17/11/08

ganggu

Dia membuatku merasa tidak nyaman. Ya, dia, yang berdiri di depan kelas dengan wajah cerah, senyum mempesona, dan postur tubuh nyaris sempurna.

Dia makin mengganggu kenyamananku dengan berjalan ke arahku, menaruh barang bawaannya tepat di sebelah kakiku, lalu berdiri tepat di sebelahku. Dengan cepat, aku men-dial sebuah nomor di telepon genggamku, lalu beranjak pergi.

“Halo? Jemput aku sekarang di sekolah.”

----

Flashback.

Plak!

Amplop merah jambu berisi sepucuk surat berisi sebait puisi terbanting di meja.

“Lo gak usah ngasih-ngasih gue beginian lagi!”

“Kenapa? Kamu gak suka?”

“Bagus kalo lo tau! Gue gak suka lo kasih gue beginian! Gue gak suka lo! Gue paling gak suka lo ganggu cewek gue!”

Seisi kelas menatap kami dengan wajah penasaran.

----

Hmmm, ya, enam tahun lalu, ketika aku mulai menaruh hati padanya, ia telah bersama perempuan itu. Ia masih bersama perempuan itu sampai sekarang. Hal ini masih menyakiti hatiku sampai sekarang. Sebetapapun aku mencoba lari dan melupakan. Aku makin merasa terpuruk setiap aku menyadari bahwa aku hanya seorang perempuan yang sangat biasa, tidak menonjol, sementara perempuan itu nyaris sempurna. Sangat cantik, postur tubuh sempurna, pandai, tegar, luar biasa, mempesona, ia pusat perhatian. Mereka berdua adalah sepasang manusia sempurna.

----

Flashback.

“Kenapa sih kamu benci aku?”

“Pecun bego! Lo gak nyadar? Gila lo ya! Lo tuh cuman bikin rusak hidup gue!”

“Aku cuman cinta kamu. Apa itu salah?”

“Salah besar bego! Makhluk jelek kayak lo tuh gak pantes deket-deket gue! Cuman bikin bencana!”

----

Ya, ya. Makhluk buruk rupa macam aku sempat merusak nama baiknya. Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di mal. Aku melihatnya, lalu mengejar-ngejarnya. Beberapa orang yang berival dengannya melihat adegan tersebut, menyebarkan gosip ke mana-mana bahwa ia berselingkuh dengan pembantu rumah tangga.

----

Flashback.

“Gue mau minta maaf sama lo.”

“Kenapa?”

“Selama ini, gue sering jahat sama lo. Gue sering ngerjain lo. Padahal, lo kan suka sama gue.”

Pipiku memerah. “Gakpapa kok.”

“Makasi yah.”

Ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi kiriku, memajukan tubuhnya hingga hampir menghimpitku kepada dinding, lalu berbisik halus di telingaku.

“Kamu mau jadi pacarku?”

Sekujur tubuhku panas seketika dan wajahku merah tak terkira. Mulutku terbuka tanpa suara. Aku tak sanggup berkata-kata, apalagi menjawab.

Seketika, sejumlah tawa besar meledak.

“Hebat! Hebat lo! Hahaha!”

“Ayo kita maen lagi!”

Ternyata dia kalah taruhan.

Perasaanku? Bayangkan saja sendiri.

----

Yang menjemputku tidak datang-datang. Aku mulai bosan. Aku menoleh sekeliling. Sekejap, aku memergoki matanya melirik ke arahku. Aku beranjak ke tempat yang lebih jauh.

----

Flashback.

“Wah, lo berubah banget yah sekarang? Udah ngerti tren dan make-up.”

Aku hanya tersenyum.

“Sayang, kalo tampang udah ugly, didempul setebel apapun yah tetep ugly!”

Tawa meledak. Aku diam. Aku mengeluyur pergi. Berlari ke toilet. Menangis sesungukan di sana.

----

Akhirnya, yang menjemputku pun datang. Aku beranjak dari lobi sekolah ke lapangan parkir. Di sana, yang kutunggu setengah duduk di atas motor. Tersenyum ke arahku, menyodorkan helm dan jaket kepadaku. Aku pun balas tersenyum dan menerima sodorannya, segera mengenakannya dengan sempurna di tubuhku.

Seketika, kulihat beberapa laki-laki, termasuk dia yang kehadirannya membuatku merasa tidak nyaman, menghampiri kami.

----

Flashback.

“Kamu mau gak nerima aku jadi pacar kamu?”

“Hm? Emangnya, kamu mau sama cewek jelek kayak aku?”

“Kamu gak usah denger omongan orang yang gak bagus begitu. Kamu jangan ikut-ikutan mereka menghina ciptaan Tuhan.”

“Hm... Apa kamu suka aku?”

“Iya.”

“Sejak aku jadi lebih cantik?”

“Sejak pertama aku lihat kamu, kamu udah cantik.”

Aku tersenyum bahagia.

Aku pun tersadar seketika, berjuta adegan melintas di kepalaku sebagai bukti, selama ini ia memang begitu baik dan memperhatikanku.

----

Beberapa dari mereka membawa balok kayu. Aku mulai ketakutan. Aku berteriak. Laki-laki yang tadi kutunggu-tunggu memelukku erat.

----

Flashback.

“Hebat yah, lo sekarang udah punya cowok!”

“Iya. Jadi, sekarang lo bisa tenang. Gue gak bakal ganggu cowok lo lagi.”

“Gak segampang itu.”

“Mau apa lagi? Selama ini, kalian berdua udah cukup banyak ngerjain gue. Apa gak cukup?”

“Gak. Gue mau lo putusin cowok lo itu.”

“Hah? Lo gila!”

“Gue gak suka lo deket-deket dia!”

“Eh, lo kan udah punya cowok!”

----

Ada apa, kak?”

“Brengsek lo!”

“Aku salah apa?”

“Gue kasih tau lo! Cewek gue selama bertahun-tahun nempel-nempelin gue cuman buat ngejar lo! Ternyata lo lebih milih pecun buluk ini!”

“Jangan kasar gitu dong, kak!”

“Najis lo masih manggil gue kakak! Gue gak sudi punya adek kayak lo!”

Hantam.

Ribut.

Hantam.

Darah.

Hantam.

Ribut.

Hantam.

Habis.

----

Flasback.

“Kalo aku mati nanti, aku mau kamu inget bahwa aku cinta kamu dan buat aku selamanya kamu yang paling cantik.”

“Ih, jangan ngomong gitu ah! Serem banget sih!”

“Kita bisa mati kapan aja.”

27/10/08

lihatlah

Mungkinkah orang tua membenci anak kandungnya sendiri? Tidak, kata guruku di sekolah. Ibu guru berkata, orang tua tidak mungkin membenci anak kandungnya sendiri. Jika mereka marah, semata-mata karena rasa sayang mereka. Lihatlah Bu Guru, di televisi. Setiap siang, sambil makan siang, tontonlah berita agar kau tau bahwa ada orang tua yang tega membunuh anaknya, memperkosa anaknya, menyiksa anaknya, membuang anaknya, dan lain-lain. Tengoklah itu di sela-sela jam makan siangmu, Bu Guru.

Apabila bisa, Bu Guru, aku juga akan mengundangmu ke rumahku. Akan tetapi, kau harus menjadi invisible woman dahulu. Wanita tak terlihat. Dengan begitu, kehadiranmu tidak akan disadari kedua orang tuaku. Maka, mereka akan bersikap seperti biasa, seperti jika tidak ada tamu. Mereka tidak membunuhku, tentu saja. Mereka juga tidak memperkosaku dan tidak membuangku. Namun, mereka menyiksaku, sadar ataupun tidak.

Bu Guru, aku bisa membedakan bagaimana kemarahan karena sayang dan bagaimana kemarahan karena benci. Aku melihatnya di film-film yang cukup bermutu, bagaimana ayah atau ibu yang marah kepada anaknya karena kekecewaan yang diakibatkan kepedulian dan rasa sayang kepada anak itu. Lihatlah raut wajah mereka yang menyimpan duka dan kecewa di balik amarah. Di mata mereka ada kasih dan luka ketika mereka memukuli anak mereka.

Hal itu juga kudapati pada Kakek dan Nenek. Mereka begitu baik padaku. Mereka begitu peduli dan sayang padaku, sehingga itu juga reaksi mereka ketika aku berbuat nakal. Setelah memarahi dan memukuliku, aku selalu mendapati Nenek menangis menyesal. Setelahnya pun, mereka baik kembali kepadaku.

Bandingkanlah dengan orang tuaku, Bu Guru. Lihatlah kilat amarah di mata mereka ketika mereka menghajarku. Lihatlah raut mereka yang sangar dan beringas. Tuduhan-tuduhan dan fitnah berbalut caci-maki dalam kata-kata mereka. Mereka menanyakan penjelasan kepadaku seperti polisi mengintrogasi maling. Mereka memarahiku seperti para senior yang membenci junior di sekolah. Mereka memukuliku seperti sedang membunuh hama. Setelah itu, tidak ada yang menangis selain aku. Mereka akan pergi meninggalkan rumah dengan penuh amarah. Di luar sana, mereka bersenang-senang berdua. Kesenangan mereka masih mereka bawa pulang, paling tidak sebelum mereka melihatku.

Setelah bertemu denganku, wajah mereka kembali kusut dan penuh kebencian lagi. Mereka akan mendiamkanku berminggu-minggu, bahkan sampai kami sama-sama lupa apa kesalahanku. Mereka tidak memberiku uang jajan. Membiarkanku kelaparan sampai sakit maag. Itulah mengapa aku sering meminta obat di UKS sekolah. Teman-teman baikku yang merasa kasihan akan mentraktirku makan secara bergantian setiap hari. Mereka begitu baik dan pengertian.

Di saat-saat tertentu, Bu Guru, aku merasa aku bukan anak mereka. Maksudku, bukan anak kandung mereka. Bukan hasil pembuahan Ayah dan tidak lahir dari rahim Ibu. Namun, jika demikian, bagaimana mungkin wajahku begitu mirip dengan mereka? Juga banyak kesamaan fisik antara aku dan mereka? Nenek pun sering meyakinkanku bahwa aku sungguh anak kandung mereka. Ia bersaksi bahwa ia menyaksikan proses kelahiranku. Ia yakin bahwa aku pun bukan anak yang tertukar di rumah sakit karena bentuk dan warnaku begitu khas, sehingga ia pasti mengenaliku. Iya, waktu baru lahir aku kecil, aneh, dan kuning. Aku melihat fotoku dan tidak percaya dulu aku memang begitu. Nenek menasihatiku agar aku tidak berpikir macam-macam.

Lalu, di saat aku benar-benar membutuhkan konfirmasi dari orang tuaku, mereka malah membantah. Mereka marah-marah (mereka SELALU punya alasan untuk marah) dan memaki-makiku, anak setan, anjing, sapi, tuyul, bangsat! Jika aku memang anak setan, anjing, sapi, tuyul, atau bangsat, tentu aku bukanlah anak mereka yang keduanya adalah manusia murni asli.

Maka, aku mengerti, mereka orang tua kandungku yang tidak mau mengakuiku sebagai anak mereka. Aku hanya pembeban hidup mereka. Aku berjanji, secepat mungkin aku akan menjadi produktif. Menghasilkan uang sendiri, lalu pergi dari mereka. Ketika aku sudah sukses nanti, aku akan membayar apa yang telah kuambil dari mereka. Aku katakan itu kepada mereka. Kau tahu apa reaksi mereka, Bu Guru?

Aku diteriaki ANAK DURHAKA! Anak haram jadah! Anak sialan! Lagi-lagi, itu berarti aku bukan anak mereka. Tidak tahu diuntung! Tentu saja mereka bukan sekedar berteriak-teriak. Mereka juga memukuliku dengan gagang sapu, bangku rotan, apapun yang keras dan bisa mereka angkat untuk mereka banting. Tak lupa, menghantamkan gelas beling ke wajahku. Aku yakin, kau tidak mau lihat hasilnya. Mengerikan dan menyakitkan.

Sudahkah kau mengerti, Bu Guru? Percayakah kau sekarang, bahwa orang tua bisa saja membenci anak kandung mereka sendiri?

19/10/08

terlambat

Kau tahu guru Bina Pribadi? Atau Bina Kepribadian? Guru BK atau guru BP? Di sekolah-sekolah berjenjang Menengah Pertama dan Menengah ke Atas (jadi mau ke tengah atau ke atas nih?), mereka bercokol sebagai wadah penampung masalah murid-murid, spons penyerap air mata siswi-siswi curhat, dan –diharapkan- menjadi pemberi solusi bagi siswa-siswi yang merasa tidak sanggup mencari solusi sendiri.

Belakangan ini, aku bermasalah dengan seorang guru BP (aku lebih senang menyebutnya BP daripada BK). Ini terjadi karena saya sering sekali tidak tepat waktu hadir di sekolah. Terlambat. Begitulah.

Ketika kebetulan kami bertemu di kantin sekolah pada saat jam istirahat, ia langsung menghampiriku (yang bahkan tidak tahu ia guru apa). Saat itu, aku sedang makan sendirian di salah satu meja-sepaket-bangku kantin (karena aku berkeras mau makan di kantin, sementara teman-temanku ingin makan di kelas). Ia begitu saja duduk di depanku dan memulai ritual makan siangnya.

Percakapan di bawah ini dilakukan sambil makan, sehingga kata-kata di bawah ini terucap dengan tidak jelas dan terkadang terjadi hal-hal menjijikan (seperti makanan yang melompat keluar dari mulut).

“Halo, Rei!”

“Ya.”

“Apa kabar?”

“Bae.”

“Emm... Tadi kamu telat lagi?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Pak...”

“Entar aja yah ceritanya.”

“Kenapa?”

“Lagi makan neh.”

“Oh, iya, iya. Maaf,” kata si guru BP sambil salah tingkah.

Selesai istirahat, aku masuk ke kelas dan menceritakan “insiden kadatangan guru BP” itu kepada teman-temanku, sehingga mereka semua cekikikan.

.

Sepulang sekolah, aku membaca buku di perpustakaan. Ketika aku sedang asik membaca, tiba-tiba saja si guru BP telah duduk di depanku dan menyapaku.

“Reini.”

“Ya?”

“Kalo sekarang, udah bisa cerita?”

“Cerita apa?”

“Yah, kenapa kamu telat?”

Sejenak, aku teringat masa SMP, ketika aku begitu sering dipanggil guru BP untuk konseling. Dari masalah keterlambatan (mereka menyebutkan “kedisiplinan”), sampai masalah keluarga. Ada saja masalah yang menurut mereka perlu dikonselingkan. Saat itu, ketika aku sedang tidak ingin berbicara dengan si guru BP, aku akan memperdengarkan kepadanya apa yang ingin ia dengarkan supaya aku bisa cepat-cepat terbebas darinya. Namun, jika aku sedang bosan belajar, aku akan mengarang-ngarang masalah dan membuatnya bingung. Hahaha!

Saat ini, aku sedang ingin membaca buku, tetapi ada sedikit kejahilan menggerogoti nafsuku.

“Ooh, tadi pagi, Pak?”

“Iya.”

“Jadi gini, saya tuh kemaren udah nyalain alarm. Eh, ternyata hape saya eror! Alarmnya gak nyala deh! Saya gak kebangun deh! Telat deh!”

“Emangnya gak ada pembantu yang bangunin kamu?”

“Belum pulang mudik.”

“Papa, Mama, ato sodara kamu?”

“Biasanya mereka baru bangun setelah saya berangkat.”

Ia tampak berpikir sejenak. Selayaknya kebanyakan guru BP, berusaha memberi solusi (meskipun aku tidak butuh solusi darinya). Tak lama, ia menyerah.

“Terus, kemarin? Kamu telat kenapa?”

“Pagi-pagi, saya sembelit, Pak. Jadi saya kelamaan di kamar mandi. Habis itu, cari obat, gak ketemu. Harus ke warung dulu. Eh, warungnya pagi-pagi belum buka. Ke apotek. Apotek juga belum buka. Balik lagi ke warung, gedor-gedor pintu. Baru si Mbok keluar.”

Si guru BP geleng-geleng kepala.

“Kemarennya lagi, kenapa?”

“Itu karena hape saya mati, Pak. Saya gak tau dia lowbat. Tau-tau dia mati. Jadi, paginya dia gak bunyi deh!”

“Duh, susah juga yah.”

“Kemarennya lagi, kenapa dong?”

Wah, guru ini tidak mudah menyerah. Saya memutar otak.

“Hmm, saya lupa.”

Belum ada ide muncul.

“Kenapa yah, waktu itu? Hmm...”

Berpikir lagi.

Ah, ya!

“Oh, saya inget, Pak! Waktu itu, saya udah mau berangkat pagi-pagi. Eh, sopir saya telat! Yasudah, saya cari tukang ojek. Ternyata, pagi-pagi belum ada. Jadi saya balik lagi ke rumah. Mau minta dianter Papa. Banguninnya aja susah banget! Terus, harus nunggu dia buang air besar dulu, Pak! Parah deh!”

“Ck ck ck... Kemarennya lagi, kenapa dong?”

Haduh, guru yang satu ini keterlaluan!

“Waktu itu, saya udah bangun pagi. Terus, pas saya mau mandi, ternyata adek saya lagi boker! Harus nunggu dulu deh!”

“Kemarennya lagi? Kenapa tuh?”

“Itu... Kan pembantu saya lagi mudik. Jadi, Mama yang harusnya nyiapin sarapan. Eh, dia lupa! Saya jadi harus nyiapin sendiri. Telat deh, Pak!”

“Duh, banyak sekali alesannya!”

“Bukan alesan, Pak! Itu bener. Mana mungkin sih saya sengaja telat.”

“Iya, sih. Bapak juga gak bilang kamu sengaja. Cuman, kok halangannya banyak sekali ya?”

“Yah, mau gimana lagi, Pak...”

“Masalahnya, Rei...”

“Iya, Pak?”

“Apakah kamu jujur?”

Deg!

“Ah, mosok saya bohong sih, Pak?”

“Saya tidak menuduh kamu bohong, Rei.”

“Jadi, apa maksud Bapak?”

“Gini, Rei. Tadi pagi, saya telpon Mama kamu.”

Oh, no!!

“Kata Mama kamu, kamu selalu telat karena selalu bangun kesiangan. Padahal sudah dia bangunkan, tapi kamunya gak mau bangun-bangun.”

24/09/08

comblangkan saja

“Ehm, Ta...”

“Iya?”

“Aku pengen ngomong nih sama kamu.”

”Ngomong aja.”

”Aku udah lama suka sama kamu.”

”...”

”Kamu mau gak jadi pacarku?”

”Kita ’kan kakak-adek?”

”Tapi ’kan gak beneran.”

”Hmm...”

”Gimana? Kamu butuh waktu untuk mikir-mikir dulu.”

”Nggak deh. Aku gak mau jadi pacar kamu. Kayak gini udah cukup kok.”

***

”Ta, gimana acara nge-date lo kemaren?”

”Sukses berat! Dia nembak gue!”

”Waaah... Kalian udah jadian dong sekarang!”

”Nggak tuh!”

”Lho? Kok bisa?”

”Yah gue tolak lah!”

(Kaget) ”Kenapa ditolak?”

”Jual mahal dikit dong! Pasti dia bakal ngejar-ngejar gue terus!”

”Sumpah, lo pinter banget!”

“Hahaha! Ya iyalah!”

***

Hari biasa. Bangun pagi, mandi, mempersiapkan diri, sarapan pagi, pergi ke sekolah. Datang lebih awal 30 menit dari biasanya sebagai hukuman karena terlambat masuk sekolah di hari sebelumnya. Hari biasa yang tidak biasa bagi Udin disebabkan rencana yang telah disusun rapi oleh dirinya sendiri.

Menganggur 30 menit, belajar 3 x 45 menit, istirahat 15 menit, belajar lagi 3 x 45 menit, istirahat 30 menit, belajar lagi 3 x 45 menit, lalu pulang. Jam pulang sekolah, jam biasa yang sangat tidak biasa bagi Udin saat ini. Saatnya untuk melaksanakan rencananya. Jantungnya maraton, hatinya konser musik metal, darahnya balapan liar, otaknya tawuran, sementara tangan, kaki, dan ketiaknya banjir.

Setelah melantunkan doa ratusan kali, ia beranjak dari kelasnya ke kelas target yang telah ditentukannya.

”Ehm, Na?”

”Iya?”

”Bisa ngomong bentar?”

”Iya. Apa?”

“Ehm... Gini lho... Ehm...”

”Iya?”

”Gue tuh... Gue... Ehm...”

“Napa?”

“Gue... Suka... Ehm...”

”Apa?”

”Ehm... Sama... Elo...”

(Malu-malu)

”Ehm... Gimana kalo kita pacaran?”

”Ehm... Gimana yah... Bukannya lo lagi deket sama si Tata?”

”Iya sih...”

”Kenapa gak pacaran sama dia aja?”

”Udah gue tanya...”

”Terus?”

”Dia gak mau.”

“Oooh... Jadi lo nembak gue karena abis ditolak dia?”

“Hah? Eh... Nggak gitu sih...”

“Nggak banget deh!”

“Eh, gak gitu ceritanya...”

“Udah yah, gue pulang dulu.”

“Bentar...”

“Udah dijemput!”

***

“Ta, lo udah denger gosip terbaru belum?”

“Apaan?”

“Si Udin nembak Nana!”

“Hah?? Gak usah bohongin gue deh!”

“Suwer, Ta!”

“Sial banget tuh anak!”

“Hmmm... Udin ato Nana?”

“Semuanya!! Harus gue labrak tuh anak!”

“Hmmm... Udin ato Nana?”

“Yah Nana lah, tolol! Gak mungkin ‘kan gue labrak Udin!”

***

“Din, kalo emang udah jadian sama Tata, harusnya lo gak nembak gue waktu itu.”

“Hah? ‘Kan gue udah bilang, gue ditolak dia!”

“Jangan bo’ong, Din. Kemaren dia marah-marah sama gue.”

What the... Gila!”

***

“Din, napa dangdut gitu muka lo?”

“Seteres.”

“Cerita donk!”

“Si Tata.”

Napa dia?”

“Gue nembak dia, ditolak. Gue nembak cewek lain, dia marah.”

“Oh... Dia emang udah kayak gitu dari dulu!”

“Hah? Kok lo tau?”

“Dulu gue juga digituin sama dia!”

“Sial! Kok gue gak tau!”

“Hahaha! Lo emang gak usah jadi biang gosip, tapi tetep harus tau gosip!”

“Hhhh... Trus lo gimana dulu?”

“Gue comblangin aja dia ama cowok laen. Udah deh, lepas dari gue!”

“Oooh... Gitu toh! Terus, dulu lo comblangin dia ama sapa?”

“Elu. Hehehe...”

18/08/08

pak kumis

Siang ini, sepulang sekolah (di tanggal merah ini, sekolah saya tidak libur), saya beranjak ke sebuah restoran untuk melakukan transaksi jual-beli (produk kosmetik dan perawatan tubuh MLM yang baru saya geluti) dengan seorang klien. Dengan gagah perkasa, saya berjalan kaki dari sekolah satu di SMAK 5 BPK Penabur, yang terletak di Jalan Hibrida, sampai jejeran Mal Kelapa Gading. Dari depan deretan Mal Kelapa Gading itu, saya menghentikan laju sebuah angkot biru bertajuk 37D, lalu menaikinya sampai di depan McDonald Boulevard Barat.

Dari sana, saya menyeberang sampai Holand Bakery. Kemudian, saya menelusuri jalan panjang ke arah bundaran Boulevard demi mencari sebuah restoran yang kunjung saya temukan. Di tengah kebingungan saya, berkali-kali saya menelepon sang klien untuk menanyakan alamat pasti restoran itu, tapi telepon saya tak kunjung diangkat. Senasib dengan SMS-SMS saya yang tak kunjung mendapat balasan.

Saya memutuskan untuk menunggu sebentar di sebuah ruko yang tidak buka pada hari itu. Entah ruko apa itu, letaknya selengkungan dengan Dunkin Donut, Nuansa Musik, dan warnet Nexus. Di tengah penantian saya, muncul seorang pria paruh baya, entah dari mana, begitu saja muncul di samping saya. Tubuhnya agak berisi, kulitnya sawo matang, kumisnya subur, berbaju batik, menenteng jaket coklat, bersepatu pantovel kulit hitam, rambutnya klimis, dan wajahnya susah.

Ia menanyakan arah Pulo Gadung, saya menunjukkannya beserta petunjuk angkot apa yang menuju ke sana dari tempat itu. Orang itu menyatakan bahwa ia tidak butuh angkot, ia akan berjalan kaki, karena uangnya hanya sisa dua ribu rupiah. Maka, saya menawarkan uang receh yang tersisa di kantong saya. Namun, ia menolaknya. Ia menyatakan bahwa dirinya bukan Muslim, sehingga tidak boleh meminta-minta. Pernyataan yang aneh.

Kemudian, tanpa ditanya, ia menceritakan pengalaman pahit yang tengah dialaminya kepada saya. Saya mendengarkan dengan saksama dan berusaha memasang wajah sedih sebagai tanda simpati, meskipun sebenarnya saya kurang menghayati kesulitannya. Berikut ceritanya.

Ia bercerita bahwa ia berangkat dari sebuah rumah sakit di Jawa (tidak saya tanyakan Jawa mana), tanpa telepon genggam dan dengan ongkos pas-pasan. Tujuannya adalah Jakarta, rumah kontrakkan seorang saudaranya. Ia datang untuk membawa kabar dukacita kematian ayahnya. Rupanya, dari pemilik kontrakan, ia mengetahui bahwa orang yang dia cari itu justru sudah berangkat ke Jawa. Ia menjadi bingung.

Di tengah percakapan kami, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa. Saya menyarankan kepadanya untuk mencoba berjualan koran atau menjadi kenek untuk mengumpulkan uang mudah, tetapi ia mengungkapkan masalah waktu. Ia sedang mengejar kereta terakhir di hari itu yang akan berangkat ke daerah tujuannya di Jawa pada jam 15.30 WIB, sementara ia butuh Rp 65.000,- (enam puluh ribu rupiah). Ingat, ia hanya memiliki dua ribu rupiah. Sebagai tanda simpati, saya menggaruk-garuk kepala.

Setelah perbincangan panjang dan bertele-tele, saya memutuskan untuk menyumbang kepadanya Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah). Hanya itu yang bisa saya berikan karena jatah uang saya paling tidak harus bertahan selama satu minggu dan jika saya berikan lebih dari itu, kemungkinan besar saya akan mengalami bencana kelaparan di akhir pekan.

Setelahnya, ia meminta nomor telepon genggam saya, untuk ia kirimi pulsa sebanyak pinjamannya ketika ia telah sampai di tempat tujuannya. Namun, tidak saya berikan. Sebagai gantinya, saya memberikan nomor rekening agar ia dapat mentransfer utangnya. Lalu, saya meminta nomor telepon genggamnya agar bisa saya hubungi. Rupanya, ia lupa. Ya sudah. Lalu, ia mengucap terima kasih, ia turun ke jalan dan mencari tumpangan. Dengan lima puluh ribu itu, ia berniat membujuk kondektur (ketahuilah, saya tidak tahu profesi apa itu).

Karena klien saya tak kunjung tiba, saya memutuskan untuk beranjak ke urusan lain di gereja. Saya mengirim pesan singkat kepada klien saya untuk mengabarinya dan membuat janji lain. Saya berjalan kaki dari tempat itu ke gereja saya, GKI Agape di Jalan Raya Nias. Lelahnya tak seberapa dibanding sorotan matahari yang membuat kulit saya menjadi belang.

Sepanjang perjalanan saya ke gereja, saya menceritakan kepada seorang teman baik saya kejadian yang baru saja saya alami bersama bapak-bapak itu via telepon genggam. Dengan yakin, ia berkata bahwa saya telah ditipu dan bahwa keputusan untuk memberikan nomor rekening adalah kesalahan besar. Entahlah. Jika sudah demikian, kepada Tuhan Yang Maha Tahu-lah saya mengadu.

Saya berdoa agar selembar uang (hasil jerih payah orang tua saya) itu tidak disalahgunakan. Berdoa agar Tuhan menyadarkan orang itu jika orang itu ternyata jahat. Berdoa agar Tuhan mengurungkan setiap niat jahat yang ia rencanakan. Berdoa agar rekeningku aman (di sana hanya ada seratus lima puluh ribu hasil jerih payah memenangkan sebuah lomba karya tulis tingkat kotamadya. Meskipun jumlahnya kecil, kesulitan mendapatkannya membuatnya begitu berarti). Berdoa agar Tuhan membimbing jalan orang itu ke solusi apabila ia memang sedang kesulitan.

Lalu, rugikah saya? Entahlah. Belum bisa saya jawab. Saya sendiri mendapatkan pengalaman baru, mengagumi bakat akting orang itu (jika memang ia berpura-pura), dan mendapatkan cerita baru. Lima puluh ribu rupiah untuk semua itu? Entahlah, apakah setara.

Maaf, Indonesia

63 tahun kemerdekaanmu
17 tahun umurku
Belum ada sesuatu yang berarti dariku untukmu
Maaf, Indonesia

Sejak dapat berpikir, aku mengkritik
Sejak dapat berbuat, aku berjuang
Belum ada perubahan yang berarti bagimu
Maaf, Indonesia

Berabad melawan penindasan
Berabad berjuang untuk kemerdekaan
Memanusiakan manusia
Apakah sudah berhasil?
Maaf, Indonesia

Menonton permainan politik
Kepentingan golongan
Penyengsaraan rakyat
Aku bukan seorang penguasa
Maaf, Indonesia


Entah berapa lama lagi Engkau akan bertahan sebagai sebuah negara
Entah berapa lama lagi aku akan bertahan sebelum menjadi onggokan daging mati
Takkan kusia-siakan waktu untuk memperjuangkanmu
Maju, Indonesia!