11/12/09
Jika Aku menjadi Filsuf yang Mati Bunuh Diri
Kau bisa membantah, menyangkal, lalu hidup dalam kebohongan. Kau dapat menerima dan berduka. Kau dapat menerima dengan sukacita.
Sungguh kenyataan bahwa Tuhan ada. Ada satu Tuhan yang kita sebut Maha Kuasa. Ratusan manusia menyembahnya dengan berbagai cara, melalui berbagai agama. Namun, ada manusia yang membenci-Nya, yang tidak mengakui keberadaan-Nya, yang tidak peduli tentang-Nya, yang tidak mengetahui apa-apa tentang-Nya, bahkan yang memilih caranya sendiri untuk menyembah-Nya. Sungguh kenyataan bahwa mereka yang tidak menyembah-Nya pun memunyai tuhan untuk disembah. Esensi kehidupan manusia adalah menyembah dan menikmati tuhannya. Tanyakan pada John Calvin.
Apakah Tuhan, apakah uang, apakah kelamin, apakah diri sendiri yang disembah, pasti ada yang disembah. Setiap manusia memiliki inti dan tujuan hidup. Bahkan mereka yang tidak (pernah) memikirkannya. Yang mereka sembah adalah ketidakpastian dan yang mereka nikmati adalah kesia-siaan.
Manusia-manusia ini hidup bersama dalam kemasyarakatannya, keberagamannya, dan kesombongannya. Ketakutannya terhadap perbedaan, egoismenya, kebanggaannya yang berlebihan terhadap dirinya, egosentrismenya. Manusia.
Mereka bercampur aduk dalam kumpulan spesiesnya. Berusaha memenangkan apa yang di mata mereka patut dimenangkan. Mengejar apa yang mereka lihat pantas dikejar. Membunuh apa dan siapa yang menurut mereka harus mati.
Waktu terus berjalan dan akal terus merantau.
Angin sejuk cenderung dingin melewatiku. Aku memejam mata dan menarik napas panjang.
Aku bersandar kepada pagar pendek yang mengamankan manusia agar tidak jatuh ke laut. Aku menatap kepada keramaian, kepada lalu-lalang manusia, kepada organisme-organisme unik dan kompleks, karya tangan Sang Pencipta, Sang Penguasa, Yang Maha Kreatif.
Aku tertawa dalam hati, tersenyum kepada ironi, bertanya kepada Tuhan, mengapakah dengan ciptaanmu, manusia. Apakah sejak awal Engkau menciptakan kami sebagai pemberontak? Aku tidak mendengar jawaban. Manusia tidak lagi mendengar suara nyata dari Tuhan sejak zaman Perjanjian Baru.
Aku berbalik kepada laut, kepada gelombang air dengan sejuta kehidupan di dalamnya. Sydney Opera House di depanku dan Harbour Bridge di sebelahnya. Berdiri berdampingan dalam kemegahan. Saling tersenyum, meskipun tidak saling menyentuh atau berbincang.
Aku tertawa kepada laut, HAHAHAHAHAHA!
Tuhan, kupanggil nama-Nya, seonggok otak, segelintir pengetahuan, dan secuil akal, Engkau berikan kepada manusia, dan jadilah kami angkuh! Kami bahkan merasa melebihi-MU!! HAHAHAHAHA!
Kusadari beberapa orang mulai memerhatikanku tertawa terpingkal-pingkal, tertawa kepada laut. Kepada perairan lepas, aku berbagi lelucon kehidupan.
Kami bahkan terbatas di daratan, kami akan mati jika ditenggelamkan bulat-bulat di daratan, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Aku menunjuk kepada udara, tertawa kepada langit. Kami terbatas di daratan! Di tanah! Udara pun bukan tempat kami! Kami tidak terbang bebas seperti burung-burung di atas sana, dan kami merasa berkuasa! HAHAHAHAHA!
Ya, ya, aku menemukannya di Kitab Kejadian. Engkau memberikan kuasa kepada manusia, mandat. Salah satu keserupaan manusia terhadap-Mu. Kuasa. Kuasa kecil mungil yang Engkau berikan dan kami banggakan secara berlebihan. HAHAHAHAHA!
Betapa lucu hidup ini.
Aku bertumpu kepada lututku karena kakiku telah lemas berurusan dengan tawaku yang tak terhentikan. Satu tanganku menahan perutku yang keram dan mataku bercucuran air mata. Tanganku yang lain bertumpu kepada pagar pembatas.
HAHAHAHAHAHA!!
Aku beribadah, aku berdoa, aku melakukan apa yang Kau katakan baik, dan aku mengerti, dalam setiap kesulitan yang kualami, Engkau merencanakan kebaikan bagiku. Aku mengerti, aku menunggu waktu-Mu, aku tidak mengeluh, aku tidak menuntut, aku hanya berdoa untuk kekuatan, pimpinan, dan kebijaksanaan dari-Mu.
Aku pun berusaha mengerti bahwa Engkau Maha Adil. Keadilan-Mu tergenapi, di dunia dan di akhirat. Orang-orang membenci-Mu, menuntut-Mu, menunding-Mu, karena Engkau tidak mengehentikan perang, genosida, pembunhan, pemerkosaan, penganiayaan, multilasi, kanibalisme, dan semuanya itu. Engkau membuat peraturan bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan, tetapi Engkau membiarkan orang-orang lahir dengan penyimpangan itu. Aku berusaha mengerti, bahwa dalam setiap kenyataan, Engkau bekerja dengan cara-Mu.
Apakah kita, manusia ? Debu yang Engkau angkat. Apakah kita, manusia, untuk menuntut ini-itu kepada-Mu. Mengapakah kita, manusia, tidak mampu menyadari betapa banyak yang telah Engkau beri kepada kami.
Aku belajar tentang-Mu. Aku berusaha menyelami-Mu. Aku meminta hikmat, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengertian dari-Mu. Aku tak pernah mampu. Kau tak pernah bersedia memampukanku dan aku tidak pernah mampu mengerti mengapa.
Aku lelah. Aku lelah. Manusia merasa akalnya tak terbatas. Manusia salah. Aku salah. Aku lelah.
Laut, terimalah aku.
Tuhan, ambillah aku.
10/10/09
hilang**
Aku menahan tawa melihat kelakuan perempuan yang berdiri tepat di depanku itu. Ia menyadari hal itu, sehingga ia menjadi salah tingkah. Ia menggoyang-goyang pundaknya sedikit dan menggerak-gerakkan kakinya. Akibatnya, aku harus menambah tenaga untuk menahan tawa.
Aku sering kebetulan berada dalam satu kereta dan satu gerbong dengannya. Kami tinggal di suburb yang sama, Chatswood. Kami kuliah di daerah yang berbeda, tetapi searah. Sebenarnya, aku sangat ingin mengenal perempuan itu, tetapi saat itu adalah terakhir kalinya aku melihatnya. Aku jadi agak menyesal karena berkali-kali aku bertemu dengannya, belum pernah sekalipun aku mengajaknya berbicara, apalagi berkenalan dengannya.
Sesegera itu, aku melupakannya.
Aku kembali kepada keseharianku yang memabukkan, di mana Aku menginginkan Pascal dengan segenap perasaan, pikiran, dan nafsuku. Iya, namanya Pascal. Terdengar sangat ilmiah karena ayahnya adalah seorang ilmuan. Ia mempunyai seorang adik perempuan yang dinamai Sonata karena ibunya adalah seorang musisi, komposer, dan pianis handal. Sayangnya, mereka berdua sama sekali tidak menunjukkan minat dalam bidang sains dan musik. Pascal penggemar olahraga dan Sonata penggemar komputer.
Aku sendiri penggemar sastra. Kurang berhubungan, tetapi Pascal memang sangat memabukkan dan sangat adiktif, paling tidak bagiku. Sekali aku mengenalnya, ia seperti tidak bisa sedetik pun absen dari pikiranku. Beberapa kali, aku mengacaukan tugasku karenanya. Akhirnya aku harus mengakali diriku sendiri dengan berpikir bahwa dengan mengerjakan tugas dengan baik, aku dapat membanggakan sesuatu di depannya. Cukup berhasil.
Hari ini, aku membantunya mencari data untuk penelitiannya dari internet. Aku memasukkan kata kunci yang ia berikan, lalu mulai mencari dan melaporkan kepadanya jika aku menemukan sesuatu. Kesenangan yang tak terkatakan.
Kami banyak mengobrol. Simpang siur dan akhirnya sampai kepada topik keagamaan. Ia seorang relijius. Ia banyak berdoa, ia beribadah secara rutin, dan sering beramal. Tanpa mengetahui semua itu pun, semua orang dapat melihat bahwa ia adalah orang yang baik karena ia begitu ramah dan suka menolong.
Kami pulang bersama hari ini. Sebenarnya, ia tinggal di daerah lain. Hanya saja, ia besi keras ingin mengantarkanku pulang sampai ke rumahku. Tentu, aku tidak menolak. Dalam perjalanan pulang, ia bercerita tentang seorang perempuan.
“Ia mungil, berambut pendek, berkulit putih, bermata besar. Senyumnya manis dan tanpa tersenyum pun, ia manis.”
Aku agak cemburu mendengar deskripsinya tentang perempuan itu. Namun, ia mengingatkanku akan perempuan yang sering sekereta denganku itu.
Ia bercerita bahwa dulu ia berhubungan dengan wanita itu. Bahwa ia sering juga mengantar wanita itu pulang, ke Chatswood. Hanya saja, sekarang perempuan itu menghilang.
Sejenak aku tersentak. Lalu, aku menceritakan tentang perempuan yang sering kulihat sekereta denganku itu. Kami yakin, kami membicarakan orang yang sama.
“Kira-kira, kenapa yah dia hilang?” iseng-iseng, aku bertanya.
“Mungkin karena dia tidak bisa menerima kenyataan.”
Aku menoleh kepadanya dengan dahi berkerut dan mata penuh kebingungan. Ia hanya tertawa.
Aku tidak puas. Maka aku menekankan kebingunganku dengan pertanyaan “maksud kamu apa?”
Ia tersenyum misterius. Ia memberi tanda kepadaku agar aku mendekatkan telinga kepadanya. Ia membisikkan sesuatu padaku. Mataku melebar, mulutku ternganga. Aku menoleh kepadanya lagi dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Sebuah pukulan ringan kudaratkan di lengan kanannya sebagai tanda peringatan agar ia tidak bercanda secara berlebihan.
“Kok kamu tau?”
“Tau aja.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Masih tidak percaya dan berusaha menganggap itu sebagai kabar burung belaka, tetapi aku merasa harus memercayai hal itu, entah mengapa. “Ck ck ck … Siapa yang tega melakukan hal kayak gitu sama perempuan secantik dan semanis dia. Gak mungkin.” Aku meyakinkan diriku sendiri.
“Aku,” jawabnya, tanpa kuduga.
“Jangan main-main kamu! Ini serius!”
“Aku serius.” Dan ia tertawa.
Meskipun ia tertawa, aku melihat keseriusan dalam nada suara dan wajahnya. Ini tidak mungkin nyata.
Aku menamparnya. Tepat di wajah. Aku tidak peduli meskipun orang-orang menatap kami penuh ketegangan. Ia kembali tertawa. “Kamu juga tidak bisa menerima kenyataan,” katanya sebelum tertawa lagi.
Kereta berhenti. Belum sampai tujuanku, tetapi aku turun. Aku tidak tahan berada di sana lebih lama lagi.
Sebelum pintu kereta tertutup lagi, ia meneriakkan sesuatu kepadaku.
“Jika kamu sudah melakukan begitu banyak hal untuk Tuhan, bukankah Ia akan mengerti jika sesekali kamu melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri?”
06/10/09
hilang*
Namun, aku tidak membenci dia. Justru, dialah yang membuatku membenci segala sesuatu.
Ia tidak salah. Satu-satunya kesalahannya hanyalah kesempurnaannya. Kesempurnaan yang tidak ia percayai.
Ia realistis. Ia mengerti betapa dunia dan isinya tidak mungkin sempurna. Ia mengerti bahwa tidak ada insan yang sempurna di dunia ini. Ia hanya tidak mengerti bahwa setiap titik ketidaksempurnaannya pun adalah kesempurnaan bagiku.
Aku tenggelam dalam silau kilau kehadirannya.
Aku merongrong mengemis kehadirannya dan ketika ia hadir, aku menciut dan bersembunyi dalam kenistaan.
Aku gila mutlak.
Aku mengharapkan eksistensi ujung dunia, aku berharap mencapai ujung dunia, untuk kemudian menghilang di sana.
Atau tengah dunia sudi menelanku?
Ini semua ilmiah. Jatuh cinta, ketidakpercayadirian, gangguan jiwa dan kepribadian, gejolak hormon, dan penolakan. Hanya saja, jika semuanya kau alami secara bersamaan, kau jadi tidak mampu berpikir secara ilmiah, atau paling tidak secara realistis.
Kau akan memandang dunia seperti ini.
Seperti bola besar berputar-putar, membuatmu mabuk, tenggelam dalam hiruk pikuk, tertawa lepas di tengah keramaian, menari-nari di antara gelimangan percik-percik bintang, dan kemudian kau sadar, semua itu tidak nyata. Kau terjatuh ke dalam kegelapan, mencari-cari apapun yang konkrit. Apapun yang dapat kau raih, kau raba, kau pegang, kau lihat, kau dengar. Namun, semua hanya kekosongan dan kau berharap, kamu pun tak pernah ada. Kau berharap, kamu pun hanya kosong.
Aku menatap diriku dalam pantulan cermin di depanku. Aku berbisik memanggil namaku. Aku menatap nanar kepada mataku yang sembab dan bengkak, juga agak merah. Aku memaafkan diriku karena telah menangis begitu parah. Aku mengerti perasaanku. Aku tidak menuntut diriku untuk menjadi wajar atau menjadi kuat. Aku menerima diriku yang lemah, cengeng, pecundang, dan putus asa.
Aku menatap sebilah belati di tangan kananku.
Akankah kupakai untuk membelah leherku sendiri atau lebih baik kupakai untuk membelah lehernya saja?
Ini terlalu kekanak-kanakan dan tidak berpendidikan, tetapi ketika otakmu telah kehilangan rasio, kau menjadi barbar seperti kera. Aku tidak memaafkan diriku untuk itu, tetapi aku juga tidak berusaha mengendalikan diriku. Aku perusak kesejahteraan umat manusia.
Aku akan pergi ke ujung dunia. Aku tidak akan membuat orang-orang takut (atau sedih, jika ada yang sedih jika aku mati). Aku yakin mereka tidak akan meributkanku. Aku yakin aku bukan sesuatu yang cukup eksis untuk diributkan jika tiba-tiba aku menghilang.
Maka aku menghilang. Aku ingin menghilang di ujung dunia, lalu aku akan menghilang dari dunia ini.
Aku berjalan dituntun kakiku. Melewati jalan-jalan besar, menelusuri jalan-jalan kecil, mendaki jalan-jalan menanjak, menuruni jalan-jalan curam, menyeberangi sungai yang deras dan dingin, membiarkan diriku terbawa di sana. Lalu, aku tersadar, aku terkapar dan terdampar di tepi perairan. Tempat di mana tidak tampak tanda-tanda keberadaan manusia, tetapi penuh dengan tumbuhan dan hewan-hewan berbunyi merdu.
Jika aku hidup di sini, betapa aku akan bahagia. Betapa alam ini memanjakan manusia, andai manusia menyadarinya.
Namun, bayangannya menyergap pikiranku. Aku tidak mau hidup di dunia yang sama dengannya. Aku mau pergi. Aku memeriksa tangan kananku. Belatiku tidak lagi ada di sana. Aku mencari cepat ke kiri, ke kanan, ke sekelilingku. Aku tidak menemukannya. Aku menutup wajah dan menangis.
Aku berjalan ke tengah hutan. Berdoa kepada alam agar mengutus beruang, serigala, singa, harimau, atau apapun, untuk memakanku. Nihil. Aku berjalan dengan langkah terseret-seret dengan segala hewan yang kulewati melirik kepadaku, tetapi hanya itu. Hanya lirikan. Tiada respon lebih lanjut. Aku memohon dalam hati kepada mereka agar mereka menyerangku. Mereka hanya menatap.
Malam menenggelamkan matahari, tetapi aku melihat terang selain terang bulan. Aku berjalan ke arah terang itu. Segerombolan anak muda. Mereka sedang berkemah. Mereka membuat tenda di tanah lapang terbuka. Aku terduduk dan tersandar di salah satu pohon di tepi lapangan itu. Aku memerhatikan mereka. Membakar daging dan bersenda gurau. Seseorang muncul dari balik salah satu tenda. Dia.
Itu dia.
Aku menghela nafas, meskipun aku tidak merasakan nafas melewati rongga dadaku.
Sejauh ini pun, ia masih harus hadir di depanku. Aku memejam mata. Aku ingin memejamkan mata untuk selamanya.
Aku membuka mata. Matahari telah kembali merajai langit. Seorang di antara mereka berteriak-teriak dengan ribut. Membangunkan semua orang dan membuatku spontan membuka mata.
Mayat, mayat, katanya.
Semua temannya, termasuk dia, berlari mengikutinya ke tempat di mana ia mengaku melihat mayat. Aku ingin tahu. Aku turut ke sana.
Di sana, aku melihat seorang wanita terbujur kaku dan membiru, dibalut gaun tanpa lengan, selutut, putih, dan koyak-koyak. Rambutnya pendek. Di tangan kanannya, sebuah belati.
Kurasa, aku kenal dia.
26/08/09
hilang IV
Kuli itu diungsikan ke sebuah kamar di bagian belakang ruko oleh sang kakek. Di
Ketika kuli itu telah ditinggal sendirian di kamar belakang itu agar bisa istirahat, cucu perempuan sang kakek penasaran ingin menengoknya. Sang cucu meminta izin ke toilet –yang kebetulan juga terletak di bagian belakang ruko- kepada sang kakek.
Di kamar belakang, Arien menemukan Gani.
“Aku tau kamu masih hidup,” bisik Arien dengan senyum lebar di wajahnya. Arien beranjak duduk di sisi ranjang yang ditiduri Gani.
Gani terlonjak kaget. Ia terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit. Dahinya terasa berdenyut. Ia tidak mampu berkata-kata. Arien pun terkejut karena reaksi Gani yang begitu rupa.
Untuk beberapa lama, mereka saling diam. Tidak bicara dan salah tingkah. Terkadang ada yang mencoba memulai, sudah membuka mulut, tetapi tak muncul satu patah kata pun. Lalu, mereka menyerah. Mereka membiarkan jam dinding mendominasi ruangan dengan detak detiknya. Mereka saling diam dan masing-masing tersedot kepada masa lalu. Butuh waktu lama agar mereka masing-masing merasa dekat lagi seperti dulu kala.
Ketika perasaan akrab itu sudah cukup membauri mereka, mereka pun saling tatap.
“Ngapain kamu ke sini?” Gani memulai.
“Ini toko kakekku.”
“Oh.”
Hening lagi.
“Kamu lihat aku?”
“Kamu luka-luka gara-gara aku. Maaf ya...”
“Bukan itu maksudku. Kamu lihat, aku ini miskin. Aku cuman bisa kerja serabutan. Hidup pontang-panting. Kamu lihat diri kamu. Kamu anak orang kaya. Pengusaha sukses. Gak pantes kita deket-deket begini.”
Dengan dahi terkerut sempuran, Arien mencurigai, “omongan kamu persis Mama.”
“Memang mama kamu yang bilang begitu sama aku.”
Mata Arien terbelalak.
“Gak usah heran,” Gani hendak bercerita, “sebelum kamu pulang dari Singapur, mama kamu nyamperin aku.” Kedekatan yang terasa di antara mereka berdua membuatnya menjadi berani untuk terbuka. “Orang tua kamu kasih aku rumah dan uang. Mereka mau aku pergi dan jauh-jauh dari kamu. Aku gak boleh berhubungan dengan kamu lagi. Kalo sampai aku nolak, aku masuk penjara. Lagian, apa kata mama kamu toh bener! Aku memang gak pantes buat kamu.”
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gani. Dahinya makin berdenyut.
“Kamu rela ninggalin aku untuk rumah dan uang? Kamu takut masuk penjara?” Arien menuntut dalam isaknya.
“Kamu mengharapkan sesuatu yang berlebihan, Rien!” bentak Gani. “Kamu tau ayahku udah meninggal. Siapa yang urus ibuku kalo aku dipenjara?” Urat-uratnya menegang dan tampak di lehernya. Dahinya makin berdenyut. “Kamu enak! Orang tua kamu tajir! Kamu gak usah mikirin duit, duitnya dateng sendiri! Kamu liat aku! Aku ini orang susah! Kalo gak kerja keras, gak dapet duit! Gimana mau makan? Kamu juga tau ibuku sakit-sakitan! Aku gak tega liat dia kelaperan! Kamu tau, aku bisa bawa dia berobat karena duit yang orang tua kamu kasih!” Napasnya tersengal-sengal.
Arien menangis sesungukan. Arien sungguh-sungguh menyesali ucapan dan tuntutannya. Ia begitu saja menghambur memeluk Gani. Gani mendekapnya erat. Di pelukan Gani, Arien makin deras menangis.
“Rien, aku gak pantes deket-deket kamu. Apalagi meluk kamu kayak gini. Aku gak tau diri,” ucap Gani lirih sekali.
Gani hendak melepas Arien dari pelukannya, tetapi Arien bertambah erat memeluk, sehingga tubuh Gani yang tadi terjatuh dari tangga terasa ngilu. Ia kembali memeluk Arien dan membelai rambutnya.
Muncul sebuah gagasan di kepala Gani. Gagasan itu ia rumuskan menjadi sebuah janji yang ia ingin Arien percayai dan pegang teguh. “Aku janji, aku akan kerja keras. Aku akan jadi orang sukses. Lalu-“
“Sssst...” Arien memotong.
Mereka berdua lama sekali tetap berpelukan seperti itu. Menikmati detak jantung lawannya.
Sementara, kakek Arien yang tetap setia menunggui toko tahu persis apa yang terjadi di belakang
*****
-harus berakhir di sini-
14/08/09
hilang III
“Arien? Arien sayang?”
“Iya, Ma! Masuk aja!”
Terdengar bunyi gagang pintu ditekan dan decit pintu. Pintu ditutup kembali.
Ibu dan anak berpandang-pandangan di kamar si anak.
“
“Justru Mama yang mau tanya kamu, ada apa?”
“Lho? Memang Arien kenapa, Ma?”
“Harusnya Mama yang tanya.”
Arien terdiam. Menatap wajah ibunya yang teduh.
“Rien, sejak pulang dari Singapur, kamu murung terus. Jarang makan. Sekarang udah tambah kurus. Kamu juga gak jalan-jalan kalo gak diajak Cindy. Di kamar terus. Apa apa, Rien?”
Arien memutar otak mencari alasan.
Ibunya melanjutkan, “papa dan mama khawatir sama kamu.”
Arien berusaha tersenyum meskipun tentu tampak terpaksa. Ia berkilah, “Arien kangen sama opa dan oma.”
Ibunya langsung ceria, “ya ampuuun! Kenapa gak bilang?”. Menyusul tawa wanita elit dari ibunya yang sama sekali tidak berlebihan apalagi kampungan.
“Sekarang ‘
Arien mengangguk pelan.
Dengan lega, sang ibu berjalan anggun keluar kamar.
Arien kembali merenung seorang diri.
Tiba-tiba saja ia terkejut. “Rumah opa-oma
Tak menunggu lama, ia berlari keluar kamar, mendapati ibunya sedang menyiapkan makan malam bersama pembantu-pembantunya.
“Ma?”
“Iya, sayang?”
“Boleh gak, Arien nginep di rumah opa-oma? Emmm... Seminggu aja!”
“Boleh dong, sayang!”
Wajah Arien langsung cerah. Benar-benar lega dan senang hati ibunya karena hal itu.
Arien kembali masuk ke kamar. Di
***
Dini hari, Arien telah menyiapkan segala keperluannya untuk menginap di rumah oma dan opanya. Ia begitu bersemangat.
Begitu sopir dan mobilnya siap, ia langsung memanggil-manggil ayah dan ibunya.
“
Ayah dan ibunya yang belum siap pun menjadi buru-buru. Ditambah lagi, mereka senang sekali melihat anak mereka menjadi begitu bersemangat, sehingga gerakan mereka pun bertambah cepat.
Sejenak kemudian, semua telah siap. Dalam mobil Kijang hitam mengkilap, seorang sopir duduk di tempat setir, sang tuan pemilik mobil di sebelahnya, sementara sang nyonya dan anaknya di bagian tengah. Bagian belakang berisi barang-barang Arien yang luar biasa banyak.
Jika tanpa macet, tentu mereka lebih cepat sampai. Namun, kemacetan dan waktu yang terbuang tidak sedikit pun memengaruhi suasana hati Arien. Diliriknya sopirnya yang tampak stres ketika turun dari mobil. Juga ayah dan ibunya yang tampak suntuk, tetapi lega karena sudah sampai tempat tujuan. Ia tetap tersenyum ceria.
Mereka semua disambut dengan hangat dan senang oleh tuan dan nyonya rumah, kakek dan nenek Arien. Sejenak, terjadi adegan peluk-pelukan dan salam-salaman. Lalu, semua menyerbu masuk ke ruang tamu.
Sampai sore, ayah-ibu dan kakek-nenek Arien tidak berhenti mengobrol sejak datang, mengemil di ruang tamu, makan siang, menonton televisi di ruang tengah, sampai akhirnya mereka harus pamit pulang.
Ayah dan ibu Arien pulang, sementara Arien tetap tinggal. Ia akan menginap satu minggu di
Ketika telah saatnya tidur, ia masuk ke kamar tamu, lalu berbaring di ranjang yang telah disiapkan untuknya. Mendadak, sebuah pikiran jelek menyelusup ke kepalanya, Tangerang ‘
Sejenak ia mengutuk-ngutuki dirinya karena merasa bodoh. Tidak lama, karena ia cukup lelah untuk tertidur pulas dengan cepat.
Esok hari, Arien bangun masih dengan tanda tanya besar di kepalanya, BAGAIMANA? Namun, hal itu terobati sedikit setelah sebuah pemikiran muncul bahwa selama ia masih berada
Ia berlari keluar kamar, mendapati kakek dan neneknya yang masih sehat dan enerjik di umur 70-an. Kakeknya pemilik sebuah ruko di mana ia menjual segala jenis plastik. Dari plastik kemasan sampai perabotan plastik. Setiap hari, sang kakek ke
“Ayo, sarapan, Rien!” seru neneknya.
“Iya, Oma.” kata Arien sambil meraih sepotong roti tawar dan memakannya.
“Gak pake selai?” sang kakek menawarkan.
Arien menggeleng, “begini juga enak.”
Semua tersenyum.
“Kakek mau ke toko. Kamu mau ikut?” kakek Arien menawarkan.
“Mauuu!!” pekik Arien.
Arien buru-buru menuntaskan sarapannya, lalu mandi, dan merias diri. Setelahnya, ia menghampiri kakeknya yang telah menunggu di teras sambil membaca koran.
“Ayo, Opa!”
Kakeknya tersenyum. “Pamit dulu sama Oma.”
Arien hendak berlari masuk, tetapi baru berancang-ancang, neneknya telah muncul dari pintu depan. Arien langsung memeluk neneknya dan mencium pipi neneknya. Sebuah ciuman kencang dan basah menyerang pipi si nenek. Nenek tertawa saja.
“Aku pergi yah, Oma!”
“Iya, sayang.”
Gantian sang kakek mencium dahi nenek dengan lembut dan hangat. Lalu mereka saling melambai. Setelah beberapa langkah, beranjak dari rumah, terdengar suara sang nenek, “hati-hati di jalan!”.
Arien dan kakeknya berjalan kaki ke sebuah perempatan dekat rumah kakek-neneknya untuk menumpang angkutan umum sampai ruko kakeknya.
*
Di ruko kakeknya yang sederhana dan sumpek dengan berbagai jenis plastik, juga bau plastik, Arien kepanasan karena di
Arien sebenarnya telah membawa sebuah novel untuk ia baca sewaktu-waktu jika bosan. Namun, penerangan di
Saat Arien memerhatikannya, kuli itu belum menyadari kehadiran Arien. Ia telah beberapa hari bekerja di deretan ruko itu. Sebagai apa saja. Juga telah beberapa kali ia bekerja kepada kakek pemilik toko plastik itu, tetapi selama ini kakek itu selalu datang seorang diri, sehingga ia juga tidak memerhatikan ketika kakek itu membawa seorang cucunya yang masih gadis.
Selesai memasang bola lampu, ia hendak turun dari tangga lipat yang dinaikinya. Ia menoleh ke bawah, mencari pegangan, tetapi ia melihat sepasang mata zaitun indah sedang menatapnya. Ia begitu terkejut, sehingga ia terjatuh dan membuat kegaduhan.
10/08/09
hilang II
Si Nando ini rupanya begitu tekun dan cekatan. Entah karena masalah ini menyangkut teman baiknya atau karena ia ingin menunjukkan dirinya di depan Cindy yang ia sangat sukai itu. Hanya beberapa menit setelah berpisah dengan Cindy dan Arien, ia langsung menghubungi satu per satu temannya yang nomornya tersimpan dalam telepon genggamnya.
Alhasil, dua hari kemudian, ia telah dengan bangga bekumpul kembali dengan Cindy dan Arien di kafe yang sama dengan sebelumnya. Ia membawa kabar baik.
“Ternyata, dia pindah ke Tangerang!”
“Tangerang?” pekik Cindy, “tau dari mana?”
“Dari temen gua yang tinggal di
Arien, yang sejak tadi hanya mendung, tetap mendung. Ia menyembunyikan informasi jelek yang ia miliki dan menunggu saja sesuatu terjadi atas perbuatan kedua temannya itu.
*
Keesokan harinya, tiada kabar dari Nando.
Arien gelisah. Ia berulang kali menelepon Nando tanpa mendapat jawaban. Ia juga meminta Cindy melakukan hal yang sama dan Cindy pun mendapat perlakuan yang sama.
Keesokan harinya lgai, Nando menelepon Arien pagi-pagi sekali.
Arien terbangun dari tidurnya, berusaha meraih telepon genggamnya yang terletak tepat di sebelah kepalanya. Di meja berlampu jingga.
“Halo?” suaranya masih serak.
“Rien?”
“Do, ada apa? Kenapa kemaren lo-“
“Rien,” Nando memotong kalimat Arien, “kabar buruk.”
Arien bangun terduduk di ranjangnya. Wajahnya berubah tegang.
“Apa?”
“Gani...”
“Kenapa, Do?” Arien gemas dan cemas.
“Dia... udah meninggal.”
Arien diam. Lalu tertawa.
“Kamu becanda, Do! Gak lucu! Keterlaluan!”
“Ini beneran, Rien!”
“Gak mungkin!”
“Rien, kemaren gue baru pergi ke Tangerang. Gue ketemu temen gue itu. Ternyata, temen gue itu juga udah lama gak ketemu si Gani, tapi dia kasih tunjuk rumahnya. Di rumahnya, gue ketemu nyokapnya. Pas gue tanyain, nyokapnya malah nangis-nangis-“
Klik. Arien memutuskan pembicaraan secara sepihak. Ia tidak sanggup mendengar lebih. Ia membenamkan wajahnya kepada bantal besar empuknya dan menangis di
Tak lama, ia bangun terduduk lagi dengan sangat tiba-tiba. Ia teringat pembicaraannya di telepon dengan ibu Gani. Berjuta pertanyaan menyergap pikirannya, sehingga menjadi ngilu kepalanya. Benarkah itu ibu Gani? Mungkinkah Endah yang melakukan itu karena sesuatu? Mungkinkah Nando berbohong? Lalu, MENGAPA??
Ia bertekad untuk menyelesaikan semua teka-teki ini sebelum waktu liburannya habis dan ia harus kembali melanjutkan studinya.
Sementara itu, ayah dan ibunya mulai mengkhawatirkan keadaannya yang lesu tanpa semangat. Tentu ada masalah yang sedang ia sembunyikan dari mereka.
***
“Gani! Gila lo! Ngapain lo ngumpet di sini? Mantan lo yang tajir tuh kocar-kacir nyariin lo!”
Tampak kerut-kerut terbentuk di dahi Gani.
“Jadi, lo ke sini buat ngasih tau itu?” ketus Gani.
“Iya sih. Tapi gue pengen ketemu lo juga. Eh, jing! Kok lu pindah gak bilang-bilang gua sih? Lu gak anggep gue sohib lo lagi?”
“Gue sengaja. Sialan aja lu masih nyari-nyari gua.”
“Sengaja?” Nando kaget dan bingung. “Kenapa?”
Gani menghela napas panjang. “Kita harus ngomong serius. Ke dalem aja.”
Gani memberi isyarat dengan tangannya, lalu mereka berdua beranjak dari ruang tamu ke kamar tidur Gani.
Nando melihat rumah Gani yang baru ini keadaannya lebih baik dari yang sebelumnya. Juga sekarang Gani bisa tidur di kasur, bukan matras.
“Lo masih sekolah di sini?” Nando berbasa-basi penasaran.
“Ah! Duit dari mana?”
“Kerja?”
“Iya.”
“Kerja apa?”
“Apa aja. Gak pasti.”
“Gak jual diri ‘
Nando mendapat jawaban berupa timpukan bantal ke wajahnya. Lalu, mereka berdua tertawa lebar. Hanya sesaat sebelum berubah hening.
“Sebelum gua pindah ke sini, bo-nyok Arien nyamperin gue ke rumah lama gue,” Gani memulai.
“Gile! Mau apa mereka?”
“Ngusir gue, jelas!”
“Lo pindah ke sini karna mereka suruh?”
“Gua bukan cuman disuruh pindah! Gua dikasih ini rumah! Gua masih dikasih duit banyak! Pokoknya, gua harus pindah dan putus kontak sama si Arien. Kalo gak nurut, gua malah bakal difitnah biar masuk penjara! Gila!”
“Tapi Arien
“Justru itu! Mereka tau si Arien bakal nyari gua kalo udah pulang.”
Nando tidak dapat berkata-kata.
Tak lama, Nando terpikir sesuatu dan langsung menanyakannya, “nyokap lu mau dikasih rumah dan duit sama mereka?”
“Nyokap gua gak tau. Gua bilang aja gua menang undian. Kalo gak, bisa dikutuk jadi batu gua!”
Nando mengangguk-ngangguk mengerti.
Kemudian, Nando terkesiap lagi. “Terus gua mesti bilang apa sama si Arien? Gua udah janji mau bawa lu ke
“Ah, bego lo!”
“Yah, gue ‘
“Lo bilang aja…. Nggg… Apa kek…”
“Apa??”
“Ah! Bilang aja gua udah mati!”
“Iye, kecelakaan di jalan kek, ketabrak kereta kek, dimakan kucing kek…”



