01/02/08

surat

Aku bermimpi tentang waktu. Waktu yang bergerak cepat dan sia-sia karena aku hanya diam. Waktu yang bergerak sedetik-sedetik. Semenit-semenit. Sejam-sejam. Sehari-hari. Seminggu-seminggu. Sebulan-sebulan. Setahun-setahun. Jarum jam tak seharusnya bergerak secepat itu. Aku hanya merayap jauh di belakangnya. Aku tak berdaya. Aku tak berarti. Aku tak berguna. Aku tua. Ah...

Aku terbangun.

Kupegangi kepalaku yang agak sakit. Aku ingat pacarku yang selalu mengingatkanku untuk tidak dibebani pikiran-pikiran yang tidak penting. Tak bergunanya diriku, bodohnya diriku, konyolnya diriku, gagalnya diriku, tak ada yang dapat kubanggakan. Itu semua tidak benar baginya. "Kamu masih tujuh belas tahun! Pinter, rajin, banyak bakat, cantik, gak ada yang kurang deh! Kamu punya banyak prestasi. Aku aja bangga banget punya pacar kayak kamu. Kamu juga masih punya banyak kesempatan yang pasti bisa kamu raih dengan mudah!' begitu omelnya. Itu semua bagiku tidak benar.

Aku merangkak turun dari ranjangku yang masih lajang (single bed). Kutatap kalender harian yang tergantung mesra kepada lemari pakaianku. Kamis, 24 Januari 2008. Baru tiga minggu waktu beranjak dari ulang tahunku yang ke-17.

Tatapanku beralih kepada jam dinding di seberang lemari pakaianku. 5:30. Aku berolahraga kecil, mengambil keperluan mandi, lalu menyerbu kamar mandi yang masih perawan di pagi hari.

Aku termenung-menung selama mandi. Gerakanku menjadi serba slow motion. Tak apa. Aku selalu mempunyai waktu lebih karena aku bangun sangat pagi, sehingga aku tidak akan terlambat ke sekolah. Apa yang kurenungkan? Diriku. Hidupku. Semua sia-sia. Aku pasti sebuah kesalahan bagi orang tuaku. Mereka begitu sabar. Mereka tetap mau memeliharaku. Padahal aku tidak menuntut banyak dari mereka. Bahkan, jika mereka mengusirku dan tidak mengakuiku sebagai anak mereka, aku mengerti bahwa aku pantas untuk itu. Tunding aku. Salahkan aku. Aku memang bodoh dan tak berguna. Aku telah berusaha melakukan hal terbaik yang dapat kulakukan. Hanya saja, semua itu tak pernah cukup baik. Bahkan, tak pernah baik!

Aku teringat samar-samar ucapan selamat ulang tahun untukku dari Mama. Tiga hari yang lalu. Saat itu, ia pulang malam setelah seharian bekerja. Ia langsung menghampiriku di kamar untuk ucapan selamat itu. Ia berbicara kepada punggungku sebab aku pura-pura tidur agar tidak sakit hati. Ia tidak peduli.

"Nak, selamat ulang tahun ya! Kamu sekarang udah tujuh belas tahun. Itu berarti, kamu udah dewasa. Udah saatnya kamu bertobat dari kebiasaan-kebiasaan buruk kamu yang menyedihkan..." dan seterusnya. Aku tidak ingat. Aku pura-pura tidur. Berusaha memikirkan hal lain agar tidak perlu mendengarnya.

Kemarin sore, aku juga menemukan sebuah catatan dari Mama untukku.

DARI IBU YANG BAIK

SEBAGAI IBU KAMU, SAYA SANGAT-SANGAT-SANGAT KECEWA MELIHAT JOROK DAN BERANTAKANNYA KAMU, SEPERTI NENEK-NENEK BONGKOK 90 TAHUN YANG SUKA KUMPULIN SAMPAH DI SEKITARNYA. KAMAR KAMU PENUH DENGAN KETIDAKRAPIAN.

KAMU SEORANG WANITA YANG MEMILIKI KARAKTER DAN KEBIASAAN YANG AMAT SANGAT JELEK.

JANGAN ANGGAP REMEH TATA KRAMA, ETIKA, SOPAN SANTUN, DAN KERAPIAN. ITU MENUNJUKKAN SIAPA KAMU SEBENARNYA. APAPUN YANG KAMU LAKUKAN JADI SIA-SIA KARENA KAMU TIDAK MENGHORMATI DAN MENCINTAI DIRIMU SENDIRI.

TERTANDA IBU KAMU YANG UDAH CAPEK SAMA KAMU

Aku mengerti maksudnya bahwa aku hanya anak tidak berguna yang menyusahkannya sejak janin. Ia akan selalu membenciku dan apapun yang kulakukan tidak akan pernah benar dimatanya karena ia membenciku. Semua yang kulakukan dan kuusahakan memang tidak pernah berarti. Mungkin ia benar, semua yang kulakukan memang sia-sia. Aku menangis tanpa suara dan airmataku tersamar oleh siraman air dari shower.

***

Sepulang sekolah siang ini, Mama memarahiku. Rupanya, wali kelasku menelepon ke rumah untuk berbicara kepadanya perihal laporan hasil belajar (rapor). Sementara teman-temanku sudah mengumpulakn rapor-rapornya, aku bahkan belum melihat raporku. Aku sengaja tidak memberikan undangan pengambilan rapor kepada Mama. Aku tidak ingin ia melihat raporku. Ia selalu kecewa dan marah. Aku tidak membela diri ketika ia memarahiku. Aku juga tidak menjawab ketika ia bertanya. Semua itu akan membuatnya marah. Diam juga membuatnya marah. Sama saja.

Akhirnya, ia menemui wali kelasku untuk melihat-lihat raporku. Ia tidak membawa pulang rapor itu. Ia langsung menandatangani rapor itu dan mengembalikannya. Aku cukup mendengar laporan darinya.

"Kamu tuh gimana sih? Angka sembilan di rapor kamu tuh cuma ada satu! Siasanya delapan semua! Nilai afektif kamu juga ada satu yang B! Kamu cuma dapet predikat 'sangat memuaskan'! Cuma rangking dua lagi! Liat tuh si (menyebutkan sebuah nama)! Dia rangkin satu! Predikat 'istimewa'!"

***

Hari Senin pagi di sekolah sebelum bel masuk kelas, aku menangis di pundak pacarku. Ia berusaha menenangkan diriku yang sedih, juga dirinya yang marah. Baginya, aku adalah lebih dari cukup. Ia marah kepada Mama yang tidak pernah mendukungku, tetapi selalu mengharapkan lebih dari yang kupunya dari diriku. Ia membandingkannya dengan si rangking satu yang selalu dibantu belajar oleh ibunya yang dosen. Kuhapus air mataku dan aku berusaha menenangkan dirinya agar reda marahnya. Ia telah memberiku sebuah gagasan.

Aku telah sadar bahwa Mama memang tidak pernah mendukungku, tetapi selalu mengharapkan hal-hal yang tidak realistis dariku. Bahkan, dengan semua yang telah kucapai, ia masih menjelek-jelekkanku di depan teman-temannya. Biasanya, teman-temannya yang memuji dan membelaku. Kukira, ia haus pujian dengan cara yang berbeda. Ia ingin membanggakan dirinya melalui diriku, tetapi ia tidak pernah puas. Ia adalah orang tua yang sangat malu atas anaknya sendiri.

ANAK YANG NAKAL

SEBAGAI ANAK MAMA YANG TELAH BERUSAHA SEBAIK MUNGKIN UNTUK MENJADI BAIK DI MATA MAMA, AKU SANGAT KECEWA. APAPUN YANG AKU LAKUKAN SELALU JAUH DARI BAIK UNTUK MAMA. PADAHAL, APA YANG AKU LAKUKAN PUN KULAKUKAN KARENA AKU MENURUTI MAMA DAN INGIN MENYENANGKAN HATI MAMA. SEMUA PERCUMA.

SEKARANG AKU TAHU, SAMPAI KAPAN PUN, AKU TIDAK AKAN PERNAH BISA JADI SEPERTI YANG MAMA INGINKAN. CETAKANKU MEMANG BEGINI ADANYA. SUKA ATAU TIDAK, MAMA HARUS TERIMA. KALAU MAMA TIDAK MAU TERIMA, KUTUK SAJA AKU JADI BATU! KUTUK AKU SUPAYA MAMPUS SEKALIAN!

TERTANDA ANAK MAMA YANG SUDAH PUTUS ASA.

Malam hari yang gelap dan gerimis, aku mendapat setangan tamparan dari Mama. Ia marah karena pesan balasan dariku. Aku tidak merasa bersalah, juga tidak merasa perlu membela diri. Maka, kubiarkan dia memarahi dan memakiku sesuka hati. Ia tidak akan lagi menemukan reaksi dariku. Ia hanya akan kuberi wajah dan ekspresi datar tanpa emosi. Aku tidak peduli meskipun hal tersebut membuatnya bertambah murka. Aku tidak peduli.

2 komentar:

  1. ".......TERTANDA ANAK MAMA YANG SUDAH PUTUS ASA....."

    ~~~~~~~
    *ngasih duit ke areta*
    nih utk kamu, udah gih sana jajan... beli es krim kek.. terserah...
    udah yak.. jgn putus asa lagi..... :)

    BalasHapus
  2. ceritanya natural banget :) salam kenal :)

    BalasHapus

Komentar dan saran yang berguna dan membangun diharapkan.