa dengan kedua tangannya. Pelan-pelan, ia buka kotak itu. Ia keluarkan seikat mawar hitam yang dililit pita hitam yang indah.

”Ini melambangkan cinta dan hatiku yang sedang berduka,” bisik Tera sambil perlahan-lahan meletakkan bunga itu di atas kubur di hadapannya.

Kemudian, dari kardus itu juga ia mengeluarkan beberapa kartu ucapan yang telah ditumpuknya selama bertahun-tahun. Kartu ucapan ulang tahun dan hari raya Valentine. Semua karyanya sendiri. Baik desain maupun tulisan di dalamnya.

Ia angkat salah satu yang berbentuk persegi seukuran kotak CD. Ketika dibuka, di dalamnya ada kepingan bulat dengan lubang kecil bulat di tengahnya. Di atasnya ada sebait tulisan karangan Tera. Ia bisikkan perlahan isinya.

”Paru-paru tidak bekerja tanpa NAPAS

Jantung tidak berpacu tanpa NAPAS

Darah tidak mengalir tanpa NAPAS

Hidup tidak berlaku tanpa NAPAS

Kaulah NAPAS-ku

28 Agustus 2007.”

Setetes air mata mengaliri sebelah pipinya.

Ia mengangkat salah satu kartu yang lain. Berbentuk jam matahari. Di sekeliling angka-angka Romawi-nya, sebait tulisan juga untuk seseorang yang sedang ditangisi Tera. Ia membisikkannya pelan.

”Andai dapat kuputar waktu

Dan perbaiki laku

Tapi aku tidak mampu

Yang kupunya hanya rindu

Untukmu

14 Februari 2008.”

Beberapa tetes air mata mengaliri pipi Tera.

Ia memungut kartu-kartu itu dan ia tumpuk di satu tempat. Lalu, ia singkirkan kardus di hadapannya. Dengan tangannya, perlahan-lahan ia gali lubang kecil di sisi kubur itu. Kemudian, ia masukkan kartu-kartu itu ke dalam lubang itu. Ia tutup kembali lubang itu. Lalu, ia meraih kardus yang tadi telah disingkirkannya. Dari dalam kardus itu, ia keluarkan kelopak-kelopak bunga mawar hitam dengan beberapa genggam tangannya untuk ia taburkan di atas tanah yang mengubur kartu-kartunya, lalu tanah yang mengubur separuh hatinya.

Andai tak pernah kusia-siakan kesempatanku untuk meminta maaf padamu dan menyatakan isi hatiku, bisik Tera dalam hati.

*Kupersembahkan untuk Cintaku yang telah berpulang ke Rumah Bapa di Sorga.

26/05/08

mimpi

Aku sangat percaya kepada mimpi. Bagiku, mimpi bukanlah "hanya" kembang tidur. Mimpi juga bukan "sekedar" ingatan-ingatan tak penting di siang hari yang terbawa tidur. Mimpi selalu mempunyai sesuatu untuk disampaikan kepadaku. Meskipun ketika kuceritakan mimpiku kepada orang lain selalu ada yang meremehkanku bahwa aku hanya seorang remaja dengan emosi labil. Aku tetap percaya pada mimpi-mimpi itu.

Salah satu cerita adalah suatu malam ketika aku memimpikan seorang bayi kecil yang bugil dan berdarah-darah merangkak ke arahku. Namun, ia peralahan-lahan berhenti. Mati. Ketika kuceritakan kepada adikku di pagi harinya, ia yakin itu hanya karena di hari sebelumnya aku menonton sebuah film horor bermutu seadanya tentang makhluk yang melahirkan di kuburan. Makhluk itu melahirkan dengan bantuan seorang bidan dari bangsa kuntilanak. Lalu, karena laki-laki yang menanamkan benih kepadanya tidak mau mengakui anak itu, seorang genderuwo yang baik hati bersedia menjadi ayah angkatnya. Anak itu pun diberi nama oleh genderuwo itu. Namanya Tuyul. Baiklah, kembali ke mimpi tentang bayi merangkak yang mati mendadak itu. Setelah berdebat dengan adikku di pagi hari, siang hari itu juga, kami mendapat kabar bahwa ibuku yang saat itu hamil telah keguguran. Bagiku, itu bukan sekedar kebetulan belaka.

Cerita lain adalah ketika aku bermimpi sopirku mengebut gila-gilaan ketika mengantarku ke sekolah suatu di pagi. Saat itu, ia tertawa-tawa seperti orang gila sampai lidahnya memanjang dan menjulur-julur ke luar. Matanya juga keluar dan terkatung-katung pada urat-urat di belakangnya. Aku berteriak-teriak tanpa ia hiraukan. Bukan mimpi yang enak untuk didengar, diceritakan, apalagi dialami. Esok hari setelah mimpi itu, sopirku tidak lagi datang ke rumahku untuk memberikan jasanya. Belakangan, kudengar ia dipenjara karena tertangkap melarikan mobil orang. Ibuku sampai merasa bersalah karena merasa gaji yang selama ini diberikannya kurang.

Maka, lain waktu ketika mimpi-mimpi lain datang untuk bercerita dalam tidurku, aku selalu menyambut mereka dengan baik. Aku menyimak mereka baik-baik. Terkadang, aku pun harus berusaha menafsir mereka dan aku berusaha menafsir dengan baik.

Suatu ketika datang kepadaku sebuah mimpi. Ia tergolong mimpi yang harus kutafsir agar dapat kumengerti. Mimpi itu tentang pacarku. Di sebuah lorong panjang dan remang-remang, kulihat pacarku itu berlari terbirit-birit ke arahku, tapi ia tersandung dan jatuh. Ketika ia bangun dari jatuhnya, aku menjerit keras-keras karena kulihat wajahnya hancur dan busuk. Langsung saja aku terbangung terduduk di ranjangku. Napasku terengah-engah dan aku berkeringat dingin. Jika begini keadaannya, aku tahu bahwa itu bukanlah mimpi biasa.

Aku pun merenung. Entah mengapa, selesai dari perenunganku, aku menyimpulkan bahwa pacarku tidak sebaik dugaanku. Ia adalah laki-laki berhati busuk yang bersembunyi di balik sikap manisnya dan ia akan segera menunjukkan sifat aslinya. Sebelum ia sempat melakukan itu, aku buru-buru meninggalkannya tanpa kabar.

Karena itulah aku sangat menyesal. Belakangan kuketahui bahwa ia ditimpa masalah besar. Ayahnya meninggal dan ia putus sekolah. Tidak itu saja, ia dan ibunya dikejar-kejar lintah darat karena ayahnya meninggalkan sejumlah hutang.

Ya, tebakanmu benar. Aku salah menafsirkan mimpi. Tafsiran yang benar adalah bahwa ia sedang jatuh ke dalam kesulitan dan ia sangat membutuhkanku. Ia membutuhkanku sebagai tempat mengadu dan menghibur diri. Akan tetapi, aku meninggalkannya dengan cara yang sangat kejam dan menyakitkan baginya.

Ketika telah kusadari semua, telah terlambat, tetapi aku tetap berusaha mencari kekasih hatiku itu. Aku hendak meminta maaf dan menawarkan sedikit bantuan. Namun, ia telah mengganti semua nomornya, pindah rumah, tak ada lagi kabar terdengar darinya. Aku telah berusaha mencarinya. Ia hilang. Lenyap tak berjejak.

Sejak saat itu, aku tak percaya lagi pada mimpi. Aku merasa mimpi telah mengkhianatiku.

Bahkan, suatu saat ketika sebuah mimpi yang mengerikan mendatangiku berulang kali dan selalu membuatku bangun terduduk dan terengah-engah, aku tidak mau menghiraukannya. Dalam mimpi itu, aku berdiri di tengah jalan raya. Kemudian, sebuah truk angkut besar berwarna kuning menabrakku sampai hancur lebur tak berbentuk dan tak bernyawa. Mimpi yang bodoh. Mana mungkin aku begitu bodohnya berdiri mematung di tengah jalan.

Aku tidak akan pernah percaya pada mimpi itu jika apa yang kumimpikan itu tak terjadi pada akhirnya. Saat itu matahari telah tegak lurus di atas kepalaku. Bayangan tubuhku hanya tersisa secuil tepat di bawah kakiku. Saat itu, sekolah baru usai. Aku berjalan dari kelas ke tempat parkir, tapi tak menemukan mobilku terparkir di sana. Maka, aku menelepon sopir baruku. Rupanya, ia harus mengantar ibuku keluar kota untuk urusan mendadak, sehingga ia tidak bisa menjemputku.

Terpaksa aku harus naik angkutan umum. Untuk mendapatkan angkutan umum yang kubutuhkan, aku harus berjalan dari gerbang depan sekolah sampai ke sebuah persimpangan, lalu menyeberang dua kali. Penyeberangan pertama berhasil. Menjelang penyeberangan kedua, jantungku berpacu kencang. Mengingatkanku pada mimpi yang menghantuiku di tiap malam belakangan ini. Aku terlanjur tidak percaya pada mimpi. Maka kuteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki-kakiku. Sebelumnya, aku menengok ke kiri dan kanan. Tak ada truk besar maupun truk kuning. Langkahku yang ragu-ragu menjadi mantap.

Tiba-tiba, mataku tertumbuk pada sesosok pria bertubuh liat dan berkulit hitam. Wajahnya babak belur. Jelas habis dikeroyok. Apakah kau dapat menebaknya? Itu cintaku yang hilang. Ia telah kembali. Ia menantiku di seberang jalan. Menatapku dengan perasaan perantau haus yang terjebak di gurun. Terlintas sekilas saja gosip di antara teman-temanku bahwa ada seseorang yang selalu memata-mataiku dari seberang jalan.

Tak kusadari, langkahku terhenti. Kami saling tatap. Tak satupun dari kami menghiraukan hiruk pikuk klakson mobil yang merasa terganggu oleh keberadaanku di tengah jalan. Juga tak terhiraukan hiruk pikuk orang-orang di pinggir jalan yang meneriakiku dengan maksud menyuruhku menepi. Tak juga ada di antara kami yang terkejut ketika sebuah truk kuning besar pengangkut tanah menabrakku. Tak juga di antara kami ada yang peduli ketika orang-orang dari pinggir jalan mengerubungiku.

Kami telah saling tatap dalam jarak yang lebih dekat. Saat itu, dalam penglihatanku, ia tidak lagi babak belur. Ia tampan dan manis, lebih dari sebelum-sebelumnya. Ia tersenyum menatapku dan aku terseyum balik menatapnya. Tangan-tangan kami yang tembus pandang dan lebih ringan dari udara saling bergandengan. Kemudian, bersama kami melalui sebuah perjalanan yang tidak logis dan tidak mungkin dijelaskan kepada orang-orang yang masih hidup dalam tubuh berdaging bertulang berdarah mengalir.

Kami hampir tiba di tempat tujuan kami. Di sana, kami akan berkumpul dengan arwah-arwah lain. Dari jauh aku telah melihat Romeo dan Juliet di antara pintu gerbang. Mereka hendak menyambut kami. Kurasa, mereka menjabat sebagai kepala daerah di sana. Kulihat juga di belakang mereka berdua, semua orang berpasangan menatap kepada kami. Tak lama kemudian, kami telah melewati sebuah gerbang mewah dengan plang besar di depannya yang bertuliskan kalimat selamat datang.

"SELAMAT DATANG DI DESA SUKACINTA".

15/09/07

temu

Mereka saling bertatap.

“Aku menemukanmu, akhirnya.”

“Aku menemukanmu, akhirnya.”

“Aku merindukanmu.”

“Bagai ikan yang dirampas dari air.”

Mereka berpegangan tangan.

“Tetapkah cintamu untukku?”

“Tak pernah berkurang setitik pun, makin melimpah tiap harinya.”

“Tak terbendung pula cintaku untukmu.”

Mereka saling menaung dengan peluk.

Hangat.

Lembut.

Mereka saling merasakan detak jantung.

Tenang.

Damai.

Mereka saling mengecup dan sesekali saling berbisik.

“Tidakkah kita kembali?”

“Bersatu?”

“Dalam kasih.”

“Dan birahi.”

“Tidak!”

Mereka terkoyak lepas satu sama lain.

“Tidak?”

“Tidak! Ini pengkhianatan!”

“Pengkhianatan?”

“Terhadap hati masing-masing.”

“Mengapa?”

“Karena kita tidak saling memiliki”

Mereka saling berteriak.

“Lalu milik siapakah aku kalau bukan milikmu?”

“Milik kekasihmu yang menunggumu dengan setia sementara kau mengkhianatinya bersama masa lalumu!”

“Lantas milik siapa kau ini?”

“Milik kekasihku yang sekarat dalam kerinduannya kepadaku sementara aku mengkhianatinya bersama kenanganku!”

Mereka terdiam.

Mereka tertunduk malu.

Mereka saling berbalik.

Mereka berpisah.

Mereka kembali kepada takdir masing-masing.

28/08/07

hari ini kenanganku berulang tahun

Kujahit hatiku yang sobek

tapi jarum menyakitinya

dan benang tidak menyatukannya

Andai kau tahu

hari ini aku menyukurimu,

wahai Napasku

Sebab

Paru-paruku tak bekerja tanpamu

Jantungku tak berpacu tanpamu

Darahku tak mengalir tanpamu

Aku tak hidup tanpamu

Menanti

Menanti

Menanti

Kemana dirimu, kenanganku?

Andai kau tahu

sakitnya disobek rindu

perihnya dijahit air mata

07/08/07

air mata korosif


Pedih hatiku

Terbakar

Perih hatiku

Mencair

menjadi tetes-tetes air mata

melelehkan diriku

Dalam sakit

Dalam sedih

Dalam derita

Musnahkan aku

tanpa jejak
tanpa raga
tanpa rasa
tanpa nyawa
tanpa jiwa
tanpa diri
tanpa memori
tanpa kenangan
tentang dirimu

18/07/07

kembali

Telah kuputuskan kau adalah kenangan
Kau kembali

Semoga kita dapat memadu kasih
Saling mencinta
Menjadi saudara
Seperti dulu kala