07/01/08

kata nenek

Nenek sering menasihatiku sejak ia tahu bahwa aku telah menjalin hubungan percintaan dengan seorang pria yang kukenal melalui sebuah situs pertemanan. Bagi nenek, orang yang dikenal melalui internet harus dicurigai.

Nenek terus mengingatkanku akan nasihat-nasihatnya setiap Hari Minggu. Setiap Hari Minggu sebab aku tinggal di Jakarta dan nenek tinggal di Medan, sehingga kami hanya berbicara seminggu sekali secara rutin melalui telepon. Biasanya aku menelponnya dari Jakarta dan mengobrol panjang lebar sebelum kuoper telepon itu kepada adikku.

Setiap kami mengobrol di telepon, nenek selalu menyisipkan peringatan untuk tidak jalan-jalan atau berkumpul berduaan saja di tempat sepi. Katanya, lebih baik jalan-jalan ramai-ramai bersama teman-teman yang lain supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (mesum). Itulah hal yang paling nenek takutkan.

Meskipun nenek agak cerewet, tetapi ia adalah teman baikku. Ia bersedia merahasiakan hubunganku dengan pria itu dari kedua orang tuaku sebab nenek tahu bahwa ayah dan ibu akan sangat marah kepadaku jika mereka sampai tahu hal itu. Walaupun nenek sendiri tidak menyetujui hubungan itu dan sering menyarankanku dengan cara yang sangat halus untuk tidak berpacaran dengan pria itu.

Bagaimanapun juga, nenek berada di Medan dan aku di Jakarta, sehingga aku kurang mengindahkan nasihatnya. Aku tetap jalan-jalan berdua dengan kekasihku, meskipun kami tidak berkumpul di tempat sepi atau bermesuman.

Suatu hari, aku dan pacarku merencanakan untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang agak jauh dari rumahku. Kami selalu memilih tempat yang jauh dari tempat tinggalku untuk menghindari pertemuan dengan orang tuaku maupun teman-temanku. Ia tentunya takut bertemu dengan orang tuaku karena jika hal itu terjadi, kemungkinan besar aku tidak akan diizinkan lagi bertemu dengannya. Sementara, ia malu bertemu dengan teman-temanku karena ia merasa perbedaan ras membuatnya tidak sederajat dengan mereka.

Tiba-tiba, aku mendapat kabar dari sopir pribadiku bahwa ibu akan berbelanja di tempat di mana kami berbelanja saat itu. Kami pun terpaksa melarikan diri dengan angkutan umum ke sebuah mal yang dekat dengan rumahku. Kami terpaksa memilih mal itu karena waktu kami tidak cukup untuk berbelanja di mal lain yang jauh dari tempat tinggalku karena sekitar dua jam dari saat itu aku harus kursus Bahasa Inggris.

Pada awalnya, kami berbelanja sedikit dengan leluasa. Setelah berbelanja, kami makan di sebuah restoran dengan gembira. Setelah makan, berjalan-jalan sebentar untuk mengahbiskan sedikit waktu sebelum kursus Bahasa Inggris. Saat itulah mataku menangkap sosok segerombolan teman sekolahku. Aku memberi tahu hal itu kepada pacarku dan hendak menghampiri mereka sekedar untuk menyapa, tapi pacarku menarik tanganku untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Kami berdua terus berjalan cepat sampai kami terpojok di sebuah sudut dekat kamar kecil, sementara waktu kursusku semakin dekat. Setelah menunggu beberapa menit, kami pun mengendap-endap keluar dari sudut itu. Kami tidak beruntung, gerombolan teman sekolahku yang lain sedang berkumpul depan kamar kecil. Tampaknya salah satu dari mereka sedang berada di kamar kecil dan yang lain menunggu sambil mengobrol. Kami terpaksa mundur kembali ke sudut semula dan menunggu.

Setelah beberapa lama menunggu, teman-temanku masih belum beranjak dari sekitar kamar kecil. Untungnya, kami ingat bahwa jalan ke sudut itu bukan hanya melalui kamar kecil. Ada jalan berkelok-kelok lain menuju tempat itu yang sering membuat orang tersesat. Tentunya, jalan mirip labirin itu dapat kami manfaatkan untuk keluar dari sana meskipun beresiko tersesat.

Kami pun mulai menyusuri gang-gang labirin itu. Saat kami mulai tersesat, kami bertemu dengan seorang ibu-ibu yang tampaknya juga tersesat. Ibu-ibu itu adalah salah satu teman ibu. Ia menatapku dengan wajah bingung, lalu menatap pacarku dengan wajah sinis. Mungkin karena kami bergandengan tangan di tempat sepi dan terpojok, ia jadi berpikir macam-macam. Kami pun mempercepat langkah kami dan menemukan jalan keluar. Akhirnya, aku dapat sampai ke tempat kursus dengan tepat waktu dan selamat sentosa.

Sepulang dari kursus, ibu telah menungguku di rumah untuk berbicara denganku. Rupanya, teman ibu itu meneleponnya dan mengadu tentang aku dan pacarku. Aku pun tahu ibu akan memarahiku sebab wajahnya telah berubah menjadi lebih beringas daripada narapidana.

Kukira, bagaimanapun juga, nasihat orang tua itu harus dipatuhi. Nasihat mereka berbeda tipis dengan kutukan. Meskipun ancaman mereka sangat jarang terjadi, tetapi segudang kesialan tetap menanti apabila kita tidak menuruti mereka.

4 komentar:

  1. bener2 bikin ribet y klo backstreet....coba makin langgeng y...

    BalasHapus
  2. saya tidak menyangka cerita itu dikisahkan abg (remaja?) 16 tahun. bagus. sukses selalu ya

    BalasHapus
  3. =====================
    Kukira, bagaimanapun juga, nasihat orang tua itu harus dipatuhi. Nasihat mereka berbeda tipis dengan kutukan. Meskipun ancaman mereka sangat jarang terjadi, tetapi segudang kesialan tetap menanti apabila kita tidak menuruti mereka.
    =====================

    Betul sekali katamu....

    *lam kenal*

    BalasHapus
  4. makasi, semua...

    anno, itulah susahnya backstreet. gak bisa nyangkal cinta, juga gak bisa nunjukin cinta.

    lexi, kan wajar anak abg bikin cerita cinta2an. hehehe. sukses juga ya!

    antar pulau, salam kenal juga.

    BalasHapus

Komentar dan saran yang berguna dan membangun diharapkan.