29/12/08

tinggal dalam IX

Epilog

Dari Malioboro, kami kembali ke Jakarta. Kembali ke Kelapa Gading. Kembali ke sekolah. Dari sekolah, pulang ke rumah masing-masing.

Sebentar saja saya menunggu di sekolah sebelum Ayah kandung saya menjemput saya. Setelah itu, kami mendatangi sebuah rumah makan untuk memesan lontong sayur dan lauk-pauk sebagai sarapan kami. Kami minta makanan itu dibungkus untuk dimakan di rumah.

Sampai di rumah, rasanya rindu sekali. Yang saya rindukan dari rumah adalah baunya, kehangatannya, dan toiletnya yang berada di dalam.

Setelah menghayati segala keberadaan rumah saya, saya membuka kardus besar berisi oleh-oleh dari orang tua di Ngaduman. Rupanya, isinya banyak sekali. Kentang, wortel, kembang kol, ubi jalar enak-manis-apalagi-kalau-digoreng.

Beberapa hari kemudian, kentang dan wortel menjelma sup, kembang kol menjelma sayur tumis, dan ubi jalar menjelma kolak.

-Harus TAMAT di sini-

tinggal dalam VIII

IV. Pulang atau Pergi?

Sampai di tempat di mana kami menemukan angkutan umum, Ayah dan Ibu memasukkan barang-barang kami ke dalam angkutan yang kami tempati. Kami menyalami Ayah dan berpelukan dengan Ibu. Saya masih sempat melihat Ibu menangis ketika berpisah dengan kami. Saya pun dengan susah payah menahan tangis.

*Karena saya terus-menerus menahan tangis, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukan menahan tangis karena sok kuat dan sebagainya, melainkan karena tidak mau concealer mata yang menutupi kantong mata saya, yang hitam-tebal-besar, luntur.

Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum yang senantiasa berguncang, saya banyak merenung. Saat itu, saya sama sekali tidak merasa seperti seorang kota hendak yang pulang ke kota asalnya. Saya justru merasa sebagai warga desa Ngaduman yang hendak merantau mengadu nasib di Jakarta. Sementara kebanyakan teman tampak senang akan bertemu kembali dengan keluarga mereka di kota (kebanyakan mereka menderita home-sick), saya justru sedih karena meninggalkan keluarga saya di desa.

Dengan angkutan umum tersebut, kami kembali ke pasar Kopeng. Di sana, kami berjumpa kembali dengan teman-teman yang terpisah ke desa Cuntel.

Dari pasar Kopeng, kami naik ke bis-bis kami, yang menyerupai kulkas berjalan, lagi. Dari sana, kami menuju sebuah hotel di Yogyakarta. Hotel Ruba Graha. Di hotel tersebut, terpelihara berbagai jenis hewan langka. Kebanyakan adalah reptil dan amfibi. Di hotel itu juga, kami siswa-siswi kelas IPS bertemu dengan siswa-siswi kelas IPA.

Malam harinya, kami semua bersama-sama menghadiri sendratari (mungkin ini adalah singkatan dari “seni drama tari”) Ramayana. Cerita tradisional asal India yang cukup populer di Indonesia. Rupanya, sendratari Ramayana di sekitar Candi Prambanan tersebut adalah penampilan pertama dalam rangka menjadikan Yogyakarta kota pariwisata. Sendratari tersebut dilakonkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas Gajah Mada.

Selain siswa-siswi SMAK 5 BPK Penabur, beberapa menteri dari negara-negara tetangga dan beberapa menteri dari Indonesia juga menjadi penonton perdana pertunjukan tersebut. Yang sangat disayangkan adalah sikap sebagian besar menteri Indonesia yang datang terlambat, mengobrol selama pertunjukan, dan bermain telepon genggam selama pertunjukkan. Sangat tidak berkelas. Teladan buruk.

*

Setelah semalam menginap di sana Ruba Graha, siswa-siswi kelas IPA harus menempuh perjalanan ke desa. Sementara, siswa-siswi IPS berbelanja ria di Bakpia Pathok XX (bukan sensor, tapi lupa) dan Malioboro.

Di Malioboro, rombongan saya yang anggota intinya terdiri dari Pak Chris, saya, Melisa, dan Anastasia berbelanja banyak dengan Pak Chris sebagai juru tawar. Alhasil, bawaan kami bertambah dan dompet kami menipis.

Yang sangat disayangkan adalah keramaian yang terlalu padat di Malioboro memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa siswi SMAK 5 BPK Penabur.

***

tinggal dalam VII

Ngaduman, 14 November 2008.

Talent show? Pertunjukan talenta? Pertunjukan bakat? Yah, pokoknya hari ini ada acara semacam itu. Keluarga-keluarga membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa keluarga. Tiap kelompoknya harus menyajikan drama yang merupakan persilangan cerita dongeng zaman dahulu dengan cerita modern. Hasilnya luar biasa menghibur. Apalagi, penduduk desa sangat antusias.

Kelompok saya sendiri mengadaptasikan cerita Maling Kundang dan Popeye si Pelaut ke dalam sebuah drama komedi.

Diceritakan di desa Ngaduman ada seorang bapak yang stres karena anaknya mempunyai gejala untuk menjadi sampah masyarakat. Sang bapak marah-marah kepada anaknya. Menyuruh anaknya menuntut ilmu ke kota dan menjadi orang yang berguna di kemudian hari. Dituntut demikian, si anak, Malin Kundang, menjadi stres.

Di tengah kegalauan hatinya, datang dua temannya merekomendasikan jasa dukun kepadanya. Dua temannya itu merekomendasikan dua dukun yang berbeda.

Dukun pertama ia datangi. Dukun itu memberikan resep rumit dan membacakan mantra. Ternyata, resep dan mantra dukun itu tidak cocok dengannya, sehingga ia malah menderita gatal-gatal dan iritasi ringan.

Dukun kedua ia datangi. Dukun ini direkomendasikan salah satu temannya sebagai “Sarjana Dukun”. Dukun kedua ini merekomendasikan sebuah tempat di kota, di mana Malin Kundang dapat menemukan bayam ajaib. Bayam ajaib itulah yang akan menolongnya.

Sampai di kota, ia benar-benar menemukan penjual yang memiliki bayam ajaib. Ia membeli bayam ajaib tersebut.

Baru sebentar di kota, Malin telah menambatkan hatinya kepada seorang wanita cantik, Olive Oil. Minyak Zaitun? Yah, pokoknya, Olive Oil. Ternyata, perjalanan cintanya mengahadapi kesulitan ketika datang orang ketiga di antara mereka, Brutus. Brutus yang tergila-gila kepada Olive ini tidak rela Olive bersama dengan Malin. Maka, Brutus menculik Olive.

Dengan kekuatan bayam, Malin menyelamatkan Olive. Kemudian, mereka menikah. Setelah menikah, mertua Malin dan Olive ingin bertemu dengan keluarga Malin di desa.

Rupanya, sesampai di desa, Olive tidak lagi menyukai Malin karena mengetahui ia hanya anak orang miskin. Olive pergi meninggalkannya. Sementara, Malin mati-matian menyangkal orang tuanya. Karena itu, Malin dikutuk menjadi kambing.

Tamat.

Demikianlah cerita drama kelompok saya.

Setelah pengumuman pemenang lomba pertunjukan bakat, acara dilanjutkan dengan sharing. Berbagi. Berbagi isi hati.

Tiap keluarga membentuk kelompok kecil yang duduk membentuk lingkaran kecil di atas tikar yang digelar di tengah-tengah aula gereja. Dengan lilin kecil pendramatisir suasana di tengah lingkaran kecil, kami memulai sesi berbagi ini.

Ketika sesi dimulai, saya hendak mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Namun, saya diserobot oleh isak tangis Ibu. Sangking tersedu-sedan ia menangis, ia sampai tidak sanggup berkata-kata. Sebagai orang yang duduk tepat di sebelahnya, saya mengelus-elus tangan dan pundaknya untuk menenangkannya. Saya melihat di sebelahnya, Yoga ikut menangis karena melihat ibunya sedih.

Setelah lebih tenang, Ibu berusaha berbicara meskipun putus-putus oleh isakannya. Dari kalimatnya yang putus-putus, saya menyadari bahwa ia sedih karena saya. Ia sedih karena kasihan melihat saya puasa tiga ronde. Puasa makan malam kemarin, puasa makan pagi dan siang hari ini. Ia takut saya sakit. Padahal saya takut bertambah buncit (saya selalu merasa mirip kucing bunting jika buncit. Kurus dan perutnya besar).

Ternyata, meskipun tidak turut menangis, Ayah pun sedih. Terdengar dari nada bicaranya. Ia sedih juga karena saya. Juga karena kasihan kepada saya. Ia kasihan ketika melihat saya bersusah payah naik-turun gunung saat berladang.

Saya jadi turut menangis karenanya. Pertama, karena saya merasa bersalah telah membuat mereka bersedih. Kedua, karena terharu akan kepedulian mereka. Sungguh, luar biasa. Anehnya, dalam tangis saya, saya masih memasang wajah tersenyum lebar. Tersenyum lebar sambil berurai air mata. Andaikata saat itu saya membaca cermin.

Bagai tidak cukup segala isak tangis itu, kami harus membicarakan perpisahan. Esok hari, kami memang akan berpisah. Namun, rasanya tidak perlu dibahas. Membuat makin sedih saja.

Pesan moral: Budayakan kepedulian terhadap sesama.

***

tinggal dalam VI

Ngaduman, 13 November 2008.

Akhirnya, kesempatan meladang tersedia untuk saya. Pagi-pagi, saya, Melisa, dan Ayah pergi meladang bersama. Mendaki gunung samapi kaki gemetaran. Terpeleset berkali-kali, untung tidak sampai jatuh. Ayah sampai memberikan saya sebilah kayu panjang berdiameter segenggaman tangan untuk dijadikan tongkat.

Kami bertiga berjalan beriringan sampai di kebun wortel milik Ayah nun jauh di atas desa. Di sana, saya dan Melisa membantu Ayah mencabuti wortel-wortel yang sudah matang. Ciri-cirinya adalah batangnya besar dan daunnya merunduk. Sayanganya, berkali-kali kami mencabut wortel yang belum cukup besar karena kami kurang pandai menganalisa daun dan batang wortel.

Setelah dari kebun wortel, kami turun agak jauh, lalu bertemu kebun kentang yang telah menunggu dipanen. Kami menggali-gali kentang yang pohonnya telah layu. Rupanya, di bawah pohon-pohon itu, tempat kentang-kentang bersemayam, ada semacam ulat kentang yang mengganggu. Namanya uret. Si hama uret ini memakani kentang. Uret ini sangat lemah. Sangat mudah mati. Ia mati jika kepanasan dan jika dibanting ke tanah. Bentuknya bulat panjang, setebal telunjuk pria dewasa pada umumnya sepanjang ibu jari pria dewasa pada umumnya, dan lembek.

Dengan hasil sekeranjang wortel dan sekarung kentang, kami pun pulang. Jalan turun pun ternyata melelahkan. Sangat mudah terpeleset. Apalagi, dengan kondisi kaki saya yang gemetaran.

Sampai di rumah, beberapa buah kentang langsung menjelma sepiring keripik kentang asin.

*

Di tengah hari, karena masalah rutin kewanitaan, saya membutuhkan tisu demi menjaga kebersihan diri. Sayangnya, tisu yang saya bawa telah habis. Maka, saya memutuskan untuk berjalan ke sebuah warung di ujung jalan. Hanya berselang beberapa rumah dari rumah saya.

Pemilik warung tersebut adalah Ibu Ningsih. Rupanya, di rumah Ibu Ningsih tidak tersedia tisu. Namun, masih ada harapan karena beberapa saat kemudian suaminya akan berangkat ke kota untuk mengambil persediaan barang. Karenanya, setelah membeli beberapa jenis barang saya kembali lagi di sore hari.

Sore hari, saya kembali ke warung Bu Ningsih.

Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok.

Beberapa ronde, saya lancarkan ketukan kepada pintu. Terdengar suara Bu Ningsih menyahut dari dalam. Tak lama, ia telah membukakan pintu dan mempersilahkan saya masuk. Namun, sayang sekali, tisu yang saya butuhkan itu belum juga ada. Suaminya lupa mengambil stok tisu di kota. Saya panik.

“Duh, gimana dong? Aku butuh nih!”

Beberapa kali saya mengeluh, membuatnya turut bingung.

Dua kali ia masuk kembali ke dalam rumah, mencari tisu, lalu keluar dengan hasil kosong.

Di kali berikutnya, ia kembali dengan separuh bungkus tisu di tangannya. Ia memberikan tisu itu kepada saya secara cuma-cuma. Ia menolak bayaran dari saya. Dengan rasa sungkan dan rasa bersalah, saya menerima tisu tersebut.

Saya berterima kasih sejadi-jadinya, lalu pamit seramah-ramahnya.

Di tengah jalan pulang, saya mendengar suara Bu Ningsih memanggil-manggil saya dari belakang. Saya berhenti, berbalik badan, dan menemukan Bu Ningsih sedang berlari ke arah saya. Di tangannya, segulung tisu. Segulung tisu yang tidak baru itu pun ia paksakan menjadi milik saya secara cuma-cuma. Rupanya, saya tak kuasa menolaknya.

Pesan moral: Berikanlah kepada mereka yang lebih membutuhkan.

***

tinggal dalam V

Ngaduman, 12 November 2008.

Hari ini, saya mendapatkan giliran mengajar di SDN 01 Kamel bersama teman-teman sukarelawan lain. Saya dan seorang teman saya, Kevin, kebagian mengajar kelas 4 SD. Kami semua mengajar bahasa Inggris. Karena mengajar, saya kehilangan kesempatan satu kali meladang bersama Ayah dan Ibu. Namun, mengajar juga merupakan sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan.

Bagaimana tidak? Anak-anak sungguh antusias. Rupanya, banyak juga kosakata yang telah mereka kuasai sebelum kami mengajarkannya, Semangat belajar mereka luar biasa. Dua jam penuh untuk satu mata pelajaran dan mereka antusias secara statis sampai akhir. Mereka pun tidak nakal, tidak menyeletuk tidak pantas, dan mereka mendengarkan kami dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya, jumlah mereka sangat minim. Hanya 6-10 anak dalam satu kelas. Di kelas 4 SD, dari 10 anak hanya ada 1 perempuan. Padahal, sekolah tersebut dibuka bagi tiga desa.

Selain itu, saya juga menyesali diri saya yang belum cukup menguasai bahasa Inggris. Rupanya, Kevin pun sama-sama minim kosakata. Maka, ketika anak-anak menanyakan bahasa Inggris dari ubi jalar, kami belum bisa menjawab “sweet potato”. Juga banyak kosakata lain yang sampai sekarang masih belum saya ketahui.

Pesan moral: Pelajarilah materi baik-baik sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

*

Di sore hari, ketika bosan menganggur di kamar yang kurang penerangan untuk membaca buku, saya beranjak ke dapur bersama Melisa. Di sana, kami dapati Ibu sedang mengupas bawang. Tanpa basa-basi, saya langsung meraih sebutir bawang merah dan mengupasnya. Tak lama, Ibu memberikan sebilah pisau bagi saya untuk menjadi alat bantu.

Setelahnya, kami bersama-sama merenungi kompor batu berkayu bakar yang tengah menyala garang. Di atasnya, kuali ceper kecil memuat sup ayam yang kuning karena berbumbu kunyit.

Tak lama, Melisa bangkit dan berjalan ke arah pintu belakang yang memang berada di dapur. Pintu tersebut terdiri dari dua bagian, atas dan bawah, masing-masing separuh. Saat itu, bagian ataslah yang terbuka.

Rupanya, di antara kami bertiga, hanya Melisa yang menyadari rerintik hujan halus di luar. Mungkin karena saya dan Ibu lebih terfokus pada gemerutuk kayu bakar. Kami berdua bangkit menyusul Melisa. Kami melihat pemandangan tertutup kabut, tetapi masih samar-samar terlihat.

“Itu di sana rumah kentang,” kata Ibu sambil menunjuk sebuah bangunan kayu-anyaman kecil. Ia bercerita bahwa akhir tahun lalu, saat musim hujan, pernah ada bagai yang merobohkan rumah itu, sehingga rumah itu harus dibangun lagi dari awal. Ia membalut cerita susah itu dalam tawa. Saya bahkan tak sanggup untuk sekedar tertawa palsu untuk membalas tawanya. Saya hanya sanggup bergelengan kepala sambil berdecak-decak sambil menahan miris dalam hati.

*

Malam hari, ketika sedang tidur-tiduran di kamar, saya meraba-raba perut saya. Saya terkejut. Perut saya membesar. Perkiraan saya, lingkar perut saya bertambah 3-4 cm. Setelah merenung-renung, saya menyadari betapa saya makan terlalu banyak dan menganggur terlalu sering. Pasti karena Ibu pandai memasak dan rajin bekerja. Tidak ada pekerjaan yang tersisa bagi saya. Yang ada hanya makanan enak berlimpah. Saya kemudian mengingat-ingat apa saja yang telah saya makan hari ini.

Pagi: nasi goreng, telor ceplok, tempe goreng, kerupuk. Pagi menjelang siang: perkedel, ubi manis super enak digoreng nikmat. Siang: sekotak besar nasi, sayur, perkedel, ayam goreng, sambal tomat, kerupuk (piknik). Sore menjelang malam: semangkuk besar kolak labu besar (yang membuat saya dan Melisa tidak sanggup memuat makan malam). Sampai menjelang tidur pun, pencernaan saya belum selesai memproses makanan-makanan tersebut. Akibatnya, pencernaan saya harus kerja lembur.

*

Pesan moral: Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang (kutipan). (Tambahan) Akan tetapi, jangan tolak makanan dari orang desa.

***

tinggal dalam IV

III. Tinggal

Ngaduman, 11 November 2008.

Setelah seluruh siswa calon penghuni baru Ngaduman tiba dan berkumpul di gereja dan penduduk setempat pun berkumpul di sana, acara pertama pun dimulai. Sambutan, pembukaan, dan pembagian rumah.

Saya serumah dengan teman saya yang bernama Melisa Lestari. Selama empat hari tiga malam, kami akan tinggal bersama keluarga angkat kami yang terdiri dari Bapak Sutrisno, Ibu Lasmini, dan anak mereka, Yoga, yang baru menginjak kelas 2 SD.

Rumah kami sangat sedehana. Berdinding kayu dan berlantai tanah. Sangat alami. Tanpa bau kimia. Perabotan sederhana seadanya, tetapi bernilai guna tinggi karena segala yang ada di sana dimanfaatkan secara maksimal. Mereka tidak membeli barang-barang yang tidak akan dipakai seperti orang-orang kota yang berbelanja karena kegatalan mata.

Sampai di rumah, kami disambut dengan sangat ramah. Empat toples makanan ringan berjejer di atas meja tamu, diperuntukkan untuk kami berdua. Dua gelas teh manis hangat langsung tersedia bagi kami.

Selanjutnya, Ayah dan Ibu angkat kami memberitahu di mana kamar kami, di mana kamar mandi (yang ternyata ada di luar rumah), di mana dapur, di mana mengambil makanan dan minuman, dan bahwa kami boleh menyedu teh sendiri.

*

Di jalanan, ayam-ayam berkeliaran, mematuki apapun yang bisa dimakan dan muat dalam paruh mereka. Di kandang dalam rumah, dua sapi berumur dua bulan dengan ukuran yang mengejutkan (bayangkan ukurannya ketika dewasa nanti) mengunyahi bubur rumput lezat buatan Ibu Lasmini. Menurut Ibu Lasmini, ketika sapi-sapi tersebut sudah dewasa, berat daging nettonya mencapai tiga kwintal per ekor. Seekor kambing tak mau kalah, melompat-lompat meminta perhatian dalam kandangnya. Ia baru berhenti ketika sejumput besar rumput kering tersaji di depannya. Dari berbagai jenis tumbuhan yang disebut-sebut Ibu Lasmini sebagai makanan ternak, hanya alang-alang yang bisa saya ingat.

Usai dari kandang, kami menuju ke dapur bersama-sama. Di sana, kami bercengkrama dengan orang tua baru kami. Di tengah kami, sebuah tungku batu yang mulutnya berisi kayu bakar yang menyala-nyala oleh api. Api menjilati pantat kuali besar yang berisi makanan ternak. Sambil mengakrabkan diri, kami menghangatkan diri.

*

Malam hari, kami tidur dengan nyenyak meskipun kedinginan. Resep anti dingin saya adalah: segelas sari jahe (saya dapatkan dari K-Mart di kilometer 57 tempat bis kami pertama kali berhenti untuk kepentingan perut keroncongan-dangdutan kami), baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki tebal, sarung tangan tebal, sarung, selimut tebal (disediakan oleh tuan rumah yang baik). Yah, semua itu masih kurang manjur.

Pesan moral: tengoklah keluar sangkarmu, lihatlah bentuk kehidupan lain, terkagum dan bersyukurlah.

***