29/12/08

tinggal dalam III

II. Keberangkatan

Seangkatan XII IPS SMAK 5 BPK Penabur berkumpul di lobi SMAK 5 BPK Penabur. Briefing. Sebagai panitia seksi (publikasi)/dokumentasi yang baik, adegan semembosankan ini pun harus saya rekam dengan penuh kesabaran.

Tak lama, siswa-siswi telah beranjak dari lobi dan memenuhi 3 bis yang disediakan sebagai alat transportasi kami. 3 bis untuk 3 kelas. Bis 1 untuk XII S-1 (panitia), bis 2 untuk XII S-2, dan bis 3 untuk XII S-3.

Setelah segala basa-basi (absen, briefing tambahan), bus pun mengeluarkan nafas berat-berat, lalu mulai melaju.

Berjam-jam di dalam bus, kaki pegal ditekuk, bahu dan leher pun pegal. Tidak lupa, kami kedinginan karena bis full AC yang benar-benar full of AC, sehingga mirip kulkas berjalan. Berkali-kali berhenti di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) demi toiletnya. Dua kali berhenti untuk makan. Kemudian, sampai di sebuah wisma bernama Sabda Mulia. Beristirahat, membersihkan diri, makan, mendengarkan kata sambutan dari seorang pria paruh baya, kemudian berangkat lagi.

Dari sana, kami berangkat ke pasar Kopeng untuk transit. Dari Kopeng, dengan angkutan umum setempat, kami berangkat ke desa masing-masing. Di sini, kami yang berdesa di Cuntel berpisah dengan yang berdesa di Ngaduman. Saya sendiri akan menjadi calon penghuni desa Ngaduman.

Rupanya, di Ngaduman sedang terjadi pembangunan jalan yang menyebabkan angkutan umum kami tidak dapat masuk lebih jauh ke tempat di mana kami harusnya diturunkan. Maka, di tengah jalan, kami turun, berjalan beberapa langkah, bertemu mobil pick-up yang akhirnya turut andil menjadi alat transportasi bagi kami. Naik mobil pick-up beramai-ramai di jalan yang terus-menerus menanjak sungguh menyenangkan. Seru.

Di sepanjang jalan, kami ditatapi oleh penduduk setempat. Awalnya, kami merasa aneh karenanya. Namun, kemudian saya berinisiatif untuk melambai-lambaikan tangan kepada penduduk. Rupanya, penduduk menyambut lambaian tangan tersebut dengan baik. Mereka melambai balik dengan senyum ramah. Karenanya, seisi mobil menjadi turut melambai-lambai setiap berpapasan dengan penduduk setempat.

Kami diantarkan sampai pusat kota Ngaduman; sebuah gereja. Di sana, kami turun, mengungsikan barang-barang bawaan kami ke dalam gereja, lalu minum teh dan makan cemilan di rumah penduduk yang berada tepat di sebelah gereja. Rupanya, rumah tersebut adalah milik arsitek gereja tersebut. Kami menunggu mobil-mobil pick-up berikutnya yang mengangkut teman-teman kami. Seluruhnya ada empat mobil.

Setelah benar-benar menginjakkan kaki di sana, saya baru merasakan apa yang telah disampaikan kakak-kakak pembimbing sebelumnya: suhu rata-rata 14 derajat Celcius, tidak ada sinyal untuk ponsel saya, dan kabut di mana-mana. Yah, desa tersebut terletak di ketinggian 1600-1800 meter di atas permukaan laut. Secara vertikal dan horizontal sangat jauh dari Jakarta.

tinggal dalam II

I. Persiapan

Beberapa bulan sebelum Live In dilaksanakan, warga kelas XII S-1 dan XII A-3, yang terpilih sebagai panitia Live In, telah terlebih dahulu kalang-kabut mempersiapkan kegiatan ini. Berbagai rapat panitia inti dan panitia-panitia kecil dilaksanakan. Berbagai hal yang harus dibicarakan, diungkapkan, dan dipersiapkan, telah diaspirasikan dalam rapat-rapat tersebut. Beberapa guru bahkan menjadi tidak senang karena di jam pelajarannya kelas menjadi begitu sepi sebagian besar warganya sedang mengikuti rapat.

Tahap persiapan ini menyenangkan dan tidak menyenangkan secara tidak merata. Maksudnya, dalam tahap ini, tidak semua anak dapat terlibat dan tidak semua anak tertampung aspirasinya. Juga, tidak semua anak mendapatkan pekerjaan yang cukup, sementara beberapa anak mendominasi segala pekerjaan, bahkan sampai pekerjaan-pekerjaan terkecil. Namun, kelak semua akan ikut hanyut dalam kenikmatan bekerja ketika hari Live In itu tiba.

Semakin dekat tanggal main, seluruh panitia semakin sibuk. Kelas-kelas non-panitia pun turut sibuk. Dari sibuk mempersiapkan diri sampai sibuk menggerecoki panitia. Di tengah hingar-bingar kesibukan tersebut, datang beberapa kabar sulit. Semuanya berhubungan dengan bentroknya kegiatan Live In dengan hal-hal lain yang penting dan harus diselenggarakan. Pertama, tes saringan masuk beberapa universitas. Kedua, ujian try-out pemerintah.

Yang pertama, tes saringan masuk beberapa universitas, berhasil diselesaikan dengan diskusi dan kompromi dengan universitas-universitas yang bersangkutan. Universitas-universitas tersebut bersedia memberikan berbagai kompensasi bagi murid-murid SMAK 5 BPK Penabur yang harus mengikuti kegiatan Live In. Namun, ada pula universitas yang tidak demikian. Untuk itu, sekolah berinisiatif memberikan kompensasi tersebut dengan mengizinkan siswa-siswi yang berkepentingan untuk pulang lebih awal.

Yang kedua, ujian try-out pemerintah. Sebelum menjabarkan solusinya, perlu diketahui bahwa kelas-kelas IPA dan IPS tidak berangkat bersamaan untuk Live In. Kelas-kelas IPS menjadi prionir sejak tanggal 10 -16 November 2008. Sementara, kelas-kelas IPA menyusul tanggal 16-23 November 2008. Maka, try-out bagi kelas-kelas IPS dan IPA dilaksanakan di waktu yang berbeda. Kelas-kelas IPS mengikuti try-out tanggal 18-20 November 2008, sedangkan kelas-kelas IPA mengikutinya tanggal 24-26 November 2008 (kalau tidak salah).

Demikian, segalanya telah beres, kami mempersiapkan keberangkatan. Kami, para panitia, mempersiapkan dan mempelajari bersama yel-yel dan lagu-lagu yang akan digunakan selama Live In. Tidak lupa, kami juga mengatur warna baju yang akan kami kenakan setiap harinya selama mengikuti kegiatan Live In.

Antara tidak sabar dan gugup, kami menanti-nantikan hari dilaksanakannya Live In.

tinggal dalam I

Prolog

Live In secara harafiah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “tinggal di dalam”. Live In dalam konteks tulisan ini tidak lagi berperan sebagai semacam kata asing, sehingga bisa ditulis tanpa cetak miring menjadi Live In. Dalam tulisan ini, Live In adalah kegiatan rutin SMAK 5 BPK Penabur yang diadakan tiap tahun selama enam tahun terakhir.

Live In adalah kegiatan di mana siswa-siswi kelas XII SMAK 5 BPK Penabur bersama-sama tinggal selama beberapa hari di desa-desa terpilih untuk mempelajari semua yang bisa dipelajari dari dan dalam kegiatan tersebut. Desa-desa terpilih tersebut adalah desa Cuntel dan desa Ngaduman. Keduanya terletak di cela-cela kecil provinsi Jawa Tengah. Sementara, pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan tersebut sungguh banyak tak terbatas. Kesederhanaan, persatuan, tenggang rasa, kebersamaan, dan banyak lagi.

Kegiatan Live In pada tahun pelajaran 2008-2009 diselenggarakan sejak tanggal 10-23 November 2008 dengan judul Live, Laugh, Love: Susah Senang Sama-sama.

Berikut adalah catatan harian saya selama mengikuti kegiatan Live In.

17/11/08

ganggu

Dia membuatku merasa tidak nyaman. Ya, dia, yang berdiri di depan kelas dengan wajah cerah, senyum mempesona, dan postur tubuh nyaris sempurna.

Dia makin mengganggu kenyamananku dengan berjalan ke arahku, menaruh barang bawaannya tepat di sebelah kakiku, lalu berdiri tepat di sebelahku. Dengan cepat, aku men-dial sebuah nomor di telepon genggamku, lalu beranjak pergi.

“Halo? Jemput aku sekarang di sekolah.”

----

Flashback.

Plak!

Amplop merah jambu berisi sepucuk surat berisi sebait puisi terbanting di meja.

“Lo gak usah ngasih-ngasih gue beginian lagi!”

“Kenapa? Kamu gak suka?”

“Bagus kalo lo tau! Gue gak suka lo kasih gue beginian! Gue gak suka lo! Gue paling gak suka lo ganggu cewek gue!”

Seisi kelas menatap kami dengan wajah penasaran.

----

Hmmm, ya, enam tahun lalu, ketika aku mulai menaruh hati padanya, ia telah bersama perempuan itu. Ia masih bersama perempuan itu sampai sekarang. Hal ini masih menyakiti hatiku sampai sekarang. Sebetapapun aku mencoba lari dan melupakan. Aku makin merasa terpuruk setiap aku menyadari bahwa aku hanya seorang perempuan yang sangat biasa, tidak menonjol, sementara perempuan itu nyaris sempurna. Sangat cantik, postur tubuh sempurna, pandai, tegar, luar biasa, mempesona, ia pusat perhatian. Mereka berdua adalah sepasang manusia sempurna.

----

Flashback.

“Kenapa sih kamu benci aku?”

“Pecun bego! Lo gak nyadar? Gila lo ya! Lo tuh cuman bikin rusak hidup gue!”

“Aku cuman cinta kamu. Apa itu salah?”

“Salah besar bego! Makhluk jelek kayak lo tuh gak pantes deket-deket gue! Cuman bikin bencana!”

----

Ya, ya. Makhluk buruk rupa macam aku sempat merusak nama baiknya. Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di mal. Aku melihatnya, lalu mengejar-ngejarnya. Beberapa orang yang berival dengannya melihat adegan tersebut, menyebarkan gosip ke mana-mana bahwa ia berselingkuh dengan pembantu rumah tangga.

----

Flashback.

“Gue mau minta maaf sama lo.”

“Kenapa?”

“Selama ini, gue sering jahat sama lo. Gue sering ngerjain lo. Padahal, lo kan suka sama gue.”

Pipiku memerah. “Gakpapa kok.”

“Makasi yah.”

Ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi kiriku, memajukan tubuhnya hingga hampir menghimpitku kepada dinding, lalu berbisik halus di telingaku.

“Kamu mau jadi pacarku?”

Sekujur tubuhku panas seketika dan wajahku merah tak terkira. Mulutku terbuka tanpa suara. Aku tak sanggup berkata-kata, apalagi menjawab.

Seketika, sejumlah tawa besar meledak.

“Hebat! Hebat lo! Hahaha!”

“Ayo kita maen lagi!”

Ternyata dia kalah taruhan.

Perasaanku? Bayangkan saja sendiri.

----

Yang menjemputku tidak datang-datang. Aku mulai bosan. Aku menoleh sekeliling. Sekejap, aku memergoki matanya melirik ke arahku. Aku beranjak ke tempat yang lebih jauh.

----

Flashback.

“Wah, lo berubah banget yah sekarang? Udah ngerti tren dan make-up.”

Aku hanya tersenyum.

“Sayang, kalo tampang udah ugly, didempul setebel apapun yah tetep ugly!”

Tawa meledak. Aku diam. Aku mengeluyur pergi. Berlari ke toilet. Menangis sesungukan di sana.

----

Akhirnya, yang menjemputku pun datang. Aku beranjak dari lobi sekolah ke lapangan parkir. Di sana, yang kutunggu setengah duduk di atas motor. Tersenyum ke arahku, menyodorkan helm dan jaket kepadaku. Aku pun balas tersenyum dan menerima sodorannya, segera mengenakannya dengan sempurna di tubuhku.

Seketika, kulihat beberapa laki-laki, termasuk dia yang kehadirannya membuatku merasa tidak nyaman, menghampiri kami.

----

Flashback.

“Kamu mau gak nerima aku jadi pacar kamu?”

“Hm? Emangnya, kamu mau sama cewek jelek kayak aku?”

“Kamu gak usah denger omongan orang yang gak bagus begitu. Kamu jangan ikut-ikutan mereka menghina ciptaan Tuhan.”

“Hm... Apa kamu suka aku?”

“Iya.”

“Sejak aku jadi lebih cantik?”

“Sejak pertama aku lihat kamu, kamu udah cantik.”

Aku tersenyum bahagia.

Aku pun tersadar seketika, berjuta adegan melintas di kepalaku sebagai bukti, selama ini ia memang begitu baik dan memperhatikanku.

----

Beberapa dari mereka membawa balok kayu. Aku mulai ketakutan. Aku berteriak. Laki-laki yang tadi kutunggu-tunggu memelukku erat.

----

Flashback.

“Hebat yah, lo sekarang udah punya cowok!”

“Iya. Jadi, sekarang lo bisa tenang. Gue gak bakal ganggu cowok lo lagi.”

“Gak segampang itu.”

“Mau apa lagi? Selama ini, kalian berdua udah cukup banyak ngerjain gue. Apa gak cukup?”

“Gak. Gue mau lo putusin cowok lo itu.”

“Hah? Lo gila!”

“Gue gak suka lo deket-deket dia!”

“Eh, lo kan udah punya cowok!”

----

Ada apa, kak?”

“Brengsek lo!”

“Aku salah apa?”

“Gue kasih tau lo! Cewek gue selama bertahun-tahun nempel-nempelin gue cuman buat ngejar lo! Ternyata lo lebih milih pecun buluk ini!”

“Jangan kasar gitu dong, kak!”

“Najis lo masih manggil gue kakak! Gue gak sudi punya adek kayak lo!”

Hantam.

Ribut.

Hantam.

Darah.

Hantam.

Ribut.

Hantam.

Habis.

----

Flasback.

“Kalo aku mati nanti, aku mau kamu inget bahwa aku cinta kamu dan buat aku selamanya kamu yang paling cantik.”

“Ih, jangan ngomong gitu ah! Serem banget sih!”

“Kita bisa mati kapan aja.”

27/10/08

lihatlah

Mungkinkah orang tua membenci anak kandungnya sendiri? Tidak, kata guruku di sekolah. Ibu guru berkata, orang tua tidak mungkin membenci anak kandungnya sendiri. Jika mereka marah, semata-mata karena rasa sayang mereka. Lihatlah Bu Guru, di televisi. Setiap siang, sambil makan siang, tontonlah berita agar kau tau bahwa ada orang tua yang tega membunuh anaknya, memperkosa anaknya, menyiksa anaknya, membuang anaknya, dan lain-lain. Tengoklah itu di sela-sela jam makan siangmu, Bu Guru.

Apabila bisa, Bu Guru, aku juga akan mengundangmu ke rumahku. Akan tetapi, kau harus menjadi invisible woman dahulu. Wanita tak terlihat. Dengan begitu, kehadiranmu tidak akan disadari kedua orang tuaku. Maka, mereka akan bersikap seperti biasa, seperti jika tidak ada tamu. Mereka tidak membunuhku, tentu saja. Mereka juga tidak memperkosaku dan tidak membuangku. Namun, mereka menyiksaku, sadar ataupun tidak.

Bu Guru, aku bisa membedakan bagaimana kemarahan karena sayang dan bagaimana kemarahan karena benci. Aku melihatnya di film-film yang cukup bermutu, bagaimana ayah atau ibu yang marah kepada anaknya karena kekecewaan yang diakibatkan kepedulian dan rasa sayang kepada anak itu. Lihatlah raut wajah mereka yang menyimpan duka dan kecewa di balik amarah. Di mata mereka ada kasih dan luka ketika mereka memukuli anak mereka.

Hal itu juga kudapati pada Kakek dan Nenek. Mereka begitu baik padaku. Mereka begitu peduli dan sayang padaku, sehingga itu juga reaksi mereka ketika aku berbuat nakal. Setelah memarahi dan memukuliku, aku selalu mendapati Nenek menangis menyesal. Setelahnya pun, mereka baik kembali kepadaku.

Bandingkanlah dengan orang tuaku, Bu Guru. Lihatlah kilat amarah di mata mereka ketika mereka menghajarku. Lihatlah raut mereka yang sangar dan beringas. Tuduhan-tuduhan dan fitnah berbalut caci-maki dalam kata-kata mereka. Mereka menanyakan penjelasan kepadaku seperti polisi mengintrogasi maling. Mereka memarahiku seperti para senior yang membenci junior di sekolah. Mereka memukuliku seperti sedang membunuh hama. Setelah itu, tidak ada yang menangis selain aku. Mereka akan pergi meninggalkan rumah dengan penuh amarah. Di luar sana, mereka bersenang-senang berdua. Kesenangan mereka masih mereka bawa pulang, paling tidak sebelum mereka melihatku.

Setelah bertemu denganku, wajah mereka kembali kusut dan penuh kebencian lagi. Mereka akan mendiamkanku berminggu-minggu, bahkan sampai kami sama-sama lupa apa kesalahanku. Mereka tidak memberiku uang jajan. Membiarkanku kelaparan sampai sakit maag. Itulah mengapa aku sering meminta obat di UKS sekolah. Teman-teman baikku yang merasa kasihan akan mentraktirku makan secara bergantian setiap hari. Mereka begitu baik dan pengertian.

Di saat-saat tertentu, Bu Guru, aku merasa aku bukan anak mereka. Maksudku, bukan anak kandung mereka. Bukan hasil pembuahan Ayah dan tidak lahir dari rahim Ibu. Namun, jika demikian, bagaimana mungkin wajahku begitu mirip dengan mereka? Juga banyak kesamaan fisik antara aku dan mereka? Nenek pun sering meyakinkanku bahwa aku sungguh anak kandung mereka. Ia bersaksi bahwa ia menyaksikan proses kelahiranku. Ia yakin bahwa aku pun bukan anak yang tertukar di rumah sakit karena bentuk dan warnaku begitu khas, sehingga ia pasti mengenaliku. Iya, waktu baru lahir aku kecil, aneh, dan kuning. Aku melihat fotoku dan tidak percaya dulu aku memang begitu. Nenek menasihatiku agar aku tidak berpikir macam-macam.

Lalu, di saat aku benar-benar membutuhkan konfirmasi dari orang tuaku, mereka malah membantah. Mereka marah-marah (mereka SELALU punya alasan untuk marah) dan memaki-makiku, anak setan, anjing, sapi, tuyul, bangsat! Jika aku memang anak setan, anjing, sapi, tuyul, atau bangsat, tentu aku bukanlah anak mereka yang keduanya adalah manusia murni asli.

Maka, aku mengerti, mereka orang tua kandungku yang tidak mau mengakuiku sebagai anak mereka. Aku hanya pembeban hidup mereka. Aku berjanji, secepat mungkin aku akan menjadi produktif. Menghasilkan uang sendiri, lalu pergi dari mereka. Ketika aku sudah sukses nanti, aku akan membayar apa yang telah kuambil dari mereka. Aku katakan itu kepada mereka. Kau tahu apa reaksi mereka, Bu Guru?

Aku diteriaki ANAK DURHAKA! Anak haram jadah! Anak sialan! Lagi-lagi, itu berarti aku bukan anak mereka. Tidak tahu diuntung! Tentu saja mereka bukan sekedar berteriak-teriak. Mereka juga memukuliku dengan gagang sapu, bangku rotan, apapun yang keras dan bisa mereka angkat untuk mereka banting. Tak lupa, menghantamkan gelas beling ke wajahku. Aku yakin, kau tidak mau lihat hasilnya. Mengerikan dan menyakitkan.

Sudahkah kau mengerti, Bu Guru? Percayakah kau sekarang, bahwa orang tua bisa saja membenci anak kandung mereka sendiri?

19/10/08

terlambat

Kau tahu guru Bina Pribadi? Atau Bina Kepribadian? Guru BK atau guru BP? Di sekolah-sekolah berjenjang Menengah Pertama dan Menengah ke Atas (jadi mau ke tengah atau ke atas nih?), mereka bercokol sebagai wadah penampung masalah murid-murid, spons penyerap air mata siswi-siswi curhat, dan –diharapkan- menjadi pemberi solusi bagi siswa-siswi yang merasa tidak sanggup mencari solusi sendiri.

Belakangan ini, aku bermasalah dengan seorang guru BP (aku lebih senang menyebutnya BP daripada BK). Ini terjadi karena saya sering sekali tidak tepat waktu hadir di sekolah. Terlambat. Begitulah.

Ketika kebetulan kami bertemu di kantin sekolah pada saat jam istirahat, ia langsung menghampiriku (yang bahkan tidak tahu ia guru apa). Saat itu, aku sedang makan sendirian di salah satu meja-sepaket-bangku kantin (karena aku berkeras mau makan di kantin, sementara teman-temanku ingin makan di kelas). Ia begitu saja duduk di depanku dan memulai ritual makan siangnya.

Percakapan di bawah ini dilakukan sambil makan, sehingga kata-kata di bawah ini terucap dengan tidak jelas dan terkadang terjadi hal-hal menjijikan (seperti makanan yang melompat keluar dari mulut).

“Halo, Rei!”

“Ya.”

“Apa kabar?”

“Bae.”

“Emm... Tadi kamu telat lagi?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Pak...”

“Entar aja yah ceritanya.”

“Kenapa?”

“Lagi makan neh.”

“Oh, iya, iya. Maaf,” kata si guru BP sambil salah tingkah.

Selesai istirahat, aku masuk ke kelas dan menceritakan “insiden kadatangan guru BP” itu kepada teman-temanku, sehingga mereka semua cekikikan.

.

Sepulang sekolah, aku membaca buku di perpustakaan. Ketika aku sedang asik membaca, tiba-tiba saja si guru BP telah duduk di depanku dan menyapaku.

“Reini.”

“Ya?”

“Kalo sekarang, udah bisa cerita?”

“Cerita apa?”

“Yah, kenapa kamu telat?”

Sejenak, aku teringat masa SMP, ketika aku begitu sering dipanggil guru BP untuk konseling. Dari masalah keterlambatan (mereka menyebutkan “kedisiplinan”), sampai masalah keluarga. Ada saja masalah yang menurut mereka perlu dikonselingkan. Saat itu, ketika aku sedang tidak ingin berbicara dengan si guru BP, aku akan memperdengarkan kepadanya apa yang ingin ia dengarkan supaya aku bisa cepat-cepat terbebas darinya. Namun, jika aku sedang bosan belajar, aku akan mengarang-ngarang masalah dan membuatnya bingung. Hahaha!

Saat ini, aku sedang ingin membaca buku, tetapi ada sedikit kejahilan menggerogoti nafsuku.

“Ooh, tadi pagi, Pak?”

“Iya.”

“Jadi gini, saya tuh kemaren udah nyalain alarm. Eh, ternyata hape saya eror! Alarmnya gak nyala deh! Saya gak kebangun deh! Telat deh!”

“Emangnya gak ada pembantu yang bangunin kamu?”

“Belum pulang mudik.”

“Papa, Mama, ato sodara kamu?”

“Biasanya mereka baru bangun setelah saya berangkat.”

Ia tampak berpikir sejenak. Selayaknya kebanyakan guru BP, berusaha memberi solusi (meskipun aku tidak butuh solusi darinya). Tak lama, ia menyerah.

“Terus, kemarin? Kamu telat kenapa?”

“Pagi-pagi, saya sembelit, Pak. Jadi saya kelamaan di kamar mandi. Habis itu, cari obat, gak ketemu. Harus ke warung dulu. Eh, warungnya pagi-pagi belum buka. Ke apotek. Apotek juga belum buka. Balik lagi ke warung, gedor-gedor pintu. Baru si Mbok keluar.”

Si guru BP geleng-geleng kepala.

“Kemarennya lagi, kenapa?”

“Itu karena hape saya mati, Pak. Saya gak tau dia lowbat. Tau-tau dia mati. Jadi, paginya dia gak bunyi deh!”

“Duh, susah juga yah.”

“Kemarennya lagi, kenapa dong?”

Wah, guru ini tidak mudah menyerah. Saya memutar otak.

“Hmm, saya lupa.”

Belum ada ide muncul.

“Kenapa yah, waktu itu? Hmm...”

Berpikir lagi.

Ah, ya!

“Oh, saya inget, Pak! Waktu itu, saya udah mau berangkat pagi-pagi. Eh, sopir saya telat! Yasudah, saya cari tukang ojek. Ternyata, pagi-pagi belum ada. Jadi saya balik lagi ke rumah. Mau minta dianter Papa. Banguninnya aja susah banget! Terus, harus nunggu dia buang air besar dulu, Pak! Parah deh!”

“Ck ck ck... Kemarennya lagi, kenapa dong?”

Haduh, guru yang satu ini keterlaluan!

“Waktu itu, saya udah bangun pagi. Terus, pas saya mau mandi, ternyata adek saya lagi boker! Harus nunggu dulu deh!”

“Kemarennya lagi? Kenapa tuh?”

“Itu... Kan pembantu saya lagi mudik. Jadi, Mama yang harusnya nyiapin sarapan. Eh, dia lupa! Saya jadi harus nyiapin sendiri. Telat deh, Pak!”

“Duh, banyak sekali alesannya!”

“Bukan alesan, Pak! Itu bener. Mana mungkin sih saya sengaja telat.”

“Iya, sih. Bapak juga gak bilang kamu sengaja. Cuman, kok halangannya banyak sekali ya?”

“Yah, mau gimana lagi, Pak...”

“Masalahnya, Rei...”

“Iya, Pak?”

“Apakah kamu jujur?”

Deg!

“Ah, mosok saya bohong sih, Pak?”

“Saya tidak menuduh kamu bohong, Rei.”

“Jadi, apa maksud Bapak?”

“Gini, Rei. Tadi pagi, saya telpon Mama kamu.”

Oh, no!!

“Kata Mama kamu, kamu selalu telat karena selalu bangun kesiangan. Padahal sudah dia bangunkan, tapi kamunya gak mau bangun-bangun.”