29/12/08

koma putih polos

Wah, sudah lama tidak meng-update blog! Jadi bau busuk blog basi ini!

Sebelum mengepos cerita-cerita baru, saya akan terlebih dahulu mengungkit-ungkit cerita basi yang belum sempat termuat di sini.

Salah satunya terjadi pasca ujian sekolah. Saat itu, saya sedang dikejar-kejar deadline majalah gereja. Majalah komisi remaja yang diberi julukan KOMA (singkatan dari Komisi Remaja) dengan subtitle Media Komunikasi Remaja AGAPE.

Saat itu, saya tengah dilanda kepanikan karena setelah tiga minggu merenungkan cover untuk tema “Buah Roh” dan “Keselamatan” (tema bulan November dan Desember), saya belum juga menemukan suatu gambaran atas dua tema abstrak tersebut.

Akhirnya, cover-nya hanya putih. Namun, putih itu mewakili dua tema di atas. Berikut penjelasan yang juga saya muat dalam KOMA sebagai cover story.

Dear KOMAners,

Gue tau, cover KOMA kali ini agak abnormal. Makanya, gue merasa perlu membela diri kalo dituduh “males bikin cover”.

Sebenarnya, ngerjain cover tuh penuh perjuangan, eh, pergumulan banget. Salah-salah, bisa dituduh sesat, trus dirajam massa.

Nah, untuk cover edisi ini, pergumulannya paling berat. Liat aja temanya: Buah Roh dan Keselamatan! Gak mungkin kan gambar buah-buahan? Trus, gambarnya keselamatan tuh kayak gimana? Ilustrasinya pun gak kepikiran kayak apa!

Akhirnya, setelah perjalanan putar-putar di labirin otak, gue memutuskan untuk bikin cover putih doank. Ingat, bukan karna males!

Putih tuh lambang dari kesucian. Untuk diselamatkan, Yesus telah berkorban menebus dosa kita biar kita putih bersih lagi. Dengan begitu, kita dilayakkan menghuni sorga.

Tapi, dari generasi ke generasi, edisi ke edisi, cover KOMA kan selalu pake maskot DOMBA?! Tenang saja... Cover yang ini juga pake domba. Cuman, di-zoom terlalu deket. Jadi keliatan bulunya doank: putih.

Jadi, begitu ceritanya, KOMAners...

Mohon maaf lahir dan batin yah kalo mengecewakan.

Dengan pembelaan konyol semacam itu, saya merasa cover putih polos telah sah dan baik adanya.

Kendala kembali terjadi saat proses percetakan. Waktu menunjukkan jam lima sore ketika saya telah sampai di tempat penyedia jasa fotokopi yang merangkap tempat percetakan. Saat itu hujan, sehingga saya harus naik mobil untuk sampai ke sana. Di dalam mobil, turut serta oma dan pembantu saya yang bertujuan lain.

Setelah menyerahkan tugas percetakan kepada salah satu staf di sana, saya pun berangkat menuju tempat tujuan oma dan pembantu saya. Sebuah mal di mana di dalamnya ada sebuah tempat yang menyediakan fasilitas dan jasa terapi listrik. Hal tersebut diperlukan oleh oma saya yang sakit rematik di kakinya.

Sambil belanja, saya menunggu oma saya. Setelah belanja, jam menunjukkan pukul enam petang hari. Saya teringat hasil percetakan yang harus saya ambil. Maka, saya tanyakan kepada pembantu saya yang saat itu saya kira lebih tahu, “pho-pho (bahasa Cina: oma dari pihak ibu) masih lama gak?”. “Bentar lagi,” jawabnya. Maka, saya memutuskan untuk menunggu sambil baca buku.

Tak terasa, satu bab sudah terbaca sambil menunggu. Saya melirik jam dan terkejut. Pukul tujuh malam! Sementara tempat fotokopi dan percetakan itu tutup enam tiga puluh!

Setelah segala kepanikan dan proses rumit, saya sampai di tempat fotokopian itu. Memang sudah tutup. Saya meminta sopir saya untuk mengantar pulang dahulu oma dan pembantu saya pulang, kemudian ia harus kembali lagi ke sana untuk menjemput saya.

Saya putus asa, duduk tercenung di teras tempat itu. Tak lama, beberapa perempuan Jawa (saya tahu karena mereka berdialog dalam bahasa Jawa) lewat membawa makanan dan masuk ke tempat itu melalui pintu lain. Sejenak, salah satu dari mereka melirik ke saya. Saya ingat wajahnya, tetapi tidak ingat kapan dan di mana ketemu (ia adalah staf yang saya serahi tugas mencetak KOMA). Maka, saya mengalihkan pandangan saya ke tempat lain. Pengalihan pandangan saya itu rupanya berarti sesuatu bagi perempuan itu. Ia langsung berguman, “kirain mau ngambil majalah.”

Gumamannya tentu membuat duduk saya tertegak dan saya menoleh cepat kepadanya dan berkata “emang”. Matanya membulat besar dan mulutnya menganga. Tak lama, ia merespon, “tak kira gak dateng! ‘Kan tadi adek bilang mau diambil jam setengah tujuh!”. Saya tersenyum lebar, menemukan harapan.

Dengan cepat, ia menjelaskan bahwa toko (maksudnya tempat fotokopi dan mencetak itu) telah dikunci, sehingga kami tidak dapat mengakses ke dalam. Dengan repot-repot, ia dan seorang temannya mengantarkan saya ke rumah pemilik toko yang tidak jauh dari toko tersebut.

Sayangnya, sang pemilik toko telah beranjak untuk berakhir pekan. Meskipun demikian, staf toko memberikan kepada saya nomor telepon genggam pemilik toko tersebut untuk saya hubungi. Setelah saya hubungi, kami sepakat bahwa esok paginya, ia akan mengambilkan majalah-majalah KOMA untuk saya ambil. Dengan demikian, selesai sudah masalah ini.

Masalah lain datang ketika KOMA terbit. Para pembaca memprotes keadaan cover yang putih polos. Namun, mereka bisa menerima setelah membaca cover story.

Namun, malam harinya, saya mendapat pesan singkat dari pemimpin redaksi bahwa redaktur pendahulu menyatakan bahwa cover KOMA tidak diperbolehkan tanpa gambar. Diikuti dengan saran bahwa apabila saya tidak mendapat ide, saya boleh mendiskusikannya dengan para redaktur lain. Dengan perasaan tersinggung karena merasa diremehkan begitu, saya meminta nomor telepon genggam si pendahulu.

Setelah saya hubungi, rupanya ia tidak menyatakan pelecehan semacam yang di atas itu. Ia menyatakan bahwa cover kontroversial tersebut menimbulkan masalah karena tidak semua redaktur tahu maksud dari cover tersebut, sehingga ketika jemaat lain menanyakannya, mereka hanya bisa bertidak tahu dan hal tersebut dari berbagai sudut dipandang tidak baik adanya.

Lihatlah betapa jauh informasi bisa berubah jika telah melewati terlalu banyak perantara.

Ah, demikian saja.

tinggal dalam IX

Epilog

Dari Malioboro, kami kembali ke Jakarta. Kembali ke Kelapa Gading. Kembali ke sekolah. Dari sekolah, pulang ke rumah masing-masing.

Sebentar saja saya menunggu di sekolah sebelum Ayah kandung saya menjemput saya. Setelah itu, kami mendatangi sebuah rumah makan untuk memesan lontong sayur dan lauk-pauk sebagai sarapan kami. Kami minta makanan itu dibungkus untuk dimakan di rumah.

Sampai di rumah, rasanya rindu sekali. Yang saya rindukan dari rumah adalah baunya, kehangatannya, dan toiletnya yang berada di dalam.

Setelah menghayati segala keberadaan rumah saya, saya membuka kardus besar berisi oleh-oleh dari orang tua di Ngaduman. Rupanya, isinya banyak sekali. Kentang, wortel, kembang kol, ubi jalar enak-manis-apalagi-kalau-digoreng.

Beberapa hari kemudian, kentang dan wortel menjelma sup, kembang kol menjelma sayur tumis, dan ubi jalar menjelma kolak.

-Harus TAMAT di sini-

tinggal dalam VIII

IV. Pulang atau Pergi?

Sampai di tempat di mana kami menemukan angkutan umum, Ayah dan Ibu memasukkan barang-barang kami ke dalam angkutan yang kami tempati. Kami menyalami Ayah dan berpelukan dengan Ibu. Saya masih sempat melihat Ibu menangis ketika berpisah dengan kami. Saya pun dengan susah payah menahan tangis.

*Karena saya terus-menerus menahan tangis, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukan menahan tangis karena sok kuat dan sebagainya, melainkan karena tidak mau concealer mata yang menutupi kantong mata saya, yang hitam-tebal-besar, luntur.

Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum yang senantiasa berguncang, saya banyak merenung. Saat itu, saya sama sekali tidak merasa seperti seorang kota hendak yang pulang ke kota asalnya. Saya justru merasa sebagai warga desa Ngaduman yang hendak merantau mengadu nasib di Jakarta. Sementara kebanyakan teman tampak senang akan bertemu kembali dengan keluarga mereka di kota (kebanyakan mereka menderita home-sick), saya justru sedih karena meninggalkan keluarga saya di desa.

Dengan angkutan umum tersebut, kami kembali ke pasar Kopeng. Di sana, kami berjumpa kembali dengan teman-teman yang terpisah ke desa Cuntel.

Dari pasar Kopeng, kami naik ke bis-bis kami, yang menyerupai kulkas berjalan, lagi. Dari sana, kami menuju sebuah hotel di Yogyakarta. Hotel Ruba Graha. Di hotel tersebut, terpelihara berbagai jenis hewan langka. Kebanyakan adalah reptil dan amfibi. Di hotel itu juga, kami siswa-siswi kelas IPS bertemu dengan siswa-siswi kelas IPA.

Malam harinya, kami semua bersama-sama menghadiri sendratari (mungkin ini adalah singkatan dari “seni drama tari”) Ramayana. Cerita tradisional asal India yang cukup populer di Indonesia. Rupanya, sendratari Ramayana di sekitar Candi Prambanan tersebut adalah penampilan pertama dalam rangka menjadikan Yogyakarta kota pariwisata. Sendratari tersebut dilakonkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas Gajah Mada.

Selain siswa-siswi SMAK 5 BPK Penabur, beberapa menteri dari negara-negara tetangga dan beberapa menteri dari Indonesia juga menjadi penonton perdana pertunjukan tersebut. Yang sangat disayangkan adalah sikap sebagian besar menteri Indonesia yang datang terlambat, mengobrol selama pertunjukan, dan bermain telepon genggam selama pertunjukkan. Sangat tidak berkelas. Teladan buruk.

*

Setelah semalam menginap di sana Ruba Graha, siswa-siswi kelas IPA harus menempuh perjalanan ke desa. Sementara, siswa-siswi IPS berbelanja ria di Bakpia Pathok XX (bukan sensor, tapi lupa) dan Malioboro.

Di Malioboro, rombongan saya yang anggota intinya terdiri dari Pak Chris, saya, Melisa, dan Anastasia berbelanja banyak dengan Pak Chris sebagai juru tawar. Alhasil, bawaan kami bertambah dan dompet kami menipis.

Yang sangat disayangkan adalah keramaian yang terlalu padat di Malioboro memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa siswi SMAK 5 BPK Penabur.

***

tinggal dalam VII

Ngaduman, 14 November 2008.

Talent show? Pertunjukan talenta? Pertunjukan bakat? Yah, pokoknya hari ini ada acara semacam itu. Keluarga-keluarga membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa keluarga. Tiap kelompoknya harus menyajikan drama yang merupakan persilangan cerita dongeng zaman dahulu dengan cerita modern. Hasilnya luar biasa menghibur. Apalagi, penduduk desa sangat antusias.

Kelompok saya sendiri mengadaptasikan cerita Maling Kundang dan Popeye si Pelaut ke dalam sebuah drama komedi.

Diceritakan di desa Ngaduman ada seorang bapak yang stres karena anaknya mempunyai gejala untuk menjadi sampah masyarakat. Sang bapak marah-marah kepada anaknya. Menyuruh anaknya menuntut ilmu ke kota dan menjadi orang yang berguna di kemudian hari. Dituntut demikian, si anak, Malin Kundang, menjadi stres.

Di tengah kegalauan hatinya, datang dua temannya merekomendasikan jasa dukun kepadanya. Dua temannya itu merekomendasikan dua dukun yang berbeda.

Dukun pertama ia datangi. Dukun itu memberikan resep rumit dan membacakan mantra. Ternyata, resep dan mantra dukun itu tidak cocok dengannya, sehingga ia malah menderita gatal-gatal dan iritasi ringan.

Dukun kedua ia datangi. Dukun ini direkomendasikan salah satu temannya sebagai “Sarjana Dukun”. Dukun kedua ini merekomendasikan sebuah tempat di kota, di mana Malin Kundang dapat menemukan bayam ajaib. Bayam ajaib itulah yang akan menolongnya.

Sampai di kota, ia benar-benar menemukan penjual yang memiliki bayam ajaib. Ia membeli bayam ajaib tersebut.

Baru sebentar di kota, Malin telah menambatkan hatinya kepada seorang wanita cantik, Olive Oil. Minyak Zaitun? Yah, pokoknya, Olive Oil. Ternyata, perjalanan cintanya mengahadapi kesulitan ketika datang orang ketiga di antara mereka, Brutus. Brutus yang tergila-gila kepada Olive ini tidak rela Olive bersama dengan Malin. Maka, Brutus menculik Olive.

Dengan kekuatan bayam, Malin menyelamatkan Olive. Kemudian, mereka menikah. Setelah menikah, mertua Malin dan Olive ingin bertemu dengan keluarga Malin di desa.

Rupanya, sesampai di desa, Olive tidak lagi menyukai Malin karena mengetahui ia hanya anak orang miskin. Olive pergi meninggalkannya. Sementara, Malin mati-matian menyangkal orang tuanya. Karena itu, Malin dikutuk menjadi kambing.

Tamat.

Demikianlah cerita drama kelompok saya.

Setelah pengumuman pemenang lomba pertunjukan bakat, acara dilanjutkan dengan sharing. Berbagi. Berbagi isi hati.

Tiap keluarga membentuk kelompok kecil yang duduk membentuk lingkaran kecil di atas tikar yang digelar di tengah-tengah aula gereja. Dengan lilin kecil pendramatisir suasana di tengah lingkaran kecil, kami memulai sesi berbagi ini.

Ketika sesi dimulai, saya hendak mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Namun, saya diserobot oleh isak tangis Ibu. Sangking tersedu-sedan ia menangis, ia sampai tidak sanggup berkata-kata. Sebagai orang yang duduk tepat di sebelahnya, saya mengelus-elus tangan dan pundaknya untuk menenangkannya. Saya melihat di sebelahnya, Yoga ikut menangis karena melihat ibunya sedih.

Setelah lebih tenang, Ibu berusaha berbicara meskipun putus-putus oleh isakannya. Dari kalimatnya yang putus-putus, saya menyadari bahwa ia sedih karena saya. Ia sedih karena kasihan melihat saya puasa tiga ronde. Puasa makan malam kemarin, puasa makan pagi dan siang hari ini. Ia takut saya sakit. Padahal saya takut bertambah buncit (saya selalu merasa mirip kucing bunting jika buncit. Kurus dan perutnya besar).

Ternyata, meskipun tidak turut menangis, Ayah pun sedih. Terdengar dari nada bicaranya. Ia sedih juga karena saya. Juga karena kasihan kepada saya. Ia kasihan ketika melihat saya bersusah payah naik-turun gunung saat berladang.

Saya jadi turut menangis karenanya. Pertama, karena saya merasa bersalah telah membuat mereka bersedih. Kedua, karena terharu akan kepedulian mereka. Sungguh, luar biasa. Anehnya, dalam tangis saya, saya masih memasang wajah tersenyum lebar. Tersenyum lebar sambil berurai air mata. Andaikata saat itu saya membaca cermin.

Bagai tidak cukup segala isak tangis itu, kami harus membicarakan perpisahan. Esok hari, kami memang akan berpisah. Namun, rasanya tidak perlu dibahas. Membuat makin sedih saja.

Pesan moral: Budayakan kepedulian terhadap sesama.

***

tinggal dalam VI

Ngaduman, 13 November 2008.

Akhirnya, kesempatan meladang tersedia untuk saya. Pagi-pagi, saya, Melisa, dan Ayah pergi meladang bersama. Mendaki gunung samapi kaki gemetaran. Terpeleset berkali-kali, untung tidak sampai jatuh. Ayah sampai memberikan saya sebilah kayu panjang berdiameter segenggaman tangan untuk dijadikan tongkat.

Kami bertiga berjalan beriringan sampai di kebun wortel milik Ayah nun jauh di atas desa. Di sana, saya dan Melisa membantu Ayah mencabuti wortel-wortel yang sudah matang. Ciri-cirinya adalah batangnya besar dan daunnya merunduk. Sayanganya, berkali-kali kami mencabut wortel yang belum cukup besar karena kami kurang pandai menganalisa daun dan batang wortel.

Setelah dari kebun wortel, kami turun agak jauh, lalu bertemu kebun kentang yang telah menunggu dipanen. Kami menggali-gali kentang yang pohonnya telah layu. Rupanya, di bawah pohon-pohon itu, tempat kentang-kentang bersemayam, ada semacam ulat kentang yang mengganggu. Namanya uret. Si hama uret ini memakani kentang. Uret ini sangat lemah. Sangat mudah mati. Ia mati jika kepanasan dan jika dibanting ke tanah. Bentuknya bulat panjang, setebal telunjuk pria dewasa pada umumnya sepanjang ibu jari pria dewasa pada umumnya, dan lembek.

Dengan hasil sekeranjang wortel dan sekarung kentang, kami pun pulang. Jalan turun pun ternyata melelahkan. Sangat mudah terpeleset. Apalagi, dengan kondisi kaki saya yang gemetaran.

Sampai di rumah, beberapa buah kentang langsung menjelma sepiring keripik kentang asin.

*

Di tengah hari, karena masalah rutin kewanitaan, saya membutuhkan tisu demi menjaga kebersihan diri. Sayangnya, tisu yang saya bawa telah habis. Maka, saya memutuskan untuk berjalan ke sebuah warung di ujung jalan. Hanya berselang beberapa rumah dari rumah saya.

Pemilik warung tersebut adalah Ibu Ningsih. Rupanya, di rumah Ibu Ningsih tidak tersedia tisu. Namun, masih ada harapan karena beberapa saat kemudian suaminya akan berangkat ke kota untuk mengambil persediaan barang. Karenanya, setelah membeli beberapa jenis barang saya kembali lagi di sore hari.

Sore hari, saya kembali ke warung Bu Ningsih.

Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok.

Beberapa ronde, saya lancarkan ketukan kepada pintu. Terdengar suara Bu Ningsih menyahut dari dalam. Tak lama, ia telah membukakan pintu dan mempersilahkan saya masuk. Namun, sayang sekali, tisu yang saya butuhkan itu belum juga ada. Suaminya lupa mengambil stok tisu di kota. Saya panik.

“Duh, gimana dong? Aku butuh nih!”

Beberapa kali saya mengeluh, membuatnya turut bingung.

Dua kali ia masuk kembali ke dalam rumah, mencari tisu, lalu keluar dengan hasil kosong.

Di kali berikutnya, ia kembali dengan separuh bungkus tisu di tangannya. Ia memberikan tisu itu kepada saya secara cuma-cuma. Ia menolak bayaran dari saya. Dengan rasa sungkan dan rasa bersalah, saya menerima tisu tersebut.

Saya berterima kasih sejadi-jadinya, lalu pamit seramah-ramahnya.

Di tengah jalan pulang, saya mendengar suara Bu Ningsih memanggil-manggil saya dari belakang. Saya berhenti, berbalik badan, dan menemukan Bu Ningsih sedang berlari ke arah saya. Di tangannya, segulung tisu. Segulung tisu yang tidak baru itu pun ia paksakan menjadi milik saya secara cuma-cuma. Rupanya, saya tak kuasa menolaknya.

Pesan moral: Berikanlah kepada mereka yang lebih membutuhkan.

***

tinggal dalam V

Ngaduman, 12 November 2008.

Hari ini, saya mendapatkan giliran mengajar di SDN 01 Kamel bersama teman-teman sukarelawan lain. Saya dan seorang teman saya, Kevin, kebagian mengajar kelas 4 SD. Kami semua mengajar bahasa Inggris. Karena mengajar, saya kehilangan kesempatan satu kali meladang bersama Ayah dan Ibu. Namun, mengajar juga merupakan sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan.

Bagaimana tidak? Anak-anak sungguh antusias. Rupanya, banyak juga kosakata yang telah mereka kuasai sebelum kami mengajarkannya, Semangat belajar mereka luar biasa. Dua jam penuh untuk satu mata pelajaran dan mereka antusias secara statis sampai akhir. Mereka pun tidak nakal, tidak menyeletuk tidak pantas, dan mereka mendengarkan kami dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya, jumlah mereka sangat minim. Hanya 6-10 anak dalam satu kelas. Di kelas 4 SD, dari 10 anak hanya ada 1 perempuan. Padahal, sekolah tersebut dibuka bagi tiga desa.

Selain itu, saya juga menyesali diri saya yang belum cukup menguasai bahasa Inggris. Rupanya, Kevin pun sama-sama minim kosakata. Maka, ketika anak-anak menanyakan bahasa Inggris dari ubi jalar, kami belum bisa menjawab “sweet potato”. Juga banyak kosakata lain yang sampai sekarang masih belum saya ketahui.

Pesan moral: Pelajarilah materi baik-baik sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

*

Di sore hari, ketika bosan menganggur di kamar yang kurang penerangan untuk membaca buku, saya beranjak ke dapur bersama Melisa. Di sana, kami dapati Ibu sedang mengupas bawang. Tanpa basa-basi, saya langsung meraih sebutir bawang merah dan mengupasnya. Tak lama, Ibu memberikan sebilah pisau bagi saya untuk menjadi alat bantu.

Setelahnya, kami bersama-sama merenungi kompor batu berkayu bakar yang tengah menyala garang. Di atasnya, kuali ceper kecil memuat sup ayam yang kuning karena berbumbu kunyit.

Tak lama, Melisa bangkit dan berjalan ke arah pintu belakang yang memang berada di dapur. Pintu tersebut terdiri dari dua bagian, atas dan bawah, masing-masing separuh. Saat itu, bagian ataslah yang terbuka.

Rupanya, di antara kami bertiga, hanya Melisa yang menyadari rerintik hujan halus di luar. Mungkin karena saya dan Ibu lebih terfokus pada gemerutuk kayu bakar. Kami berdua bangkit menyusul Melisa. Kami melihat pemandangan tertutup kabut, tetapi masih samar-samar terlihat.

“Itu di sana rumah kentang,” kata Ibu sambil menunjuk sebuah bangunan kayu-anyaman kecil. Ia bercerita bahwa akhir tahun lalu, saat musim hujan, pernah ada bagai yang merobohkan rumah itu, sehingga rumah itu harus dibangun lagi dari awal. Ia membalut cerita susah itu dalam tawa. Saya bahkan tak sanggup untuk sekedar tertawa palsu untuk membalas tawanya. Saya hanya sanggup bergelengan kepala sambil berdecak-decak sambil menahan miris dalam hati.

*

Malam hari, ketika sedang tidur-tiduran di kamar, saya meraba-raba perut saya. Saya terkejut. Perut saya membesar. Perkiraan saya, lingkar perut saya bertambah 3-4 cm. Setelah merenung-renung, saya menyadari betapa saya makan terlalu banyak dan menganggur terlalu sering. Pasti karena Ibu pandai memasak dan rajin bekerja. Tidak ada pekerjaan yang tersisa bagi saya. Yang ada hanya makanan enak berlimpah. Saya kemudian mengingat-ingat apa saja yang telah saya makan hari ini.

Pagi: nasi goreng, telor ceplok, tempe goreng, kerupuk. Pagi menjelang siang: perkedel, ubi manis super enak digoreng nikmat. Siang: sekotak besar nasi, sayur, perkedel, ayam goreng, sambal tomat, kerupuk (piknik). Sore menjelang malam: semangkuk besar kolak labu besar (yang membuat saya dan Melisa tidak sanggup memuat makan malam). Sampai menjelang tidur pun, pencernaan saya belum selesai memproses makanan-makanan tersebut. Akibatnya, pencernaan saya harus kerja lembur.

*

Pesan moral: Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang (kutipan). (Tambahan) Akan tetapi, jangan tolak makanan dari orang desa.

***