14/07/08

lika

Lika adalah anakku. Aku adalah ibunya. Sebagai seorang yang taat beragama, aku harus yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang terbaik bagi setiap makhluk yang diciptakannya. Demikian juga dengan aku dan Lika. Maka, haram bagiku bila aku menggugat Tuhan karena telah memberikan Lika menjadi anakku. Aku makhluk hina yang tidak punya hak untuk itu.

Lika anakku. Anak durhaka, kurang ajar, dan pembohong. Si pembual kecil ini selalu menjelek-jelekkan diriku di hadapan orang lain. Melalui percakapan dengan teman-temannya, ia bercerita tentang kekejamanku di rumah. Seolah ia tidak tahu bahwa pukulan demi pukulan untuknya adalah caraku mendidiknya menjadi orang benar. Ia tidak pernah merahasiakan kepada siapapun apabila ia sedang bertengkar denganku. Padahal, bagiku, masalah keluarga bagaikan aib besar yang tidak boleh diketahui pihak luar. Bahkan, Lika beberapa kali berhasil menghasut suami dan mertuaku. Mereka memandangku sebagai pihak bersalah dan Lika sebagai pihak yang benar. Betapa jahat dan licik anak itu.

Suatu hari, anak itu memulai sebuah bisnis tanpa memberitahuku. Ia berdagang kosmetik dan perawatan kulit yang bersistem MLM (multi level marketing). Sepulang sekolah, anak itu seenaknya memakai mobil dan sopir untuk pergi ke kantor cabang perusahaan kosmetik tersebut, yang cukup jauh dari rumah kami, untuk mengambil pesanan teman-temannya. Sungguh egois, ia tidak memikirkan adiknya yang sore itu ada kursus Bahasa Inggris.

Kutelepon dan kumaki-maki anak itu agar ia lebih tahu diri. Bukannya sadar, anak itu malah ngotot.

”Suruh aja si Dadang (sopir kami) jemput Lili (adik Lika) dulu!”

Maka Dadang kusuruh kembali dari tempat itu untuk menjemput Lili. Setelah itu, tak kubiarkan Dadang kembali ke tempat itu untuk menjemput Lika. Anak kurang ajar itu harus diberi pelajaran. Hanya saja, saat itu aku tidak tahu bahwa Lika hanya membawa uang secukupnya untuk membeli barang-barang pesanan teman-temannya. Ia tidak punya ongkos untuk pulang. Maka, ia terpaksa berjalan kaki. Meskipun kasihan, aku harus konsisten dengan perkataanku sendiri.

Tak lama kemudian, suamiku pulang kerja. Entah bagaimana, ia sudah tahu permasalahan yang sedang terjadi, tetapi tidak dari sudut pandang yang benar. Ia menjadi marah padaku, lalu ia pergi menjemput Lika. Maka, langsung kuketahui, Lika telah menghubungi suamiku dan menghasutnya.

Anak durhaka itu, yang bahkan ketika masih balita telah membenciku dan mengumumkan kepada semua orang di sekolahnya bahwa ia membeciku di Hari Ibu, telah membuatku sakit hati. Sepulangnya bersama suamiku, aku memarahinya habis-habisan. Suamiku diam saja, mungkin karena takut tekanan darahku naik terlalu parah jika dia ikut membantah. Namun, anak durhakaku tidak bisa demikian. Ia terus membantah dan merasa dirinya benar. Setelah acara adu mulut berkepanjangan, aku memutuskan untuk pergi sebentar dari rumah.

Malam hari, sepulangku ke rumah, mertuaku, nenek Lika, menghampiriku dan mengajakku berbicara empat mata. Saat itu, Lika telah tertidur di kamarnnya. Mertuaku malah menyalahkanku karena -menurutnya- aku terlalu kasar memarahi anakku. Katanya, aku tidak tahu sopan santun karena aku memaki-makinya dan memaki-maki seperti itu tidak akan membuat Lika berubah menjadi lebih baik. Banyak hal lagi yang ia tuduhkan padaku. Makin perih saja luka di hatiku.

Namun, beberapa hari kemudian, tak kusangka, Lika mendatangiku ke kamarku. Saat itu, aku sedang duduk di meja riasku dan menyisir rambut. Ia mengambil alih sisir itu, lalu menyisiri rambutku dengan lembut. Kemudian, ia mengakui segala kesalahannya dan meminta maaf. Aku bangkit dari kursiku, berbalik, dan memeluknya erat.

percik api

Kila ibuku. Lika kakakku. Aku Lili. Aku mempunyai seorang ibu dan seorang kakak yang baik. Sayangnya, kedua wanita yang kucintai itu tidak saling cocok satu sama lain. Ibuku mempunyai pemikiran yang tertutup, kolot, dan konservatif. Ia juga seorang yang keras kepala. Sementara, kakak menuruni pola pikir ayah yang terbuka, demokratis, dan modern, tetapi ia menuruni sifat keras kepala ibu. Jadi, mereka seperti dua kubu yang sangat bertentangan dan sama-sama sekeras batu. Ketika mereka berhantaman, akan terjadi percikan api di antara mereka. Percikan api itu dapat dengan cepat menjadi besar.

Aku sangat merasa bersalah karena kali ini akulah yang menjadi pemercik api itu. Saat itu, kakak sedang mengambil barang dagangannya di daerah Rawamangun, sementara aku sedang menunggu sopir menjemputku di Mal Kelapa Gading karena aku hendak pergi kursus Inggis. Tentunya, sopir yang kutunggu itu agak lama datangnya karena ia sedang menunggui kakak di Rawamangun. Hal tersebut kuketahui setelah kutelepon sopir itu. Maka, kutelepon kakakku. Ia menjelaskan bahwa ia telah hampir selesai dari sana dan ia telah menghitung dengan baik waktu yang ia miliki. Ia menjamin, aku tidak akan terlambat pergi kursus. Aku tahu ia sangat cerdas dan perhitungan. Maka, aku tidak keberatan. Aku percaya kepadanya. Tak lama kemudian, sopir pun datang. Aku naik ke mobil. Aku diantar ke tempat kursusku.

Namun, sangat mengejutkan bagiku, ketika aku pulang, yang kudengar adalah ribut-ribut dari dalam rumah. Ibu dan Kakak yang sedang bertengkar.

”Pukimak kamu, anak setan!” teriak Ibu.

”Gue anak setan? Liat dong siapa ibunya!” Kakak tidak mau kalah.

Ibu langsung merengut tas tangannya, melangkah besar-besar dan cepat ke arah pintu. Ia menabrak pundakku sebab saat itu aku masih berdiri terpaku di depan pintu. Ibu memberi uang makan kepada sopirku, menyuruhnya pulang, lalu ia menyetir sendiri entah kemana.

kila

Kila adalah ibuku. Aku anaknya. Aku tidak boleh bertanya mengapa kepada Tuhan. Nantinya aku juga akan tahu mengapa. Setiap hal yang diadakan Tuhan mempunyai tujuan. Jadi, jika Kila menjadi ibuku dan aku menjadi anak Kila, Tuhan mempunyai tujuan untuk kami berdua. Tujuan Tuhan selalu terlalu indah untuk terbayangkan (dan aku selalu menunggu untuk menyaksikannya).

Akan kuceritakan bagaimana susahnya menjadi anak seorang Kila. Pertama, ia menganut prinsip "yang lebih tua yang lebih benar". Jadi, sesalah apapun dia dan sebenar apapun aku, tetap segala sesuatu adalah salahku. Sayangnya, peraturan itu hanya berlaku antara diriku dan dirinya. Tidak berlaku antara aku dan adikku. Dengan kata lain, dia pilih kasih. Adikku selalu dibenarkan dan aku adalah kambing hitam dalam keluarga. Kadang aku berpikir, kelahiranku tidak diinginkan. Mengapa tidak diaborsi saja? Kadang kupikir, aku ini anak pungut atau mungkin tertukar di rumah sakit. Namun, aku sangat mirip dengan Kila. Kadang, kupikir aku ini anak haram. Tidak, menurut nenekku, ayah dan ibu adalah orang-orang baik dan orang baik-baik yang menjalani hidup dengan baik dan menikah dengan baik. Kadang, kupikir Kila membenciku karena kesakitan yang dialaminya saat mengandung dan melahirkan diriku. Jika ya, seharusnya adikku mendapat perlakuan yang sama. Banyak hal lagi yang kupikirkan, tapi nenek bilang, Kila tidak membenciku. Nenek bilang, Kila sayang padaku (sungguh, sulit dipercaya), tapi ia tidak dapat mengungkapkannya. Jadi, hanya kebencian yang dapat ia ungkapkan?

Kedua, ketika aku terlibat sebuah masalah dengannya, masalah itu akan ia pendam menjadi dendam seumur hidup meskipun masalah itu sudah selesai. Meskipun ia tahu masalah itu adalah kesalahpahaman, ia tetap akan menjelek-jelekkanku sejelek-jeleknya di depan orang lain ketika ia menceritakan kembali masalah itu. Jika aku (mengalah dan) meminta maaf kepadanya untuk menyelesaikan suatu masalah, masalah itu memang selesai (sementara waktu) karena ia merasa menang. Namun, ketika di lain waktu ada masalah baru, semua masalah yang dulu-dulu akan keluar lagi dari mulutnya dengan segala bumbu, caci-maki, dan keterbalikan fakta.

Akan kuceritakan apa yang terjadi baru-baru ini. Suatu hari, ketika aku baru pulang dari sekolah, aku harus berpergian agak jauh dari tempat tinggalku di Kelapa Gading ke Rawamangun. Karena hari begitu panas dan aku membawa buku-buku yang sangat memberatkan dalam tasku, aku memutuskan untuk berpergian dengan mobil pribadi yang memang hanya satu-satunya dimiliki keluargaku dan dikendarai oleh sopir pribadi satu-satunya dalam keluargaku. Aku telah menghitung baik-baik waktu yang dapat kugunakan sebelum mobil itu akhirnya harus dipakai adikku untuk pergi kursus.

Tak lama setelah aku sampai di tempat tujuan, Kila meneleponku. Ia memarahiku dan memaki-makiku. Aku tidak sakit hati karena itu memang hal biasa. Inti pembicaraannya adalah bahwa aku egois karena tidak memikirkan adikku yang hendak pergi kursus dan membutuhkan mobil itu. Tak lama, urusanku selesai, aku hendak pulang, tetapi tak kudapati mobil pribadiku maupun sopirku. Maka, kutelepon sopirku. Rupanya, ia telah dikomando Kila untuk segera pulang dan mengantar adikku pergi les.

Masih dengan sabar, aku menelepon adikku. Adikku bahkan kebingungan ketika tahu Kila marah-marah. Rupanya, adikku tidak di rumah. Ia sedang di mal dan ia bilang ia tidak bicara apa-apa pada Kila. Ia hanya memberitahu rencananya untuk pergi ke mal kepada Ayah. Maka, ketelepon Ayah. Aku ingin tahu jika Ayah mengatakan sesuatu mengenai hal itu kepada Kila. Ayah tidak menjawab, tetapi bertanya-tanya tentang keadaan.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya keadaan memutuskan bahwa aku harus pulang berjalan kaki karena aku tidak membawa uang. Setelah lama berjalan kaki, Ayah menelepon. Ia mengabarkan bahwa ia akan menjemputku. Karena aku telah berjalan agak jauh, aku memutuskan untuk tetap berjalan sambil menunggu Ayah yang membawa mobil untuk berpapasan denganku. Untungnya, seorang pemulung bergerobak menemaniku dalam perjalanan, sehingga perjalanan itu tidak terlalu membosankan.

Usai masalah itu, aku dan Kila tidak saling bicara lagi. Kila menuduhku pembohong, penghasut, kurang ajar, durhaka, dan lain-lain. Nenek sangat sedih karena keributan itu. Nenek pun mengadakan pembicaraan empat mata denganku, lalu empat mata dengan Kila. Ia banyak menasihati kami. Setelahnya, ia memintaku untuk mengalah (lagi dan lagi dan lagi dan lagi) dan meminta maaf kepada Kila (sungguh terlalu klise!).

Tentu apa yang diminta Nenek adalah sesuatu yang sangat adil. Bukan aku yang mengandung dan melahirkan Kila. Kila yang mengandung dan melahirkanku dengan segala kesakitannya. Itu adalah sebuah hutang besar bagiku. Hutang yang seumur hidup tak akan terbayar. Bukan aku pula yang menyusui, membesarkan, dan menyekolahkan Kila, tetapi sebaliknya. Ini hutang lain yang kuharap dapat kulunasi, tetapi tak mungkin. Kenyataan bahwa ia adalah ibuku dan aku adalah anaknya adalah sebuah kenyataan yang paling memiriskan hari, tapi begitu nyata dan benar. Tak terbantah, tak terpungkiri. Jika aku hidup di zaman dulu, aku telah menjadi budak yang mengabdi kepada Kila karena hutangku yang tak terbayar kepadanya. Namun, Kila ternyata baik. Aku dipelihara dengan baik dan (menurut Nenek) penuh kasih sayang. Aku tidak dijadikan budak. Aku masih seorang merdeka dan bebas (yang terlilit hutang!).

Sebuah permintaan maaf dariku tidak akan meringankan sedikit pun hutangku kepadanya, tetapi tidak meminta maaf menjadi sebuah dosa besar yang harus kutanggung. Percayalah, ini adil!

26/05/08

mimpi

Aku sangat percaya kepada mimpi. Bagiku, mimpi bukanlah "hanya" kembang tidur. Mimpi juga bukan "sekedar" ingatan-ingatan tak penting di siang hari yang terbawa tidur. Mimpi selalu mempunyai sesuatu untuk disampaikan kepadaku. Meskipun ketika kuceritakan mimpiku kepada orang lain selalu ada yang meremehkanku bahwa aku hanya seorang remaja dengan emosi labil. Aku tetap percaya pada mimpi-mimpi itu.

Salah satu cerita adalah suatu malam ketika aku memimpikan seorang bayi kecil yang bugil dan berdarah-darah merangkak ke arahku. Namun, ia peralahan-lahan berhenti. Mati. Ketika kuceritakan kepada adikku di pagi harinya, ia yakin itu hanya karena di hari sebelumnya aku menonton sebuah film horor bermutu seadanya tentang makhluk yang melahirkan di kuburan. Makhluk itu melahirkan dengan bantuan seorang bidan dari bangsa kuntilanak. Lalu, karena laki-laki yang menanamkan benih kepadanya tidak mau mengakui anak itu, seorang genderuwo yang baik hati bersedia menjadi ayah angkatnya. Anak itu pun diberi nama oleh genderuwo itu. Namanya Tuyul. Baiklah, kembali ke mimpi tentang bayi merangkak yang mati mendadak itu. Setelah berdebat dengan adikku di pagi hari, siang hari itu juga, kami mendapat kabar bahwa ibuku yang saat itu hamil telah keguguran. Bagiku, itu bukan sekedar kebetulan belaka.

Cerita lain adalah ketika aku bermimpi sopirku mengebut gila-gilaan ketika mengantarku ke sekolah suatu di pagi. Saat itu, ia tertawa-tawa seperti orang gila sampai lidahnya memanjang dan menjulur-julur ke luar. Matanya juga keluar dan terkatung-katung pada urat-urat di belakangnya. Aku berteriak-teriak tanpa ia hiraukan. Bukan mimpi yang enak untuk didengar, diceritakan, apalagi dialami. Esok hari setelah mimpi itu, sopirku tidak lagi datang ke rumahku untuk memberikan jasanya. Belakangan, kudengar ia dipenjara karena tertangkap melarikan mobil orang. Ibuku sampai merasa bersalah karena merasa gaji yang selama ini diberikannya kurang.

Maka, lain waktu ketika mimpi-mimpi lain datang untuk bercerita dalam tidurku, aku selalu menyambut mereka dengan baik. Aku menyimak mereka baik-baik. Terkadang, aku pun harus berusaha menafsir mereka dan aku berusaha menafsir dengan baik.

Suatu ketika datang kepadaku sebuah mimpi. Ia tergolong mimpi yang harus kutafsir agar dapat kumengerti. Mimpi itu tentang pacarku. Di sebuah lorong panjang dan remang-remang, kulihat pacarku itu berlari terbirit-birit ke arahku, tapi ia tersandung dan jatuh. Ketika ia bangun dari jatuhnya, aku menjerit keras-keras karena kulihat wajahnya hancur dan busuk. Langsung saja aku terbangung terduduk di ranjangku. Napasku terengah-engah dan aku berkeringat dingin. Jika begini keadaannya, aku tahu bahwa itu bukanlah mimpi biasa.

Aku pun merenung. Entah mengapa, selesai dari perenunganku, aku menyimpulkan bahwa pacarku tidak sebaik dugaanku. Ia adalah laki-laki berhati busuk yang bersembunyi di balik sikap manisnya dan ia akan segera menunjukkan sifat aslinya. Sebelum ia sempat melakukan itu, aku buru-buru meninggalkannya tanpa kabar.

Karena itulah aku sangat menyesal. Belakangan kuketahui bahwa ia ditimpa masalah besar. Ayahnya meninggal dan ia putus sekolah. Tidak itu saja, ia dan ibunya dikejar-kejar lintah darat karena ayahnya meninggalkan sejumlah hutang.

Ya, tebakanmu benar. Aku salah menafsirkan mimpi. Tafsiran yang benar adalah bahwa ia sedang jatuh ke dalam kesulitan dan ia sangat membutuhkanku. Ia membutuhkanku sebagai tempat mengadu dan menghibur diri. Akan tetapi, aku meninggalkannya dengan cara yang sangat kejam dan menyakitkan baginya.

Ketika telah kusadari semua, telah terlambat, tetapi aku tetap berusaha mencari kekasih hatiku itu. Aku hendak meminta maaf dan menawarkan sedikit bantuan. Namun, ia telah mengganti semua nomornya, pindah rumah, tak ada lagi kabar terdengar darinya. Aku telah berusaha mencarinya. Ia hilang. Lenyap tak berjejak.

Sejak saat itu, aku tak percaya lagi pada mimpi. Aku merasa mimpi telah mengkhianatiku.

Bahkan, suatu saat ketika sebuah mimpi yang mengerikan mendatangiku berulang kali dan selalu membuatku bangun terduduk dan terengah-engah, aku tidak mau menghiraukannya. Dalam mimpi itu, aku berdiri di tengah jalan raya. Kemudian, sebuah truk angkut besar berwarna kuning menabrakku sampai hancur lebur tak berbentuk dan tak bernyawa. Mimpi yang bodoh. Mana mungkin aku begitu bodohnya berdiri mematung di tengah jalan.

Aku tidak akan pernah percaya pada mimpi itu jika apa yang kumimpikan itu tak terjadi pada akhirnya. Saat itu matahari telah tegak lurus di atas kepalaku. Bayangan tubuhku hanya tersisa secuil tepat di bawah kakiku. Saat itu, sekolah baru usai. Aku berjalan dari kelas ke tempat parkir, tapi tak menemukan mobilku terparkir di sana. Maka, aku menelepon sopir baruku. Rupanya, ia harus mengantar ibuku keluar kota untuk urusan mendadak, sehingga ia tidak bisa menjemputku.

Terpaksa aku harus naik angkutan umum. Untuk mendapatkan angkutan umum yang kubutuhkan, aku harus berjalan dari gerbang depan sekolah sampai ke sebuah persimpangan, lalu menyeberang dua kali. Penyeberangan pertama berhasil. Menjelang penyeberangan kedua, jantungku berpacu kencang. Mengingatkanku pada mimpi yang menghantuiku di tiap malam belakangan ini. Aku terlanjur tidak percaya pada mimpi. Maka kuteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki-kakiku. Sebelumnya, aku menengok ke kiri dan kanan. Tak ada truk besar maupun truk kuning. Langkahku yang ragu-ragu menjadi mantap.

Tiba-tiba, mataku tertumbuk pada sesosok pria bertubuh liat dan berkulit hitam. Wajahnya babak belur. Jelas habis dikeroyok. Apakah kau dapat menebaknya? Itu cintaku yang hilang. Ia telah kembali. Ia menantiku di seberang jalan. Menatapku dengan perasaan perantau haus yang terjebak di gurun. Terlintas sekilas saja gosip di antara teman-temanku bahwa ada seseorang yang selalu memata-mataiku dari seberang jalan.

Tak kusadari, langkahku terhenti. Kami saling tatap. Tak satupun dari kami menghiraukan hiruk pikuk klakson mobil yang merasa terganggu oleh keberadaanku di tengah jalan. Juga tak terhiraukan hiruk pikuk orang-orang di pinggir jalan yang meneriakiku dengan maksud menyuruhku menepi. Tak juga ada di antara kami yang terkejut ketika sebuah truk kuning besar pengangkut tanah menabrakku. Tak juga di antara kami ada yang peduli ketika orang-orang dari pinggir jalan mengerubungiku.

Kami telah saling tatap dalam jarak yang lebih dekat. Saat itu, dalam penglihatanku, ia tidak lagi babak belur. Ia tampan dan manis, lebih dari sebelum-sebelumnya. Ia tersenyum menatapku dan aku terseyum balik menatapnya. Tangan-tangan kami yang tembus pandang dan lebih ringan dari udara saling bergandengan. Kemudian, bersama kami melalui sebuah perjalanan yang tidak logis dan tidak mungkin dijelaskan kepada orang-orang yang masih hidup dalam tubuh berdaging bertulang berdarah mengalir.

Kami hampir tiba di tempat tujuan kami. Di sana, kami akan berkumpul dengan arwah-arwah lain. Dari jauh aku telah melihat Romeo dan Juliet di antara pintu gerbang. Mereka hendak menyambut kami. Kurasa, mereka menjabat sebagai kepala daerah di sana. Kulihat juga di belakang mereka berdua, semua orang berpasangan menatap kepada kami. Tak lama kemudian, kami telah melewati sebuah gerbang mewah dengan plang besar di depannya yang bertuliskan kalimat selamat datang.

"SELAMAT DATANG DI DESA SUKACINTA".

23/05/08

badai dan gempa

Mars : Bumi, kamu makin berair.

Bumi : Iya, aku berkeringat. Mereka membuatku kepanasan.

Merkurius : Begitu panaskah sampai kau menangis, Bumi?

Bumi : Iya, mereka juga menyakitiku. Mereka merusakku.

Mars : Bukankah itu sudah lama mereka lakukan?

Bumi : Mereka bertambah parah. Kulitku, dagingku, darahku, udaraku, semuanya! Mereka tidak mau menyisakan apapun! Oh, Matahari! Panasmu pun ikut menyengatiku!

Matahari : Maafkan aku, Bumi. Bukan kehendakku. Bukan kuasaku untuk meredam atau menghentikan pijar panas dan cahayaku sendiri. Namun, kau telah diberi selimut ozon untuk tetap terlindung dariku. Apakah mereka juga mengambilnya darimu?

Bumi : Ya, mereka melubanginya. Bagi mereka telah tersedia berbagai kenyamanan dariku, sehingga mereka telah menjadi parasit bagi diriku sendiri.

Mars : Kawan, mereka berkembang biak terlalu cepat. Mereka akan semakin mebutuhkan banyak darimu.

Matahari : Ah, mereka selalu punah pada akhirnya. Mungkin kali ini akan punah kupanggang. Namun, Bumi, kau tetap bundar dan mengitariku.

Bumi : Tidak, Matahari. Mereka tak pernah punah. Selalu ada sisa dari mereka yang akhirnya berkembang biak gila-gilaan lagi dan merubah-ubah wajahku lagi.

Mars : Toh kami akan tetap mengenalmu.

Merkurius : Ya. Orbit dan posisimu tak berubah.

Bumi : Hahaha! Betul juga! Tapi aku tetap kepanasan!

Mars : Mari kutiup dirimu agar sejuk!

Merkurius : Aku juga mau meniupimu!

Matahari : Bolehkah aku ikut?

Bumi : TIdak! Jika kau lakukan itu, aku akan terpanggang lidah api dan musnah!

Mars dan Merkurius : (meniupi Bumi).

Mars : Bagaimana? Sudah lebih baik?

Bumi : Jauh lebih baik, tetapi wajahku menjadi berantakan karena badai.

Matahari, Bumi, Mars, dan Merkurius : (tertawa bersama)

Bumi : (gempa)

01/05/08

endin

Endin berjalan kaki ke sekolah. Memang sekolahnya tidak jauh dari rumahnya. Hanya butuh satu belokan untuk sampai di sana melalui jalan terdekat. Sebuah sekolah menengah atas yang sederhana sederhana, kecil, tidak elit, tidak terkenal. Terpencil di sebuah gang buntu.

Sebenarnya, sekolah itu condong bobrok. Hal pertama yang tampak adalah pagarnya yang tidak mungkin mengurungkan niat seorang maling (yang mengurungkan niat maling adalah kenyataan bahwa sekolah itu tampak miskin). Berikutnya, dinding dengan cat koyak-koyak. Mungkin terakhir kalinya dicat adalah sepuluh tahun lalu. Suasana kelas? Aku tidak yakin suasana seperti itu akan baik untuk kegiatan belajar mengajar. Ruangan kecil, diisi deretan bangku dan meja kayu yang telah lapuk, berlubang-lubang, dan penuh coretan. Sebuah lemari seperti telah siap untuk ambruk di salah satu sudut kelas. Meja guru, satu-satunya yang tidak rapuh, dengan taplak yang telah berdebu dan vas bunga lengkap dengan bunga palsu yang juga telah berdebu. Papan tulis hitam. Astaga! Mereka masih menggunakan kapur tulis! Lalu, jendela kaca yang kaca-kacanya berbentuk persegi panjang dan bersusun secara vertikal. Jendela-jendela itu telah ompong. Oh, pintunya! Itu sudah tidak dapat difungsikan lagi. Gagangnya saja tidak ada!

Akhirnya, seorang guru masuk. Guru itu tampak begitu lesu. Mungkin sedang sakit. Selembar tisu tergenggam di tangannya. Mungkin sudah dipakai berkali-kali untuk menampung ingus yang keluar dari hidungnya yang merah itu. Sang guru menuliskan beberapa hal di papan tulis. Soal-soal matematika yang sebenarnya terlalu mudah bagiku. Oh, hari ini mereka ujian! Murid-murid mengeluarkan kertas jawaban ujian dan mulai mengerjakan soal-soal yang terpampang di papan tulis. Aku terpana menatap salah satu kertas ulangan yang terdekat denganku. Pada bagian atas kertas itu, sederetan huruf dan angka menerangkan alamat sekolah itu. Jakarta, kotanya. Aku tercengang. Rupanya, masih ada sekolah semacam ini di Jakarta! Aku merasa seperti katak dalam tempurung!

Ah, itu dia Endin -entah bagaimana aku tahu namanya. Ia mengerjakan soal dengan serius. Dahinya sedikit berkerut dan alisnya saling mendekat. Di sebelahnya duduk seorang murid laki-laki. "Ssst!" seru laki-laki itu berulang kali sebelum akhirnya mencolek bahu Endin. Ia bermaksud untuk meminta contekan. Endin tidak memberikan contekan. Ia merasa konsentrasinya terganggu. Wajahnya ditekuk. Tiba-tiba saja ia mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, sehingga si guru mengalihkan perhatian kepadanya.

"Bu, dia minta contekan terus sama saya!" teriaknya kepada sang guru sambil menunjuk laki-laki itu.

Guru itu lalu mengalihkan pandangannya kepada si laki-laki. Laki-laki itu tidak mampu menutupi rasa terkejut dan gelisahnya. Ia salah tingkah. Apalagi, saat sang guru mendekati mejanya. Mimiknya terbaca jelas oleh sang guru. Sang guru semakin yakin ketika melihat kertas tes yang kosong melompong di mejanya. Maka, laki-laki itu dipersilahkan keluar. Ia tidak berhak mengikuti ujian dan berhak atas sebuah angka nol untuk nilainya kali ini.

***

Pada jam istirahat, murid laki-laki itu menghampiri Endin yang tidak pernah beranjak dari kelas untuk jajan karena ia selalu membawa bekal dari rumah. Si laki-laki tampak marah.

"Heh, tukang ngadu!" seru laki-laki itu sambil menggebrak meja Endin.

Endin tak tampak terkejut sama sekali. Dijawabnya dengan santai, "salah sendiri gak belajar".

Sungguh hal tersebut membuat laki-laki itu marah. Namun, sebelum ia dapat melampiaskan amarahnya, perhatiannya telah teralih kepada sebuah suara dehem berat yang sangat familiar baginya maupun bagi Endin. Mereka berdua menoleh ke arah yang sama. Di sana, seorang pria paruh baya berkepala setengah botak dan berkumis tebal sedang menatap laki-laki yang memarahi Endin itu dengan raut yang dapat dipastikan tidak senang. Laki-laki itu cepat-cepat menunduk.

Tak lama kemudian, tampak pria paruh baya itu berjalan cepat keluar dari kelas itu diikuti seorang murid laki-laki di belakangnya. Tak lama setelahnya di ruang guru, murid laki-laki itu telah diceramahi sang pria paruh baya yang disebutnya sebagai "Pak Guru". Pak Guru menyatakan kekecewaannya pada murid laki-laki itu karena muridnya itu tidak menghargai kesempatan pendidikan yang telah dikaruniakan kepadanya.

***

"Eriiiiiinnn!!!! Baguuuun!!! Kamu udah kesiangan nih!" terdengar pekikan oktaf kesembilan yang langsung manjur mengangkat jiwaku dari alam mimpi.

"Iya, maaa!" balasku.

Kukucek-kucek mataku yang telah disarangi kotoran mata berbagai ukuran. Aku bangkit dari ranjangku perlahan-lahan lalu berjalan gontai menuju kamar mandi di kamarku. Kunyalakan shower yang kuartur agar mengucurkan air hangat, lalu aku mandi. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku bersiap untuk mengenakan seragam sekolah dan berdandan.

"Cepetan, Riiin!! Mama gak mau dipanggil lagi sama wali kelas kamu cuman gara-gara kamu sering telat! Malu tauk!!" lagi-lagi Mama mengomel.

"Iya!" jawabku sekenanya.

"Kamu tuh udah mahal-mahal disekolahin di sekolah yang bagus, bukannya sekolah dengan bener, malah males-malesan!" Mama melanjutkan omelannya.

Sejenak, kata-kata itu membuat desiran kecil di hatiku. Sejenak, terlintas sebuah nama dalam kepalaku. Sejenak, nama itu kubisikkan, "Endin...".

"Riiiinnn!!! Ayo dong!!"

"Iya, Ma! Bentar!!"

Cepat-cepat kusambar tasku yang terletak di meja belajar yang tak jauh dari ranjangku. Aku berlari keluar dari kamarku yang terletak di lantai dua. Aku pun berlari menuruni tangga menuju ruang makan di mana Mama telah menungguku bersama roti panggang berselai coklat dan segelas susu.

"Cepetan makan," sambut Mama sesampaiku di meja makan.

Saat aku tengah mengunyahi roti di dalam mulutku, muncul seorang wanita paruh baya yang tidak kukenal dari dapur membawakan jus buah campur-campur untuk Mama. Baru aku teringat bahwa pembantuku selama ini, Mbak Yati, telah kembali ke kampung untuk menikah.

"Rin, ini pembantu baru kita, Mbok Jah. Mbok, ini anak saya, Erin."

Aku mengangguk pada Mbok Jah dan Mbok Jah membalas anggukanku dengan anggukan juga. Kami sama-sama melakukannya dengan seulas senyum tipis yang agak terpaksa.

"Anaknya Mbok Jah sekalian Mama pekerjakan jadi pembantu kita. Biar rumah kita tambah kinclong," Mama melanjutkan, "anaknya seumuran lho sama kamu".

"Mana?" tanyaku singkat karena mulutku masih penuh dengan roti panggang.

Setelah menyeruput beberapa teguk jus, Mama memanggil anak Mbok Jah "Diiiin!".

Sejenak saja, tampak seorang perempuan berkulit hitam, berambut panjang berombak, berlesung pipit, dan berwajah manis berjalan cepat agak berlari masuk dari kebun belakang rumahku. Aku merasa familiar dengan perempuan yang tengah tersenyum padaku itu.

"Din, ini anak saya, Erin."

Anak Mbok Jah itu mengangguk padaku tanpa menghentikan senyumnya.

"Saya Endin, Non," ia memperkenalkan diri sebelum Mama melakukan hal itu untuknya.