17/11/08

ganggu

Dia membuatku merasa tidak nyaman. Ya, dia, yang berdiri di depan kelas dengan wajah cerah, senyum mempesona, dan postur tubuh nyaris sempurna.

Dia makin mengganggu kenyamananku dengan berjalan ke arahku, menaruh barang bawaannya tepat di sebelah kakiku, lalu berdiri tepat di sebelahku. Dengan cepat, aku men-dial sebuah nomor di telepon genggamku, lalu beranjak pergi.

“Halo? Jemput aku sekarang di sekolah.”

----

Flashback.

Plak!

Amplop merah jambu berisi sepucuk surat berisi sebait puisi terbanting di meja.

“Lo gak usah ngasih-ngasih gue beginian lagi!”

“Kenapa? Kamu gak suka?”

“Bagus kalo lo tau! Gue gak suka lo kasih gue beginian! Gue gak suka lo! Gue paling gak suka lo ganggu cewek gue!”

Seisi kelas menatap kami dengan wajah penasaran.

----

Hmmm, ya, enam tahun lalu, ketika aku mulai menaruh hati padanya, ia telah bersama perempuan itu. Ia masih bersama perempuan itu sampai sekarang. Hal ini masih menyakiti hatiku sampai sekarang. Sebetapapun aku mencoba lari dan melupakan. Aku makin merasa terpuruk setiap aku menyadari bahwa aku hanya seorang perempuan yang sangat biasa, tidak menonjol, sementara perempuan itu nyaris sempurna. Sangat cantik, postur tubuh sempurna, pandai, tegar, luar biasa, mempesona, ia pusat perhatian. Mereka berdua adalah sepasang manusia sempurna.

----

Flashback.

“Kenapa sih kamu benci aku?”

“Pecun bego! Lo gak nyadar? Gila lo ya! Lo tuh cuman bikin rusak hidup gue!”

“Aku cuman cinta kamu. Apa itu salah?”

“Salah besar bego! Makhluk jelek kayak lo tuh gak pantes deket-deket gue! Cuman bikin bencana!”

----

Ya, ya. Makhluk buruk rupa macam aku sempat merusak nama baiknya. Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di mal. Aku melihatnya, lalu mengejar-ngejarnya. Beberapa orang yang berival dengannya melihat adegan tersebut, menyebarkan gosip ke mana-mana bahwa ia berselingkuh dengan pembantu rumah tangga.

----

Flashback.

“Gue mau minta maaf sama lo.”

“Kenapa?”

“Selama ini, gue sering jahat sama lo. Gue sering ngerjain lo. Padahal, lo kan suka sama gue.”

Pipiku memerah. “Gakpapa kok.”

“Makasi yah.”

Ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi kiriku, memajukan tubuhnya hingga hampir menghimpitku kepada dinding, lalu berbisik halus di telingaku.

“Kamu mau jadi pacarku?”

Sekujur tubuhku panas seketika dan wajahku merah tak terkira. Mulutku terbuka tanpa suara. Aku tak sanggup berkata-kata, apalagi menjawab.

Seketika, sejumlah tawa besar meledak.

“Hebat! Hebat lo! Hahaha!”

“Ayo kita maen lagi!”

Ternyata dia kalah taruhan.

Perasaanku? Bayangkan saja sendiri.

----

Yang menjemputku tidak datang-datang. Aku mulai bosan. Aku menoleh sekeliling. Sekejap, aku memergoki matanya melirik ke arahku. Aku beranjak ke tempat yang lebih jauh.

----

Flashback.

“Wah, lo berubah banget yah sekarang? Udah ngerti tren dan make-up.”

Aku hanya tersenyum.

“Sayang, kalo tampang udah ugly, didempul setebel apapun yah tetep ugly!”

Tawa meledak. Aku diam. Aku mengeluyur pergi. Berlari ke toilet. Menangis sesungukan di sana.

----

Akhirnya, yang menjemputku pun datang. Aku beranjak dari lobi sekolah ke lapangan parkir. Di sana, yang kutunggu setengah duduk di atas motor. Tersenyum ke arahku, menyodorkan helm dan jaket kepadaku. Aku pun balas tersenyum dan menerima sodorannya, segera mengenakannya dengan sempurna di tubuhku.

Seketika, kulihat beberapa laki-laki, termasuk dia yang kehadirannya membuatku merasa tidak nyaman, menghampiri kami.

----

Flashback.

“Kamu mau gak nerima aku jadi pacar kamu?”

“Hm? Emangnya, kamu mau sama cewek jelek kayak aku?”

“Kamu gak usah denger omongan orang yang gak bagus begitu. Kamu jangan ikut-ikutan mereka menghina ciptaan Tuhan.”

“Hm... Apa kamu suka aku?”

“Iya.”

“Sejak aku jadi lebih cantik?”

“Sejak pertama aku lihat kamu, kamu udah cantik.”

Aku tersenyum bahagia.

Aku pun tersadar seketika, berjuta adegan melintas di kepalaku sebagai bukti, selama ini ia memang begitu baik dan memperhatikanku.

----

Beberapa dari mereka membawa balok kayu. Aku mulai ketakutan. Aku berteriak. Laki-laki yang tadi kutunggu-tunggu memelukku erat.

----

Flashback.

“Hebat yah, lo sekarang udah punya cowok!”

“Iya. Jadi, sekarang lo bisa tenang. Gue gak bakal ganggu cowok lo lagi.”

“Gak segampang itu.”

“Mau apa lagi? Selama ini, kalian berdua udah cukup banyak ngerjain gue. Apa gak cukup?”

“Gak. Gue mau lo putusin cowok lo itu.”

“Hah? Lo gila!”

“Gue gak suka lo deket-deket dia!”

“Eh, lo kan udah punya cowok!”

----

Ada apa, kak?”

“Brengsek lo!”

“Aku salah apa?”

“Gue kasih tau lo! Cewek gue selama bertahun-tahun nempel-nempelin gue cuman buat ngejar lo! Ternyata lo lebih milih pecun buluk ini!”

“Jangan kasar gitu dong, kak!”

“Najis lo masih manggil gue kakak! Gue gak sudi punya adek kayak lo!”

Hantam.

Ribut.

Hantam.

Darah.

Hantam.

Ribut.

Hantam.

Habis.

----

Flasback.

“Kalo aku mati nanti, aku mau kamu inget bahwa aku cinta kamu dan buat aku selamanya kamu yang paling cantik.”

“Ih, jangan ngomong gitu ah! Serem banget sih!”

“Kita bisa mati kapan aja.”

4 komentar:

  1. wahh, tingkat tinggi =D
    sejujurnyaa, aku ndak ngerti ^^

    BalasHapus
  2. Hm... asyik. Makasih ya ceritanya. Saya suka. Salam...

    BalasHapus
  3. waw? yg bener? hahaha... makasi yah...

    BalasHapus
  4. gag ngerti ta -___-..

    BalasHapus

Komentar dan saran yang berguna dan membangun diharapkan.