09/05/06

salah

Semua orang pernah melakukan kesalahan. Kesalahan adalah salah satu unsur pokok seorang manusia. Yang membuat kesalahan itu benar-benar salah adalah ketika manusia tidak berusaha untuk memperbaikinya dan menjadikannya dalih untuk tidak menjadi cukup baik. Yang menentukan seberapa besar kesalahan itu adalah seberapa besar dampak dan kesulitan untuk memperbaikinya. Kesalahanku, kuperjuangkan setengah mati perbaikannya, tetapi ini adalah kesalahan yang benar-benar besar!

Aku menangis menekuri layar kaca, sendirian di kamar tidurku. Ayahku sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Ibuku sedang berlibur dan berbelanja bersama teman-temannya di luar negeri (sesuatu yang dilakukannya sepanjang tahun). Pembantu-pembantuku sibuk di dapur, kebun, garasi, gudang, di mana-mana, tetapi tidak di kamarku. Di kamarku, hanya ada aku, menatap nanar terhadap layar kaca di depanku, duduk memeluk lutut di atas ranjang mewah yang nyaman, dengan segenggam tisu di teanganku –tisu yang telah kusut dan basah oleh air mata dan ingusku.

Percayalah, aku tidak sedang menonton sinetron. Bukan juga “reality” show. Bukan juga serial drama Asia. Bukan juga DVD film romantis. Aku yakin aku tida cengeng. Aku tidak menangis untuk hal-hal sepele. Tentu saja, hal ini tidak sepeleh. Ingat, KESALAHAN BESAR!

Nget nget nget... Nget nget nget... Nget nget nget... 

Ponselku bergetar. Karena diletakkan di atas perabot kayu, getarannya terdramatisasi. Menyentakkan jantungku, membuatku terlonjak kaget, pucat seketika. Pelan-pelan, dengan tangan gemetar, kuraih ponselku.

Calling...

Papa

Oh, tidak!

1 missed call

Terlambat diangkat.

Aku berusaha menenangkan diri, menghapus air mata.

Lagi-lagi... Nget nget nget... Nget nget nget... Nget nget nget... 

Ragu-ragu, kutekan tombol hijau.

“Halo? Papa?” suaraku serak.

Tak terdengar sepatah kata pun dari seberang sana. Hanya tarikan napas panjang, buangan napas berat.

Aku menunggu.

“Da...” suara Ayah serak.

“Iya?” sahutku lirih.

“Papa lihat...” ia tidak meneruskan. Kemudian, “hhh...” buangan napas panjang dan berat.

Kuraih remote TV-ku, kumatikan TV itu. Terdengarlah bahwa di seberang sana, Ayah sedang menyaksikan acara yang sama denganku sebelumnya. Jantungku langsung berpacu kencang. Aku semakin pucat, tenggorokkanku tercekat.

“Apa pendapat Bapak-bapak tentang kejadian ini?” suara seorang pembawa acara talk show, seorang wanita cantik yang tampak mandiri dan cerdas.

“Ini adalah tanda-tanda demoralisasi bangsa! Apa jadinya negara kita kelak jika pelajar dan pemipinnya sanggup melakukan zinah di depan kamera??” seorang pria paruh baya yang emosional.

“Ini perbuatan makhsiat! Neraka bagi orang-orang murtad it!! Api neraka!! Ingatlah, azab Allah mengintaimu!!” seorang pemuka agama.

“Sebenarnya, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal seperti ini terjadi. Bisa jadi, mahasiswi ini kekurangan perhatian dan kasih sayang orang tua. Mungkin juga ada yang salah dengan lingkungan pergaulannya...” seorang wanita psikolog.

“ini adalah pencemaran terhadap dunia pendidikan Indonesia!” entah siapa.

Dan seterusnya...

Dan seterusnya...

“Hhhhh...” Ayah mendesah panjang.

Klik.

Tuuut... Tuuut.. Tuuut...

Aku kembali tenggelam dalam tangisan.

09/02/25

pulang

“Ma, aku pulang.”

“Hm.”

“Ini surat buat Mama.”

“Anak sialan lu! Bikin malu terus! Gara-gara apa lagi Mama dipanggil?”

“Terserah.”

Ninda berjalan gontai ke kamarnya. Membanting pintu, rebah ke ranjang, dan langsung pulas tertidur. Sementara, di ruang keluarga, ibunya dengan kekesalan merobek amplop surat dari sekolah Ninda. Ia bahkan tidak peduli ketika ia merobek terlalu kuat dan kasar, sehingga bagian pinggir kertas surat itu pun turut tersobek. Secarik kertas terlipat tiga bagian. Ia hentakkan ke udara agar terbuka. Terlalu kasar, sehingga menjadi kusut.

Surat tugas untuk mewakili sekolah mengikuti lomba menulis karya ilmiah.

Helaan napas.

Dua jam kemudian, Ninda terbangun dari tidurnya dengan sebuah mimpi buruk, sehingga setelah terbangun, ia merasakan kepalanya berdenyut ngilu dan jantungnya berdetak cepat. Ia mendapati dirinya masih dalam balutan seragam sekolah dan tubuhnya lengket dan bau keringat. Ia pun memutuskan untuk mandi. Ia mengambil beberapa potong sandang, lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Ketika mulai membasahi tubuhnya, ia berusaha mengingat-ingat mengapa ia tertidur dalam keadaan seperti itu. Biasanya karena ada masalah. Masalah apakah kali ini? Karena pikirannya masih melayang-layang, seolah jiwanya masih berkelana di dunia mimpi, ia agak sulit mengingatnya. Namun, akhirnya ia ingat, sepulang sekolah ia bertengkar dengan ibunya. Lagi-lagi. Terlalu klise.

Sekarang, ia mencoba mengingat penyebab pertengkaran tersebut. Ah, surat dari sekolah. Tadi, di sekolah, ia sangat bangga ketika seorang guru mengajaknya mengikuti lomba menulis karya ilmiah meskipun ia bukan peserta ekskul karya ilmiah. Menurut guru tersebut, kemampuan analisisnya sangat baik, jika dilihat dari caranya menjawab soal-soal esai. Sangat membanggakan. Ia tidak menyangka bahwa hal semenyenangkan itu bisa rusak dalam sekejap karena ibunya.

Seusai mandi, ia langsung menyalakan komputer pribadi yang terletak di meja belajarnya. Ia memutar lagu.

Now I don’t know what to do

I don’t know what to do

When she makes me sad

(Vermillion part 2 karya Slipknot)

Ia sedih. Kini kesedihannya terdukung oleh lagu yang juga sedih meskipun isi lagu tersebut berbeda dengan isi hatinya. Ia menangis. Berandai-andai, berharap, harapan kosong.

Ia mematikan lagu pemutar lagu di komputernya. Berharap keheningan dapat mengangkatnya dari kesedihan. Namun, keheningan justru membawa lebih banyak pengetahuan baginya. Pengetahuan yang pahit.

Cukup jelas terdengar dari luar kamarnya.

“Kamu kapan mau pulang? … Sialan lu! Laki macam apa lu?! Maen cewek mulu! Istri anak lu ditelantarin kayak gini! … Gue keburu miskin kalo nungguin lu, najis! … Brengsek lu! Gak usah pulang sekalian! Gue juga bisa idup tanpa lu!”

Brak! Telepon dibanting.

Ninda mengacak-acak rambutnya, menjambak-jambak rambutnya, kemudian memukul-mukul kepalanya. Stres. Setelahnya, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menahan suara tangis. Tak urung, ia jamah kembali komputernya, lalu ia nyalakan kembali lagu yang tadi ia dengarkan. Segala bunyi-bunyian dalam kamar itu menjadi sangat tragis.

Kini tangannya berusaha meraih kotak tisu di sebelah ranjangnya. Ia menghapus air mata dan membuang ingus. Ketika ia hendak menarik lembar tisu kedua, salah satu telepon genggamnya, yang ia letakkan di samping kotak tisu, bergetar. Ia tak jadi menarik tisu. Tangannya langsung berganti haluan, meraih telepon genggamnya.

Sebuah pesan singkat. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang sedikit lebih baik, beginilah jadinya:

Giza : Hai, Da. Lagi ngapain?

Ninda : Main komputer. Kenapa?

Giza : Gakpapa. Nanya aja. Pasti lu main komputer di kamar.

Ninda : Ia. Napa?

Giza : Gakpapa. Enak yah, punya komputer sendiri di kamar. Gue, kalo mau pake komputer, harus minjem ke rumah temen.

Ninda : Oh. Terus kenapa?

Giza : Gakpapa kok. Ah, dasar lu, orang kaya. Gak ngerti susahnya orang kayak gue.

Ninda : Orang kayak lu?

Giza : Orang susah, Da. Gak punya banyak uang.

Ninda : Lu susah karena lu merasa susah. Lu kekurangan karena lu merasa kurang.

Giza : Terserah lu deh. Lu ‘kan gak pernah susah. Jadi enak ngomongnya.

Ninda : Hahaha.

Giza : Napa ketawa?

Ninda tidak membalas lagi. Ia kesal. Ia benci orang-orang semacam Giza. Orang-orang yang menganggap orang kaya selalu bebas dari masalah. Siapa pula manusia di dunia ini yang bebas dari masalah? Juga, kebenciannya berganda karena Giza berpendapat bahwa ia tidak pernah hidup susah. Giza tidak tahu bagaimana kehidupan Ninda dulu, harus tinggal di gubuk kayu dan makan nasi dengan garam saja. Nasinya pun sisa dari pedagang beras yang baik hati. Giza tidak tahu perjuangan keras ayah dan ibu Ninda yang membawa kehidupan mereka ke taraf yang lebihbaik sekarang.

Jika ingat masa-masa itu, Ninda ingin kembali melarat seperti dulu kala. Di saat-saat itu, ayah dan ibunya tidak pernah bertengkar. Mereka sangat akur. Sangat kompak. Sangat manis dan lemah lebut perkataannya. Lihatlah sekarang. Ibunya bekerja sendiri. Ayahnya bekerja sendiri. Ibunya tidak mau menerima uang dari ayahnya dan menyuruh Ninda untuk menolak uang dari ayahnya. Ayahnya bulanan tidak pulang ke rumah karena benci pada omelan kasar dan tuduhan-tuduhan ibunya. Ia bosan dengan situasi ini.

Ninda mengeraskan suara komputernya. Segala bebunyian di sekitarnya sekarang tenggelam dalam alunan musik. Bahkan, tak terdengar lagi ketika ibunya marah-marah menyuruhnya mematikan musik tersebut. Ia berpuas-puas menangis, meraung-raung, tanpa terdengar karena suaranya tenggelam dalam hentakan musik. Dalam tangisnya, ia berdoa. Bedoa kepada Tuhan yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Yang telah lama ia tinggalkan.

Seketika, hatinya mendapat secuil pencerahan di tengah gelap badai. Ia memadamkan suara musik yang menghentaki keras-keras kamarnya. Meraih telepon genggamnya. Ia mencari nomor ayahnya dalam daftar kontaknya.

Dialing…

Tuuut… tuuut… tuuut…

“Halo?”

“Papa?”

“Ninda? Kamu ganti nomor?”

“Iya. Kata Mama, biar Papa gak bisa hubungin Ninda.”

“Hhhh… Pantes aja.”

Maaf, Pa.

“Gakpapa. Bukan salah kamu.”

“Pa…”

“Iya?”

“Papa kapan pulang?” tiba-tiba saja tangis Ninda meluap lagi.

“Maaf, Da. Jangan sedih. Papa nunggu Mama kalem dulu.”

“Sampe kapan, Pa? Kenapa Papa gak minta maaf aja sama Mama?”

“Gak semudah itu, Da.”

“Kalo Papa mau yang mudah doang, masalah ini gak akan berakhir, Pa.

“Da…”

Ninda menutup dan mematikan telepon genggamnya.

Subuh-subuh, ayah Ninda pulang. Ia masuk dengan mudah berkat duplikat kunci rumah yang sengaja dibuat untuk ia, istrinya, dan anaknya, seorang satu buah. Ia langsung menuju kamar utama, kamar ia dan istrinya. Namun, ia tidak menemukan orang yang dicarinya: istrinya. Ia meletakkan barang bawaannya di sana, lalu diam, menerka-nerka di mana kemungkinan istrinya berada.

Berbekal tebakan, ia berjalan ke kamar tamu. Benar saja, istrinya tergolek tidur di atas ranjang empuk yang dahulu mereka pilih bersama. Perlahan-lahan, ia duduk di sisi ranjang itu, di mana ia dapat dengan jelas melihat wajah lelah istrinya yang pulas sekali tidurnya. Perlahan-lahan, ia mengelusi dahi istrinya, sehingga rambut yang menutupi kening indah itupun tersingkir. Ia kecup kening itu.

Ia kembali ke kamarnya. Mandi, berganti baju tidur, lalu kembali ke kamar tamu. Di kamar tamu, ia membaringkan diri di samping istrinya, lalu tidur. Melampiaskan segala kelelahannya.

Kelak, ketika istrinya terbangun dan mendapati dirinya di sampingnya, istrinya akan tersenyum bahagia. Sangat bahagia, sehingga segala amarah, dendam, dan tuduhan terbuang jauh-jauh. Ia mengelusi kening suaminya, lalu mengecup lembut kening itu.

Andai Ninda mau bersabar dan tidak memutuskan untuk kabur dari rumahnya kemarin malam, tentu ia akan sangat senang sekarang.

08/12/29

koma putih polos

Wah, sudah lama tidak meng-update blog! Jadi bau busuk blog basi ini!

Sebelum mengepos cerita-cerita baru, saya akan terlebih dahulu mengungkit-ungkit cerita basi yang belum sempat termuat di sini.

Salah satunya terjadi pasca ujian sekolah. Saat itu, saya sedang dikejar-kejar deadline majalah gereja. Majalah komisi remaja yang diberi julukan KOMA (singkatan dari Komisi Remaja) dengan subtitle Media Komunikasi Remaja AGAPE.

Saat itu, saya tengah dilanda kepanikan karena setelah tiga minggu merenungkan cover untuk tema “Buah Roh” dan “Keselamatan” (tema bulan November dan Desember), saya belum juga menemukan suatu gambaran atas dua tema abstrak tersebut.

Akhirnya, cover-nya hanya putih. Namun, putih itu mewakili dua tema di atas. Berikut penjelasan yang juga saya muat dalam KOMA sebagai cover story.

Dear KOMAners,

Gue tau, cover KOMA kali ini agak abnormal. Makanya, gue merasa perlu membela diri kalo dituduh “males bikin cover”.

Sebenarnya, ngerjain cover tuh penuh perjuangan, eh, pergumulan banget. Salah-salah, bisa dituduh sesat, trus dirajam massa.

Nah, untuk cover edisi ini, pergumulannya paling berat. Liat aja temanya: Buah Roh dan Keselamatan! Gak mungkin kan gambar buah-buahan? Trus, gambarnya keselamatan tuh kayak gimana? Ilustrasinya pun gak kepikiran kayak apa!

Akhirnya, setelah perjalanan putar-putar di labirin otak, gue memutuskan untuk bikin cover putih doank. Ingat, bukan karna males!

Putih tuh lambang dari kesucian. Untuk diselamatkan, Yesus telah berkorban menebus dosa kita biar kita putih bersih lagi. Dengan begitu, kita dilayakkan menghuni sorga.

Tapi, dari generasi ke generasi, edisi ke edisi, cover KOMA kan selalu pake maskot DOMBA?! Tenang saja... Cover yang ini juga pake domba. Cuman, di-zoom terlalu deket. Jadi keliatan bulunya doank: putih.

Jadi, begitu ceritanya, KOMAners...

Mohon maaf lahir dan batin yah kalo mengecewakan.

Dengan pembelaan konyol semacam itu, saya merasa cover putih polos telah sah dan baik adanya.

Kendala kembali terjadi saat proses percetakan. Waktu menunjukkan jam lima sore ketika saya telah sampai di tempat penyedia jasa fotokopi yang merangkap tempat percetakan. Saat itu hujan, sehingga saya harus naik mobil untuk sampai ke sana. Di dalam mobil, turut serta oma dan pembantu saya yang bertujuan lain.

Setelah menyerahkan tugas percetakan kepada salah satu staf di sana, saya pun berangkat menuju tempat tujuan oma dan pembantu saya. Sebuah mal di mana di dalamnya ada sebuah tempat yang menyediakan fasilitas dan jasa terapi listrik. Hal tersebut diperlukan oleh oma saya yang sakit rematik di kakinya.

Sambil belanja, saya menunggu oma saya. Setelah belanja, jam menunjukkan pukul enam petang hari. Saya teringat hasil percetakan yang harus saya ambil. Maka, saya tanyakan kepada pembantu saya yang saat itu saya kira lebih tahu, “pho-pho (bahasa Cina: oma dari pihak ibu) masih lama gak?”. “Bentar lagi,” jawabnya. Maka, saya memutuskan untuk menunggu sambil baca buku.

Tak terasa, satu bab sudah terbaca sambil menunggu. Saya melirik jam dan terkejut. Pukul tujuh malam! Sementara tempat fotokopi dan percetakan itu tutup enam tiga puluh!

Setelah segala kepanikan dan proses rumit, saya sampai di tempat fotokopian itu. Memang sudah tutup. Saya meminta sopir saya untuk mengantar pulang dahulu oma dan pembantu saya pulang, kemudian ia harus kembali lagi ke sana untuk menjemput saya.

Saya putus asa, duduk tercenung di teras tempat itu. Tak lama, beberapa perempuan Jawa (saya tahu karena mereka berdialog dalam bahasa Jawa) lewat membawa makanan dan masuk ke tempat itu melalui pintu lain. Sejenak, salah satu dari mereka melirik ke saya. Saya ingat wajahnya, tetapi tidak ingat kapan dan di mana ketemu (ia adalah staf yang saya serahi tugas mencetak KOMA). Maka, saya mengalihkan pandangan saya ke tempat lain. Pengalihan pandangan saya itu rupanya berarti sesuatu bagi perempuan itu. Ia langsung berguman, “kirain mau ngambil majalah.”

Gumamannya tentu membuat duduk saya tertegak dan saya menoleh cepat kepadanya dan berkata “emang”. Matanya membulat besar dan mulutnya menganga. Tak lama, ia merespon, “tak kira gak dateng! ‘Kan tadi adek bilang mau diambil jam setengah tujuh!”. Saya tersenyum lebar, menemukan harapan.

Dengan cepat, ia menjelaskan bahwa toko (maksudnya tempat fotokopi dan mencetak itu) telah dikunci, sehingga kami tidak dapat mengakses ke dalam. Dengan repot-repot, ia dan seorang temannya mengantarkan saya ke rumah pemilik toko yang tidak jauh dari toko tersebut.

Sayangnya, sang pemilik toko telah beranjak untuk berakhir pekan. Meskipun demikian, staf toko memberikan kepada saya nomor telepon genggam pemilik toko tersebut untuk saya hubungi. Setelah saya hubungi, kami sepakat bahwa esok paginya, ia akan mengambilkan majalah-majalah KOMA untuk saya ambil. Dengan demikian, selesai sudah masalah ini.

Masalah lain datang ketika KOMA terbit. Para pembaca memprotes keadaan cover yang putih polos. Namun, mereka bisa menerima setelah membaca cover story.

Namun, malam harinya, saya mendapat pesan singkat dari pemimpin redaksi bahwa redaktur pendahulu menyatakan bahwa cover KOMA tidak diperbolehkan tanpa gambar. Diikuti dengan saran bahwa apabila saya tidak mendapat ide, saya boleh mendiskusikannya dengan para redaktur lain. Dengan perasaan tersinggung karena merasa diremehkan begitu, saya meminta nomor telepon genggam si pendahulu.

Setelah saya hubungi, rupanya ia tidak menyatakan pelecehan semacam yang di atas itu. Ia menyatakan bahwa cover kontroversial tersebut menimbulkan masalah karena tidak semua redaktur tahu maksud dari cover tersebut, sehingga ketika jemaat lain menanyakannya, mereka hanya bisa bertidak tahu dan hal tersebut dari berbagai sudut dipandang tidak baik adanya.

Lihatlah betapa jauh informasi bisa berubah jika telah melewati terlalu banyak perantara.

Ah, demikian saja.

tinggal dalam IX

Epilog

Dari Malioboro, kami kembali ke Jakarta. Kembali ke Kelapa Gading. Kembali ke sekolah. Dari sekolah, pulang ke rumah masing-masing.

Sebentar saja saya menunggu di sekolah sebelum Ayah kandung saya menjemput saya. Setelah itu, kami mendatangi sebuah rumah makan untuk memesan lontong sayur dan lauk-pauk sebagai sarapan kami. Kami minta makanan itu dibungkus untuk dimakan di rumah.

Sampai di rumah, rasanya rindu sekali. Yang saya rindukan dari rumah adalah baunya, kehangatannya, dan toiletnya yang berada di dalam.

Setelah menghayati segala keberadaan rumah saya, saya membuka kardus besar berisi oleh-oleh dari orang tua di Ngaduman. Rupanya, isinya banyak sekali. Kentang, wortel, kembang kol, ubi jalar enak-manis-apalagi-kalau-digoreng.

Beberapa hari kemudian, kentang dan wortel menjelma sup, kembang kol menjelma sayur tumis, dan ubi jalar menjelma kolak.

-Harus TAMAT di sini-

tinggal dalam VIII

IV. Pulang atau Pergi?

Sampai di tempat di mana kami menemukan angkutan umum, Ayah dan Ibu memasukkan barang-barang kami ke dalam angkutan yang kami tempati. Kami menyalami Ayah dan berpelukan dengan Ibu. Saya masih sempat melihat Ibu menangis ketika berpisah dengan kami. Saya pun dengan susah payah menahan tangis.

*Karena saya terus-menerus menahan tangis, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukan menahan tangis karena sok kuat dan sebagainya, melainkan karena tidak mau concealer mata yang menutupi kantong mata saya, yang hitam-tebal-besar, luntur.

Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum yang senantiasa berguncang, saya banyak merenung. Saat itu, saya sama sekali tidak merasa seperti seorang kota hendak yang pulang ke kota asalnya. Saya justru merasa sebagai warga desa Ngaduman yang hendak merantau mengadu nasib di Jakarta. Sementara kebanyakan teman tampak senang akan bertemu kembali dengan keluarga mereka di kota (kebanyakan mereka menderita home-sick), saya justru sedih karena meninggalkan keluarga saya di desa.

Dengan angkutan umum tersebut, kami kembali ke pasar Kopeng. Di sana, kami berjumpa kembali dengan teman-teman yang terpisah ke desa Cuntel.

Dari pasar Kopeng, kami naik ke bis-bis kami, yang menyerupai kulkas berjalan, lagi. Dari sana, kami menuju sebuah hotel di Yogyakarta. Hotel Ruba Graha. Di hotel tersebut, terpelihara berbagai jenis hewan langka. Kebanyakan adalah reptil dan amfibi. Di hotel itu juga, kami siswa-siswi kelas IPS bertemu dengan siswa-siswi kelas IPA.

Malam harinya, kami semua bersama-sama menghadiri sendratari (mungkin ini adalah singkatan dari “seni drama tari”) Ramayana. Cerita tradisional asal India yang cukup populer di Indonesia. Rupanya, sendratari Ramayana di sekitar Candi Prambanan tersebut adalah penampilan pertama dalam rangka menjadikan Yogyakarta kota pariwisata. Sendratari tersebut dilakonkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas Gajah Mada.

Selain siswa-siswi SMAK 5 BPK Penabur, beberapa menteri dari negara-negara tetangga dan beberapa menteri dari Indonesia juga menjadi penonton perdana pertunjukan tersebut. Yang sangat disayangkan adalah sikap sebagian besar menteri Indonesia yang datang terlambat, mengobrol selama pertunjukan, dan bermain telepon genggam selama pertunjukkan. Sangat tidak berkelas. Teladan buruk.

*

Setelah semalam menginap di sana Ruba Graha, siswa-siswi kelas IPA harus menempuh perjalanan ke desa. Sementara, siswa-siswi IPS berbelanja ria di Bakpia Pathok XX (bukan sensor, tapi lupa) dan Malioboro.

Di Malioboro, rombongan saya yang anggota intinya terdiri dari Pak Chris, saya, Melisa, dan Anastasia berbelanja banyak dengan Pak Chris sebagai juru tawar. Alhasil, bawaan kami bertambah dan dompet kami menipis.

Yang sangat disayangkan adalah keramaian yang terlalu padat di Malioboro memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa siswi SMAK 5 BPK Penabur.

***

tinggal dalam VII

Ngaduman, 14 November 2008.

Talent show? Pertunjukan talenta? Pertunjukan bakat? Yah, pokoknya hari ini ada acara semacam itu. Keluarga-keluarga membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa keluarga. Tiap kelompoknya harus menyajikan drama yang merupakan persilangan cerita dongeng zaman dahulu dengan cerita modern. Hasilnya luar biasa menghibur. Apalagi, penduduk desa sangat antusias.

Kelompok saya sendiri mengadaptasikan cerita Maling Kundang dan Popeye si Pelaut ke dalam sebuah drama komedi.

Diceritakan di desa Ngaduman ada seorang bapak yang stres karena anaknya mempunyai gejala untuk menjadi sampah masyarakat. Sang bapak marah-marah kepada anaknya. Menyuruh anaknya menuntut ilmu ke kota dan menjadi orang yang berguna di kemudian hari. Dituntut demikian, si anak, Malin Kundang, menjadi stres.

Di tengah kegalauan hatinya, datang dua temannya merekomendasikan jasa dukun kepadanya. Dua temannya itu merekomendasikan dua dukun yang berbeda.

Dukun pertama ia datangi. Dukun itu memberikan resep rumit dan membacakan mantra. Ternyata, resep dan mantra dukun itu tidak cocok dengannya, sehingga ia malah menderita gatal-gatal dan iritasi ringan.

Dukun kedua ia datangi. Dukun ini direkomendasikan salah satu temannya sebagai “Sarjana Dukun”. Dukun kedua ini merekomendasikan sebuah tempat di kota, di mana Malin Kundang dapat menemukan bayam ajaib. Bayam ajaib itulah yang akan menolongnya.

Sampai di kota, ia benar-benar menemukan penjual yang memiliki bayam ajaib. Ia membeli bayam ajaib tersebut.

Baru sebentar di kota, Malin telah menambatkan hatinya kepada seorang wanita cantik, Olive Oil. Minyak Zaitun? Yah, pokoknya, Olive Oil. Ternyata, perjalanan cintanya mengahadapi kesulitan ketika datang orang ketiga di antara mereka, Brutus. Brutus yang tergila-gila kepada Olive ini tidak rela Olive bersama dengan Malin. Maka, Brutus menculik Olive.

Dengan kekuatan bayam, Malin menyelamatkan Olive. Kemudian, mereka menikah. Setelah menikah, mertua Malin dan Olive ingin bertemu dengan keluarga Malin di desa.

Rupanya, sesampai di desa, Olive tidak lagi menyukai Malin karena mengetahui ia hanya anak orang miskin. Olive pergi meninggalkannya. Sementara, Malin mati-matian menyangkal orang tuanya. Karena itu, Malin dikutuk menjadi kambing.

Tamat.

Demikianlah cerita drama kelompok saya.

Setelah pengumuman pemenang lomba pertunjukan bakat, acara dilanjutkan dengan sharing. Berbagi. Berbagi isi hati.

Tiap keluarga membentuk kelompok kecil yang duduk membentuk lingkaran kecil di atas tikar yang digelar di tengah-tengah aula gereja. Dengan lilin kecil pendramatisir suasana di tengah lingkaran kecil, kami memulai sesi berbagi ini.

Ketika sesi dimulai, saya hendak mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Namun, saya diserobot oleh isak tangis Ibu. Sangking tersedu-sedan ia menangis, ia sampai tidak sanggup berkata-kata. Sebagai orang yang duduk tepat di sebelahnya, saya mengelus-elus tangan dan pundaknya untuk menenangkannya. Saya melihat di sebelahnya, Yoga ikut menangis karena melihat ibunya sedih.

Setelah lebih tenang, Ibu berusaha berbicara meskipun putus-putus oleh isakannya. Dari kalimatnya yang putus-putus, saya menyadari bahwa ia sedih karena saya. Ia sedih karena kasihan melihat saya puasa tiga ronde. Puasa makan malam kemarin, puasa makan pagi dan siang hari ini. Ia takut saya sakit. Padahal saya takut bertambah buncit (saya selalu merasa mirip kucing bunting jika buncit. Kurus dan perutnya besar).

Ternyata, meskipun tidak turut menangis, Ayah pun sedih. Terdengar dari nada bicaranya. Ia sedih juga karena saya. Juga karena kasihan kepada saya. Ia kasihan ketika melihat saya bersusah payah naik-turun gunung saat berladang.

Saya jadi turut menangis karenanya. Pertama, karena saya merasa bersalah telah membuat mereka bersedih. Kedua, karena terharu akan kepedulian mereka. Sungguh, luar biasa. Anehnya, dalam tangis saya, saya masih memasang wajah tersenyum lebar. Tersenyum lebar sambil berurai air mata. Andaikata saat itu saya membaca cermin.

Bagai tidak cukup segala isak tangis itu, kami harus membicarakan perpisahan. Esok hari, kami memang akan berpisah. Namun, rasanya tidak perlu dibahas. Membuat makin sedih saja.

Pesan moral: Budayakan kepedulian terhadap sesama.

***